Oleh:
Basri Amin
JANGAN lupa bahwa Provinsi Gorontalo sejak tahun 2018 telah menetapkan November sebagai Bulan Literasi Daerah melalui Peraturan Gubernur (PERGUB) Nomor 22 Tahun 2018. Tantangan seriusnya, apakah daerah ini semakin serius dan konsisten membangun basis literasi bagi generasi masa depannya?
JANGAN sampai Gorontalo kita, sadar atau tanpa sadar, makin menjauh dari akar cita-cita besarnya ketika diperjuangkan begitu heroik otonominya pada tahun 1999—2001. Semua itu tertanam dalam pertaruhan kepada keadilan (di) daerah, perbaikan kesejahteraan, perlawanan kepada kemiskinan dan daya unggul Generasi Gorontalo, serta penjaminan daya dukung sumberdaya alam kita demi masa depan bersama.
Anggaran (di) daerah terkesan belum sepenuhnya di-arahkan kepada pertaruhan jati diri cita-cita utama di atas. Kita harus memeriksa lebih jujur “komposisi anggaran” Provinsi Gorontalo untuk penyiapan dan dukungan penuh kepada keunggulan (literasi) generasi mendatang. Agar tidak menjadi penonton perubahan dan korban AI di zaman ini.
Apakah orang-orang terbaik yang berkualitas, yang konsisten kapasitas dan integritasnya sudah benar-benar beroleh tempat dalam kerja-kerja pemerintahan?
Jangan sampai, bau-bau kelompok kepentingan, distorsi-distorsi pengukuran kualitas dan penempatan kepejabatan, serta ikatan-ikatan subjektif lainnya semakin dominan. Kita butuh review yang handal hingga di tingkat terbawah jika daerah ini benar-benar konsisten menyatukan “kata dan perbuatan” untuk masa depannya.
Rakyat berhak atas pemerintahan yang hebat kerjanya dan bermutu misinya!
Karena itu, janganlah kiranya kerja-kerja pembangunan dan kemajuan daerah terkesan dikepung perumusan dan imlementasinya oleh kelompok pejabat daerah dan birokrasinya yang serba praktis –-atas nama regulasi dan kewenangan!—. Demi partisipasi dan akuntabilitas ke masa depan, sekali lagi, Gorontalo selalu butuh telaah yang mendalam dan yang terjiwai; yang melampaui ukuran-ukuran teknokratis…Di sinilah, kepemimpinan daerah kita butuhkan kehebatan manajerial-intelektualnya.
Anggaran (pembangunan) Gorontalo kita pun sebaiknya di-review secara kritis dan ber-visi masa depan yang hebat. Masih kuat terkesan pemborosan di mana-mana dan indikasi “pembiyaan daerah untuk gaya-gayaan” masih tampak mengesankan.
Tema generasi, kebudayaan dan persoalan-persoalan bagaimana membangun kegairahan untuk mewujudkan basis kemasyarakatan dan sikap-sikap berpengetahuan makin keteteran. Sementara ritual-ritual yang mempertontonkan kuasa dan kewenangan mengolah “uang negara” dalam proyek-proyek fisik-kasat mata makin dominan.
Apa yang kita baca setiap hari, makin terkesan, adalah “etalase kuasa” yang dalam beberapa hal adalah kepalsuan yang dipabrikasi tak ada putusnya. Padahal, bencana sudah menerjang di banyak tempat.
Belum lagi bencana laten bernama korupsi, hilangnya rasa malu dan kempesnya tanggung jawab. Mereka yang karena kedudukannya dan fasilitas yang menyertainya belum menjadi teladan di masyarakat. Tabiat ke-enak-an dengan fasilitas masih sangat terasa.
Dunia keseharian birokrasi tampaknya adalah ruang review yang mendesak untuk Gorontalo jika hendak memastikan apakah daerah ini bisa punya basis ke masa depan. Jika tidak, maaf, Gubernur bisa saja “terkesan” tentang alam nyata Gorontalo melalui laporan-laporan praktis-pencapaian yang disusupi oleh mentalitas rutin birokrasi – pemerintahan. Sementara, kita butuh rangkaian momentum yang digerakkan dengan dedikasi dan penjiwaan kerja yang berkapasitas…
Gorontalo di abad ke-21 ini belum mengesankan terobosan masa depannya! Terkesan masih banyak pejabat publik kita yang “anti belajar” dan bertabiat “menutup diri” dari tekanan-tekanan atau tawaran-tawaran (terbaik) yang berkembang di luar pemerintahan.
