logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Kemerdekaan Harus Membebaskan Rakyat dari Ketergantungan

Lukman Husain by Lukman Husain
Thursday, 20 August 2026
in Persepsi
0
Ridwan Monoarfa

Ridwan Monoarfa

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Ridwan Monoarfa

HARI Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia harus menjadi momentum untuk kembali merenungkan makna kemerdekaan secara lebih substantif. Kemerdekaan tidak cukup hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan dan berdirinya sebuah negara yang berdaulat.

Kemerdekaan harus hadir dalam kehidupan sehari-hari rakyat melalui kemampuan untuk berdiri di atas kekuatan sendiri, terutama dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Karena itu, pertanyaan penting yang perlu kita ajukan adalah: sudah sejauh mana kemerdekaan membebaskan rakyat dari ketergantungan?

Menurut saya, kemerdekaan harus dimaknai sebagai kemampuan masyarakat untuk semakin mandiri dan tidak terus-menerus bergantung pada pemerintah, bantuan, maupun anggaran dari pusat. Pemerintah tetap memiliki kewajiban hadir, tetapi kehadiran itu harus diarahkan untuk membangun kemampuan masyarakat agar pada akhirnya mampu berdiri dan berkembang dengan kekuatannya sendiri.

Related Post

Kota yang Mencari Anak-anaknya, 81 Tahun Merdeka, Saatnya Anak Kembali Bersekolah

Merdeka dari Kesenjangan

Empat Puluh Hari Tanpa Rachmat Gobel: Politik sebagai Jalan Pengabdian

Kota yang Mencari Anak-anaknya, 81 Tahun Merdeka, Saatnya Anak Kembali Bersekolah

Bagaimana kita bisa merdeka dari ketergantungan, apakah itu ketergantungan terhadap pusat ataupun ketergantungan terhadap anggaran pemerintah. Bagaimana cara kita memerdekakan rakyat secara ekonomi, sehingga dia bisa mandiri.

Karena itu, pembangunan kemandirian ekonomi harus dilakukan secara berkelanjutan. Kebijakan dan anggaran pemerintah tidak boleh berhenti pada pola pemberian bantuan, tetapi harus diarahkan untuk membangun kapasitas produksi, membuka akses pasar, meningkatkan keterampilan, serta menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.

Sektor UMKM, misalnya, tidak cukup hanya diberikan bantuan modal. Pemerintah harus memastikan bantuan tersebut mampu membuat pelaku usaha berkembang, meningkatkan omzet, memperluas pasar, memperbaiki kualitas produksi, dan menjaga kesinambungan usahanya.

Ukuran keberhasilan program pemberdayaan bukan semata-mata berapa banyak bantuan yang disalurkan, melainkan seberapa banyak masyarakat yang setelah menerima intervensi pemerintah mampu meningkatkan pendapatan dan mengembangkan usahanya secara mandiri.

Hal yang sama berlaku pada sektor peternakan. Bantuan pemerintah tidak boleh berhenti pada peningkatan jumlah ternak. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana ternak tersebut menjadi bagian dari rantai ekonomi yang memberikan nilai tambah lebih besar kepada peternak.

“Misalnya kita tidak lagi menjual sapi utuh, tetapi bagaimana sapi itu sudah memiliki nilai tambah, seperti daging dalam bentuk daging beku, karkas, sehingga kita bisa mendapatkan harga yang lebih baik,”.

Di sinilah pentingnya hilirisasi. Masyarakat jangan hanya menjadi produsen bahan mentah, sementara nilai ekonomi terbesar justru dinikmati oleh pihak lain. Petani, peternak, nelayan, dan pelaku UMKM harus didorong agar masuk lebih jauh ke dalam rantai nilai sehingga hasil produksinya memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi keluarga dan daerah.

Namun, kemandirian ekonomi tidak mungkin dibangun tanpa manusia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan. Karena itu, pendidikan merupakan sisi lain yang tidak terpisahkan dari agenda kemerdekaan.

