Oleh:
Arifasno Napu
Membuat sekujur tubuh gembira dan bersemangat ketika menerima informasi bahwa Program Strategis Nasional Makan Bergizi Gratis (PSN MBG) akan melaksanakan proses edukasi kepada para siswa melalui kurikulum di sekolah. Ini disampaikan oleh kepala BGN (Badan Gizi Nasional) bapak Sudaryono, https://www.facebook.com/reel/2035012890471420 Pembelajaran ini dibutuhkan komitmen kerja sama secara lintas sektor, lintas program dan lintas profesi serta dengan seluruh masyarakat.
Pernyataan yang bila diseriusi ini akan memperbaiki pelaksanaan PSN MBG yang selama ini banyak masalahnya dan tentunya untuk masa depan dapat mencegah penjajahan yang permanen karena MBG pada rakyat Indoensia. Tercegahnya penjajahan permanen dimaksud adalah proses terbelajarkannya bangsa Indonesia secara berjenjang tentang makanan, gizi dan kesehatan. Juga memperoleh tindakan kepraktisan untuk melakukan praktik penyelenggaraan makanan tradisional baik di institusi pendidikan maupun di rumah.
PSN MBG telah menyerap anggaran yang sangat besar dan dapat dikatakan bahwa baru program ini dibiayai melalui Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara (APBN) dengan jumlah yang paling besar. Sasaran yang dituju adalah kelompok yang rawan seperti ibu hamil/menyusui, anak balita, anak sekolah (PAUD, SD, SLTP, SLTA dan yang sederajat). Bila hanya diberi makan secara terus menerus, maka ini telah menciptakan siklus pemberian makan kepada sasaran hanya untuk meningkatkan berat badan saja (apa dapat dikatakan penggemukan?). Suatu ketika, program ini akan dikurangi jumlah sasarannya atau berhenti, maka apa yang bisa dilakukan dengan upaya mencegah terjadinya masalah gizi kurang/buruk, masalah pendek, kegemukan, termasuk yang berdampak pada munculnya masalah kesehatan apakah penyakit menular maupun penyakit tidak menular.
Langkah tepat untuk mengupayakan PSN MBG berjalan dengan baik dan dibutuhkan oleh masyarakat, ini sejatinya ditambahkan untuk pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat. Itu adalah pondasi hidup dan untuk kehidupan di masa yang akan datang terutama menyongsong Indonesia Emas 2045. Dan tidak lain merupakan pembelajaran kepada masyarakat secara terencana, terstruktur, masif dan berkesinambungan, https://gorontalo.kemenag.go.id/opini/makan-bergizi-gratis-dan-masa-depan-bangsa
Pembelajaran dapat dilaksanakan secara nonformal, informal dan formal. Untuk pembelajaran nonformal dapat dilakukan melalui peningkatan upaya promotif pada masyarakat termasuk pada sektor pemerintahan dan swasta misalnya tersedianya produk-produk makanan Indonesia yang terbuat dari bahan pangan Indonesia; untuk informal dapat diberikan pengetahuan dan praktik yang kegiatannya melalui lingkungan keluarga. Secara formal, bagaimana hadirnya dan terlaksananya kurikulum pembelajaran tentang makanan, gizi dan kesehatan yang berbasis makanan tradisional secara nasional dalam dunia pendidikan dasar, menengah sampai perguruan tinggi.
Secara formal bila pelaksanaan pembelajarannya dapat berjalan dengan baik, maka berdampak pula pada proses pembelajaran secara informal dan nonformal. Pembelajaran dengan kurikulum dimaksud sudah ada daerah yang menerapkannya yakni Daerah Gorontalo sejak tahun 2007. Nantinya makanan tradisional yang berbahan pangan lokal dapat menjadi makanan pilihan bahkan sebagai makanan utama dalam kehidupan di Indonesia pada hari ini, besok dan sepanjang masa.
Kekokohan pelaksanaan pembelajaran sangat penting memiliki payung hukumnya yang menjamin tetap berjalan terus pembelajarannya sekalipun terjadi pergantian kepemimpinan nasional maupun unsur lainnya. Oleh karena itu untuk keberlangsungan pembelajarannya dibutuhkan tenaga pendidik yang berlatar belakang pendidikan gizi minimal Sarjana Terapan Gizi dan Dietetika; pada setiap sekolah dibuatkan bangunan representatif beserta peralatannya yang berfungsi sebagai laboratorium praktik kuliner serta disediakan bahan pangan lokal untuk pelaksanaan praktik. Tidak kalah pentingnya adalah pembelajaran di sekolah melaksanakan praktik langsung pada siswa. Praktik dimaksud adalah mempraktikkan tata cara memasak menu makanan tradisional berdasarkan torehan para leluhur Indonesia yang bervariasi dan berkualitas untuk kesehatan. Juga membuat modifikasi menu yang menggunakan bahan pangan lokal dan dapat menyesuaikan dengan bahan pangan lain.
