logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

86 Tahun Zain Badjeber: Tokoh (Istimewa) Sulawesi, Berkarya untuk Republik  

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Monday, 13 February 2023
in Persepsi
0
Gorontalo 1942:  “Merdeka” Empat Bulan

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Batas-Batas Pengobatan

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Profesi-Profesi Hebat

 

Oleh :
Basri Amin

Dari tangan H. Zain Badjeber saya menerima kepercayaan mendokumentasikan beberapa dokumen dan peristiwa langka di Sulawesi dan di tingkat nasional. Beliau menitipkannya untuk dikaji lebih lanjut di Pusat Studi Dokumentasi (PSD) H.B. Jassin – Gorontalo. Di antaranya, dan inilah yang cukup istimewa, adalah dokumen asli sambutan tertulis dan tertandatangani oleh Gubernur Kepala Daerah Sulawesi Utara – Tengah, Mr. Arnold Baramuli. Tertanggal di Manado 28 Oktober 1961.

Pesan moral di balik dokumen ini, antara lain melalui ungkapan yang sangat lantang dari Gubernur A. Baramuli di hadapan pemuda Sulutteng, 28 Oktober 1961: “…lebih baik gugur berbakti untuk Nusa dan Bangsa daripada hidup tertjemar seumur hidup…”.

Sejak mengenal nama H. Zain Badjeber, yang selalu terbayang adalah kiprahnya di dunia politik. Pertama kali membacanya melalui risalah Sidang Paripurna DPR-RI ketika memutuskan RUU untuk Provinsi Gorontalo, yakni UU Nomor 38 tahun 2000. Ketika itu, Zain Badjeber adalah Ketua Fraksi PPP (No.Anggota 28). Yang unik, ketika penutup pidato beliau pada momentum itu, Zain Badjeber menggunakan beberapa tuja?i klasik dan petuah (berbahasa daerah) Gorontalo tentang praktik-praktik demokratis dalam sejarah politik pemerintahan (di masa kerajaan) di Gorontalo. Itulah kali pertama sebuah “bahasa daerah” terdengar digunakan dalam persidangan resmi di DPR-RI (Amin, dkk, 2013: 142-143).

Jejak-juang Zain Badjeber di dunia politik bermula ketika terpilih sebagai Anggota DPRD Sulawesi Utara mewakili golongan Cendekiawan (1964-1967). Selanjutnya menjadi Anggota DPRGR/MPRS-RI, Fraksi Nadhlatul Ulama (NU), 1967-1971. Pada periode 1974-1977, menjadi Anggota MPR-RI (Fraksi PPP). Posisi di MPR terus berlangsung sampai tahun 1982. Uniknya, Zain Badjeber pada periode 1992-1997-1999 terpilih mewakili Kalimatan Selatan sebagai Anggota DPR/MPR-RI (Fraksi PPP).

Di masa yang cukup kritikal dalam transisi demokrasi kita, Zain Badjeber berperan besar dalam berbagai “perumusan legislasi” karena berposisi sebagai Ketua Badan Legislasi DPR-RI/Badan Pekerja MPR-RI, panitia Ad-Hoc III & I BP-MPR-RI dan Pimpinan Komisi C/A MPR-RI yang berkerja menentukan “Perubahan” UUD 1945. Karena reputasi (kerja) akademis, kapasitas politis, dan integritas kepemimpinannya, Zain Badjeber (terbukti!) tidak pernah ‘pensiun’ bekerja untuk Negeri ini di gedung DPR/MPR-RI. Tercatat jelas bahwa pada 2009-2019, berposisi sebagai ahli khusus untuk Pimpinan MPR-RI dan Anggota Lembaga Pengkajian MPR-RI. Sejak itu pula, Zain Badjeber terus berperan di Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR-RI (K3-MPR-RI, 2019-2024). Hanya satu jejak pengabdian yang sempat berpisah sejenak dengan MPR-RI, yakni ketika Zain Badjeber  menjadi Tenaga Ahli Khusus Jaksa Agung, R.I (2005-2007).

