logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Negeri Miskin Teladan

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 31 August 2026
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Basri Amin

 

NEGERI ini mengalami lingkaran kemiskinan keteladanan. Di banyak organisasi, orang-orang yang berdedikasi dan lurus antara kata dan perbuatannya sepertinya masih barang langka.

Mereka yang lurus dan benar bahkan setiap saat dilukai dengan kata-kata dan perlakuan. Orang-orang lurus dan teguh pemikirannya sering dianggap sebagai “orang aneh”. Ia sering dihindari dan bahkan kalau bisa dicemooh, “dipukul dari belakang”, disingkirkan, di-stigma, dan ditekan sedemikan rupa dengan tujuan agar ia cepat frustasi, mengalah, lelah, dan akhirnya dimatikan.

Related Post

Mens Rea dalam Doktrin & Norma

Duduk “Enak” di Pemerintahan

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Dengan begitu, contoh baru tentang keburukan berubah menjadi “rujukan”.

Untuk disebut merdeka sepenuhnya, sebuah bangsa membutuhkan nalar dan nurani yang berani.Jika kedua hal ini ditempa oleh sejarah, pengorbanan, konsistensi kerja, dan cita-cita kokoh, maka berubahlah ia menjadi ‘karakter’, bahkan wujudnya bisa berupa “ideologi merdeka”.

Di manakah tempat belajar agar kepekaan nalar dan nurani (merdeka) terbangun?

Bagi bangsa merdeka, apa gunanya nalar dan nurani itu? Jawaban tegasnya: agar bangsa itu tidak mudah ditipu oleh (perubahan) keadaan dan manusia-manusia pecundang di sekitarnya. Dengan itu juga, agar bangsa itu (selalu) terbantu melihat bagaimana konsistensi jalan-jalan perbaikan yang sering dipidatokan atau dikampanyekan oleh para penguasa dan elite-nya.

Negeri kita saat ini sepertinya tengah dikepung oleh parade “bahasa tinggi” oleh mereka yang merasa “orang penting”. Kemampuan kita melihat sesuatu secara utuh masih harus ditempa dengan kesungguhan. Tabiat kita adalah “menyicil” setiap upaya menjawab permasalahan kemudian “memecahnya” ke dalam tindakan dan pikiran yang terpisah-pisah.

Kita cenderung menghindari sesuatu yang kompleks. Sistem di berbagai tingkatan belum sepenuhnya menjadi “infrastruktur yang memaksa” kepada setiap tata-kelola organisasi (kerja) di negeri ini. Sebagai hasilnya, tabiat-tabiat lama yang lebih mencari aman dengan kepentingan diri-sendiridan yang berjangka pendek masih kuat berpoles diri dan diam-diam mengamankan diri di banyak tempat.

Nasehat konyol lebih banyak dianut: Anda tampil biasa-biasa saja! Terbiasalah berbasa-basi! Anda harus pandai ‘mencari muka’! Jangan berani dengan kebenaran! Ambillah setiap kesempatan! Tunduklah kepada kemunafikan agar Anda “selamat” dan bisa bermewah-mewah dengan fasilitas!

Apa hasilnya? Pelan-pelan tapi pasti, keburukan menjadi rujukan. Padahal, pernah sekian tahun negeri ini dijejali dengan istilah Revolusi Mental. Apa hasilnya? Aksi nyata entah kemana. Orang setengah hati dan sepertinya waswas. Padahal, setiap saat memang mestinya kata pamungkas Mentalitas perbaikan bangsa harus diwujudkan.

Kata ini juga mestinya mewarnai setiap judul kegiatan kita, bahasa pembukaan acara-acara publik, ritual rapat di kantor-kantor, kegiatan pembelajaran, bahasa jajaran pemerintah dan semua elemen yang komit untuk perbaikan “martabat bangsa”. Belakangan, kata istimewa itu menghilang baunya dan tak ada lagi ujung-pangkalnya.

