Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Upaya menekan risiko komplikasi diabetes melitus (DM) terus diperkuat melalui edukasi kepada masyarakat. Salah satunya dilakukan Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Gorontalo dengan menggelar pengabdian kepada masyarakat bertajuk Edukasi Makanan Tradisional Berbahan Pangan Lokal pada Penderita Diabetes Melitus di Desa Tilote, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo.
Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pemahaman mengenai pola makan sehat bagi penyandang diabetes, tetapi juga mendorong pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber karbohidrat yang lebih ramah terhadap kadar gula darah.
Pengabdian masyarakat dibuka oleh Kepala Desa Tilote dan diawali dengan sambutan Kepala Puskesmas Tilango. Tim pengabdian diketuai Sofyawati Talibo, SKM, M.Kes, dengan anggota Moh. Anas Anasiru, SKM, M.Kes, Dr. Arifasno Napu, S.SiT, M.Kes, Sri Nurlaily Z, S.ST, M.Keb, serta melibatkan mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Gorontalo.
Ketua Tim Pengabdian, Sofyawati Talibo, menjelaskan bahwa edukasi difokuskan pada perubahan pola konsumsi masyarakat melalui pemanfaatan bahan pangan lokal yang memiliki indeks glikemik lebih rendah dibandingkan sumber karbohidrat olahan.
“Indonesia memiliki beragam pangan lokal seperti sagu, jagung, ubi jalar, singkong, dan talas yang dapat menjadi alternatif makanan bagi penderita diabetes. Jika diolah dengan benar, bahan pangan tersebut dapat membantu menjaga kestabilan kadar gula darah,” ujarnya.
Selain itu, dalam kegiatan tersebut tim juga menyerahkan alat pemeriksaan kesehatan kepada masyarakat sebagai bentuk dukungan terhadap deteksi dan pemantauan kondisi kesehatan secara berkala di Desa Tilote.
Pada kesempatan itu, peserta juga mengikuti demonstrasi pembuatan makanan berbahan pangan lokal yang disesuaikan dengan kebutuhan gizi penderita diabetes. Menu yang diperkenalkan mengedepankan prinsip gizi seimbang dengan membatasi penggunaan gula sederhana dan lemak jenuh.
Menurut Sofyawati, keberhasilan pengendalian diabetes tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi juga perubahan gaya hidup. Karena itu, masyarakat didorong menerapkan pola makan sehat, rutin beraktivitas fisik sedikitnya 150 menit per minggu, mengelola stres, tidur cukup, serta melakukan pemeriksaan gula darah secara berkala.
Dalam materi edukasi juga dijelaskan bahwa diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme kronis yang ditandai tingginya kadar gula darah akibat gangguan produksi maupun fungsi insulin. Pengendaliannya bertumpu pada empat pilar utama, yakni edukasi, pengaturan gizi atau diet, aktivitas fisik, serta terapi medis.
Pangan lokal seperti sagu diketahui mengandung pati resisten yang membantu memperlambat proses pencernaan. Jagung kaya serat dan beta-karoten, sedangkan ubi jalar serta talas memiliki indeks glikemik rendah hingga sedang dan kaya antioksidan, sehingga berpotensi menjadi pilihan menu yang lebih sehat bagi penyandang diabetes.
Melalui kegiatan tersebut, Poltekkes Kemenkes Gorontalo berharap kader kesehatan mampu meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada masyarakat sehingga pemanfaatan pangan lokal tidak hanya menjaga kearifan kuliner daerah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pencegahan dan pengendalian diabetes melitus di tingkat desa. (Adv)











Discussion about this post