logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Realisme Tanpa Moral: Dunia dalam Bayang-Bayang Qabil, Standar Ganda dan Keruntuhan Wajah Kemanusiaan

Lukman Husain by Lukman Husain
Wednesday, 18 March 2026
in Persepsi
0
Ridwan Monoarfa

Ridwan Monoarfa

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Ridwan Monoarfa
Anggota DPRD Provinsi Gorontalo

 

DUNIA hari ini tidak sedang kekurangan hukum—ia kekurangan kejujuran. Kita kembali menyaksikan ironi lama: kekuatan sering menang lebih cepat daripada kebenaran. Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan sekadar konflik geopolitik. Ia adalah panggung terbuka yang memperlihatkan bagaimana standar ganda bekerja dalam sistem global—sebuah sistem yang, atas nama stabilitas, justru memelihara ketidakadilan.

Dalam kerangka realisme politik, situasi ini tampak logis. Negara bertindak untuk mempertahankan kepentingannya. Kekuatan adalah instrumen utama, dan dominasi menjadi cara untuk memastikan ketertiban. Amerika Serikat dan Israel menjalankan logika ini secara konsisten: menentukan siapa ancaman, kapan ancaman harus dihancurkan, dan bagaimana narasi global dibentuk untuk membenarkan tindakan tersebut.

Related Post

Gerakan Ekonomi Syarikat Islam: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati

Adat Dijunjung, Tanah Adat Terlupakan: Gugatan dari Bumi Hulondalo

Bangsa Baliho di Negeri Sengketa  

Meremehkan Pendidikan Dalam Kepemimpinan dan Matinya Nalar

Namun persoalannya bukan pada realisme itu sendiri, melainkan pada bagaimana ia dipraktikkan tanpa batas moral. Ketika satu tindakan disebut “pertahanan diri” oleh sebagian pihak, tetapi disebut “agresi” ketika dilakukan pihak lain, maka yang bekerja bukan lagi hukum, melainkan kekuasaan.

Standar Ganda dan Keruntuhan Moral Global

Fakta terbaru menunjukkan hal itu secara telanjang. Dewan Keamanan PBB pada Maret 2026 mengadopsi resolusi yang mengutuk serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah, serta menuntut penghentian segera tindakan tersebut.

Namun resolusi yang sama tidak memuat kecaman terhadap serangan awal Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran, termasuk yang berujung pada terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei serta hancurnya sekolah perempuan berakibat ratusan siswi meninggal dunia.

Resolusi ini disahkan dengan 13 suara setuju, sementara Rusia dan China memilih abstain karena menilai substansinya tidak seimbang. Ini bukan sekadar bias diplomatik—ini adalah legitimasi ketidakadilan yang dilembagakan.

Di sinilah wajah sesungguhnya dari apa yang sering disebut sebagai arsitektur hegemoni global menjadi jelas. Ia tidak hanya mengandalkan kekuatan militer, tetapi juga mengendalikan definisi—menentukan siapa korban, siapa pelaku, dan siapa yang berhak mendapat simpati dunia.

Namun kita juga tidak boleh terjebak dalam romantisme perlawanan. Idealisme moral tidak otomatis membuat satu pihak sepenuhnya benar. Setiap kekuatan yang membawa nama moralitas tetap harus diuji oleh tindakan nyata: apakah ia melindungi kehidupan, atau justru memperpanjang siklus kekerasan.

Yang menjadi persoalan utama adalah kegagalan komunitas global untuk bersikap jujur. Ketika pelanggaran dilakukan oleh sekutu, ia diredam. Ketika dilakukan oleh lawan, ia dikecam habis-habisan. Dalam situasi seperti ini, moralitas berubah menjadi alat politik, bukan lagi kompas etis.

Dari Realisme ke Absurditas Nuklir

Dalam logika realisme, setiap eskalasi selalu membuka ruang bagi eskalasi berikutnya. Dan dalam rantai eskalasi modern, ujungnya selalu sama: opsi yang dulu dianggap mustahil, perlahan menjadi mungkin.

Jika konflik ini terus bergerak tanpa kendali, maka realisme politik akan memasuki titik paling berbahaya: absurditas. Pada titik ini, logika kekuatan tidak lagi rasional, tetapi justru destruktif terhadap dirinya sendiri.

Dalam berbagai doktrin militer modern, opsi paling ekstrem selalu disimpan sebagai jalan terakhir. Kemungkinan penggunaan senjata nuklir—baik sebagai pencegah maupun sebagai pemutus akhir perang—tidak lagi sepenuhnya berada di wilayah imajinasi jika konflik ini berubah menjadi perang total.

Dan ketika itu terjadi, seluruh perdebatan tentang siapa benar dan siapa salah akan kehilangan maknanya. Karena nuklir tidak mengenal moralitas. Ia tidak membedakan kombatan dan sipil. Ia tidak tunduk pada hukum, dan tidak bisa dibenarkan oleh alasan apa pun.

