logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Pendidikan Melampaui Pagar Sekolah

Sinergi Lurah, Camat, dan Sekolah Menuju Kota Gorontalo sebagai Ruang Belajar

Lukman Husain by Lukman Husain
Friday, 9 October 2026
in Persepsi
0
Hadapi Anak Makin Lengket dengan Gadget, Dikbud Gerakkan Sekolah Rawat Budaya

Husin Ali

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Monumental Semboyan Gizi ”Svastha Harena” Melalui ”Salam Gizi” dengan Jawaban ”Sehat Melalui Makanan”

Warisan “Portugis” di Gorontalo

Rumah Kebangsaan Cipayung Plus Gorontalo: Ruang Dialog Tanpa Barikade

Rabies: Satu Gigitan, Banyak Tanggung Jawab

Oleh:
Husin Ali

Pagar sekolah membatasi halaman, tetapi tidak boleh membatasi tanggung jawab pendidikan. Sebab, anak-anak tidak hanya tumbuh di ruang kelas. Mereka tumbuh dalam keluarga, berinteraksi di lingkungan tempat tinggal, menyerap nilai dari masyarakat, mengenal tradisi melalui kebudayaan, dan membentuk karakter dari berbagai pengalaman hidup yang dijumpai setiap hari. Karena itu, membicarakan masa depan pendidikan tidak cukup hanya dengan membicarakan sekolah. Kita juga perlu membicarakan keluarga, kelurahan, kecamatan, kebudayaan, dan seluruh ekosistem sosial yang mengelilingi kehidupan peserta didik.

Dalam konteks Kota Gorontalo, gagasan ini memperoleh makna yang lebih mendasar melalui instruksi Wali Kota Adhan Dambea untuk memastikan tidak ada anak yang tidak bersekolah. Instruksi tersebut perlu dipahami bukan sekadar sebagai upaya mengembalikan anak ke bangku pendidikan, melainkan sebagai panggilan untuk membangun sistem pendidikan yang mampu menjangkau setiap anak sekaligus memberikan layanan bermutu kepada semuanya.

Namun, ada satu hal yang perlu kita tegaskan. Memastikan semua anak bersekolah tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat untuk mendaftar. Kita juga harus memastikan bahwa setiap sekolah menjadi tempat yang dipercaya, berkualitas, dan layak menjadi pilihan terbaik bagi anak-anak di lingkungannya.

Cita-cita kita bukan sekadar tidak ada anak yang tidak sekolah, melainkan tidak ada anak yang tertinggal dari pendidikan dan tidak ada sekolah yang dibiarkan tertinggal mutunya.

Di sinilah pendidikan harus melampaui pagar sekolah. Ia menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat.

Ketika kita mengarahkan perhatian Membaca Wilayah, Memahami Kehidupan Warga, Salah satu tantangan pemerintahan modern adalah memastikan kebijakan tidak berhenti pada dokumen, laporan, dan angka administratif. Pemerintahan perlu mengenali kehidupan nyata warganya: persoalan yang mereka hadapi, potensi yang mereka miliki, perubahan yang terjadi di lingkungan, serta kebutuhan yang belum terjangkau pelayanan.

Dorongan Wali Kota Gorontalo agar pemerintah kelurahan dan kecamatan mengetahui perkembangan wilayah masing-masing memiliki relevansi penting bagi pembangunan pendidikan. Lurah dan camat tidak cukup hanya memahami batas administrasi, jumlah penduduk, atau agenda kegiatan pemerintahan. Mereka juga perlu mengetahui dinamika sosial yang berlangsung di tengah masyarakat.

Di lingkungan mana terdapat anak yang tidak lagi bersekolah? Keluarga mana yang membutuhkan dukungan agar anaknya dapat melanjutkan pendidikan? Apa yang membuat seorang anak berhenti sekolah? Sekolah mana yang membutuhkan perhatian lebih? Potensi masyarakat apa yang dapat membantu memperkaya pembelajaran?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya menjadi bagian dari cara pemerintah membaca wilayahnya.

