Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Kemampuan kader Posyandu dalam memantau pertumbuhan dan status gizi balita di Desa Tabumela, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo, diperkuat melalui pelatihan pengukuran antropometri secara terstandar.
Kegiatan tersebut merupakan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Gorontalo dengan menyasar 10 kader kesehatan/Posyandu Desa Tabumela. Program dilaksanakan secara bertahap mulai Juli hingga September 2026.
Ketua Tim Pengabdian, Mutia Reski Amalia, S.Gz., M.Kes., mengatakan pelatihan tersebut dilatarbelakangi belum meratanya kemampuan kader dalam melakukan pengukuran antropometri di Posyandu.
Dari 10 kader yang menjadi sasaran, baru dua orang yang sebelumnya memiliki pengalaman melakukan pengukuran antropometri secara rutin. Sementara kader lainnya masih membutuhkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan.
“Kami ingin kader tidak hanya memahami teori, tetapi benar-benar mampu melakukan pengukuran antropometri dengan teknik yang tepat dan terstandar. Dengan begitu, hasil pengukuran di Posyandu dapat lebih akurat dan bisa membantu mendeteksi masalah pertumbuhan maupun status gizi anak sejak dini,” ujar Mutia.
Menurutnya, kemampuan melakukan pengukuran dengan benar menjadi penting karena data berat badan, panjang atau tinggi badan merupakan bagian dari pemantauan pertumbuhan balita.
Karena itu, pelatihan tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi dilanjutkan dengan demonstrasi dan praktik langsung. Kader diberikan materi mengenai teknik pengukuran antropometri, penggunaan alat, pengisian Kartu Menuju Sehat (KMS), serta pembacaan grafik pertumbuhan balita.
Kader juga diperkenalkan dengan aplikasi AnthroCal yang dapat digunakan untuk membantu mengetahui status gizi anak secara lebih cepat. Selain itu, tim memberikan buku saku antropometri sebagai panduan yang dapat digunakan kader saat menjalankan pelayanan Posyandu.
Mutia menjelaskan, pendampingan menjadi bagian penting agar keterampilan yang diperoleh kader melalui pelatihan dapat diterapkan dalam kegiatan Posyandu.
“Pelatihan ini tidak berhenti pada pemberian materi. Setelah pelatihan, kader kami dampingi saat melakukan pengukuran di Posyandu dan kemudian dievaluasi kembali. Harapannya, kader semakin percaya diri dan mampu melakukan pengukuran secara mandiri,” jelasnya.
Pelatihan awal dilaksanakan pada 20-21 Juli 2026. Selanjutnya, kader mendapatkan pendampingan saat melakukan pengukuran pada kegiatan Posyandu di Desa Tabumela pada Agustus.
Pada September 2026, akan dilakukan evaluasi keterampilan akhir untuk melihat kemampuan kader dalam menerapkan teknik pengukuran antropometri secara mandiri.
Selain kemampuan praktik, keberhasilan program juga dievaluasi melalui pre-test dan post-test untuk mengetahui peningkatan pengetahuan kader setelah mengikuti pelatihan.
Kegiatan tersebut turut melibatkan Ahli Gizi Puskesmas Tilango, terutama dalam pengisian grafik pertumbuhan dan penggunaan kalkulator antropometri. Pemerintah Desa Tabumela berperan dalam memfasilitasi koordinasi, tempat kegiatan, serta keterlibatan kader dan masyarakat.
Pendampingan ini diharapkan tidak berhenti setelah program selesai. Kader didorong untuk terus menerapkan pengukuran antropometri secara terstandar pada setiap kegiatan Posyandu dengan memanfaatkan buku saku sebagai panduan.
Dengan peningkatan kapasitas kader, pemantauan pertumbuhan balita di Desa Tabumela diharapkan semakin optimal. Hasil pengukuran yang dilakukan secara tepat juga dapat membantu mengenali masalah pertumbuhan dan status gizi anak lebih dini.
Tim pengabdian dari Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Gorontalo terdiri dari Mutia Reski Amalia, S.Gz., M.Kes., Misnati, S.ST., M.Kes., Masrif, SKM., M.Kes., dan Dr. Misrawati Goi, SKM., MKM. (Adv/Tr-76)












Discussion about this post