logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Modal Manusia, Deindustrialisasi dan Prodi Tak Relevan Kebutuhan Industri

Lukman Husain by Lukman Husain
Thursday, 30 April 2026
in Persepsi
0
Muh. Amier Arham

Muh. Amier Arham

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Muh. Amier Arham
Seorang Pendidik di Perguruan Tinggi Penghasil Sarjana Pendidikan

PADA tahun 1975 seorang ekonom ulung Hollis Chenery menulis buku —Patterns of Development—, yang merupakan elaborasi lengkap dari hasil penelitian empiris dan mendalam di ratusan negara berkembang selama 30 tahun.

Chenery kerap berkolaborasi dengan Moises Syrquin melihat bahwa pertumbuhan ekonomi bukan hanya tentang meningkatnya output, tetapi erat kaitannya dengan pola-pola perubahan struktur ekonomi yang pada awalnya didominasi oleh sektor primer bergeser (transformasi) ke sektor sekunder kurang lebih sama sektor tersier.

Dengan adanya proses transformasi struktur ekonomi dengan sendirinya terjadi pergeseran struktur tenaga kerja. Ini mendukung hipotesis tiga sektor sebelumnya yang dikembangkan oleh Clark-Fisher, bahwa dengan adanya perubahan struktur ekonomi maka pergeseran tenaga kerjapun mengalami pergeseran ke sektor industri (produktif) dan jasa.

Efeknya, alokasi sumber daya antar sektor mengalami perubahan serta pola permintaan konsumsi. Pada pokoknya perubahan struktur ekonomi ke industrialisasi sebagai langkah penting dalam proses pembangunan.

Related Post

Generasi (Perempuan) Gorontalo

Dana-dana dan Harapan Kesejahteraan Rakyat

Batas-Batas Pengobatan

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Sektor industri merupakan mesin utama pertumbuhan ekonomi dan memacu peningkatan output nasional. Dengan industrialisasi komoditi dan sumber daya yang tersedia akan lahir nilai tambah, sekaligus memodernisasi seluruh sektor yang terkait kebelakang (backward lingkage) dan kedepan (forward lingkage).

Pola-pola pembangunan ini diadopsi oleh berbagai negara, dimana sektor industri menjadi engine of growth ekonomi, maka dari itu semua berlomba mengembangkan sektor industri yang didukung oleh tenaga kerja terampil.

Sementara itu dalam pandangan ekonomi klasik, investasi modal merupakan faktor utama mendorong pertumbuhan ekonomi, dan dalam perkembangannya teori pertumbuhan (the new growth theory) atau biasa disebut teori pertumbuhan endogen yang dikembangkan oleh Romer dan Lucas pada tahun 1980an, menekankan bahwa investasi manusia, inovasi dan pengetahuan adalah penggerak utama pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Teori pertumbuhan endogen pada intinya menekankan pentingnya human capital lewat pendidikan, riset dan development yang dapat memicu peningkatan produktivitas dan pertumbuhan. Pada konteks ini menandai pergeseran makna pendidikan, dimana output pendidikan dianggap sebagai pabrikasi barang dan jasa untuk menghasilkan output.

Pendidikan menjadi “mesin ekonomi”, fungsi utamanya bergeser dari pengembangan karakter menjadi alat memproduksi tenaga kerja dan produktivitas.  Maka mulailah dilakukan transformasi kurikulum pendidikan tinggi bahkan pada tingkat sekolah menengah dengan menyesuaikan kebutuhan pasar dan relevan dengan dunia industri.

Alhasil kita patut bertanya, industri apa yang berkembang di Indonesia? Dalam satu dekade terakhir industri ekstraktif yang mendominasi, terutama berfokus pada perkebunan, pertambangan dan energi, rumitnya lagi model pembangunan industri di sektor pertambangan untuk investor asing sebagian bersifat putar kunci (turn key) plus.