Dari perspektif antropologi, wilayah bukan sekadar ruang geografis. Wilayah adalah ruang kehidupan yang dibentuk oleh hubungan sosial, nilai, kebiasaan, ingatan kolektif, dan identitas masyarakat. Kelurahan dan kecamatan, dengan demikian, bukan hanya unit administrasi pemerintahan, melainkan pintu masuk untuk memahami kebutuhan pendidikan sekaligus potensi kebudayaan masyarakat.

Ketika pemerintah mampu membaca wilayah secara utuh, kebijakan dapat bergerak lebih dini, lebih dekat, dan lebih tepat sasaran. Anak yang terancam putus sekolah dapat dikenali sebelum benar-benar meninggalkan pendidikan. Anak yang belum pernah mengenyam pendidikan dapat ditemukan. Sekolah yang membutuhkan dukungan dapat dipertemukan dengan sumber daya di lingkungannya.

Pemerintahan yang memahami wilayah bukan sekadar pemerintahan yang memiliki data lengkap, melainkan pemerintahan yang mampu mengubah data menjadi tindakan dan tindakan menjadi perubahan yang dirasakan masyarakat.

Dari 28.143 Data peserta didik pada jenjang TK, SD, dan SMP di Kota Gorontalo menunjukkan skala tanggung jawab yang perlu dikelola secara bersama. Berdasarkan data yang telah dihimpun dari Data Pokok Pendidikan, terdapat 4.194 peserta didik TK, 16.744 peserta didik SD, dan 7.205 peserta didik SMP. Jika dijumlahkan, terdapat 28.143 peserta didik pada tiga jenjang tersebut.

Angka ini tidak mencakup seluruh peserta didik pada semua jenjang pendidikan. Namun, jumlah tersebut cukup memperlihatkan bahwa pendidikan merupakan urusan besar yang tidak mungkin hanya diserahkan kepada sekolah dan dinas teknis.

Di balik setiap angka terdapat kehidupan yang berbeda. Ada anak yang tumbuh dengan dukungan keluarga yang kuat, ada yang membutuhkan perhatian lebih, ada yang memiliki bakat seni dan olahraga, serta ada pula yang menghadapi hambatan sosial, ekonomi, maupun lingkungan.

Sekolah memiliki tanggung jawab utama dalam penyelenggaraan pembelajaran, pembinaan peserta didik, dan peningkatan mutu pendidikan. Akan tetapi, kehidupan anak tidak berhenti ketika bel pulang berbunyi. Mereka kembali ke rumah, berinteraksi dengan teman sebaya, bermain di lingkungan tempat tinggal, dan tumbuh dalam pengaruh kehidupan sosial di sekitarnya.

Karena itu, tanggung jawab memastikan setiap anak memperoleh pendidikan tidak dapat dibebankan kepada guru dan kepala sekolah semata. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan perlu memastikan pembinaan dan layanan pendidikan berjalan sesuai kewenangannya. Pemerintah kelurahan dan kecamatan perlu membantu mengenali kondisi warga. Keluarga dan masyarakat perlu menjadi bagian dari lingkungan yang mendukung keberlanjutan pendidikan.

Sinergi ini bukan untuk menambah beban birokrasi sekolah. Tujuannya justru memperluas dukungan agar persoalan anak dapat dikenali lebih awal, diselesaikan bersama, dan tidak dibiarkan berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Komitmen untuk memastikan tidak ada anak yang tidak sekolah memperoleh relevansi nyata melalui strategi penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) yang dijalankan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo bersama pemerintah wilayah. Dalam publikasi resmi pada 5 Juni 2026, Dikbud menjelaskan kolaborasi dengan seluruh camat untuk menekan angka ATS. Program ini menyasar anak usia 7–18 tahun agar dapat kembali mengakses pendidikan formal maupun nonformal. Salah satu pendekatannya adalah jemput bola, dengan memanfaatkan data ATS di tingkat kelurahan untuk mendatangi calon peserta didik secara langsung. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) menjadi salah satu jalur untuk membuka akses pendidikan nonformal bagi anak yang membutuhkan.

