logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Lukman Husain by Lukman Husain
Sunday, 6 September 2026
in Persepsi
0
Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Fauzia Noorchaliza

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Fauzia Noorchaliza

Memasuki bulan September, tinggal menghitung hari organisasi Kohati (Korps HMI-Wati) genap berusia 60 tahun. Lahir pada tanggal 17 September 1966 di Kongres ke-VIII di Solo, membuktikan bahwa Kohati kini telah melalui waktu yang cukup panjang untuk membuktikan sebuah organisasi mampu bertahan.

Jika dikonversi dalam ukuran biologis usia manusia, enam puluh tahun menandai kematangan dan kedewasaan. Sementara jika menarik dalam perspektif organisasi, rentang waktu tersebut merupakan bukti daya hidup, kemampuan beradaptasi, dan memiliki akar nilai yang kuat yang membuatnya dapat bertahan melintasi zaman.

Related Post

Monumental Semboyan Gizi ”Svastha Harena” Melalui ”Salam Gizi” dengan Jawaban ”Sehat Melalui Makanan”

Warisan “Portugis” di Gorontalo

Rumah Kebangsaan Cipayung Plus Gorontalo: Ruang Dialog Tanpa Barikade

Rabies: Satu Gigitan, Banyak Tanggung Jawab

Selama enam dekade, Kohati menjadi ruang berproses bagi kader-kader HMI-Wati sebelum kemudian melangkah ke ruang pengabdiannya masing-masing: menjadi akademisi, birokrat, politisi, professional, pengusaha, maupun peranan lain di berbagai ruang pengabdian lainnya. Proses kaderisasi yang berlangsung turut membentuk cara kader HMI-Wati membaca dirinya, lingkungan masyarakat ia berada, dan menerjemahkan masa depan.

Tentu, setiap generasi di Kohati lahir dari lanskap sosial yang berbeda. Tantangan dan permasalahan yang ada pada suatu zaman tidak selalu identik pada zaman berikutnya. Maka dari itu, perayaan enam puluh tahun Kohati seharusnya tidak hanya sekadar seremonial saja. Melainkan harus menjadi jeda reflektif untuk mengingat kembali apa yang telah Kohati wariskan, apa yang belum selesai dikerjakan, dan kemana arah energi besar pergerakan akan dibawa?.

Zaman terus berubah. Melesatnya perkembangan teknologi, arus informasi, serta pergeseran pola relasi sosial telah mengubah cara manusia belajar, berkomunikasi, dan membentuk identitas. Perempuan hari ini dihadapkan dengan medan yang lebih kompleks.

Tidak hanya soal kesetaraan dalam akses pendidikan dan pekerjaan, tetapi juga persoalan representasi, kecerdasan artifisial, keresahan terhadap krisis iklim, hingga bagaimana kemampuan perempuan dalam memproduksi informasi. Tentu hal inilah yang akan menjadi penentu bagaimana Kohati dipandang dan memandang.

Situasi ini menguji kemampuan Kohati untuk bertahan dan cepat beradaptasi ketika zaman bertukar panggungnya. Struktur yang kuat penting untuk sebuah organisasi bertahan menghadapi perubahan. Namun, tanpa diimbangi kekuatan daya transformasi, kerja-kerja organisasi bisa jadi hanya sebatas pada rutinitas administratif dan kemampuan Kohati sebagai aktor perubahan akan terkikis.

Berdasarkan studi terkait organisasi, terdapat kondisi institutional inertia, yakni ketika sebuah organisasi cenderung terjebak dalam mempertahankan pola dan kebiasaan lama meskipun lingkungan sekitarnya telah berubah. Dalam bentuk yang lebih subtil, keputusan-keputusan masa lalu membuat organisasi semakin sulit dalam memproyeksikan beragam kemungkinan di masa depan. Kohati tidak boleh terperangkap dalam kondisi demikian.