Di titik inilah realisme yang kehilangan kendali moral berubah menjadi absurd. Tujuannya adalah menjaga keamanan, tetapi justru membuka kemungkinan kehancuran total kemanusiaan itu sendiri.

Jika kita kembali pada kisah Qabil dan Habil, maka yang kita saksikan hari ini bukan sekadar konflik antarnegara, tetapi pengulangan pilihan pertama manusia—dalam skala yang jauh lebih mengerikan.

Qabil tidak lagi hanya membawa batu, tetapi kini membawa potensi untuk mengakhiri peradaban. Dan di titik itu, peradaban tidak lagi diuji oleh kekuatan, tetapi oleh kemampuannya menahan diri.

Pertanyaannya menjadi jauh lebih mendesak: apakah manusia masih mampu menghentikan dirinya sendiri? Jika standar ganda terus dipertahankan, jika kekuatan terus dilepaskan tanpa kendali moral, maka perang ini bukan hanya tentang kemenangan satu negara atas negara lain. Ia adalah tentang kemungkinan hilangnya wajah kemanusiaan sebagaimana kita kenal hari ini.

Sejarah mungkin akan mencatat siapa yang unggul di medan perang, tetapi jika dunia terus memilih jalan Qabil, maka bisa jadi tidak akan ada lagi peradaban yang tersisa untuk membacanya.(*)

Tags: Harian PersepsipersepsiRidwan Monoarfatulisan persepsiTulisan Ridwan Monoarfa

Related Posts

Gerakan Ekonomi Syarikat Islam: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati

Gerakan Ekonomi Syarikat Islam: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati

Wednesday, 21 October 2026
Adat Dijunjung, Tanah Adat Terlupakan: Gugatan dari Bumi Hulondalo

Adat Dijunjung, Tanah Adat Terlupakan: Gugatan dari Bumi Hulondalo

Monday, 19 October 2026
Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi (Bukan) Kewajiban Negara

Meremehkan Pendidikan Dalam Kepemimpinan dan Matinya Nalar

Monday, 19 October 2026
Basri Amin

Bangsa Baliho di Negeri Sengketa  

Monday, 19 October 2026
In Memoriam Rachmat Gobel dan Jalan Pulang yang Istimewa

100 Hari Mengenang Rachmat Gobel: Politik sebagai Jalan Pengabdian

Sunday, 18 October 2026
Menagih Peran Keluarga: Benteng Utama Pencegahan Perkawinan Anak di Gorontalo Utara?

Menagih Peran Keluarga: Benteng Utama Pencegahan Perkawinan Anak di Gorontalo Utara?

Friday, 16 October 2026
Next Post
Brukkkk! Dua Sepeda Motor Tabrakan, Untungnya Tak ada Luka Serius  

Brukkkk! Dua Sepeda Motor Tabrakan, Untungnya Tak ada Luka Serius  

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Demo Jilid II Membayangi Polda, Wakapolda Pasang Kuda-Kuda, Ingatkan Personel Tetap Humanis

Demo Jilid II Membayangi Polda, Wakapolda Pasang Kuda-Kuda, Ingatkan Personel Tetap Humanis

Wednesday, 21 October 2026
Akui Lecehkan Dua Mahasiswi Bimbingan Sikripsi, Oknum Dosen Serahkan Diri ke Polisi

Akui Lecehkan Dua Mahasiswi Bimbingan Sikripsi, Oknum Dosen Serahkan Diri ke Polisi

Thursday, 22 October 2026
Mentan Tekan Biaya Pakan Ternak, Jagung Pakan jadi Rp5.500/Kg, 1.124 Ton Jatah Gorontalo

Mentan Tekan Biaya Pakan Ternak, Jagung Pakan jadi Rp5.500/Kg, 1.124 Ton Jatah Gorontalo

Wednesday, 21 October 2026
Gedung PN Suwawa Ludes Terbakar

Gedung PN Suwawa Ludes Terbakar

Thursday, 22 October 2026

Pos Populer

  • Hebat! dr. Khairunnisa Farina Ilato, Nou Gorontalo Tampil pada Forum Neuroradiologi Dunia

    Hebat! dr. Khairunnisa Farina Ilato, Nou Gorontalo Tampil pada Forum Neuroradiologi Dunia

    77 shares
    Share 31 Tweet 19
  • Demo Jilid II Membayangi Polda, Wakapolda Pasang Kuda-Kuda, Ingatkan Personel Tetap Humanis

    57 shares
    Share 23 Tweet 14
  • Meremehkan Pendidikan Dalam Kepemimpinan dan Matinya Nalar

    49 shares
    Share 20 Tweet 12
  • Akui Lecehkan Dua Mahasiswi Bimbingan Sikripsi, Oknum Dosen Serahkan Diri ke Polisi

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Kekerasan di SMAN 1 Gorontalo, 21 Siswa Terlibat, Pelaku Diskorsing, Korban Lapor Polisi

    46 shares
    Share 18 Tweet 12
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.