Praktik ini memberikan pelajaran penting: pemerintah tidak cukup menunggu anak datang ke sekolah. Pemerintah harus bergerak menemukan mereka yang belum memperoleh layanan pendidikan.

Anak yang tidak bersekolah tidak boleh sekadar dipandang sebagai angka dalam laporan. Ia harus ditemukan, dikenali situasinya, dipahami hambatannya, lalu dibantu mendapatkan jalan kembali menuju pendidikan.

Sebagian anak mungkin menghadapi kesulitan ekonomi keluarga. Sebagian lainnya mungkin mengalami persoalan sosial, kehilangan motivasi, atau memiliki kebutuhan pendidikan yang memerlukan pendekatan berbeda. Setiap kondisi membutuhkan penanganan yang sesuai, bukan pendekatan seragam.

Karena itu, kerja sama antara dinas, camat, lurah, sekolah, PKBM, keluarga, dan masyarakat harus dibangun secara berkelanjutan. Data ATS perlu diverifikasi dan diperbarui. Setiap anak yang teridentifikasi harus memiliki tindak lanjut yang jelas. Anak yang telah kembali belajar juga perlu dipantau keberlanjutannya agar tidak kembali terputus dari pendidikan.

Keberhasilan tidak cukup dinilai dari jumlah anak yang didatangi atau kegiatan yang diselenggarakan. Yang lebih penting adalah berapa anak yang berhasil kembali belajar, berapa yang masih membutuhkan pendampingan, dan apakah mereka dapat melanjutkan pendidikan secara berkelanjutan.

Dengan demikian, instruksi Wali Kota tidak berhenti sebagai slogan. Ia menjadi tanggung jawab pelayanan yang dapat diperiksa melalui data, tindakan, dan hasil.

Namun, memastikan semua anak bersekolah hanyalah satu sisi dari pekerjaan besar ini. Sisi lainnya adalah memastikan sekolah yang mereka masuki benar-benar mampu memberikan pendidikan yang berkualitas.

Sekolah Terdekat Harus Menjadi Pilihan Terbaik saat ini menjadi tantangan yang perlu menjadi perhatian utama dalam transformasi pendidikan Kota Gorontalo. Kita ingin setiap satuan pendidikan menjadi sekolah yang dipercaya oleh masyarakat. Kita ingin orang tua merasa yakin bahwa sekolah di dekat tempat tinggalnya mampu memberikan pendidikan yang bermutu, membangun karakter, mengembangkan bakat, dan mempersiapkan masa depan anak-anak mereka.

Pilihan orang tua terhadap sekolah bukan semata-mata keputusan administratif. Dari perspektif antropologi, pilihan tersebut berkaitan dengan kepercayaan, pengalaman keluarga, reputasi sosial, harapan terhadap masa depan, dan persepsi mengenai kualitas pendidikan.

Ketika orang tua memilih sekolah yang jauh dari tempat tinggal, keputusan itu dapat dipengaruhi oleh keyakinan bahwa sekolah tersebut memiliki pembelajaran lebih baik, lingkungan lebih aman, kedisiplinan lebih kuat, atau peluang pengembangan diri yang lebih luas. Persepsi seperti ini perlu dipahami sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan mutu seluruh satuan pendidikan.

Karena itu, kita tidak cukup hanya mengimbau masyarakat agar menyekolahkan anak di sekolah terdekat. Kepercayaan tidak dapat dibangun melalui imbauan semata. Kepercayaan harus tumbuh dari pengalaman nyata ketika orang tua melihat anaknya berkembang, guru mengajar dengan baik, kepala sekolah memimpin secara terbuka, lingkungan sekolah aman, dan pembelajaran memberikan hasil yang bermakna.

