oleh:
Basri Amin
Benteng “Otanaha” di wilayah Kota Gorontalo terkesan didirikan di masa Portugis. Di akhir abad ke-16. Dalam sebuah pemberitaan (Mnyala, 1984) yang merujuk penutuan A. Tajibu yang mendengar kisah-kisah benteng tersebut dari ayahnya sendiri (lahir 1875) yang juga menerima penuturan dari S. Hakim yang pada tahun 1949 sudah mencapai usia 120 tahun. Rujukan lainnya, bersumber dari sesepuh Adat di Limboto, Temey Rukiah, yang juga menuturkan kepada Tajibu di tahun 1950.
Keberadaan benteng ini, selain bisa dijelaskan secara ilmiah, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah penuturan-penuturan yang pernah eksis di masyarakat setempat. Dalam legenda yang tersedia sejak 1940-an, dikisahkan bahwa: “pendiri benteng ini adalah dua gadis cantik, Ndoba dan Tiliaya. Konon keduanya dibantu oleh empat orang Nahkoda kapal yang hebat; mereka berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan: Lakoro, Lagona, Lakandjo, dan Jailani”.
Kedua orang tua gadis cantik itu konon berasal ‘dari langit dan memilih turun’ (kelak) di bumi Gorontalo. Keduanya menikah di Maluku dan melahirkan kedua putrinya di sana, Ndoba dan Tiliaya. Di Maluku, mereka menyaksikan kekejaman Portugis sehingga ketika mereka ke Gorontalo merasa harus membuat persiapan khusus (membangun benteng) kalau-kalau Portugis memasuki daerah ini. Hal itu mereka kerjakan setibanya di Gorontalo, dengan bantuan para nahkoda Gowa tadi.
Versi lainnya, dikisahkan bahwa benteng tersebut memang dibangun oleh Portugis ketika menyiapkan sejumlah titik pertahanan pesisirnya, sebagai persiapan menghadapi Belanda. Di saat yang sama, benteng ini juga berfungsi pelindung ketika menghadapi potensi perlawanan pribumi jika terjadi konflik.
Terkesan bahwa benteng-benteng (masa) Portugis itu sangat lama tidak terpakai. Tertutup di perbukitan, sampai akhirnya ada yang ‘menemukan’nya, yakni: Naha, Hiya, dan Ulapahu. Sebagai penemu, kemudian disempurnakan status pembahasaannya sebagai ‘pemilik’: Ota-naha, Ota-Hiya dan Ulapahu. Tiga ‘bongkahan’ benteng yang mengabadikan nama ketiganya masih abadi sampai saat ini. Dulunya, selama tiga tahun anggaran pemerintah, 1978—1980, rehabilitasi benteng dikerjakan oleh pemerintah Gorontalo. Tetapi jauh sebelum itu, tahun 1957, rombongan Guru dari SDN 1 Dembe, Gorontalo, sempat mengadakan ekspedisi untuk ‘menemukan’ benteng tersebut, sekaligus mengalahkan kesan-kesan mitis tentangnya.
Di akhir tahun 1960-an, rombongan IKIP Manado juga berhasil ‘menyaksikan’ keberadaan yang asli benteng-benteng tersebut. Posisi Benteng Otahiya di Barat Laut, Otanaha di sebelah Timur Laut dan Ulapahu di sebelah Barat Daya. Untuk sampai di benteng Otahiya, menyusuri 351 anak tangga dengan kecuraman 60 derajat (kondisi yang tampaknya konsisten sampai 1960-an, dalam M-KP, 1984).
Portugis memang tercatat senang membuat benteng. Itu sangat tampak di Maluku Utara. Kehadirannya di Nusantara ketika perebutan niaga rempah berlangsung sengit di pasar-pasar Asia dan Eropa. Tiba kali pertama di Maluku Utara di tahun 1512 dan nanti meninggalkan perairan Maluku dan Sulawesi bagian Utara ketika Sultan Babullah di Ternate mengusir mereka (1575) dengan kemarahan besar karena Portugis membunuh ayahnya, Sultan Khairun, dengan penghianatan yang tidak terampuni selamanya (Amal, 2002; Djafaar, 2007). Portugis membentuk rembesan pengaruh ke Utara Sulawesi (Lapian, 1986 [2009]: 66–68).