Organisasi yang hidup adalah organisasi yang mampu untuk membaca arah perubahan dan merawat keaktualan tanpa kehilangan akar nilai yang membentuknya. Untuk bertahan melintasi tantangan, organisasi yang hidup harus sanggup untuk melakukan reartikulasi nilai sesuai kebutuhan zaman.

Tradisi memang perlu dirawat, tapi tidak boleh menjadi jebakan romantisme yang berujung membekukan gerakan. Tantangan Kohati yang sebenarnya bukan sekadar mempertahankan keberlangsungan organisasi. Yang perlu dipastikan adalah kehadiran Kohati harus tetap relevan untuk menghadapi berbagai tantangan.

Kaderisasi seringkali dipahami sebatas proses pembentukan kualitas pada individu. Padahal, berdasarkan perspektif yang lebih luas, kaderisasi adalah proses membangun kemampuan seorang individu untuk mampu membaca realitas zaman, mengambil keputusan, menentukan arah, dan pada tingkatan tertentu, mampu memberi pengaruh pada lingkungan sosial di sekitarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut menjadi dasar bagi kader-kader Kohati untuk membentuk jiwa pemimpin.

Dalam buku Dare to Lead karya Brene Brown, kepemimpinan bukan semata-mata posisi struktural. Akan tetapi, keberanian untuk mengemban tanggung jawab atas potensi yang ada pada manusia dan proses yang akan dijalani. Ujian kepemimpinan seseorang justru terletak ketika seseorang dihadapkan pada fase ketidakpastian dan tetap berani mengambil keputusan ketika jawaban atas kepastian belum sepenuhnya tersedia.

Menarik gagasan tersebut dalam konteks Kohati, maka kader HMI-Wati tidak cukup sebatas hanya memiliki kepribadian baik. Tapi kader-kader HMI-Wati harus menjadi perempuan yang siap dan memiliki day abaca terhadap perubahan zaman dan perempuan yag berdaya untuk menghadap dan mengubah keadaan.

Sehingga, kaderisasi tidak terhenti pada sebatas pembentukan karakter personal saja. Namun, kaderisasi harus mampu membentuk kader-kader yang mampu berani dalam: menentukan sikap, mengambil keputusan, dan memproduksi gagasan. Bermodalkan ketiga keberanian tersebut, proses kaderisasi akan menghasilkan kader yang mampu mengintervensi realitas sosial dan memberikan pengaruh untuk mengubah keadaan.

Perspektif ini tentunya penting bagi Kohati sebagai bagian integral dari HMI. Jika kaderisasi hanya menghasilkan perempuan-perempuan yang patuh terhadap sistem tapi tidak memiliki daya kritis terhadap sistem yang tidak adil, maka dapat dibilang proses kaderisasi kehilangan dimensi tranformatifnya.

Gerakan perempuan tidak akan berdaulat jika perempuan hanya sebatas menjadi objek pembicaraan. Maka, medan pergerakan Kohati perlu diperluas dari ruang-ruang kaderisasi menjadi ruang yang bersifat epistemik, yakni ruang dimana pengetahuan dan gagasan di produksi.

Berdasarkan hal inilah maka pergerakan Kohati akan terus lekat dengan lima kualitas insan cita yang termaktub dalam tujuan HMI: Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil Makmur yang diridhai Allah Subhanahu wata’ala.

Pada titik inilah perguruan tinggi, pusat riset dan kajian, serta komunitas masyarakat dapat menjadi arena strategis untuk membangun tradisi intelektual yang lebih serius. Kohati dapat membuat riset-riset keperempuanan, reprentasi dalam kepemimpinan dan politik, keamanan digital bagi perempuan, perubahan iklim, hingga bagaimana proyeksi terhadap masa depan perempuan di era kecerdasan artifisial. Menjadi produsen pengetahuan dan informasi akan membuat gerakan Kohati lebih maju dibandingkan hanya sebatas sebagai konsumen.

Akhirnya, refleksi terkait enam puluh tahun Kohati tidak hanya terhenti pada pertanyaan-pertanyaan terkait historis semata. Refleksi ini harus berani dengan pertanyaan lebih besar: perempuan seperti apa yang dibutuhkan Indonesia untuk menjadi bangsa yang Digdaya?.