Turn key adalah istilah yang biasa digunakan pada pembangunan properti, dari mulai pembersihan lahan, pembangunan pondasi, konstruksi sampai terpasang pintu rumah, pemilik rumah tinggal terima kunci pintu, tahunya beres. Tapi setelah rumah dihuni pembeli, yang membangun (developer) dan kuli bangunannya tetap berada di rumah tersebut ikut tinggal dan bekerja.

Selaras dengan hal tersebut, industri ekstraktif kerapkali bersifat proteksionisme. Pada galibnya proteksionisme melemahkan daya saing, riset dan pengembangannya lambat.

Sementara industri berbasis inovasi untuk menghasilkan manufaktur masih menghadapi banyak tantangan sehingga pertumbuhannya melambat. Pada akhirnya persaingan sektor industri menjadi kurang kompetitif, apalagi kebijakan perdagangan yang cenderung longgar dan lemahnya law enforcement atas fenomena contraband.

Alhasil pelaku industri banyak beralih menjadi trader, kondisi ini menjadi salah satu pendorong gejala deindustrialisasi dini. Data BPS menunjukkan pada tahun 2005 kontribusi sektor industri pengolahan terhadap pembentukan ekonomi sebesar 27 persen, merosot tajam menjadi 19,07 persen di tahun 2025 di dalamnya paling besar peranannya adalah sub sektor industri makanan dan minuman mencapai 7,13 persen.

Itu artinya sub sektor industri yang menyumbang signifikan tidak membutuhkan skill yang tinggi. Kinerja sektor industri di Gorontalo bersaling rupa dengan kondisi sektor industri nasional, gejala deindustrialisasi mulai nampak sekitar tahun 2010. Pangsa sektor industri pada periode ini sekitar 10 persen, belakangan menyusut tinggal rata-rata 4 persen setiap tahunnya.

Terjadinya gejala deindustrialisasi mengakibatkan proporsi tenaga kerja di sektor industri 10 tahun terakhir tetap diangka 13 persen. Uniknya tingkat pengangguran terus menurun, per Agustus tingkat pengangguran terbuka sebanyak 7,4 juta. Data ini memberikan informasi bahwa kendati pengangguran terbuka menurun tapi serapan di sektor industri lemah, dengan demikian angkatan kerja dominan bekerja di sektor informal yang bukan disediakan oleh pemerintah.

Secara proporsi pengangguran terbuka paling besar adalah lulusan sekolah lanjutan atas umum, disusul lulusan sekolah kejuruan dan lulusan universitas sebanyak 904 ribu orang. Akan tetapi pengangguran lulusan sekolah lanjutan trendnya mengalami penurunan, sementara angka pengangguran lulusan universitas mengalami kenaikan dibanding dua dekade silam, artinya pengangguran terdidik lulusan sarjana terus bertambah.

Pertanyaan selanjutnya, dengan meningkatnya pengangguran terdidik setiap tahun, apakah ada kaitannya dengan kurikulum yang kurang relevan atau program studi yang tidak relevan? sehingga keberadaan beberapa prodi yang tidak relevan perlu dievaluasi atau bahkan ditutup.

Saya sebagai seorang pendidik sekaligus memahami cara kerja teori ekonomi, bahwa pengangguran terdidik lahir bukan semata masalah kurikulum dan kehadiran prodi-prodi. Ia tidak terlepas dari kinerja sektor-sektor ekonomi sebuah negara/daerah, serta arah kebijakan pembangunan terutama pada pengembangan comparative advantage yang dimiliki menjadi competitive advantage. Jika comparative advantage dikembangkan bernilai tinggi maka lapangan kerja lulusan universitas akan terbuka lebar.

Provinsi Gorontalo misalnya, keunggulan komparatifnya adalah sektor pertanian, perikanan dan kelautan. Namun belum bersifat industrial, minim olahan karena diperhadapkan pada berbagai tantangan untuk menumbuhkannya, efeknya prodi yang mendukung keunggulan komparatif tersebut kurang diminati. Calon mahasiswa justru berjubel memilih prodi yang memberikan kesempatan bekerja di sektor jasa pemerintah, yang terjadi over supply lulusan.

