Gorontalopost.co.id, GORONTALO POST — Kemarau panjang mulai menunjukkan wajah mengkhawatirkan di Provinsi Gorontalo. Bahkan, kondisi ini membuat kebakaran semakin tidak terkendali. Lahan, Hutan hingga Rumah Warga dilalap api dalam dua hari terakhir.
Informasi yang dirangkum Gorontalo Post, kebakaran terjadi hampir merata di sejumlah wilayah Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo Utara. Sejak Minggu (6/9/2026) hingga Senin (7/9/2026), sedikitnya 11 titik kebakaran terjadi di sejumlah wilayah.
Kebakaran tidak hanya melanda lahan kosong, tetapi juga merambah kawasan hutan hingga rumah warga. Rentetan kejadian yang muncul sejak pagi hingga malam ini menjadi alarm keras di tengah kondisi kemarau yang membuat vegetasi dan lahan semakin kering serta mudah terbakar.
Pada Minggu (6/9/2026), kebakaran pertama dilaporkan terjadi di Desa Panggulo, Kecamatan Botupingge, Kabupaten Bone Bolango, sekitar pukul 10.35 WITA. Tak berselang lama, sekitar pukul 11.00 WITA, kebakaran lahan kembali dilaporkan terjadi di Kelurahan Hepuhulawa.
Sekitar pukul 11.30 WITA, kobaran api juga melanda rumah warga di Desa Ilotodea, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo. Rentetan kebakaran terus berlanjut. Sekitar pukul 14.20 WITA, kebakaran terjadi di kawasan hutan Desa Alale, Kecamatan Suwawa, Kabupaten Bone Bolango.
Memasuki sore hari, sekitar pukul 17.00 WITA, kebakaran lahan kembali terjadi di Molintogupo, Kecamatan Suwawa Selatan, Kabupaten Bone Bolango. Pada malam hari, sekitar pukul 19.15 WITA, kebakaran lahan dilaporkan terjadi di Kompleks Rusun RSUD Zainal Umar Sidiki (ZUS), Kabupaten Gorontalo Utara.
Pada waktu yang hampir bersamaan, kebakaran lahan juga terjadi di Desa Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara. Sekitar pukul 20.05 WITA, api kembali muncul di Desa Ulapato, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo. Kondisi tersebut berlanjut pada Senin (7/9/2026). Sekitar pukul 11.15 WITA, kebakaran lahan terjadi di kawasan Bumi Perkemahan (Buper), Kelurahan Bongohulawa, Kecamatan Limboto.
Penanganan di lokasi tersebut mendapat perhatian serius karena armada Damkar Kabupaten Gorontalo sedang menjalani pemeliharaan. Dukungan armada penanganan kebakaran hutan dan lahan dari tingkat provinsi pun diminta untuk membantu mengatasi kobaran api.
Sementara itu, sekitar pukul 17.30 WITA, menjelang magrib, kebakaran kembali terjadi di kawasan Hutan Pinus Polohungo, Limboto. Dengan kondisi tersebut, 11 titik kebakaran dalam dua hari menjadi gambaran serius ancaman kebakaran di tengah kemarau panjang yang melanda Gorontalo.
Direktur Samapta Polda Gorontalo Kombes Pol. Satrya Perdana Panuntung Tarung Binti mengatakan, penanganan kebakaran dilakukan secara bersama-sama melalui sinergi antara kepolisian, TNI, Damkar dan masyarakat.
Menurutnya, pemadaman tidak berhenti setelah kobaran api berhasil dikendalikan. Personel juga melakukan proses pendinginan untuk memastikan tidak ada titik api yang berpotensi kembali membesar. “Setelah api berhasil dipadamkan, personel melakukan pendinginan untuk memastikan tidak ada lagi titik api yang dapat menyebabkan kebakaran kembali,” ujarnya.
Hingga proses penanganan selesai, penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan. Petugas juga terus mengantisipasi kemungkinan munculnya titik api baru, terutama di kawasan yang memiliki kondisi lahan dan vegetasi kering.
Di tengah meningkatnya kejadian kebakaran, masyarakat diminta tidak lengah. Kondisi kemarau membuat lahan, semak belukar dan kawasan hutan lebih mudah terbakar sehingga api dapat dengan cepat meluas.
Polda Gorontalo mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan. Warga juga diminta tidak membuang puntung rokok di kawasan yang mudah terbakar.
Rentetan kebakaran tersebut menjadi peringatan bagi seluruh masyarakat bahwa ancaman karhutla selama musim kemarau harus dihadapi secara serius. “Kewaspadaan dan kepedulian masyarakat menjadi kunci untuk mencegah api kembali meluas dan mengancam keselamatan warga serta lingkungan,”tandas Kombes Pol. Satrya Perdana. (roy)












Discussion about this post