Kemerdekaan harus memberikan kesempatan yang adil kepada setiap anak untuk memperoleh pendidikan dan mengembangkan kapasitas dirinya. Ketika layanan pendidikan terganggu hanya karena persoalan keterbatasan anggaran, kita perlu bertanya kembali apakah pembangunan yang kita lakukan sudah benar-benar menghadirkan makna kemerdekaan bagi masyarakat.

“Kalau kita merasa sudah merdeka, tetapi masih ada situasi pendidikan kita yang tidak bisa berlangsung hanya gara-gara anggaran, ini tentu ada yang keliru dalam memahami kemerdekaan,” katanya.

Pendidikan pada akhirnya bukan hanya persoalan membangun sekolah atau menyediakan sarana belajar. Pendidikan adalah investasi untuk membangun manusia yang mampu berpikir, bekerja, berinovasi, dan menciptakan kehidupannya sendiri. Karena itu, pendidikan harus diarahkan bukan hanya untuk menghasilkan lulusan, tetapi juga manusia yang memiliki kapasitas menghadapi perubahan zaman.

Dalam konteks tersebut, generasi muda Gorontalo harus didorong untuk meningkatkan kapasitas dirinya melalui pendidikan: peningkatan literasi, keterampilan, dan aktivitas produktif. Mereka harus membiasakan diri membaca, menulis, berdiskusi, mengikuti pelatihan, serta mengembangkan keterampilan yang dapat menjadi bekal memasuki dunia kerja maupun membangun usaha sendiri.

Mereka suatu kemestian membudayakan membaca dan menulis dalam mengasah otak. Kalau mereka punya otak yang brilian, mereka bisa menghadapi tantangan masa depan.

Pendidikan vokasional juga perlu diperkuat di Gorontalo. Tidak semua anak harus menempuh jalur pendidikan yang sama. Bagi mereka yang tidak melanjutkan pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi, harus tersedia pendidikan dan pelatihan keterampilan yang memungkinkan mereka memasuki dunia kerja atau membangun usaha produktif.

Keterampilan di bidang pertanian, peternakan, perikanan, pengolahan pangan, teknologi, maupun berbagai bidang usaha lainnya harus dipandang sebagai bagian dari masa depan generasi muda. Pertanian dan peternakan, misalnya, tidak boleh lagi dipersepsikan semata-mata sebagai pekerjaan tradisional. Dengan teknologi, pengetahuan, akses pasar, dan hilirisasi, sektor-sektor tersebut dapat menjadi ruang usaha modern yang memberikan penghasilan dan masa depan yang layak.

Dalam konteks Gorontalo, semangat kemandirian tersebut juga harus ditempatkan dalam tradisi sejarah perjuangan daerah. Patriotisme yang tercermin dalam peristiwa 23 Januari 1942 merupakan bagian dari sejarah yang menunjukkan bahwa masyarakat Gorontalo memiliki keberanian untuk menentukan masa depannya sendiri.

Semangat itu perlu diteruskan dalam bentuk perjuangan yang sesuai dengan tantangan zaman. Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk membebaskan bangsa dari penjajahan, maka perjuangan hari ini adalah membebaskan masyarakat dari kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan ketergantungan.

Karena itu, pembangunan Gorontalo tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Pemerintah, DPRD, dunia usaha, perguruan tinggi, masyarakat, dan generasi muda harus bergerak dalam satu ekosistem pembangunan yang saling memperkuat.

DPRD memiliki peran strategis melalui fungsi anggaran dan pengawasan. APBD harus ditempatkan bukan sekadar sebagai instrumen untuk membiayai kegiatan pemerintahan, tetapi sebagai instrumen untuk meningkatkan produktivitas dan kemandirian masyarakat serta mencerdaskan bangsa.
Bagaimana memfokuskan APBD itu kepada pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan ekonomi masyarakat umumnya yang ada di provinsi.

