logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Duduk “Enak” di Pemerintahan

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 7 September 2026
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Gerakan Ekonomi Syarikat Islam: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati

Adat Dijunjung, Tanah Adat Terlupakan: Gugatan dari Bumi Hulondalo

Bangsa Baliho di Negeri Sengketa  

Meremehkan Pendidikan Dalam Kepemimpinan dan Matinya Nalar

oleh:
Basri Amin

SAMPAI hari ini, masih kuat terkesan kita belum sepenuhnya menyaksikan pemimpin yang sungguh-sungguh punya gagasan jernih. Pemimpim-pejabat yang konsisten menggerakkan loncatan kemajuan dan perbaikan di daerah-daerah.

Mereka yang menyatukan “kata” dan “perbuatan!”

Jabatan dan citra publiknya terlalu sering dirayakan. Publikasi sepihak yang rutin meluas karena “media-bayaran”. Sistem kontrak-media online yang sering dipakai.

Pesta demi pesta. Acara ke acara!. Baliho ke baliho! Aroma keluarga, klik kelompok, kongsi proyek, dan perangai “suka enak” dan menikmati kemapanan dengan fasilitas kekuasaan masih terasa di mana-mana. Jauh dari peluh-keringat dan pengorbanan diri untuk orang banyak…

Kantong sendiri dan isinya terus bertambah: menganga ke atas dan terbuka di bawah; membesar ke samping kiri dan melebar ke kanan…

Padahal, ketimpangan menganga di muka mata. Peminta-minta membesar di sudut-sudut jalan. Anak-anak (sekolah) kita makin “liar” di jalanan. Kelas menengah kita makin hipokrit tabiatnya, lemah daya saing dan daya kerjanya. Mudah narcis dan neces dengan gaya-hidup dan kemapanan.

Kita makin jarang menyaksikan kepemimpinan yang rela berkorban untuk kemajuan bersama. Apa yang disasar lebih banyak berupa “gaya hidup” dan kenyamanan fasilitas di pemerintahan, dari periode ke periode.

Generasi baru di sektor kepemimpinan politik dan publik belum bergerak jauh dari apa-apa yang begitu heroik pertaruhkan di “kotak suara”. Mereka bahkan terjegal oleh rombongan elite (lokal/nasional) yang mapan jaringan kerja, pencitraan publik, dan sebaran pengaruh materi-nya dari periode ke periode.

Elite yang banyak terbentuk adalah elite yang sudah lama keenakan dengan “aspirasi palsu” dari masyarakat, tetapi selalu lihai mendayagunakan “sekian persen” saja dari keuntungan material pribadinya (melalui) kerja-kerja politik, gaji/tunjangan, akses kebijakan, dan fasilitas (negara) yang mengatas-namakan “kerja untuk publik”.

Negeri ini tidak mungkin berdaya-saing jika pemimpinnya berkemampuan alakadarnya. Di berbagai tingkatan, kecenderungan untuk “memberi ruang” bagi para oportunis, penjilat jabatan, dan pecundang cita-cita sepertinya masih terus dibuka. Nyaris belum terbentuk massa kritis yang memiliki daya tahan menolak gejala seperti ini.

Nalar kolektif yang mendeteksi tabiat-tabiat kelompok dan perorangan yang inginnya hanya menikmati kesenangan sepihak di arena kekuasaan pun belum begitu tampak. Keadaan ini sangat jelas akan memberi dampak berupa hilangnya perdebatan dan daya tawar masyarakat dalam memastikan nasibnya, terutama nasib dalam arti yang sangat nyata: layanan dasar buat mereka, ruang publik yang otonom, dan artikulasi sumberdaya insaninya untuk berkarya dan memberi dampak luas bagi keadilan.

Kelas menengah, yang sering dilabeli sebagai kelompok yang relatif terdidik dan mempunyai sumberdaya organisasi, serta dianggap memiliki daya tawar karena nalar masyarakat sipil-nya, tampaknya (masih) terjebak dengan ritual mereka sendiri.

Tak jarang mereka membentuk kerumunan organisasional dan yang virtual yang tanpa arah. Atau, mereka lebih sering memilih budaya “mengapung” di antara kekuatan-kekuatan (ekonomi/politik) yang ada, sambil memproduksi gaya dan wacana yang sok kritis dan sok moral, padahal mereka tak pernah merdeka dari pola “permainan” elite-elite di sekitarnya. Menjadi kawanan di antara pertemanan – kepentingan.

Mereka, kelas menengah-yang pecundang ini, beroleh manfaat berlapis karena cerdik “nempel” kepada sejumlah tokoh yang terlanjur besar (birahi) kuasa-nya di sektor-sektor publik.

Dengan pengetahuan teknis yang sedang-sedang saja, kelas-menengah yang hipokrit selalu berhasil “menggoda”, tampak otentik “menyodorkan” dan cerdas “melaporkan” kerja-kerja teknis-nya yang artifisial kepada elite lokal/regional yang memang sejak awal tak punya komitmen tinggi dan integritas besar menjadi pembaru kemajuan yang sebenarnya.