Pembelajaran yang berdasarkan kurikulum pada akhirnya memberikan dampak peningkatkan pengetahuan tentang makanan, gizi dan kesehatan pada setiap individu Indonesia. Dengan pengetahuan yang dipelajari akan terjadi perubahan sikap dalam mengkonsumsi makanan dan pembelajaran Ilmu Gizi berbasis makanan tradisional dapat menciptakan kemampuan untuk mempraktikkan konsumsi makanan tradisional dengan dua syarat utamanya yakni halal (bagi muslim) dan baik meliputi alami, beragam, bergizi, berimbang, aman dan menyehatkan.
Bila sekolah itu dapat melaksanakan kurikulum tentang Ilmu Gizi Berbasis Makanan Tradisional, maka terbentuklah siklus hidup di Indonesia yang berpondasi dan bertanggung jawab untuk menyadarkan masyarakat tentang makanan, gizi dan kesehatan. Artinya bahwa sekolah ini telah menjadi SEKOLAH SADAR GIZI, https://dinkes.gorontaloprov.go.id/sekolah-sadar-gizi-berbasis-makanan-tradisional/
Terlaksananya pembelajaran Ilmu Gizi berbasis Makanan Tradisional dapat menjadi langkah nyata dalam mengembangkan dan melestarikan budaya di Indonesia. Budaya ini telah dilahirkan dari beragam suku (Heriawan 2010 : hasil sensus BPS ada 1128 suku) dan agama serta menjadi potensi kekayaan yang dimiliki bangsa.
Pemberian MBG tetap dilaksanakan dan suatu ketika penting diserahkan sepenuhnya dalam proses pembelajaran di sekolah. Anak sekolah dibelajarkan oleh ahli gizi sebagai guru tentang makanan, gizi dan kesehatan serta belajar mempraktikkan makanan tradisional yang secara langsung dapat menjadi transformasi ilmu pengetahuan dari perguruan tinggi atau lembaga riset lainnya.
Pembelajaran teori dapat dilaksanakan setiap pekan dan praktik dapat dilakukan sebulan sekali untuk menanamkan dan menumbuhkembangkan rasa memiliki makanan tradisional sebagai warisan budaya tak benda kepada rakyat Indonesia. Peserta didik secara langsung dibelajarkan pula tentang kemampuan untuk berusaha atau enterpreneurship secara praktis dan bermakna termasuk jiwa berusaha seperti produksi yang dilakukan oleh UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) sebagai usaha ekonomi produktif yang dijalankan oleh perseorangan atau badan usaha. Peserta didik akan memahami dan mempraktikkan betapa pentingnya ilmu tentang makanan, gizi dan kesehatan dalam kehidupan sehari-hari sebagai upaya preventif, promotif, bahkan kuratif dan rehabilitatif terhadap berbagai masalah makanan, gizi dan kesehatan. Dan akhirnya proses pembelajaran yang masif dan berkesinambungan dapat berdampak terbentuknya perilaku ”SEHAT MELALUI MAKANAN” dalam masyarakat Indonesia sehingga lahirlah generasi bangsa yang sehat, berkualitas, berdaya saing dan diandalkan di Indonesia Emas 2045 bahkan sepanjang masa. Semoga Allah SWT selalu memberikan yang terbaik buat kita semuanya dalam berkarya bersama, Aamiin. (*)
Pustaka:
Heriawan R. 2010. Indonesia Miliki 1128 Suku Bangsa. http://www.jpnn.com/index. php?mib=berita.detail&id=57455 Napu A. 2024. Sekolah Sadar Gizi Berbasis Makanan Tradisional. https://dinkes.gorontaloprov.go.id/sekolah-sadar-gizi-berbasis-makanan-tradisional/
Napu A. 2025. Makanan bergizi dan Masa Depan Bangsa https://dinkes.gorontaloprov.go.id/sekolah-sadar-gizi-berbasis-makanan-tradisional/
Napu A. 2025 Salam Gizi! Yth, Presiden RI Jenderal (Pur.TNI) Prabowo Subianto. https://gorontalopost.co.id/2025/10/03/salam-gizi-yth-presiden-ri-jenderal-pur-tni-prabowo-subianto/
Napu A. 2025. Salam Gizi! Yth: Anggota DPR RI, DPD, Gubernur, Bupati, Wali Kota, Ketua dan Anggota DPRD Provinsi, Kabupaten, Kota Sebagai Representasi Penduduk Gorontalo Terbaik… https://gorontalopost.co.id/2026/06/18/salam-gizi-yth-anggota-dpr-ri-dpd-gubernur-bupati-wali-kota-ketua-dan-anggota-dprd-provinsi-kabupaten-kota-sebagai-representasi-penduduk-gorontalo-terbaik/
Napu A. 2024. Anak Sekolah Indonesia Makan Gratis Masalah Gizi Dan Kesehatan Meningkat. https://dinkes.gorontaloprov.go.id/anak-sekolah-indonesia-makan-gratismasalah-gizi-dan-kesehatan-meningkat/
Penulis adalah Akademisi, Ketua DPD Pergizi Pangan Provinsi Gorontalo, Pembina DPD Persagi Provinsi Gorontalo, Pengalaman Bidang makanan, Gizi dan Kesehatan Lebih Dari 33 Tahun













Discussion about this post