Oleh:
Iki Usman
Dua rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo pada 2 November 2026 membawa kabar yang sama: dua komoditas andalan daerah ini sama-sama menyusut. Produksi padi 2026 diperkirakan 271,42 ribu ton gabah kering giling (GKG), turun 3,47 persen. Produksi jagung pipilan kering diperkirakan 524,64 ribu ton, anjlok 19,69 persen.
Kedua angka itu masih berstatus sementara, hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) amatan September. Namun polanya sudah cukup jelas untuk dibaca: padi masih mampu bertahan, sementara jagung tumbang. Di baliknya ada cerita tentang air, iklim, dan efektivitas bantuan yang perlu dibuka secara jujur.
Membaca Angka Panen 2026
Luas panen padi tercatat 50,34 ribu hektare, menyusut 3,55 ribu hektare atau 6,60 persen dari 2025. Penurunan produksi yang hanya separuhnya menunjukkan adanya kompensasi dari sisi produktivitas, yang naik dari sekitar 5,22 menjadi 5,39 ton GKG per hektare. Dalam bahasa ekonomi pertanian, kehilangan akibat menyusutnya luas tanam sebagian tertutupi oleh keberhasilan intensifikasi. Selisih 0,17 ton per hektare tampak kecil, tetapi pada skala puluhan ribu hektare, kenaikan ini menyelamatkan ribuan ton gabah. Setelah dikonversi, produksi beras untuk konsumsi penduduk diperkirakan 151,55 ribu ton, berkurang sekitar 5,44 ribu ton.
Dimensi waktu memberikan petunjuk yang lebih tajam. Produksi padi Januari–September 2026 hanya turun 0,93 persen. Kontraksi terkonsentrasi pada triwulan terakhir, potensi luas panen Oktober–Desember 2026 hanya 5,82 ribu hektare, jauh di bawah realisasi 7,18 ribu hektare pada periode yang sama tahun lalu. Karena umur padi berkisar tiga hingga empat bulan, angka ini pada dasarnya merekam keputusan tanam pada Agustus dan September. Dengan kata lain, penurunan produksi padi terutama berasal dari lahan yang tidak ditanami, bukan dari tanaman yang gagal tumbuh.
Gambaran pada jagung jauh lebih mengkhawatirkan. Luas panen jagung pipilan menyusut 20,41 ribu hektare menjadi 110,10 ribu hektare, dan produksinya berkurang 128,64 ribu ton, kira-kira tiga belas kali lebih besar daripada kehilangan produksi padi sebesar 9,75 ribu ton GKG. Berbeda dengan padi, produktivitas jagung justru turun dari sekitar 5,0 menjadi 4,8 ton per hektare. Jagung tertekan dari dua arah sekaligus, luas tanam berkurang dan hasil per satuan lahan melemah.
Pola musimannya memperkuat kesimpulan tersebut. Puncak panen April menyusut dari 26,00 ribu menjadi 19,82 ribu hektare. Potensi panen Oktober–Desember 2026 hanya 6,95 ribu hektare, sekitar sepertiga dari 21,24 ribu hektare tahun lalu, dengan potensi produksi sekitar 30,9 ribu ton dibandingkan lebih dari 102 ribu ton pada 2025.
Dampak sosial-ekonominya tidak boleh dipandang ringan. Bagi rumah tangga petani Gorontalo, jagung adalah sumber likuiditas utama, hasil panennya membiayai pendidikan anak, melunasi kredit sarana produksi, dan menggerakkan konsumsi di pasar kecamatan. Penurunan hampir seperlima produksi berpotensi menekan pendapatan rumah tangga tani dan, melalui efek berganda, melemahkan ekonomi perdesaan dalam beberapa bulan ke depan.
Disagregasi data padi menurut kabupaten/kota memperlihatkan heterogenitas yang tinggi. Boalemo menjadi anomali positif, luas panen naik 25,90 persen dan produksi melonjak 29,17 persen menjadi 57,35 ribu ton GKG. Kabupaten Gorontalo tetap menjadi sentra utama dengan produksi 138,34 ribu ton GKG, sekitar 51 persen total provinsi, dan masih tumbuh 4,27 persen. Konsentrasi sebesar ini adalah kekuatan sekaligus sumber kerentanan sistemik, karena gangguan di satu kabupaten langsung memengaruhi pasokan provinsi.
Empat daerah lainnya mengalami kontraksi. Bone Bolango mencatat penurunan terdalam, 39,14 persen, dengan potensi panen akhir tahun hanya 85 hektare dibandingkan 1.659 hektare tahun lalu. Produksi Kota Gorontalo turun 31,03 persen dengan potensi panen akhir tahun nyaris nol. Gorontalo Utara turun 24,89 persen dan memiliki produktivitas terendah, sekitar 4,35 ton per hektare.