Zain Badjeber lahir pada 12 Februari 1937 di Poso dan mengabdi kepada Republik sejak tahun 1954-1955, tepat ketika terpilih menjadi Ketua Ranting Pelajar Islam Indonesia (PII) SMKA Negeri Makassar. Saya menandai tahun ini karena sejak itulah Zain Badjeber mendedikasikan dirinya untuk “kepentingan bangsa” dan untuk “orang banyak”. Dia terus menempa visi politik-kepemudaannya. Hanya saja, tuntutan akademisnyalah yang lebih banyak menariknya di bidang Hukum dan Partai Politik.

Beliau menulis tidak kurang sembilan buah buku kajian Hukum dan Konstitusi sejak tahun 1979. Sejajar dengan itu, karakter utamanya dalam penulis, pekerja sosial, dan konseptor yang tajam. Itulah yang demikian lama ia perankan di PII, HSBI Sulut, GP Ansor Gorontalo (1963-1967), NU, Lembaga Misi Islam, Jakarta, Partai PPP, dan Yayasan Pendidikan dan Dakwah Islamiyah AL-HUDA, Gorontalo (sejak 1960). Dari semua kiprah itu, saya sangat menggarisbawahi peran Zain Badjeber ketika menjadi Ketua Periodik Fron Nasional (FN) Sulawesi Utara yang menggelorakan penumpasan PKI.

Jejak-juang lainnya yang tak kalah uniknya adalah peran Zain Badjeber dalam pertumbuhan media cetak, majalah dan publikasi ilmiah bidang hukum. Beliau menjadi redaktur, wartawan, penulis tetap, dan koresponden di beberapa media nasional. Untuk sekadar menyebut beberapa di antaranya: Majalah Panji Siswa, majalah Abdi PII dan harian Tinjauan, Makassar (1956-1957). Tercatat sebagai redaktur harian Duta Masyarakat, Jakarta (1968-1972), redaktur Majalah Risalah Islamiyah, Jakarta (1974-1984) dan wartawan majalah Sarinah, Jakarta (1980-1988). Tercatat pula sebagai penulis tetap di harian Pelita, Majalah Dewi (Jakarta) dan harian Gala di Bandung. Peran ini dikerjakannya sepanjang 1974-1988. Di sela-sela itu, Zain Badjeber menjadi Pemimpin Redaksi majalah Indonesia Review, Singapore (1980-1982).

Jejak-juang lain yang tak banyak orang tahu, bahwa Zain Badjeber pernah berposisi sebagai Hakim Pengadilan Negeri di Gorontalo dan di Kotamobagu (1958-1962); Hakim di Pengadilan Negeri Manado (1967), Hakim di Pengadilan Tinggi di Tangerang (non-aktif). Sebelum itu, Zain Badjeber sempat ditugaskan sebagai Pengatur Hukum di Mahkamah Agung, R.I (1957-1958) sebelum ditugaskan di Gorontalo. Bidang Hukum, sepertinya merupakan visi beliau sejak awal, setelah menamatkan Sekolah Menengah Kehakiman Atas Negeri Makassar, kesarjanaan hukum di Universitas Islam Djakarta dan Unsrat, Manado.

Sekembalinya bertugas di Gorontalo sebagai Hakim, rupanya Zain Badjeber sempat menjadi Guru bahasa Indonesia (bagian A/Sastra) di SMA Negeri I Kota Gorontalo. Ketika itu, Direktur sekolahnya adalah Arie Monoarfa. Buku ajar andalan Zain Badjeber adalah karya H.B. Jassin, Tifa Penyair dan Daerahnya (edisi Gunung Agung, 1952). Enam belas tahun kemudian, Zain Badjeber secara khusus mewawancarai dengan H.B Jassin yang termuat lengkap di majalah Risalah Islamiyah (No.10/VII/1975: 28-44)

Catatan ini terlalu singkat untuk mengurai lebih jauh tentang Zain Badjeber. Saya pun sangat terbatas dan tak mampu mengurai banyak sisi tentang putra terbaik (Gorontalo) ini karena begitu banyak dedikasi-karya dari kehidupannya yang unik. Apalagi karena beliau pernah berkiprah di bidang ekonomi, terutama sebagai Komisaris dan Direktur Utama GAPSU (Gabungan Pelayaran Sulawesi Utara), 1976-1988; 1988-1994. Di periode ini, begitu banyak pencapaian yang digerakkan di bidang ekonomi, satu di antaranya adalah pengadaan kapal dari Jepang dan kunjungan internasionalnya di beberapa negara di Eropa, Asia, dll.