Sebagai hasilnya, keadaan kita di alam nyata lebih banyak dimanipulasi oleh pemberitaan sepihak yang tidak teruji secara faktual dan tidak berdampak-besar bagi kemakmuran yang berkelanjutan. Pemberitaan media yang distortif kemudian dilapisi oleh citra baik melaui acara demi acara. Sambut-menyambut dan saling memuji. Selebrasi foto dan parade pemberitaan!

Pemimpin masa depan haruslah memahami postur-postur pergaulan lintas kelompok dan bagaimana komposisi setiap profesi produktif di masyarakat.

Dari sanalah beragam kepentingan dan ketimpangan kelompok dihayati, selanjutnya kebajikan bersama (publik) disusun dan perjuangkan. Memang, tak mungkin semua bisa terterima semua pihak, tetapi yang terpenting adalah negosiasi yang konsisten mendorong perbaikan.

Di banyak arena perbaikan, yang dibutuhkan bukanlah kuasa tunggal melainkan “pembagian” kekuasaan dalam aksi nyata di sektor-sektor yang beragam. Jika ini visi kita, berikutnya yang jadi pegangan bersama adalah sikap sadar bahwa “semua orang adalah penting. Semua kelompok adalah penentu perbaikan”. Bagaimana bentuknya? Sangat ditentukan oleh alam nyata yang konsisten kita gerakkan. ***

Penulis adalah Parner di Voice-of-HaleHepu
Surel: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminCatatan basri aminDuduk Enak di Pemerintahanspektrum sosial

Related Posts

Gerakan Ekonomi Syarikat Islam: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati

Gerakan Ekonomi Syarikat Islam: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati

Wednesday, 21 October 2026
Adat Dijunjung, Tanah Adat Terlupakan: Gugatan dari Bumi Hulondalo

Adat Dijunjung, Tanah Adat Terlupakan: Gugatan dari Bumi Hulondalo

Monday, 19 October 2026
Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi (Bukan) Kewajiban Negara

Meremehkan Pendidikan Dalam Kepemimpinan dan Matinya Nalar

Monday, 19 October 2026
Basri Amin

Bangsa Baliho di Negeri Sengketa  

Monday, 19 October 2026
In Memoriam Rachmat Gobel dan Jalan Pulang yang Istimewa

100 Hari Mengenang Rachmat Gobel: Politik sebagai Jalan Pengabdian

Sunday, 18 October 2026
Menagih Peran Keluarga: Benteng Utama Pencegahan Perkawinan Anak di Gorontalo Utara?

Menagih Peran Keluarga: Benteng Utama Pencegahan Perkawinan Anak di Gorontalo Utara?

Friday, 16 October 2026
Next Post
Pertamina: STNK Bukan Syarat Beli BBM Subsidi

Pertamina: STNK Bukan Syarat Beli BBM Subsidi

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Demo Jilid II Membayangi Polda, Wakapolda Pasang Kuda-Kuda, Ingatkan Personel Tetap Humanis

Demo Jilid II Membayangi Polda, Wakapolda Pasang Kuda-Kuda, Ingatkan Personel Tetap Humanis

Wednesday, 21 October 2026
Mentan Tekan Biaya Pakan Ternak, Jagung Pakan jadi Rp5.500/Kg, 1.124 Ton Jatah Gorontalo

Mentan Tekan Biaya Pakan Ternak, Jagung Pakan jadi Rp5.500/Kg, 1.124 Ton Jatah Gorontalo

Wednesday, 21 October 2026
Kekerasan di SMAN 1 Gorontalo, 21 Siswa Terlibat, Pelaku Diskorsing, Korban Lapor Polisi

Kekerasan di SMAN 1 Gorontalo, 21 Siswa Terlibat, Pelaku Diskorsing, Korban Lapor Polisi

Wednesday, 21 October 2026
Gedung PN Suwawa Ludes Terbakar

Gedung PN Suwawa Ludes Terbakar

Thursday, 22 October 2026

Pos Populer

  • Hebat! dr. Khairunnisa Farina Ilato, Nou Gorontalo Tampil pada Forum Neuroradiologi Dunia

    Hebat! dr. Khairunnisa Farina Ilato, Nou Gorontalo Tampil pada Forum Neuroradiologi Dunia

    74 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Demo Jilid II Membayangi Polda, Wakapolda Pasang Kuda-Kuda, Ingatkan Personel Tetap Humanis

    48 shares
    Share 19 Tweet 12
  • Meremehkan Pendidikan Dalam Kepemimpinan dan Matinya Nalar

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
  • Kekerasan di SMAN 1 Gorontalo, 21 Siswa Terlibat, Pelaku Diskorsing, Korban Lapor Polisi

    42 shares
    Share 17 Tweet 11
  • Direktur Reskrimum Polda Gorontalo Diganti

    57 shares
    Share 23 Tweet 14
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.