Mentalitas adalah tantangan terbesar negeri ini.

Tentu tak bisa dipukul rata, tetapi fakta umumnya adalah bangsa kita belum berdaya saing. Kualitas pekerjaan kita di berbagai bidang selalu kalah dengan bangsa-bangsa lain. Padahal, mutu manusia Indonesia tidak kalah pada tingkat mikro dan pada segmen-segmen tertentu.

Masalahnya terletak pada tata-kelola, kepemihakan, gagasan dan nilai yang membumi, serta etos kerja yang benar-benar tertanam dalam kerja-kerja keseharian kita. Energi bersama kita sering terbuang begitu saja dengan sia-sia karena mentalitas jangka pendek terlalu mendikte nalar dan laku kita. Setiap kali muncul masalah besar atau pun kesempatan besar, penyikapan kita cenderung alakadar-nya.

Sayang sekali karena mekanisme (kekuasaan) yang ada selama ini masih menampilkan dominannya pola “permainan”. Kebenaran substansi dan tujuan luhur dari tata-kelola kekuasaan dan keteladanan tampaknya makin mudah dikalahkan. Budaya “bermuka dua” makin laku di masyarakat.

Demikian pula dengan kinerja pemimpin kita sepertinya biasa-biasa saja: pemain berganti, permainan tak banyak berubah!

Ritual ‘pergantian pemain’ lebih banyak muncul di permukaan. Soal isi, aksi dan imajinasi, biarlah berjalan seadanya. Di lapangan lain, guncangan moral di masyarakat belum otomatis mendorong suatu kemurkaan kolektif. Keadilan kemudian dipertanyakan setiap saat.

Dalam ketidakpastian seperti itu, saya teringat cuplikan sebuah dialog dalam novel “Pengemis” Naguib Mahfouz (1986): “…kita tidak banyak berubah sebanyak perkembangan yang terjadi”.

Suara dari bawah tidak perlu diwakili sepenuhnya. Yang kita butuhkan adalah ruang yang lebih banyak untuk saling bicara dan mendengar satu-sama lain, tanpa prasangka, tanpa klaim pengetahuan dan pemenggalan hak-hak. Faktanya, kita amat sering bosan dengan “suara dari bawah”. Kita mudah merasa sudah (sangat) tahu apa yang terjadi melalui jalur “politik representasi”, apa pun itu ukurannya.

Kita menyikapi setiap keluhan dengan jawaban, tanpa peduli tentang kebohongan yang berulang-ulang dilakukan. Dan tanpa peduli tentang “resiko” yang melilit orang-orang di pinggiran. Mereka menjadi korban karena jeritan hidup mereka tak pernah bisa dipahami oleh tabel-tabel statistik, demikian juga dengan bahasa mereka yang tak pernah nyaman dengan teori di buku-buku dan jargon manajemen di organisasi-organisasi.

Kini kita membutuhkan “bahasa bersama”, sebuah bahasa yang menempatkan semua kosa kata tidak terpisah dari keadaan manusia, yakni tentang nasib, harapan, dan hak-hak untuk makmur. Lihatlah, di beberapa tempat, kaum muda kita melemah kapasitasnya. Bisa dibayangkan kalau kalangan muda kita makin terperosok dalam kubangan kebiasaan yang membenarkan “kedangkalan” dalam bekerja dan bernalar.

Dari sinilah benih-benih jalan pintas dan ketidakjujuran, lemahnya watak dan persistensi kerja, rendahnya tanggung jawab dan etos mencipta. Dalam hitungan 10-15 tahun, bangsa kita akan menampung “tenaga kerja” yang lemah daya saingnya. Karena mereka membangun pengalaman masa mudanya dengan tradisi “serba cepat dan mudah”.Enteng!

Lingkungan pembelajaran dan kehidupan seharian yang serba on line nyaris tidak memberi ruang yang cukup untuk “menata” nalar yang lebih utuh-terpola, terhayati dan melintasi cakrawala (pengalaman) dan pemikiran yang lebih luas.

