logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Pesantren, Restoran, dan Perubahan

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Tuesday, 11 April 2023
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

73 Tahun Merawat Semangat Demokrasi 

Demokrasi dan Kemanusiaan: Ketika Suara Rakyat Mengoreksi Kekuasaan

Padi Bertahan, Jagung Tumbang, Alarm Pangan Gorontalo di Tengah El Nino

Dari Percakapan dengan Suharso Monoarfa: Menata Ulang Jalan Ekonomi Gorontalo

Oleh :
Basri Amin

Kata “Pesantren” rupanya punya makna dan membawa maksud yang khusus di sebuah restoran terpandang di Gorontalo. Ketika kami memesan beberapa makanan ringan yang hendak kami bawakan untuk putri kami di pondok pesantrennya (Ahad, 15/1/23) entah kenapa sempat terucap dari mulut kami (di depan kasir Restoran) tersebut “…ini pesanan anak; kami akan bawakan ke pesantren….sembari menyodorkan uang pembayaran untuk pesanan kami tersebut. Pada detik-detik itulah kami kaget karena kasir-pria-muda-tegap-lincah tersebut “menolak pembayaran” kami. Begitu lapang wajahnya dan halus kata-katanya, “…Ini untuk putri Bapak, tak perlu dibayar…silahkan, Pak!”. Setelahnya, hanya impresi penasaran dan ucapan terima kasih berulang yang kami sampaikan kepadanya…

Putri kedua kami sudah sekian tahun belajar di Pesantren. Sebagai orang tua, kami beroleh kesempatan mengunjunginya sesuai jadwal perkunjungan yang telah ditetapkan oleh pihak Pondok. Kendati “kunjungan” hanya berlangsung sekitar tiga jam, tetapi kerinduan keluarga bisa terpenuhi: makan/minum bersama, bertukar cerita dan kisah-kisah terbaru di rumah/di pondok, sesekali bercanda dan berbagi rasa, ngobrol santai, menguatkan motivasi anak, dan kontak-kontakan dengan anggota keluarga yang lain, dst.

Tak bisa kami pungkiri, di setiap (momen) perkunjungan tersebut dan di setiap pertemuan dengan pihak Guru atau pengelola, selalu “banyak hal” yang kami rasakan, temukan, dan pelajari. Dan, terutama, begitu besar rasa terima kasih dan penghargaan kami kepada Pondok (modern) tersebut. Di sana, kami menemukan bagaimana banyak karakter anak, pola-pola kekeluargaan mereka, kisah-kisah prestasi, dan kegundahan-kegundahan baru atas setiap harapan kita terhadap “generasi terbaik” yang bisa kita lahirkan dan bina di negeri ini.

Jika restoran mewakili ‘modernisme’ pasar dan gaya hidup, maka pesantren tetap di posisinya sebagai aspirasi atau pilihan hidup. Di baliknya terselip “karaternya” masing-masing. Nah, di masa sekarang, Pesantren pun terkesan (mulai) melakoni sejenis “pemasaran” tertentu di ruang-ruang publik. Tak heran kalau mulai terselip aroma “uang besar” dan jualan (produk) “keunggulan” tertentu dengan pilihan-pilihan yang bersaing (citra lembaga, fasilitas, luaran, dst) ketika kita hendak memilih Pesantren sebagai tempat bagi anak-anak kita belajar dan tumbuh. Di sisi lain, Pesantren pun terkesan telah menjalankan fungsi-fungsi “pemasaran” tertentu agar terterima dan memenangkan persaingan di “pasaran persekolahan” di luar arus utama (baca: sekolah umum atau madrasah umum).

Belakangan, makna “pesantren” semakin jamak. Tidak lagi identik dengan pelajaran agama dan pembelajaran ‘tradisional’ (Kitab Kuning, Kyai, dst); juga tidak lagi identik dengan pulau Jawa. Di era 1970an atau 1980an, jika orang mau belajar ke Pesantren, maka terkesan hanya bisa dijalani di tanah Jawa atau hanya di beberapa kota tertentu saja, termasuk di Sulawesi misalnya, lebih terkesan di Makassar atau di Palu. Saat ini, semakin populer posisi “pesantren modern”, daripada yang pesantren (tipe) klasikal-tradisional yang menempatkan relasi Santri – Kyai sebagai sentrumnya.

Pesantren telah memberi khazanah besar bagi negeri ini. Contoh sederhana, istilah seperti mengaji tidak berasal dari akar bahasa Arab. Demikian juga dengan penyebutan pondok, atau langgar (di Jawa), Surau (di Minangkabau), atau rangkang (di Aceh). Semuanya berasal dari khazanah India, sebagai akibat dari “perjumpaan tradisi belajar dan pengajaran Hindu di tanah Jawa” untuk masa yang cukup panjang. Kendati hal ini beroleh koreksi dari beberapa pakar sejarah pesantren dari Jerman (Ziemek, 1983).

