Gorontalopost.co,id, GORONTALO — Kabar duka menyelimuti dunia seni, budaya, dan jajaran birokrasi Pemerintah Kota Gorontalo. Drs. H. Irwan Hamzah, M.Sc., seorang birokrat senior sekaligus budayawan dan seniman Gorontalo, wafat pada Senin (29/6/2026) dalam perjalanan pulang menuju Gorontalo dari Surabaya.
Almarhum mengembuskan napas terakhir saat pesawat yang ditumpanginya melakukan transit di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.
Kepergian Irwan Hamzah meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan masyarakat Gorontalo. Ia meninggalkan seorang istri, Inervia, serta empat orang anak, yakni Bayu Dwiputra Hamzah, Randa Putra Hamzah, Rizkylah Hamzah Putrie, dan Aditya Pradhana Hamzah Putra.
Lahir dan besar di Gorontalo, Irwan Hamzah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk daerah yang dicintainya. Berdasarkan data Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Gorontalo, kariernya sebagai aparatur sipil negara dimulai pada tahun 1981.

Selama lebih dari tiga dekade mengabdi, berbagai jabatan strategis pernah diembannya, mulai dari Kepala Subbagian Pembinaan Pendapatan Asli Daerah dan terakhir dipercaya memimpin Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Gorontalo hingga dirinya pensiun dari ASN.
Namun, pengabdian Irwan Hamzah tidak hanya tercatat di dunia pemerintahan. Sosoknya juga dikenal luas sebagai pemerhati budaya, penulis, sekaligus pelestari sejarah Gorontalo.
Bersama almarhumah Farha Daulima, ia menjadi penulis pendamping dalam buku Pesona Wisata Tumbilotohe yang mengulas secara mendalam tradisi penyalaan lampu pada malam ke-27 Ramadan, salah satu warisan budaya khas Gorontalo.
Ia juga berperan sebagai editor naskah skenario cerita rakyat Hulonthalangi, yang disusun berdasarkan kajian sejarah daerah. Kontribusi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga dan memperkenalkan kekayaan budaya Gorontalo kepada generasi muda.
Di dunia seni, Irwan Hamzah dikenal sebagai pelantun lagu “Dunia Dipo Kiama”, sebuah karya yang turut memperkaya khazanah musik daerah. Aktivitasnya juga aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan.
Ia pernah menjabat sebagai Ketua I DPP IKASMANSA, Ketua PAP, serta pengurus Forum Komunikasi Pendengar (FKP) RRI Gorontalo. Bagi keluarga, Irwan Hamzah bukan hanya seorang pejabat ataupun budayawan, melainkan sosok ayah yang penuh kasih sayang dan tanggung jawab.
“Di mata saya, almarhum adalah sosok ayah yang penuh tanggung jawab. Meski disibukkan dengan tugas yang berat, beliau tak pernah lupa dengan keluarga. Waktu kami kecil, tiap akhir bulan, ayah pasti mengajak kami untuk liburan,” tutur Bayu Dwiputra Hamzah, putra almarhum.
Bayu mengungkapkan, sang ayah tidak pernah ingin membebani keluarga, bahkan setelah memasuki masa pensiun. Menjelang akhir hayatnya, Irwan Hamzah juga tidak pernah mengeluhkan kondisi kesehatannya.
“Kami sempat memaksa beliau untuk memeriksakan kesehatan, tetapi ayah menolak. Beliau selalu mengatakan kondisinya baik-baik saja. Padahal kami tahu pernafasannya kurang bagus,” kenangnya. “Namun dengan bujuk rayu kami, akhirnya papa mau berobat, tapi yang dia minta hanya mantri saja untuk menyuntikan suplemen,” sambung Bayu.
Di balik berbagai kenangan yang ditinggalkan, ada satu pesan yang paling membekas bagi Bayu, yakni agar setiap manusia menjalani hidup dengan memberi manfaat bagi banyak orang. Rencananya, almarhum akan dimakamkan pada Selasa (30/6/2026). Rumah duka berada di Jalan Bengawan Solo, Kelurahan Bulotadaa Barat, Kecamatan Sipatana.
Kepergian Irwan Hamzah meninggalkan jejak panjang pengabdian bagi Gorontalo. Ia dikenang sebagai birokrat yang berdedikasi, budayawan yang gigih melestarikan tradisi, seniman yang mencintai daerahnya, sekaligus kepala keluarga yang menjadi teladan bagi orang-orang terdekatnya.(rwf)













Discussion about this post