Padahal, tradisi bergagasan maju sudah menjadi identitas Gorontalo sejak awal abad ke-20. Tradisi intelektual dan biografi daerah ini tak bisa dipandang sebelah mata. Apa buktinya? Adalah Po-noewa! Po-Noewa adalah majalah yang terbit bulan November 1932 sebanyak 8 (delapan) edisi di Gorontalo. Isinya penuh gagasan hebat yang melampaui zamannya.
Ini adalah bukti sejarah paling awal dan nyata mengenai “karya intelektual” dan pencapaian literasi Gorontalo yang pernah dihasilkan oleh tangan-tangan terbaik Gorontalo. Atas dasar itulah, Po-Noewa dijadikan sebagai tonggak perubahan penting dalam kesadaran dan gerakan pencerdasan bangsa di Gorontalo menuju masa depan.
Dari sinilah pula inspirasi untuk mengukuhkan tradisi intelektual dan kesadaran peradaban Gorontalo dikukuhkan (kembali) dan dijadikan sumber inspirasi dan momentum untuk melangkah lebih jauh di berbagai arena kehidupan di tingkat nasional dan global.
Gorontalo bahkan bisa membesarkan sejarahnya melalui sebuah “kalender penyadaran” identitas dan literasi yang bisa kita susun selama setahun penuh, terutama dengan menggunakan kebesaran tokoh-tokoh kita yang reputasi nasionalnya terakui. Sebagai usulan, untuk bulan April, kita jadikan bulan ini untuk tema kebangsaan/nasionalisme karena April adalah bulan kelahiran Nani Wartabone (30 April 1908).
Kita kemudian lanjut pada Mei untuk kita gunakan sebagai bulan pembahasan pendidikan adat dan tradisi dengan merujuk bulan kelahiran Prof. S.R. Nur. Selanjutnya, Juni, kita jadikan bulan sains dan teknologi dengan merujuk bulan kelahiran John Ario Katili dan B.J. Habibie (Juni).
Tidak terputus di situ, Juli kita lanjutkan menjadi bulan untuk sastra dan kebudayaan karena Juli adalah bulan kelahiran H.B. Jassin; kemudian disambut dengan itu, Agustus akan secara khusus menjadi ‘bulan bahasa Gorontalo’ untuk mengenang Prof. Mansoer Pateda (lahir Agustus).
Bulan depannya, September, adalah bulan kelahiran Tajeb Gobel. Kita jadikan September ini sebagai bulan untuk pembahasan ekonomi dan menggerakkan etos kewirausahaan Gorontalo. Untuk Oktober, kita punya tokoh Hakim Agung yang lahir di bulan ini, Brigjen Piola Isa. Kita jadikan Oktober untuk tema hukum, keadilan dan sekuriti.
Berikutnya, ketika kita masuki November, ini adalah bulan kelahiran Prof. Aloe Saboe. November menjadi bulan untuk tema pembangunan kesehatan masyarakat, sekaligus sebagai Bulan Literasi Gorontalo.
Desember, HUT Provinsi Gorontalo, bukan!
Tidak lama setelah itu, Januri, kita sudah harus menjadikan “23 Januari” sebagai momentum refleksi kebangsaan, kegorontaloan dan pengukuhan tentang pluralisme, sekaligus untuk mengenang kebesaran tokoh kita Nani Wartabone, R.M. Kusno Dhanupoyo, Pendang Kalengkongan dan Komite 12 – Patriotik 23 Januari 1942.
Merujuk kepada bulan kelahiran para Tokoh (Gorontalo) tersebut dimaksudkan untuk lebih mendekatkan elemen biografi, sejarah dan dimensi pendidikan/pewarisan “etos belajar” dan “keteladanan” yang bersifat lintas generasi di Gorontalo.
Dengan demikian maka “identitas” ke-Gorontalo-an tidak terpisah dari dinamika sejarah yang ada, tetapi sekaligus memberikan “rasa bangga” kepada generasi sekarang bahwa semangat berprestasi itu sudah lama “tertanam” di Gorontalo –sebagaimana terlihat dari kiprah hidup dan karya-karya tokoh-tokoh kita–. Keteladanan mereka merupakan bagian dari kontribusi peradaban dan kebanggaan nasional Gorontalo. Bagaimana?
Kalender Daerah adalah penentu apakah Gorontalo kita punya “profile” handal dengan citra yang sebenarnya di panggung perubahan dunia. ***
Penulis adalah Bekerja di Universitas Negeri Gorontalo
Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)
E-mail: basriamin@gmail.com














Discussion about this post