Sekolah terdekat harus menjadi pilihan terbaik bukan karena jaraknya, melainkan karena kualitasnya. Cita-cita ini tidak berarti membatasi hak orang tua dan anak untuk memilih sekolah sesuai ketentuan yang berlaku. Yang hendak dibangun adalah kondisi ketika keluarga tidak merasa harus mencari sekolah jauh dari rumah hanya untuk memperoleh pendidikan yang baik. Setiap sekolah di setiap wilayah harus memiliki kualitas dan daya tarik yang dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, peningkatan mutu tidak boleh hanya terpusat pada sekolah yang telah memiliki reputasi baik. Sekolah yang masih menghadapi tantangan justru harus mendapatkan pendampingan sesuai kebutuhan. Pemerataan mutu harus menjadi prinsip, agar tidak tercipta kesenjangan antara sekolah yang menjadi favorit dan sekolah yang kurang diminati.

Setiap sekolah perlu memiliki keunggulan yang tumbuh dari potensi peserta didik dan lingkungan sekitarnya. Ada sekolah yang dapat mengembangkan kekuatan literasi, ada yang unggul dalam seni dan kebudayaan, ada yang menumbuhkan prestasi olahraga, dan ada pula yang mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis lingkungan.

Perbedaan keunggulan itu bukan untuk menciptakan kasta antarsekolah. Semua sekolah tetap harus memenuhi standar mutu yang berlaku, memberikan layanan pendidikan yang layak, dan menjamin kesempatan belajar yang adil. Keunggulan menjadi ciri yang memperkaya pilihan, bukan alasan untuk mengabaikan sekolah lain.

Dengan demikian, instruksi agar tidak ada anak yang tidak sekolah dapat bergerak menuju cita-cita yang lebih tinggi: setiap anak bersekolah, setiap sekolah terus bertumbuh, dan setiap keluarga memiliki alasan untuk mempercayai sekolah di lingkungannya.

Make Up School: Membenahi Mutu, Bukan Sekadar Penampilan. Gerakan Make Up School di Kota Gorontalo perlu ditempatkan dalam kerangka transformasi tersebut. Maknanya tidak cukup dipersempit menjadi mempercantik bangunan, mengecat dinding, atau menata halaman sekolah. Pembenahan fisik penting, tetapi harus berjalan bersama pembenahan budaya dan mutu pembelajaran.

Sekolah yang benar-benar berubah adalah sekolah yang menghadirkan lingkungan aman, pembelajaran bermutu, guru yang terus berkembang, karakter yang tumbuh, teknologi yang digunakan secara bijak, serta kebudayaan yang hadir dalam keseharian peserta didik.

Kepercayaan masyarakat tidak dibangun hanya dari gerbang sekolah yang indah. Ia tumbuh ketika orang tua melihat anaknya semakin mampu membaca, berpikir kritis, memahami matematika, menghargai orang lain, disiplin, dan memiliki semangat belajar. Ia juga tumbuh ketika sekolah terbuka terhadap masukan keluarga serta mampu menunjukkan perkembangan peserta didik secara nyata.

Gagasan Satu Sekolah Satu Karya Budaya dapat menjadi salah satu jalan untuk membangun identitas dan keunggulan sekolah. Setiap sekolah dapat mengembangkan karya sesuai potensi wilayahnya, melibatkan komunitas budaya, mendokumentasikan prosesnya, dan mengintegrasikan pengalaman tersebut ke dalam pembelajaran.

Namun, keberhasilannya tidak cukup diukur dari banyaknya pertunjukan atau produk yang dipamerkan. Ukurannya adalah sejauh mana peserta didik memahami kebudayaan, mengembangkan kreativitas, menghargai para pelaku budaya, dan mampu menghubungkan pengetahuan lokal dengan kehidupan masa kini.

Dalam hal ini, lurah dan camat dapat membantu sekolah menemukan sumber daya budaya di wilayahnya. Penutur bahasa Gorontalo, pengrajin karawo, pelaku seni, tokoh adat, dan masyarakat yang memiliki pengetahuan sejarah lokal dapat menjadi mitra pembelajaran.

