logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Agama dan Pejabat

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Tuesday, 13 September 2022
in Persepsi
0
Reposisi Gorontalo  (Bonus Demografi dan Basis Kepemimpinan)

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Duduk “Enak” di Pemerintahan

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

Oleh :
Basri Amin


Di negeri ini, agama adalah “sesuatu” yang bisa terbawa ke mana-mana. Ia selalu hadir membersamai kita kemanapun kita berada dan setiap orang sudah terbiasa “saling menduga” dan/atau “membangun praduga” tentang agama orang lain. Di berbagai kesempatan, kita juga dengan mudah menyaksikan bagaimana pejabat publik membawa-bawa agama ke ranah publik dan bahkan memublikasikan kabar-kabar ke-agama-an kepada khalayak. Tak jarang, kita pun cenderung memberikan penilaian lebih tentang “pejabat yang agamais”. Di kala lain, pejabat publik pun makin sering diarahkan sedemikian rupa untuk “membela” (kepentingan) agama, karena disangka bahwa agama adalah peneguh fundamental bagi sebuah identitas dan bagi kemajuan (moral) sebuah bangsa.

Agama bagi para pejabat publik tergolong unik. Agama hadir dalam Sumpah Jabatan-nya. Di bawah (naungan) Kitab Suci, seorang pejabat dilantik dan disumpah. Nama Tuhan disebut berulang. Janji di hadapan Tuhan disuarakan terbuka. Disaksikan banyak orang. Termasuk suami atau istri, keluarga, teman-teman sejawat, atasan dan bawahan. Ucapan selamat bersambung-sambung. Terbayanglah sesuatu yang campur-baur: pakaian dinas yang neces dan lambang-lambangnya, kewenangan yang bisa lurus atau belok-belok. Pun wajah-wajah “anak buah” di bawah kewenangannya yang sudah siap dengan kata-kata “siap, Pak!”. Teori “yes-men!” laku di ruang-ruang kantor dinas kita. Begitu pula dengan kaidah “Asal Bapak Senang” (ABS), tradisi (bahasa) keseharaian berupa “arahan”, “kebijakan”, “petunjuk”, “atur saja; “semua bisa di atur”, plus rapat ke rapat, plus Perjadis, plus acara ke acara, dan timbunan ungkapan dan istilah teknis administrasi negara dan keuangan, dst.

Sejauh mana agama memberi dampak kepada kesetiaan Pejabat kepada tanggung jawab publiknya?. Sejauh mana agama berfungsi meletakkan etos pengabdiannya kepada perbaikan nasib orang banyak?. Di banyak situasi, yang terjadi justru keterasingan dan jarak-jarak baru antara Pejabat dan orang-orang biasa. Antara “amanah” sebagai Aparat Negara dan “ambisi” pribadi dan kelompok yang diselubungkan sedemikian rupa di sela-sela kewenangan resmi, penggunaan fasilitas negara, jejaring teman dan keluarga, afiliasi organisasi, dst. Di wajah-wajah banyak Pejabat publik kita seringkali tak menampakkan keramahan, ketulusan layanan, pantulan kecerdasan berbahasa dan pengayoman yang berbasis keteladanan.

Pada kesempatan sebelumnya, sudah kami tuliskan tentang gejala “beragama yang serius” (Amin, 2020). Ditandaskan bahwa jika setiap orang “memeluk agama”nya dengan sungguh-sungguh, maka di dalamnya mengandung tugas menjaga (rasa) ketidakterpisahan dengan Kehidupan yang luas dan saling tergantung; sebuah penegasan berulang-ulang –-melalui ibadah dan sikap hidup– agar tidak terpisah dengan agama dan sekaligus berkomitmen tinggi menjaga kebutuhan dan kerinduan atau kehangatan dalam “pelukan” agama. Dalam konteks ini, agama mengandung “daya kritik” bagi pemeluknya (Ackermann, 1985 [1997]). Keluhuran agama hadir-terkawal oleh rasionalitas dan moralitas yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Di baliknya terkandung panggilan untuk mencari, mendekati, dan ‘menemukan’ (percikan) Cahaya-NYA di alam kesadaran kita yang damai, berpengharapan tinggi dan berkehendak kuat mewujudkan kesalehan yang membumi, yang manusiawi dan yang menyegarkan Ayat-Nya di semua sektor kehidupan kita. Bahkan melalui Agama, “bahasa leluhur” dan bentuk-bentuk penghormatan kepada pencapaian hidup beragam (jenis) manusia akan terus tersirami, tumbuh, dan berbuah.

