logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Pelajaran dari Sacha Inchi Tabongo Timur untuk Masa Depan Agroindustri Gorontalo

Lukman Husain by Lukman Husain
Friday, 4 September 2026
in Persepsi
0
Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Dr. Yuszda K. Salimi

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dr. Yuszda K. Salimi, S.Si., M.Si

Masalah ekonomi desa sering kali bukan karena desa tidak memiliki sumber daya. Persoalannya justru muncul ketika nilai tambah dari sumber daya itu pergi terlalu cepat. Petani menanam, memanen, lalu menjual bahan mentah. Pengolahan dilakukan di tempat lain, merek dibangun oleh pihak lain, dan keuntungan terbesar akhirnya dinikmati jauh dari lokasi tempat komoditas tersebut tumbuh.

Persoalan seperti ini bukan hanya milik Tabongo Timur. Banyak komoditas pertanian di Gorontalo masih meninggalkan desa dalam bentuk bahan mentah. Petani memperoleh nilai pada tahap produksi primer, sementara nilai ekonomi yang lebih besar muncul pada proses pengolahan, pengemasan, pembangunan merek, distribusi, dan pemasaran. Karena itu, tantangan pembangunan ekonomi desa bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi, tetapi bagaimana membuat lebih banyak tahapan penciptaan nilai berlangsung di desa.

Related Post

NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

Data Gambaran Fakta dan Dasar Perumusan Kebijakan

Negeri Miskin Teladan

Pola inilah yang coba diputus di desa Tabongo Timur, Kabupaten Gorontalo, melalui tanaman yang namanya masih asing bagi sebagian masyarakat Indonesia: Sacha inchi (Plukenetia volubilis L.), tanaman asal kawasan Amazon dengan buah berbentuk bintang. Sacha inchi mulai diperkenalkan di Tabongo Timur pada 2021. Pengembangannya kemudian diperkuat melalui program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB)hibah DPPM Kemendiktisaintek yang menghubungkan budidaya, pengolahan pangan, teknologi, kelembagaan desa, serta pemasaran.

Pengalaman ini memberi satu pelajaran penting: hilirisasi di desa tidak harus dimulai dengan industri besar. Ia bisa dimulai dengan menghubungkan kebun, pengetahuan ilmiah, teknologi yang tepat, BUMDes, dan pasar.

Bukan sekadar tanaman “kaya omega-3”

Ketertarikan terhadap Sacha inchi bukan tanpa dasar ilmiah. Penelitian kami menunjukkan bahwa minyak yang diperoleh menggunakan alat pengepres minyak sacha inchi seperti hydraulic dan screw press mengandung sekitar 46,77% asam alfa-linolenat atau omega-3 dan 41,41% asam linoleat atau omega 6. Metode tanpa pelarut ini menghasilkan minyak dengan karakteristik yang menjanjikan, meskipun efisiensi dan kelayakan ekonominya tetap harus diperhitungkan jika produksi diperbesar.

Nilai ekonomi Sacha inchi juga tidak berhenti pada minyak. Bungkil tepung atau press cake setelah pengepresan  mengandung protein yang tinggi (49%), serat, dan komponen bioaktif sehingga berpotensi dikembangkan menjadi bahan pangan fungsional. Di Tabongo Timur, gagasan ini mulai diterjemahkan menjadi berbagai produk, antara lain susu nabati, selai, biskuit, nugget dan kacang sangrai, karamel dan coklat. Pelatihan inovasi produk pada tahap awal juga meningkatkan keterampilan peserta.

Namun, perubahan ekonomi desa tidak terjadi hanya karena masyarakat mampu membuat lebih banyak produk. Yang menentukan adalah bagaimana seluruh mata rantainya disambungkan.

Hilirisasi tidak dimulai dari mesin

Banyak program pemberdayaan terjebak pada logika sederhana: masalah produksi dijawab dengan memberikan alat. Padahal, mesin hanya berguna ketika kebutuhan petani jelas, keterampilan operator tersedia, bahan baku cukup, mutu dapat dijaga, dan pasar memang ada.

Di Tabongo Timur, petani, pengurus BUMDes, pemerintah desa, kelompok perempuan, dan pemuda dilibatkan dalam identifikasi masalah, pelatihan, hingga penerapan teknologi. Intervensi di sektor hulu mencakup budidaya semi-organik, pemangkasan, pengendalian hama, pengeringan, sortasi, dan penyimpanan. Produktivitas  meningkat sekitar 60%, sementara standardisasi penanganan pascapanen membantu memperbaiki konsistensi bahan baku.