Bagi kita di Gorontalo, hingga hari ini, semoga saya tak berlebihan menyatakan bahwa H. Zain Badjeber adalah tokoh nasional-Gorontalo paling otoritatif dalam menjelaskan beberapa peristiwa penting dalam sejarah Republik ini di Gorontalo, antara lain tentang: (a) Peristiwa Patriotik “Merah Putih” 23 Januari 1942; (b) kedatangan Presiden Soekarno pada Oktober 1957; (c) penumpasan Permesta 1958-1959, dsb.

Tentu saja masih banyak peristiwa penting yang mampu digambarkan oleh Zain Badjeber, terutama dalam konteks koneksinya dengan sejumlah tokoh, momentum, dan relasi-relasi kesejarahan yang membentuk pertumbuhan kita sebagai negara-bangsa, antara lain menyangkut media-media cetak lokal di Sulawesi, gerakan Pelajar Islam Indonesia (PII), gerakan Pemuda Sulawesi Utara, kiprah Nadhlatul Ulama di Sulawesi Utara dan nasional, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dst.

Selamat, alhamdulillah, kepada H. Zain Badjeber memasuki usia ke-87 tahun. Tak terkira jejak-juang (melintasi zaman), tidak kurang enam dekade, yang telah bapak lalui. Secuil catatan ini hanya hendak menegaskan bahwa generasi kami yang lahir (jauh) di ‘belakang’ Bapak berusaha belajar lebih banyak dan bekerja (lebih) banyak lagi: bahwa hidup yang bernilai adalah hidup yang dijalani dengan “jiwa pengabdian” setulus-tulusnya bagi Indonesia yang berkeadilan dan yang mencerdaskan semua orang. ***

Penulis adalah parner di Voice-of-HaleHepu;

Pos-el: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminPahlawan Nasionalspektrum sosialtokoh sulawesizain badjeber

Related Posts

Basri Amin

Batas-Batas Pengobatan

Monday, 20 April 2026
Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural   

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Monday, 20 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Friday, 17 April 2026
Basri Amin

Profesi-Profesi Hebat

Monday, 13 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Saturday, 11 April 2026
Basri Amin

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Monday, 6 April 2026
Next Post
Deisinta Mantu, Ketua PPS lantik Pantarlih Jelang Akad Nikah, Tak Bisa Keluar Rumah, Pelantikan di Dekat Puade

Deisinta Mantu, Ketua PPS lantik Pantarlih Jelang Akad Nikah, Tak Bisa Keluar Rumah, Pelantikan di Dekat Puade

Discussion about this post

Rekomendasi

AKBP H. Busroni

Pidana Menanti Polisi Terlibat PETI, Janji Kapolres Pohuwato, Termasuk Sanksi Internal

Wednesday, 22 April 2026
Dua orang remaja meninggal dunia setelah menabrak sebuah mobil tronton yang terparkir di jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

Monday, 20 April 2026
Pohuwato The Gold of Celebes

Pohuwato The Gold of Celebes

Monday, 27 February 2023
Basri Amin

Batas-Batas Pengobatan

Monday, 20 April 2026

Pos Populer

  • Dua orang remaja meninggal dunia setelah menabrak sebuah mobil tronton yang terparkir di jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

    Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

    185 shares
    Share 74 Tweet 46
  • Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    181 shares
    Share 72 Tweet 45
  • Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

    123 shares
    Share 49 Tweet 31
  • Batas-Batas Pengobatan

    83 shares
    Share 33 Tweet 21
  • Viral Siswi SMP di Kabgor Di-bully, Orang Tua Pelaku Justeru Minta Proses Hukum

    76 shares
    Share 30 Tweet 19
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.