Jejak Portugis memang sangat pahit di Maluku, tetapi baik-baik saja di wilayah Timor, Flores, Ende, dan Dili. Di sana, tinggalan Portugis sangat menyatu dengan agama, tradisi, situs-situs budaya, dan terutama bahasa. Di sana, “darah Portugis” bercampur banyak dengan penduduk setempat. Demikian juga di Makassar, kehadiran Portugis “terterima baik” oleh pembesar-pembesar di Gowa (Reid, 2004 [1999]).
Di Gorontalo, di Sulawesi, dan di Maluku Utara, tinggalan paling nyata adalah bahasa. Tercatat cukup banyak kata-kata serapan Portugis yang hingga kini, sehari-hari, masih mewarnai komunikasi kita. Di sisi ini, persilangan budaya memang mewarnai sejarah Nusantara Timur, di mana bahasa merupakan penandanya yang paling tampak –-kendati tak selamanya kita sadari—. Di Sulawesi bagian Utara –termasuk di Gorontalo—kita masih sering mendengar kata-kata, seperti: “burako” (laki-laki nyeleneh) dan “garida” (perempuan yang…), “gargantang” (leher/kerongkongan), “ta-sono” (tertidur), “testa” (dahi). Itu semua adalah kata-kata Portugis.
Kata-kata sehari-hari di negeri kita: bendera, kemeja, lemari, noda, pena, pesta, pesiar, bantal, kaldu, kantin, bangku, meja, bantal, bola, bolu, batata, garpu, jendela, gereja, boneka, keju, mentega, baret, peniti, perangko, roda, pita, lelang, sabun, sekolah, toga, lenso, terigu, tinta, saku, sepatu, kintal, komedi, sarampa, sekretaris, obras, fogado, dll. (Da França, 2000 [1985]; Lapian, 2000). Semua ini adalah dari Portugis yang bisa jadi (mulai) berjejak sejak abad ke-16.
Lagu paling popular ketika hendak menidurkan “anak kecil”, berjudul “Nina Bobo” adalah warisan lagu (dari) Portugis yang di-Melayu-kan. Kata “nina” itu sendiri dalam bahasa Portugis berarti “anak gadis kecil” (Menina). Demikian juga dengan tradisi menyanyi keroncong misalnya.
Dikatakan pula bahwa nama pulau “Sulawesi”, diklaim telah disebut penamaannya dalam kartografi Portugis di abad ke-16, oleh kartografer Nicholas Desliens, pada peta tahun 1541: “Ponta dos Celebres” (‘Tanjung Orang-Orang Termasyhur’).
Jejak Portugis di Gorontalo, setidaknya jika merujuk benteng dan bahasa, memberi kita indikasi penguat dari kesejarahan daerah ini. Jalur niaga maritim di Utara dan Selatan Nusantara memberi banyak pengaruh. Perlintasan perbatasan-peraira intensif terjadi. Persekutuan regional dengan Maluku dan Gowa, jelas sangat dekat. Tidak heran kalau sejumlah “penuturan” selalu terbiasa menyebut kedua kawasan tersebut.
Meski demikian, jauh di abad ke-14, ada petunjuk tentang jejak kepemimpinan perempuan (Ratu Limboto) yang meluas wilayahnya hingga di kawasan Tomini –-antara Tanjung Api hingga di Sausu – Sulawesi Tengah (Lapian, 1989). Meskipun dikesankan ‘terbatas’ pengaruhnya, tetapi hal ini tentu memberi koneksi tersendiri yang masih mungkin di-rekoneksi lagi dewasa ini. Khan?***
Penulis adalah Peneliti Utama di Pusat Studi Dokumentasi (PSD) H.B. Jassin.
Surel: basriamin@gmail.com














Discussion about this post