Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Penguatan pasokan listrik mulai diarahkan untuk menopang ekspansi industri dan pemerataan elektrifikasi di Gorontalo. PT PLN (Persero) menyiapkan sejumlah proyek infrastruktur kelistrikan, mulai dari gardu induk, jaringan transmisi, hingga pembangkit tenaga surya.
General Manager PLN Unit Induk Pembangunan Sulawesi I Gusti Made Aditya San Andinatha menyampaikan rencana tersebut saat beraudiensi dengan Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail di Rumah Dinas Gubernur, Rabu (2/9).
Kepala Dinas Tenaga Kerja, ESDM dan Transmigrasi Provinsi Gorontalo Wardoyo Pongoliu, mengatakan, salah satu proyek yang telah rampung adalah Gardu Induk (GI) 150 kV Marisa extension berkapasitas 30 MVA. PLN juga memasukkan sejumlah pembangunan jaringan transmisi dalam RUPTL 2027, antara lain SUTT 150 kV Molibagu-Gorontalo Baru/Botupingge, dan Tutuyan-Molibagu.
Selain itu, disiapkan interkoneksi sistem kelistrikan Sulawesi Tengah-Gorontalo melalui jalur Marisa-Moutong. Tambahan kapasitas tersebut diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan industri menengah hingga besar yang akan beroperasi di Gorontalo.
“Suplai kebutuhan listrik lainnya juga akan dimanfaatkan untuk memenuhi beberapa industri menengah besar, di antaranya PT BJA, PT Gorontalo Mineral yang akan berproduksi awal 2027 serta industri lainnya di Gorontalo sesuai dengan RUPTL Gorontalo 2027,” kata Wardoyo. Kebutuhan listrik juga meningkat seiring agenda hilirisasi peternakan ayam yang tengah didorong pemerintah daerah.
Rantai industri tersebut membutuhkan pasokan listrik untuk pabrik pakan, cold storage, rumah potong hewan, fasilitas penetasan, hingga berbagai fasilitas pendukung lainnya. Di sisi energi baru terbarukan, Pemprov Gorontalo dan PLN turut membahas rencana pembangunan PLTS 100 MW di area genangan Waduk Bulango Ulu.
Rencana tersebut merupakan tindak lanjut kunjungan Duta Besar Uni Emirat Arab ke Gorontalo pada awal Agustus lalu. Pemprov Gorontalo juga menyiapkan lahan di Botupingge untuk mendukung rencana pembangunan PLTS berkapasitas 6 MW oleh PLN.
Tak hanya menyasar kawasan industri, penguatan kelistrikan juga diarahkan ke wilayah yang belum teraliri listrik. Pada Juli 2026, Pemprov Gorontalo mengusulkan program listrik desa untuk 40 dusun, melalui penambahan jaringan tegangan menengah (JTM) dan jaringan tegangan rendah (JTR). Usulan itu sekaligus mencakup 3.100 sambungan rumah bagi warga yang belum menikmati jaringan listrik.
Gubernur Gusnar Ismail menilai pembangunan infrastruktur kelistrikan tersebut penting untuk menopang agenda pembangunan daerah. Bagi pemerintah daerah, tambahan kapasitas listrik bukan sekadar soal pasokan, tetapi menjadi salah satu prasyarat agar investasi, hilirisasi, dan pemerataan layanan dasar bisa berjalan.
Dengan sejumlah proyek tersebut, penguatan sistem kelistrikan Gorontalo bergerak di dua sisi sekaligus: mengejar kebutuhan energi industri yang terus tumbuh dan memperluas akses listrik bagi masyarakat yang belum terlayani. (tro)














Discussion about this post