Anak-anak tidak hanya belajar tentang budaya dari buku, tetapi juga berjumpa dengan orang yang mempraktikkannya. Mereka tidak sekadar mengetahui bahwa karawo merupakan bagian dari identitas Gorontalo, tetapi dapat memahami ketekunan, keterampilan, nilai ekonomi, dan kreativitas yang menyertainya.

Kebudayaan dengan demikian tidak hanya menjadi warisan yang dipamerkan, melainkan sumber pengetahuan yang menghidupkan pembelajaran dan memperkuat identitas peserta didik.

Kepala Sekolah, Lurah, dan Camat dalam Satu Ekosistem. Ini perlu sekali. Untuk mewujudkan semua itu, kepala sekolah perlu membangun komunikasi aktif dan teratur dengan lurah serta camat. Hubungan ini tidak seharusnya hanya terjalin ketika sekolah membutuhkan surat, menghadapi persoalan mendesak, atau menyelenggarakan kegiatan seremonial.

Kepala sekolah perlu menyampaikan perkembangan sekolah, mendiskusikan tantangan peserta didik, mengenali potensi lingkungan, dan memetakan peluang kerja sama dengan masyarakat. Sebaliknya, pemerintah kelurahan dan kecamatan perlu memahami kondisi sekolah di wilayahnya, mengetahui tantangan yang dihadapi, serta membantu menghubungkan sekolah dengan sumber daya yang tersedia.

Kolaborasi dapat dimulai dari hal sederhana: pertemuan berkala, pemetaan anak yang membutuhkan perhatian, identifikasi kebutuhan peningkatan mutu sekolah, pengembangan kegiatan kebudayaan, dan penyusunan tindak lanjut yang jelas.

Pemerintah kelurahan dapat membantu mengenali kondisi sosial keluarga dan potensi masyarakat. Kecamatan dapat memfasilitasi koordinasi lintas kelurahan. Kepala sekolah dan guru memastikan kebutuhan pendidikan diterjemahkan menjadi program pembelajaran. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menjaga arah kebijakan, pembinaan, pemerataan mutu, dan evaluasi.

Pembagian peran harus tetap jelas agar sinergi tidak tumpang tindih dengan kewenangan teknis masing-masing. Data anak harus dikelola dengan memperhatikan kerahasiaan dan martabat keluarga. Kolaborasi juga harus menghindari tambahan administrasi yang tidak perlu bagi guru dan sekolah.

Tujuan akhirnya bukan membuat sekolah semakin sibuk dengan rapat, melainkan membuat persoalan pendidikan lebih cepat dikenali, dukungan lebih mudah diakses, dan mutu pembelajaran semakin baik.

Ketika pemerintah wilayah memahami sekolah dan sekolah memahami masyarakat, keduanya dapat bekerja berdasarkan kebutuhan nyata, bukan sekadar asumsi. Di situlah pemerintahan yang dekat dengan warga menemukan relevansinya dalam pembangunan pendidikan.

Dari Sekolah Menuju Kota sebagai Ruang Belajar adalah Gagasan Kota Gorontalo sebagai Ruang Belajar mengajak kita memperluas cara pandang tentang pendidikan. Kota bukan hanya tempat sekolah berdiri, melainkan ruang sosial yang dapat menyediakan pengalaman belajar bagi setiap anak.

Jalan, taman, perpustakaan, rumah ibadah, sanggar seni, pasar tradisional, kawasan bersejarah, tempat usaha, dan lingkungan permukiman dapat menjadi sumber belajar apabila dirancang dan dimanfaatkan secara tepat. Anak-anak dapat belajar tentang lingkungan melalui kebersihan kampung, tentang ekonomi melalui aktivitas pasar, tentang sejarah melalui narasi masyarakat, dan tentang toleransi melalui perjumpaan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda.