Menata jalan Indonesia untuk menjadi bangsa yang Digdaya tidak hanya membutuhkan infrastruktur, teknologi terbarukan, atau pertumbuhan ekonomi. Jalan itu perlu dirancag oleh manusia-manusia yang intelek, beretika, dan berani berpihak pada kebenaran. Dengan pandangan demikian, maka perempuan  menjadi aktor yang tidak dapat dipisahkan dari agenda kebangsaan. (*)

Penulis adalah Wabendum Kohati PB HMI 2024-2026

Tags: 60 Tahun KohatiCatatan Fauzia NoorchalizaFauzia NoorchalizaHMIIndonesia DigdayaKohatiPB HMIYakusa

Related Posts

Dr. Arifasno Napu

Monumental Semboyan Gizi ”Svastha Harena” Melalui ”Salam Gizi” dengan Jawaban ”Sehat Melalui Makanan”

Tuesday, 6 October 2026
Muchlis Huntua

Rumah Kebangsaan Cipayung Plus Gorontalo: Ruang Dialog Tanpa Barikade

Monday, 5 October 2026
Basri Amin

Warisan “Portugis” di Gorontalo

Monday, 5 October 2026
Salam Gizi! Yth, Presiden RI Jenderal (Pur.TNI) Prabowo Subianto 

Ilmiahkan Bid’ah Tentang Makanan Tradisional dan Ramuan Obat Berkhasiat 

Thursday, 1 October 2026
Rabies: Satu Gigitan, Banyak Tanggung Jawab

Rabies: Satu Gigitan, Banyak Tanggung Jawab

Wednesday, 30 September 2026
Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi (Bukan) Kewajiban Negara

Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi (Bukan) Kewajiban Negara

Tuesday, 29 September 2026
Next Post
Pasokan BBM di Gorontalo Normal, Pertamina Gandang Aparat Awasi SPBU

Pasokan BBM di Gorontalo Normal, Pertamina Gandang Aparat Awasi SPBU

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Polda Gorontalo Sita Emas dan Merkuri di Lokasi PETI, Dua Orang Jadi Tersangka

Polda Gorontalo Sita Emas dan Merkuri di Lokasi PETI, Dua Orang Jadi Tersangka

Tuesday, 6 October 2026
Irjen Nurworo Resmi Kapolda Gorontalo, Tambang Ilegal, Penimbunan BBM Subsidi, dan Tipikor Butuh Keseriusan

Irjen Nurworo Resmi Kapolda Gorontalo, Tambang Ilegal, Penimbunan BBM Subsidi, dan Tipikor Butuh Keseriusan

Monday, 5 October 2026
Basri Amin

Warisan “Portugis” di Gorontalo

Monday, 5 October 2026
FIFA ASEAN CUP, Indonesia Juara! Akhiri Puasa Gelar 35 Tahun

FIFA ASEAN CUP, Indonesia Juara! Akhiri Puasa Gelar 35 Tahun

Tuesday, 6 October 2026

Pos Populer

  • BREAKING NEWS: KPK Geledah Rumah Mewah  di Liluwo Gorontalo, Diduga Milik Seorang Pengusaha

    BREAKING NEWS: KPK Geledah Rumah Mewah di Liluwo Gorontalo, Diduga Milik Seorang Pengusaha

    353 shares
    Share 141 Tweet 88
  • Sehari Jadi Kapolri, Jenderal Suyudi Mutasi 19 Kapolda, Gorontalo Ikut Berganti

    131 shares
    Share 52 Tweet 33
  • Direktur RS Ainun Turun Pangkat, BKD Ajukan Pemberhentian Jabatan ke BKN

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
  • Otak Tanaman dan Jiwa Kehidupan

    93 shares
    Share 37 Tweet 23
  • Lima Jam KPK Geledah Rumah Haji Pulu di Liluwo, Diduga Terkait Korupsi Bupati Bolmut

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.