Dampaknya mulai kelihatan. Bahkan di tingkat universitas, dengan segala hormat dan cinta, saya harus katakan bahwa “mahasiswa” kita mengalami krisis dalam menuliskan pikiran-pikirannya dengan solid, serta mengalami fakta-fakta lapangan secara cermat.

Perangai meng-copy tanpa sikap kritis dan selektif dengan sumber-sumber pengatahuan makin meluas. Kita belum merdeka belajar! Kita (belum) tuntas “belajar merdeka”…untuk bisa merdeka, tak ada jalan pintas.

Di negara-negara yang maju, justru masa kehidupan orang-orang mudanya amatlah bergegas dengan cita-cita tinggi yang ekspansif, bukan yang defensif. Mereka amat biasa terkaget-kaget dengan kreativitas orang mudanya.

Mereka dilatih untuk “meledakkan” pikiran-pikiran yang hebat dan mimpi-mimpi yang melintasi teritori yang lebih luas. Mereka ditempa untuk terbiasa mengajukan pertanyaan, menguji pernyataan dengan nalar cermat dan selanjutnya mempertanyakan sesuatu dengan mendalam.

Dasar dari semua etos bernalar dan pencarian itu adalah “keraguan” positif atas keberadaan semua hal di lingkungan sekitar, termasuk bagaimana menghadirkan masa lalu dan pilihan masa depan menjadi sesuatu yang hadir dan tak terpisah dari kehidupan sehari-hari.

Saya khawatir, kita hanya keasyikan melatih kaum muda dan pelajar-pelajar kita ber-upacara yang herois di bulan Agustus tetapi kita abai menempa nalar dan nurani kebangsaan mereka yang progresif di tengah lajunya perubahan dunia di abad ini. ***

Penulis adalah Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminCatatan basri aminHarian Persepsipersepsispektrum sosialtulisan basri amintulisan persepsi

Related Posts

Yusran Lapananda

Mens Rea dalam Doktrin & Norma

Tuesday, 8 September 2026
Basri Amin

Duduk “Enak” di Pemerintahan

Monday, 7 September 2026
Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Sunday, 6 September 2026
Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Friday, 4 September 2026
NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

Thursday, 3 September 2026
Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Thursday, 3 September 2026
Next Post
Polisi Bubarkan Balap Liar di Tugu Saronde, Puluhan Motor Diamankan, Pengemudi Didominasi Pelajar

Polisi Bubarkan Balap Liar di Tugu Saronde, Puluhan Motor Diamankan, Pengemudi Didominasi Pelajar

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Yusran Lapananda

Mens Rea dalam Doktrin & Norma

Tuesday, 8 September 2026
Polres Boalemo Salurkan Air Bersih di Tinelo

Polres Boalemo Salurkan Air Bersih di Tinelo

Tuesday, 8 September 2026
Kebakaran Semakin Tidak Terkendali, Dua Hari 11 Titik Lahan, Hutan hingga Rumah Warga Hangus

Kebakaran Semakin Tidak Terkendali, Dua Hari 11 Titik Lahan, Hutan hingga Rumah Warga Hangus

Tuesday, 8 September 2026
86 SPBU di Sulawesi Kena Sanksi Pertamina

86 SPBU di Sulawesi Kena Sanksi Pertamina

Tuesday, 8 September 2026

Pos Populer

  • Pengadaan MacBook Aleg Deprov, Femmy: Dengan Tegas Saya Menolak 

    4 Kursi DPR RI untuk Gorontalo, Femmy: Dari Aspirasi Menjadi Agenda Kelembagaan

    35 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Rp 68,2 M Dana Asrama Haji Gorontalo Ditolak, Kemenhaj: Mepet Waktu, Beresiko

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

    27 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Mens Rea dalam Doktrin & Norma

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Polres Boalemo Salurkan Air Bersih di Tinelo

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.