Kata Santri itu sendiri, sangat mungkin merupakan kata turunan dari kata “Shastri” (bahasa Sansekerta) yang, pada mulanya, berarti “pelajar Hindu yang pandai menulis…” (Geertz, 1960; Steenbrink, 1986 [1074]). Di bagian lain, dijelaskan bahwa kata “Pondok” sepertinya berasal dari kata Arab, “funduq” (tempat tidur, wisma, hotel sederhana). Sementara “Pesantren”, adalah penyatuan dari pemaknaan “Sant” (manusia baik) yang diperkuat dengan suku kata “tra” (suka menolong), sehingga lebih tegaslah artinya sebagai “tempat pendidikan manusia baik-baik…” (Dhofier, 1982; Ziemek, 1983: 99)  

Terbitan lembaga P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) tahun 1985-1986 berhasil menunjukkan pemetaan dunia pesantren di sejumlah wilayah di Indonesia, hal mana menempatkan pulau Jawa sebagai “rumah terluas” bagi dunia Pesantren, dengan jumlah tidak kurang 1.793 di Jawa Barat dan 1.501 di Jawa Timur, serta di Jawa Tengah sebanyak 408 Pesantren. Di luar Jawa, tercatat daerah terbesar jumlah pesantrennya adalah Aceh (147), Sumatera Utara (29), Lampung (23) dan Riau (22). Di Indonesia Timur, hanya di wilayah NTB (28), Sulsel (28) dan Sulawesi Tengah (7) yang tergolong signifikan jumlah Pesantrennya. Data yang cukup unik tentang Pesantren di Indonesia adalah keterangan UNESCO bahwa pada tahun 1954 tidak kurang 53 ribu jumlahnya. Data tersebut tampaknya mencampur seluruh sekolah “pembelajaran agama” di berbagai tingkatannya.

Secuil kisah di atas terlalu partikuler dan sebagiannya subjektif. Tetapi di baliknya bisa pula dipandang sebagai dua (contoh) pola kehidupan yang arusnya bersentuhan antara dunia pendidikan/agama dan dunia pasar/ekonomi yang terkesan “terpisah” tetapi tiba-tiba tersambungkan melalui aspirasi yang berubah di masyarakat kita. Selebihnya adalah soal pembentukan generasi dan pertumbuhan negara-bangsa bernama Republik Indonesia di mana Islam adalah rujukan inspirasi yang abadi.

Bahkan di masa (represi) kolonial sekalipun, dunia pesantren telah memilih perannya yang unik di pelosok dan di kota-kota kecil di Jawa dan di luarnya. Oleh Karel Steenbrink, sejarawan pesantren dari Universiteit Utrecht, Belanda, menyebut relasi Islam dan kolonial Belanda di periode 1595-1950 sebagai “kawan dalam pertikaian” (1995). Pesantren di Tanah Air akan terus meniti jalan sejarahnya sendiri dan kita akan menyaksikan karakter (setiap) generasi yang akan dilahirkannya.***

 Penulis adalah Parner di Voice-of-HaleHepu
E–mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri amingorontalopostpersepsispektrum sosial

Related Posts

Ramli Ondang Djau

73 Tahun Merawat Semangat Demokrasi 

Saturday, 7 November 2026
Ridwan Monoarfa

Demokrasi dan Kemanusiaan: Ketika Suara Rakyat Mengoreksi Kekuasaan

Friday, 6 November 2026
Padi Bertahan, Jagung Tumbang, Alarm Pangan Gorontalo di Tengah El Nino

Padi Bertahan, Jagung Tumbang, Alarm Pangan Gorontalo di Tengah El Nino

Friday, 6 November 2026
Ridwan Monoarfa

Dari Percakapan dengan Suharso Monoarfa: Menata Ulang Jalan Ekonomi Gorontalo

Wednesday, 4 November 2026
Salam Gizi! Yth, Presiden RI Jenderal (Pur.TNI) Prabowo Subianto 

Salam Gizi! Yth Kepala BGN Bapak ”Sudaryono” Program MBG: Penjajahan Permanen Rakyat Indonesia?

Tuesday, 3 November 2026
Basri Amin

Kalender “Literasi” Gorontalo 

Monday, 2 November 2026
Next Post
Rapat Komisi II DPR-RI dengan Menpan RB Abdulah Azwar Anas yang berlangsung di DPR-RI Jakarta, Senin (10/4). (Foto Kemenpan RB)

Tak Ada PHK Massal Honorer, Hasil Rapat Komisi II DPR Bersama Menpan RB

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Padi Bertahan, Jagung Tumbang, Alarm Pangan Gorontalo di Tengah El Nino

Padi Bertahan, Jagung Tumbang, Alarm Pangan Gorontalo di Tengah El Nino

Friday, 6 November 2026
Bahlil Bantah Terseret Skandal Penyadapan Prabowo, Siapkan Somasi: Saya Juga Disadap

Bahlil Bantah Terseret Skandal Penyadapan Prabowo, Siapkan Somasi: Saya Juga Disadap

Saturday, 7 November 2026
Skandal Besar Terungkap, Presiden Ditangkap di Rumahnya

Skandal Besar Terungkap, Presiden Ditangkap di Rumahnya

Saturday, 7 November 2026
Ramli Ondang Djau

73 Tahun Merawat Semangat Demokrasi 

Saturday, 7 November 2026

Pos Populer

  • HK Cs Dilapor ke Polda, Terkait Dugaan Perusakan Fasilitas Perusahaan

    HK Cs Dilapor ke Polda, Terkait Dugaan Perusakan Fasilitas Perusahaan

    59 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Kalender “Literasi” Gorontalo 

    59 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Mantan Aleg Deprov Diamankan Polda, Terkait Dugaan Pemalsuan Surat di Pertambangan Pohuwato

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Buron Kasus SPBE Boalemo Diciduk di Jakarta

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Penambang Ilegal Saripi Tebar Teror, Rusak Fasilitas Pabrik Gula, Karyawan Resah dan Ketakutan

    81 shares
    Share 32 Tweet 20
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.