Pelajarannya sederhana: alat bukan titik awal hilirisasi. Rantai nilai adalah titik awalnya. Desa perlu mengetahui siapa yang menanam, siapa yang menjamin mutu bahan baku, siapa yang mengolah, siapa yang mengendalikan kualitas, dan siapa yang menjual.

BUMDes perlu menjadi offtaker, bukan sekadar toko desa

Tahap berikutnya berlangsung di sektor hilir melalui BUMDes Sinar Usaha Tabongo Timur. Perannya seharusnya tidak berhenti sebagai tempat menjual produk. BUMDes dapat menjadi agregator bahan baku, pengelola produksi, penjaga mutu, pemilik merek, sekaligus penghubung antara produk desa dan konsumen.

Peran sebagai offtaker menjadi penting karena petani membutuhkan kepastian bahwa hasil panen memiliki jalur menuju pasar. Dalam model yang sedang diperkuat di Tabongo Timur, BUMDes menghubungkan kebutuhan produksi dengan jadwal panen petani, menerima dan menimbang bahan baku, memeriksa mutu, mencatat asal bahan, lalu mengolahnya menjadi produk bernilai tambah. Dengan model seperti ini, hubungan petani dan BUMDes berubah dari hubungan jual-beli sesaat menjadi bagian dari satu rantai pasok desa.

Penguatan kapasitas pengolahan melalui alat hydraulic dan screw press, food dehydrator, filler, dan peralatan lain telah membantu BUMDes meningkatkan kapasitas produksi minyak hingga sekitar 60-100 liter per bulan pada periode evaluasi. Portofolio produk juga berkembang dari minyak ke berbagai produk turunan.

Teknologi tidak hanya berbentuk mesin

Yang sering dilupakan dalam pemberdayaan UMKM adalah bahwa konsumen tidak membeli mesin produksi. Mereka membeli kepercayaan terhadap produk. Karena itu, SOP, Good Manufacturing Practices, konsistensi mutu, pengemasan, legalitas seperti BPOM, dan traceability sama pentingnya dengan teknologi fisik.

Di sinilah arti teknologi tepat guna perlu diperluas. Teknologi desa bukan hanya mesin press, dehydrator, atau filler. SOP panen, logbook produksi, Quality Control, pencatatan batch, dan traceability juga merupakan teknologi. Mesin dapat meningkatkan kapasitas, tetapi sistemlah yang menjaga agar kualitas dapat diulang dari satu produksi ke produksi berikutnya.

Produk minyak Sacha inchi “Sachita”, misalnya, diperkuat melalui standardisasi proses dan legalitas tersertifikasi PIRT, Halal dan BPOM. Dengan sistem pencatatan yang baik, BUMDes tidak hanya mengetahui berapa banyak produk yang dibuat, tetapi juga dapat menelusuri dari petani mana bahan baku berasal, kapan dipanen, kapan diproses, dan pada batch mana produk dihasilkan. Bagi usaha pangan, kemampuan semacam ini adalah fondasi kepercayaan pasar.

Produksi tanpa pasar hanya memindahkan masalah

Peningkatan produksi akan kehilangan makna jika produk berhenti di gudang. Karena itu, fase berikutnya di Tabongo Timur berfokus pada digitalisasi dan perluasan saluran penjualan. Produk dipasarkan melalui website BUMDes, marketplace, media sosial, serta jaringan ritel. Dalam evaluasi program, omzet BUMDes dilaporkan meningkat signifikan dibandingkan kondisi awal, sementara literasi digital masyarakat juga mengalami peningkatan yang kuat setelah pelatihan dan pendampingan.

Digitalisasi seharusnya juga tidak berhenti pada membuat akun media sosial. Pengelolaan pelanggan, riwayat transaksi, stok, promosi, dan pembelian ulang perlu dibaca sebagai bagian dari manajemen usaha. Karena itu, pengembangan CRM sederhana dan pencatatan berbasis data menjadi tahap berikutnya agar pemasaran tidak hanya ramai sesaat, tetapi mampu membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen.

Zero waste: limbah harus diuji sebagai peluang ekonomi

Rantai nilai Sacha inchi masih dapat diperpanjang. Ampas, bungkil, dan cangkang tidak harus berakhir sebagai limbah. Tahap pengembangan berikutnya diarahkan pada pemanfaatannya menjadi produk pangan minuman fungsional, bahan pakan ayam petelur omega-3, kompos, pupuk organik, atau briket. Jika layak secara teknis, aman, dan ekonomis, pendekatan ini dapat mengubah konsep zero waste dari jargon lingkungan menjadi sumber nilai ekonomi baru di desa.

Prinsip ini penting karena hilirisasi yang baik bukan hanya menghasilkan lebih banyak produk, tetapi juga menggunakan bahan secara lebih efisien. Nilai tambah tidak selalu muncul dari komoditas utama. Ia juga dapat lahir dari bagian yang sebelumnya dianggap sisa.