Lurah dan camat memiliki kedekatan kewilayahan untuk membantu mengidentifikasi potensi tersebut. Kepala sekolah dan guru memiliki kemampuan pedagogis untuk mengolahnya menjadi pengalaman belajar. Keluarga memberi fondasi pengasuhan, sedangkan masyarakat menyediakan ruang perjumpaan dan keteladanan.

Ketika hubungan ini terbangun, pendidikan tidak lagi menjadi pekerjaan yang terisolasi di dalam gedung sekolah. Ia menjadi gerakan sosial yang hidup dalam keseharian kota.

Namun, kota sebagai ruang belajar juga harus menjamin bahwa setiap anak memiliki akses terhadap sekolah yang berkualitas. Tidak cukup menjadikan kota kaya akan sumber belajar apabila masih ada anak yang tidak bersekolah atau keluarga yang kehilangan kepercayaan terhadap sekolah di lingkungannya.

Karena itu, dua agenda harus berjalan beriringan: menjangkau anak yang belum terlayani dan meningkatkan mutu setiap satuan pendidikan. Agenda pertama memastikan tidak ada anak yang tertinggal dari pendidikan. Agenda kedua memastikan bahwa ketika anak bersekolah, ia memperoleh pengalaman belajar yang berkualitas.

Inilah semangat Torang Bekeng Bae: membangun kebaikan melalui keterlibatan dan kerja bersama. Pendidikan menjadi ruang penting untuk menerjemahkan semangat tersebut, sebab masa depan kota sedang dibentuk melalui pengalaman anak-anaknya hari ini.

Tidak Ada Anak Tertinggal, Tidak Ada Sekolah Ditinggalkan, Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari megahnya bangunan, lengkapnya fasilitas, atau banyaknya program yang diluncurkan. Semua itu penting, tetapi harus bermuara pada pertumbuhan manusia dan pemerataan kesempatan belajar.

Instruksi Wali Kota untuk memastikan tidak ada anak yang tidak sekolah harus menjadi komitmen bersama seluruh unsur pemerintahan dan masyarakat. Setiap lurah perlu membantu mengenali persoalan pendidikan di wilayahnya. Setiap camat perlu menggerakkan koordinasi lintas kelurahan. Setiap kepala sekolah perlu membangun hubungan aktif dengan pemerintah wilayah dan keluarga. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan perlu memastikan layanan pendidikan tersedia, mutu terus ditingkatkan, dan hasilnya dievaluasi secara berkala.

Namun, komitmen tersebut harus melangkah lebih jauh. Setiap satuan pendidikan harus mendapat kesempatan untuk berkembang dan memperbaiki diri. Tidak boleh ada sekolah yang kehilangan perhatian hanya karena belum populer. Tidak boleh ada peserta didik yang menerima layanan bermutu lebih rendah hanya karena bersekolah di wilayah tertentu.

Sekolah yang berkualitas adalah sekolah yang mampu mengembangkan potensi anak, memberikan rasa aman, membangun karakter, menghargai kebudayaan, dan mempersiapkan peserta didik menghadapi perubahan zaman. Mutu seperti ini harus menjadi komitmen seluruh sekolah, bukan hanya sekolah yang telah memiliki reputasi baik.

Kita ingin suatu saat orang tua di setiap kelurahan merasa yakin bahwa sekolah dekat rumahnya merupakan tempat yang baik bagi masa depan anak. Bukan karena tidak ada pilihan lain, melainkan karena sekolah itu memang layak dipilih.

Inilah arah perubahan yang perlu terus diperjuangkan: dari pemerintahan yang hanya mendata anak tidak sekolah menuju pemerintahan yang aktif menjangkau mereka; dari sekolah yang sekadar menerima peserta didik menuju sekolah yang dipercaya masyarakat; dan dari pendidikan yang dibatasi dinding kelas menuju pendidikan yang hidup dalam seluruh ruang kota.

Pagar sekolah boleh menjadi batas halaman, tetapi tidak boleh menjadi batas kepedulian. Ketika setiap anak memperoleh kesempatan belajar, setiap sekolah terus meningkatkan mutu, dan setiap kelurahan serta kecamatan mengambil bagian dalam ekosistem pendidikan, Kota Gorontalo sedang membangun fondasi masa depan yang lebih kuat.