Pohuwato menarik untuk dicermati. Luas panennya turun 31,43 persen, tetapi produksinya hanya turun 17,22 persen karena produktivitas naik dari sekitar 4,0 menjadi 4,8 ton per hektare. Pola ini konsisten dengan hipotesis seleksi lahan, petani mempertahankan petak yang airnya memadai dan meninggalkan lahan marginal. Adapun penyusutan di Kota Gorontalo dan Bone Bolango, dua wilayah yang berbatasan dengan kawasan perkotaan yang terus tumbuh, patut dibaca sebagai indikasi alih fungsi sawah yang umumnya bersifat permanen.
El Niño, Bantuan, dan Klaim Swasembada
Faktor iklim merupakan penjelas utama pola tersebut. BMKG menyatakan El Niño tahun ini berkategori sangat kuat dan terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, sehingga awal musim hujan di 61 persen wilayah Indonesia mundur (Detik, 2026). Pada akhir September, sebagian wilayah Gorontalo berstatus Awas kekeringan (CNBC Indonesia, 2026), dan Stasiun Klimatologi Gorontalo memperkirakan El Niño bertahan hingga awal 2027 (GoSulut, 2026).
Ketika data iklim disandingkan dengan kalender tanam, mekanismenya menjadi terang. Padi yang dipanen Juli dan Agustus telah melewati fase kritis sebelum kemarau memuncak. Sebaliknya, petani yang semestinya mulai menanam pada Agustus dan September menghadapi debit sungai yang menurun dan irigasi yang tidak lagi andal. Dalam kondisi demikian, menunda tanam adalah keputusan rasional untuk menghindari gagal panen. Jagung lebih rentan lagi karena sebagian besar dibudidayakan di lahan kering tadah hujan, tanpa irigasi atau pompa sebagai penyangga, hujan yang terlambat berarti musim tanam yang tertunda.
Risiko iklim juga dapat berbalik arah. BMKG memperkirakan hujan datang lebih singkat namun lebih deras, dengan puncak Desember hingga Februari, sehingga kawasan sekitar Danau Limboto dan daerah aliran Sungai Bone dapat beralih dari kekeringan ke banjir dalam hitungan minggu.
Dari sisi kebijakan, Gorontalo tidak kekurangan intervensi sepanjang 2026. Usai Penas Petani Nelayan ke-17, Kementerian Pertanian menambah bantuan Rp53 miliar, termasuk paket budidaya padi untuk 10.000 hektare dan benih jagung hibrida untuk 40.000 hektare (InfoPublik, 2026). Pemerintah Provinsi menyalurkan alat dan mesin pertanian senilai Rp3,18 miliar (Prosesnews, 2026), dan Gorontalo Utara menerima benih padi untuk 1.382 hektare.
Program berskala terbesar adalah cetak sawah 5.642 hektare, dengan alokasi 5.000 hektare di Pohuwato. Namun, menurut Gubernur, sawah baru 2025–2026 yang telah ditanami baru sekitar 879 hektare (Gorontalo Post, 2026). Evaluasi BRMP Gorontalo juga menemukan lahan hasil cetak yang belum dapat ditanami karena air irigasi belum tersedia (RRI, 2026).
Data BPS kemudian menghadirkan paradoks kebijakan. Pohuwato, penerima alokasi cetak sawah terbesar, justru kehilangan 2.589 hektare luas panen padi. Bantuan benih jagung untuk 40.000 hektare juga tidak tecermin pada luas panen, yang malah menyusut lebih dari 20 ribu hektare. Ini tidak berarti bantuan tersebut sia-sia, tanpa intervensi, penurunan mungkin lebih dalam. Namun, temuan ini menegaskan bahwa benih, alat mesin, dan lahan baru tidak akan efektif tanpa jaminan ketersediaan air.
Secara nasional, BPS memperkirakan potensi produksi beras September–November 2026 turun 11,95 persen (Bloomberg Technoz, 2026). Pemerintah pusat tetap menegaskan swasembada beras terjaga tanpa impor, dengan pengadaan dalam negeri Bulog mencapai 4,24 juta ton setara beras hingga akhir Oktober (Jawa Pos, 2026). Cadangan yang memadai memang menjadi penyangga harga menjelang Natal dan Tahun Baru. Namun, stok berbeda dengan produksi. Stok bersifat sementara dan harus diisi kembali dari panen berikutnya. Apabila luas tanam di daerah terus menyusut, keberlanjutan swasembada akan bertumpu pada gudang, bukan pada sawah.