Pada akhirnya, ukuran kemerdekaan bukan hanya seberapa sering kita mengibarkan bendera atau menyelenggarakan upacara. Ukuran kemerdekaan juga terlihat dari seberapa mampu rakyat menghidupi dirinya dengan layak, memperoleh pendidikan yang baik, memiliki pekerjaan dan keterampilan, menghasilkan produk yang bernilai tambah, serta menentukan masa depannya tanpa terus-menerus berada dalam ketergantungan.

Kemerdekaan yang sesungguhnya adalah ketika rakyat semakin berdaya. Dan tugas negara adalah memastikan keberdayaan itu tumbuh, berkembang, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)

 

Penulis adalah Wakil Ketua DPRD Provinsi Gorontalo

Tags: Harian PersepsipersepsiRidwan Monoarfatulisan persepsiTulisan Ridwan Monoarfa

Related Posts

Husin Ali

Kota yang Mencari Anak-anaknya, 81 Tahun Merdeka, Saatnya Anak Kembali Bersekolah

Wednesday, 19 August 2026
Empat Puluh Hari Tanpa Rachmat Gobel: Politik sebagai Jalan Pengabdian

Empat Puluh Hari Tanpa Rachmat Gobel: Politik sebagai Jalan Pengabdian

Tuesday, 18 August 2026
Muh. Amier Arham

Merdeka dari Kesenjangan

Tuesday, 18 August 2026
Kota yang Mencari Anak-anaknya,  81 Tahun Merdeka, Saatnya Anak Kembali Bersekolah

Kota yang Mencari Anak-anaknya, 81 Tahun Merdeka, Saatnya Anak Kembali Bersekolah

Saturday, 15 August 2026
Kakak Prabowo Presiden RI Membuka…, MBG Menjadi Ajang Khusus Para Kontingen Jambore Nasional XII?   

Kakak Prabowo Presiden RI Membuka…, MBG Menjadi Ajang Khusus Para Kontingen Jambore Nasional XII?   

Saturday, 15 August 2026
Dari Agromaritim ke Blue-Green-Gold Economy: Jalan Baru Gorontalo Menuju Pertumbuhan yang Inklusif dan Berkelanjutan

UNGnomics: Dari Kampus Kerakyatan Menuju Mesin Pertumbuhan Gorontalo

Friday, 14 August 2026
Next Post
Data Tahanan-BPJS Sasaran Penipuan, Polisi Dilarang Berikan Data Sembarangan

Data Tahanan-BPJS Sasaran Penipuan, Polisi Dilarang Berikan Data Sembarangan

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Ridwan Monoarfa

Kemerdekaan Harus Membebaskan Rakyat dari Ketergantungan

Thursday, 20 August 2026
Tekan Harga Beras, Bulog Digelontor 12 Ribu Ton, Gubernur Instruksi Bulog Segera Menyalurkan

Tekan Harga Beras, Bulog Digelontor 12 Ribu Ton, Gubernur Instruksi Bulog Segera Menyalurkan

Thursday, 20 August 2026
Data Tahanan-BPJS Sasaran Penipuan, Polisi Dilarang Berikan Data Sembarangan

Data Tahanan-BPJS Sasaran Penipuan, Polisi Dilarang Berikan Data Sembarangan

Thursday, 20 August 2026
Poltekkes Gorontalo Perkuat Peran Kader Tenggela Cegah Stunting

Poltekkes Gorontalo Perkuat Peran Kader Tenggela Cegah Stunting

Thursday, 20 August 2026

Pos Populer

  • Longsor Tambang DAM Pohuwato, Kapolres: 15 Saksi Sudah Diperiksa

    Longsor Tambang DAM Pohuwato, Kapolres: 15 Saksi Sudah Diperiksa

    78 shares
    Share 31 Tweet 20
  • UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak Untuk Semua

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Kemerdekaan Harus Membebaskan Rakyat dari Ketergantungan

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Kemenkum Gorontalo Mengayomi dan Berdampak, Perlindungan Merek Dorong UMKM Naik Kelas

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Tak Sekadar Edukasi, Poltekkes Gorontalo Bangun Kemandirian Kader Cegah Ulkus Diabetik

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.