Sebab, pendidikan melampaui pagar sekolah bukan berarti mengurangi peran sekolah. Sebaliknya, gagasan ini memperkuat sekolah dengan dukungan keluarga, pemerintah, kebudayaan, dan masyarakat.

Tujuan akhirnya ialah memastikan tidak ada anak yang tertinggal dari pendidikan dan memastikan sekolah terdekat menjadi pilihan yang dipercaya karena kualitasnya. Itulah jalan menuju Kota Gorontalo sebagai Ruang Belajar: kota yang tidak hanya mengajak semua anak bersekolah, tetapi juga membangun setiap sekolah menjadi tempat terbaik bagi anak-anak untuk tumbuh, belajar, mengenali kebudayaannya, dan menyiapkan masa depannya. (*)

Antropolog dan Praktisi Pendidikan

 

Tags: Catatan Husin AliDiknas Kota Gorontalohusin alipemkot gorontalo

Related Posts

Dr. Arifasno Napu

Monumental Semboyan Gizi ”Svastha Harena” Melalui ”Salam Gizi” dengan Jawaban ”Sehat Melalui Makanan”

Tuesday, 6 October 2026
Muchlis Huntua

Rumah Kebangsaan Cipayung Plus Gorontalo: Ruang Dialog Tanpa Barikade

Monday, 5 October 2026
Basri Amin

Warisan “Portugis” di Gorontalo

Monday, 5 October 2026
Salam Gizi! Yth, Presiden RI Jenderal (Pur.TNI) Prabowo Subianto 

Ilmiahkan Bid’ah Tentang Makanan Tradisional dan Ramuan Obat Berkhasiat 

Thursday, 1 October 2026
Rabies: Satu Gigitan, Banyak Tanggung Jawab

Rabies: Satu Gigitan, Banyak Tanggung Jawab

Wednesday, 30 September 2026
Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi (Bukan) Kewajiban Negara

Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi (Bukan) Kewajiban Negara

Tuesday, 29 September 2026
Next Post
Rumah Dinas TNI Dijadikan Markas Judol, Jenderal Maruli: Sangat Memalukan!

Rumah Dinas TNI Dijadikan Markas Judol, Jenderal Maruli: Sangat Memalukan!

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Mohamad Reza, Putra Gorontalo Terpilih Jabat Dewas RRI 

Mohamad Reza, Putra Gorontalo Terpilih Jabat Dewas RRI 

Thursday, 8 October 2026
Basri Amin

Warisan “Portugis” di Gorontalo

Monday, 5 October 2026
Kompeten! OJK Setujui Rania Riris Ismail Jadi Komisaris BSG

Kompeten! OJK Setujui Rania Riris Ismail Jadi Komisaris BSG

Thursday, 8 October 2026
Pemerintah Siapkan BSU Pekerja Rp 900 Ribu

Pemerintah Siapkan BSU Pekerja Rp 900 Ribu

Tuesday, 6 October 2026

Pos Populer

  • Sehari Jadi Kapolri, Jenderal Suyudi Mutasi 19 Kapolda, Gorontalo Ikut Berganti

    Sehari Jadi Kapolri, Jenderal Suyudi Mutasi 19 Kapolda, Gorontalo Ikut Berganti

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Mohamad Reza, Putra Gorontalo Terpilih Jabat Dewas RRI 

    88 shares
    Share 35 Tweet 22
  • Warisan “Portugis” di Gorontalo

    72 shares
    Share 29 Tweet 18
  • Usai Mopotilolo, Irjen Pol Nurworo Danang Disambut Pedang Pora di Mapolda Gorontalo 

    60 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Polda Gorontalo Sita Emas dan Merkuri di Lokasi PETI, Dua Orang Jadi Tersangka

    71 shares
    Share 28 Tweet 18
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.