Keberhasilan tetap harus berada di tangan masyarakat

Angka produksi dan omzet memang penting, tetapi keberlanjutan tidak bisa hanya diukur dari berapa liter minyak yang berhasil dijual. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah siapa yang menguasai pengetahuan, siapa yang mengoperasikan teknologi, siapa yang mengendalikan mutu, dan siapa yang menikmati nilai tambahnya.

Di Tabongo Timur, pelibatan petani, pengurus BUMDes, perempuan, dan pemuda menjadi bagian penting dari proses tersebut. Ketika masyarakat mampu menjalankan teknologi, memahami standar, mencatat produksi, mengelola pemasaran, dan mengambil keputusan usaha berdasarkan data, pemberdayaan mulai bergerak dari ketergantungan pada pendamping menuju kemandirian.

Bukan resep instan untuk semua desa

Tabongo Timur tentu belum menjadi model yang sempurna. Pengamatan masih berlangsung pada satu desa dengan periode intervensi jangka pendek hingga menengah. Ketahanan kelembagaan, konsistensi pasar, kemampuan memperbesar skala, dan keberhasilan model pada kondisi agroekologi yang berbeda masih perlu diuji lebih panjang.

Sacha inchi juga bukan jawaban bagi semua desa di Gorontalo. Setiap desa memiliki komoditas, sumber daya, dan kondisi pasar yang berbeda. Yang layak ditiru bukan tanamannya, tetapi cara membangun rantai nilainya.

Petani perlu terhubung dengan pengolahan. Teknologi perlu bertemu standardisasi. BUMDes perlu bergerak sebagai lembaga bisnis yang menghubungkan bahan baku dengan pasar. Perguruan tinggi perlu memastikan hasil riset tidak berhenti sebagai artikel ilmiah, tetapi diterjemahkan menjadi sistem yang bisa digunakan masyarakat.

Jika prinsip-prinsip itu dapat diterapkan pada kelapa, jagung, perikanan, hortikultura, dan berbagai komoditas lokal lainnya, maka pengalaman Tabongo Timur tidak lagi hanya menjadi cerita tentang Sacha inchi. Ia dapat menjadi salah satu contoh bagaimana hilirisasi dimulai dari desa.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah desa-desa di Gorontalo memiliki komoditas unggulan. Kita sudah tahu jawabannya. Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa banyak nilai tambah dari komoditas itu yang mampu kita pertahankan di desa? (*)

 

Penulis merupakan ketua tim pelaksana program Pemberdayaan Desa Binaan DPPM Kemendiktisaintek (2024-2026),
dosen jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Gorontalo.

Tags: Dr. Yuszda K. SalimiHarian PersepipersepsiTulisan Dr. Yuszda K. Salimitulisan persepsi

Related Posts

NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

Thursday, 3 September 2026
Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Thursday, 3 September 2026
Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

Wednesday, 2 September 2026
Muh. Amier Arham

Data Gambaran Fakta dan Dasar Perumusan Kebijakan

Tuesday, 1 September 2026
Basri Amin

Negeri Miskin Teladan

Monday, 31 August 2026
Yusran Lapananda

TGR dalam Inovasi Daerah

Wednesday, 26 August 2026

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Pengadaan MacBook Aleg Deprov, Femmy: Dengan Tegas Saya Menolak 

4 Kursi DPR RI untuk Gorontalo, Femmy: Dari Aspirasi Menjadi Agenda Kelembagaan

Thursday, 3 September 2026
Listrik Disiapkan Dukung Industri Gorontalo, PLN Pacu Infrastruktur hingga Desa

Listrik Disiapkan Dukung Industri Gorontalo, PLN Pacu Infrastruktur hingga Desa

Friday, 4 September 2026
Hujan Salat

Hujan Salat

Thursday, 3 September 2026
Curi Uang dan Perhiasan Emas, Dua Pria Diciduk

Curi Uang dan Perhiasan Emas, Dua Pria Diciduk

Friday, 4 September 2026

Pos Populer

  • Pengadaan MacBook Aleg Deprov, Femmy: Dengan Tegas Saya Menolak 

    4 Kursi DPR RI untuk Gorontalo, Femmy: Dari Aspirasi Menjadi Agenda Kelembagaan

    25 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Rp 68,2 M Dana Asrama Haji Gorontalo Ditolak, Kemenhaj: Mepet Waktu, Beresiko

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

    25 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Listrik Disiapkan Dukung Industri Gorontalo, PLN Pacu Infrastruktur hingga Desa

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Hujan Salat

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.