Dalam faktanya, banyak orang yang lepas dari “pelukan” atau bahkan tidak “memeluk” agama dengan serius. Selain sebagai sebuah ikatan dan pilihan sadar, tentu saja keberagamaan setiap orang dan bangsa-bangsa merupakan bagian dari sejarah yang tidak sederhana. Terlebih ketika agama dijadikan sebagai identitas yang mengokohkan perbedaan, bahkan permusuhan karena nafsu menjadi pemenang atau penguasa atas kehidupan sekelompok orang atau bangsa. Mungkin karena inilah barangkali mengapa jargon “moderasi beragama” menjadi tergerakkan luas belakangan ini. Padahal, secara inheren, agama pada hakikatnya adalah wujud (sebuah) “moderasi” karena memang dengan itulah kita disebut sebagai Manusia beragama: sosok individu yang membangun sosialitas tertentu melalui begitu banyak moderasi, mediasi, materialisasi, dan negosiasi.

Akhirnya, bagi pejabat yang sumpah dinasnya beralaskan Agama, sudilah mereka untuk tidak mengerdilkan keluhuran Agama. Jangan sampai Agama hanya dijadikan sebagai “barang bawaan” dan “tempelan kata” tapi mengalami pengeringan makna setiap harinya karena ditindih oleh asesori duniawi yang wah, plus ritus-ritus kepejabatan yang selalu ramai di ruang publik. Kini, dalam faktanya, yang sering terbukti adalah kemewahan fisikal dan keangkuhan jabatan begitu mudah terhempas di tangan penyidik Korupsi, benturan Kepentingan, dan Konflik organisasi. Kemewahan fasilitas negara, mobilitas kedinasan dan kilatan lambang-lambang begitu mudah terhina di hadapan catatan sejarah yang jujur dan kesaksian-kesaksian otentik dari orang-orang biasa. ***

Penulis adalah
Parner di Voice-of-HaleHepu
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminpersepsispektrum sosial

Related Posts

Basri Amin

Duduk “Enak” di Pemerintahan

Monday, 7 September 2026
Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Sunday, 6 September 2026
Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Friday, 4 September 2026
NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

Thursday, 3 September 2026
Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Thursday, 3 September 2026
Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

Wednesday, 2 September 2026
Next Post
Harga Kopra Terus Merosot, Hanya Rp 8 Ribu per Kg, Petani Tunggu Harga Membaik

Harga Kopra Terus Merosot, Hanya Rp 8 Ribu per Kg, Petani Tunggu Harga Membaik

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Bocah 12 Tahun Disuruh Mencuri, Tertangkap di Pasar Eks Terminal 42, Diancam Jika Menolak Perintah

Bocah 12 Tahun Disuruh Mencuri, Tertangkap di Pasar Eks Terminal 42, Diancam Jika Menolak Perintah

Monday, 7 September 2026
Bakal Laporkan ke Mabes Polri, Adhan Lawan Fadli Zon

Bakal Laporkan ke Mabes Polri, Adhan Lawan Fadli Zon

Monday, 7 September 2026
Polres Pohuwato Bongkar Lokasi Judi di Paguat

Polres Pohuwato Bongkar Lokasi Judi di Paguat

Monday, 7 September 2026
Miras Masih Merajalela di Gorontalo

Miras Masih Merajalela di Gorontalo

Monday, 7 September 2026

Pos Populer

  • Pengadaan MacBook Aleg Deprov, Femmy: Dengan Tegas Saya Menolak 

    4 Kursi DPR RI untuk Gorontalo, Femmy: Dari Aspirasi Menjadi Agenda Kelembagaan

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Rp 68,2 M Dana Asrama Haji Gorontalo Ditolak, Kemenhaj: Mepet Waktu, Beresiko

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

    27 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Bocah 12 Tahun Disuruh Mencuri, Tertangkap di Pasar Eks Terminal 42, Diancam Jika Menolak Perintah

    43 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Bakal Laporkan ke Mabes Polri, Adhan Lawan Fadli Zon

    30 shares
    Share 12 Tweet 8
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.