Belajar dari El Niño 2023
Situasi ini bukan yang pertama. El Niño yang menguat pada semester kedua 2023 memberikan pelajaran yang sangat relevan. Secara nasional, produksi beras 2023 turun 1,39 persen menjadi 31,10 juta ton, dan impor beras sepanjang tahun itu mencapai 3,06 juta ton, tertinggi dalam lima tahun terakhir (Investortrust, 2024).
Pelajaran terpentingnya adalah efek tunda. Karena musim tanam akhir 2023 mundur, potensi luas panen padi nasional Januari–April 2024 turun 16,48 persen dan produksi beras pada periode tersebut turun 17,52 persen dibandingkan tahun sebelumnya (Republika, 2024). Dengan kata lain, dampak terbesar El Niño justru dirasakan setelah fenomena itu mereda.
Gorontalo mengalami pola yang serupa. Luas panen padi provinsi pada 2024 hanya 46,95 ribu hektare dengan produksi 234,86 ribu ton GKG (BPS Provinsi Gorontalo, 2025), terendah dalam periode 2024–2026. Puncak panen bahkan bergeser dari Januari pada 2023 ke September pada 2024 (Antara Gorontalo, 2024). Pemulihan baru terlihat pada 2025, ketika produksi naik menjadi 281,17 ribu ton GKG atau sekitar 20 persen di atas 2024.
Bila pola tersebut berulang, penurunan 3,47 persen pada 2026 mungkin belum menjadi titik terendah. Jika El Niño bertahan hingga triwulan pertama 2027, tekanan terbesar justru dapat muncul pada panen Januari–April 2027, periode yang selama ini menjadi tumpuan produksi padi dan jagung Gorontalo. Pengalaman 2023 juga menunjukkan bahwa langkah adaptasi seperti pompanisasi dan percepatan tanam baru digencarkan setelah produksi telanjur turun. Tantangan kali ini adalah menjalankannya sebelum dampak itu terjadi, bukan sesudahnya.
Apa yang harus dilakukan?
Dari uraian tersebut, setidaknya terdapat lima prioritas kebijakan, dan seluruhnya bermuara pada pengelolaan air.
Prioritas paling mendesak adalah mengamankan musim tanam November–Desember. Benih, pupuk, dan alat tanam harus tersedia di kelompok tani sebelum hujan pertama turun, dan penyuluh perlu membantu menyusun jadwal tanam agar panen tidak bertepatan dengan puncak hujan Januari–Februari.
Kedua, anggaran 2027 sebaiknya menempatkan infrastruktur air sebagai prioritas utama, pompa, embung desa, saluran tersier di areal cetak sawah Pohuwato, serta normalisasi sungai yang sedimentasinya menghambat irigasi sawah eksisting. Investasi ini semestinya didahulukan sebelum perluasan cetak sawah berikutnya, termasuk sumur dangkal dan pompa bagi petani jagung di lahan kering.
Ketiga, kebijakan perlu bersifat spesifik lokasi. Faktor keberhasilan Boalemo perlu dikaji dan direplikasi, sawah di Kota Gorontalo dan Bone Bolango perlu dilindungi melalui penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang ditegakkan secara konsisten, dan Gorontalo Utara memerlukan pendampingan teknis untuk mengejar ketertinggalan produktivitas.
Keempat, data perlu difungsikan sebagai sistem peringatan dini. Survei KSA memantau fase tumbuh tanaman setiap bulan sehingga potensi panen tiga bulan ke depan dapat diketahui lebih awal. Potensi panen Bone Bolango yang hanya 85 hektare, misalnya, sudah menjadi sinyal bahaya sejak amatan September. Jika sinyal semacam ini ditindaklanjuti, pompa dan benih dapat dikirim sebelum petani memutuskan untuk tidak menanam.
Kelima, perlindungan risiko bagi petani perlu diperluas melalui asuransi usaha tani padi dan jagung, benih pengganti untuk lahan puso, serta kepastian penyerapan hasil panen dengan harga layak. Instrumen ini menurunkan risiko yang ditanggung petani sehingga mereka tetap berani menanam di tengah ketidakpastian iklim.
Data BPS tahun ini sebaiknya dibaca sebagai peringatan dini, bukan vonis. Kenaikan produktivitas padi membuktikan bahwa kapasitas petani Gorontalo terus berkembang. Yang perlu dikoreksi adalah indikator keberhasilan kebijakan, bukan jumlah alat mesin yang diserahkan atau luas sawah yang dicetak, melainkan luas lahan yang benar-benar dipanen. Apabila ketersediaan air dapat dijamin, Gorontalo tidak hanya akan melewati El Niño kali ini, tetapi juga lebih siap menghadapi El Niño berikutnya, yang dalam iklim yang terus berubah hampir pasti akan datang. (*)
Penulis adalah ASN BPS Gorontalo












Discussion about this post