Oleh karena itu wacana penutupan prodi sejatinya dibangun berdasarkan kajian komprehensif, lebih mengedepankan fleksibilitas kurikulum yang lebih adaptif. Wacana penutupan prodi-prodi yang tidak relevan dengan dunia industri telah diklarifikasi oleh pihak Kemendiktisaintek menjadi opsi terakhir.

Sekalipun opsi terakhir, tetapi ia menimbulkan kerisauan sehingga melahirkan beragam reaksi. Apalagi belakangan cara pandang rezim keilmuan perlahan ilmu-ilmu sosial dan humaniora diabaikan. Ini seiring lahirnya anggapan bahwa disiplin ilmu ini kurang praktis dibandingkan dengan ilmu STEM yang lebih terukur.

Lahirnya pandangan ini tak terlepas pola pikir utilitarian sehingga pendidikan bergeser makna menjadi pabrik industri, menekankan hal-hal yang praktis, bernilai output dan menghasilkan keuntungan ekonomi.

Padahal ilmu sosial humaniora tetap diperlukan untuk memahami kompleksitas kehidupan manusia. Penyadaran tentang pembangunan berkelanjutan, ketimpangan sosial yang dilahirkan dari kemajuan iptek kerap kali diabaikan lewat pendekatan ilmu eksakta, mengejar pertumbuhan ekonomi yang menekankan efisiensi (pertumbuhan) sudah pasti mengabaikan pemerataan yang dapat memicu ketimpangan yang melebar.

Pada akhirnya sumber daya yang tersedia hanya dapat dinikmati oleh mereka yang memiliki keterampilan tinggi dan pemilik modal. Ilmu-ilmu sosial dan humaniora biasanya menjadi benteng yang kokoh membendung ketidakadilan (ketimpangan). Dan justru kelompok keilmuan ini yang menjadi sasaran untuk ditutup.(*)

Tags: Harian PersepsiMuh. Amier ArhampersepsiTulisan Muh. Amier Arhamtulisan persepsi

Related Posts

Sophian Rahmola

Dana-dana dan Harapan Kesejahteraan Rakyat

Thursday, 30 April 2026
Basri Amin

Generasi (Perempuan) Gorontalo

Thursday, 30 April 2026
Basri Amin

Batas-Batas Pengobatan

Monday, 20 April 2026
Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural   

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Monday, 20 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Friday, 17 April 2026
Basri Amin

Profesi-Profesi Hebat

Monday, 13 April 2026

Discussion about this post

Rekomendasi

Basri Amin

Generasi (Perempuan) Gorontalo

Thursday, 30 April 2026
Basri Amin

Batas-Batas Pengobatan

Monday, 20 April 2026
Sumurung Pandapotan Simaremare

Kejati Gorontalo, Sumurung Gantikan Riyono

Tuesday, 14 April 2026
Creative Lounge Pegadaian Hadir di UNG, Dorong Inklusi Investasi dan Ketahanan Ekonomi Generasi Muda

Creative Lounge Pegadaian Hadir di UNG, Dorong Inklusi Investasi dan Ketahanan Ekonomi Generasi Muda

Thursday, 30 April 2026

Pos Populer

  • Ilustrasi--

    Sentuh Rp 17.301/USD, Rupiah Makin Terpuruk

    558 shares
    Share 223 Tweet 140
  • Penjual Kosmetik Ilegal Ditangkap, Petugas Sita 1.819 Item Skin Care Tanpa Ijin Edar

    743 shares
    Share 297 Tweet 186
  • Lonjakan Kunjungan Botubarani Picu Kekhawatiran

    763 shares
    Share 305 Tweet 191
  • Pelantikan Pengurus APPINKA Gorontalo Periode 2026–2031, Dorong Inovasi Karawo ke Tingkat Nasional

    24 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Generasi (Perempuan) Gorontalo

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.