Oleh:
Siddiq Fahriady Seban
Pernahkah kita bertanya, mengapa setiap kali berbicara tentang wastra Gorontalo, ingatan banyak orang hampir selalu tertuju pada Karawo?
Padahal, jauh sebelumnya Karawo dikenal luas sebagai identitas wastra daerah, Gorontalo memiliki warisan budaya lain yang pernah menjadi kebanggaan masyarakatnya. Warisan itu lahir dari tangan-tangan terampil, diwarnai oleh alam, dan menyimpan filosofi kehidupan masyarakat Gorontalo. Itulah Tenun Gorontalo.
Hari ini, nama Tenun Gorontalo tidak lagi akrab di telinga banyak orang. Sebagian generasi muda bahkan belum pernah melihat wujudnya secara langsung. Jejaknya lebih banyak tersimpan dalam dokumentasi lama, koleksi museum, serta cerita para pelaku budaya yang masih mengingatnya.
Namun, sejarah tidak akan pernah benar-benar hilang. Hanya menunggu untuk ditemukan kembali. Semangat inilah yang mendorong kami untuk kembali mulai menelusuri keberadaan Tenun Gorontalo. Sebagai pembina UMKM di Provinsi Gorontalo, sebuah produk lokal tidak hanya memiliki nilai ekonomi, namunjuga harusdapat membangun identitas, kebanggaan, dan masa depan sebuah daerah. Menurut kami Tenun Gorontalo memiliki seluruh potensi tersebut.
Perjalanan kembali ini tidak dimulai dari mesin produksi, pelatihan bisnis, atau strategi pemasaran sebagaimana teori modern. Namun, justru dimulai dari langkah yang sangat sederhana: “kembali melihat masa lalu”.
Mengunjungi Museum Gorontalo, kami mengamati kembali alat tenun yang masih tersimpan. Mempelajari bagaimana leluhur Gorontalo memintal kapas, menyusun benang, menggunakan pewarna alami, hingga menghasilkan selembar kain yang bukan sekadar pakaian, melainkan simbol budaya. Dari sana, kami menemukan bahwa Tenun Gorontalo sejak dahulu telah dibangun di atas prinsip yang hari ini dikenal dunia sebagai keberlanjutan atau sustainability.
Benangnya berasal dari kapas. Warnanya bersumber dari alam. Prosesnya dikerjakan dengan tangan. Hampir tidak menghasilkan limbah, tidak bergantung pada bahan kimia sintetis, dan juga tidak merusak lingkungan. Apa yang hari ini disebut sebagai ekonomi hijau sesungguhnya telah dipraktikkan oleh leluhur kita di Gorontalo sejak masa lampau.
Kesadaran itulah yang membuat kami semakin yakin bahwa menghidupkan kembali Tenun Gorontalo bukan sekadar menghadirkan kembali sebuah kain. Tetapi, Lebih dari itu, kita sedang menghidupkan kembali sebuah cara berpikir, cara hidup yang menghargai alam, manusia, dan proses kehidupan.
Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap produk yang ramah lingkungan, Tenun Gorontalo justru menjadi semakin relevan. Konsumen hari ini tidak lagi hanya membeli produk karena bentuknya indah. Mereka juga ingin mengetahui cerita di balik produk tersebut: siapa yang membuatnya, bagaimana prosesnya, dari mana bahan bakunya, apakah produk tersebut ramah lingkungan,dan apakah produk ikut memberdayakan masyarakat. Menurut saya, Tenun Gorontalo memiliki cerita yang sangat kuat untuk menjawab semua permasalahantersebut.
Kami percaya, masa depan UMKM tidak cukup hanya dibangun melalui peningkatan kapasitas produksi atau perluasan pasar namun UMKM juga harus memiliki identitas, cerita, dan nilai. Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah produk dihargai bukan hanya kualitas fisiknya, tetapi juga berasal dari makna yang dikandungnya.
Atas dasar itulah Bank Indonesia bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Dekranasda Provinsi Gorontalo untuk mulai membangun kembali fondasi Tenun Gorontalo secara bertahap. Langkah awal dilakukan melalui penelusuran sejarah, identifikasi alat tenun tradisional, kajian bahan baku yang pernah digunakan, pembelajaran tentang warna-warna alami khas Gorontalo, serta inventarisasi motif-motif lama yang memiliki filosofi adat. Semua dilakukan agar ketika Tenun Gorontalo lahir kembali, ia tidak kehilangan ruh budayanya.
Tentu saja perjalanan ini tidak mudah. Sebagian besar pengetahuan mengenai teknik menenun telah ikut hilang bersama para penenun terdahulu. Nama almarhumah Saidah A. Puluhulawa menjadi pengingat bahwa pernah ada generasi yang menjaga tradisi ini dengan penuh kesabaran hingga akhir hayatnya.Kini, estafet itu akan coba kami lanjutkan. Bukan hanya oleh pemerintah, Dekranasda, dan Bank Indonesia, tetapi juga oleh seluruh masyarakat Gorontalo. Sebab kebudayaan hanya akan tetap hidup apabila diwariskan, dikenali, dan dicintai oleh masyarakatnya sendiri.
Kami membayangkan suatu hari nanti akan lahir kembali para penenun muda Gorontalo. Akan tumbuh UMKM baru yang menghasilkan wastra berkelas dunia. Akan hadir desainer-desainer muda yang mengangkat Tenun Gorontalo ke panggung nasional, bahkan internasional. Dan ketika wisatawan datang ke Gorontalo, mereka tidak hanya mencari Karawo, tetapi juga mengenal dan memburu Tenun Gorontalo sebagai warisan budaya yang unik dan autentik.
Mari kita tunggu dan dukung bersama. Sebab lembaran baru Tenun Gorontalo sedang mulai ditenun kembali. (*)
Penulis adalah Asisten Analis di KPw Bank Indonesia Provinsi Gorontalo Pembina UMKM Provinsi Gorontalo













Discussion about this post