Oleh:
Basri Amin
DUNIA kampus kita di negeri ini mengalami banyak guncangan beberapa waktu terakhir ini. Berita miring selalu muncul, nyaris setiap waktu. Masalahnya tidak jauh-jauh dari soal moral, finansial, dan intelektualitas.
Jejeran huruf-huruf gelar kiri-kanan dan kebesaran toga di acara-acara resmi kampus tak selamanya sejalan dengan kebesaran kerja-kerja luhur yang memihak kepada ilmu yang berdampak dan kebebasan yang berkeadaban. Membesarkan ke-Guru-an semakin kempes-tertindih oleh ”keguru-besaran” yang cenderung dibesar-besarkan dari hari ke hari.
Gerbang-gerbang kampus yang megah memang tampak di mana-mana. Tetapi yang belum tampak adalah penegasan “gerbang Gagasan” yang disambut dengan kegirangan civitas menempa generasi baru yang menjiwai zamannya. Padahal, mereka harus tumbuh dan berkapasitas menyambut ketidakpastian masa depan dengan kemandirian nalar dan pencerahan nurani.
Kampus yang kempes marwah keilmuan dan kepekaan keadabannya semakin sering terberitakan. Jadinya adalah pembedahan antara “kampus besar yang benar” dan “kampus kecil yang membesar-besarkan diri.”
Catatan ini hendak menyegarkan kembali kenyataan bahwa kampus ‘besar’ itu menggerakkan gagasan hebat. Kampus ‘kecil’ itu membesar-besarkan hal-hal kecil. Kampus besar itu kokoh dengan pemikir-pemikir prominen. Kampus kecil itu sibuk membuat acara untuk para pejabat.
Kampus besar itu berkibar namanya karena temuan-temuan besarnya. Kampus kecil itu terpukau dengan kasta-kasta gelar, posisi pangkat, dan membesarkan pimpinannya. Kampus besar itu merayakan ilmu di ruang-ruang kelas dan di perjumpaan-perjumpaan dengan mahasiswa. Kampus kecil itu menumpangi prestasi dan daya cipta mahasiswanya.
Kampus besar bergerak dengan jiwa para pencari kebenaran dan pembela cita-cita. Kampus kecil itu hari-harinya membangun jiwa kawanan yang membela kepentingan dan pencitraan. Kampus kecil itu bergumul dengan administrasi. Kampus besar itu mengurus aspirasi. Kampus besar itu tradisinya adalah pertukaran pemikiran yang intens. Kampus kecil itu tabiatnya adalah pengaturan kemapanan. Kampus besar kuat karena jaringan. Kampus kecil memperbanyak jargon hampa dan puja-puji kepada pimpinannya.
Gambaran di atas saya peroleh dari seorang sahabat lama yang kini memilih bekerja di sebuah “kampus besar” di negeri ini. Ia pernah belajar di banyak tempat, tapi memilih menjadi ilmuan murni. Ia tak banyak tampil di publik, juga sangat jarang nongol di media sosial. Dia bercerita, di kampusnya, jumlah baliho mahasiswa dan forum akademis selalu tampak di mana-mana. Wajah pejabat kampus alakadarnya saja ditampilkan. Birokrasi kampus tidak boros dan berlebihan dan tak mengenal kata harus tampil di setiap publikasi. Tak ada personalisasi!
Sahabat ini tegaskan, bahwa di kampusnya, yang terbentuk sekian lama adalan ‘ilmu-sentrik” bukan kepada “penguasa-sentrik…”. Kampus adalah pemeliharan dan penegak ruhani peradaban kemanusiaan. Kampus adalah pembela terdepan bagi apirasi generasi dan penegak paling gigih bagi keadilan universal dan hak-hak berkemajuan dan kesejahteraan semua orang.
Di mana pun sebuah kampus berdiri, di sanalah kemerdekaan untuk semua harapan kemajuan dan resolusi perbaikan dipelajari, bicarakan, dikerjakan dan diuji dengan terbuka setiap waktu dan oleh civitas-nya. Mentalitasnya adalah bertanya dan mempertanyakan!
Hak belajar, kewajiban mengajarkan, dan mengujikan subject matter tertentu –-dengan otoritas, proses, dan tanggung jawab tertentu–, adalah tugas utama universitas. Dengan itulah, masyarakat dan sebuah bangsa menerima buah-buah pengetahuan dan jalan-jalan keluar atas setiap kebuntuan masalahnya.
Dalam perkara moralitas, suara-suara kampus memang nyaring dan bertaring keabadiannya, kendati di dalam dirinya sendiri (baca: kampus) tidak sedikit persoalan yang melilit mereka. Dilemanya pun tak berkurang (baca laporan majalah Tempo dan Kompas lima tahun terakhir ini: plagiasi, korupsi, pelecehan seksual, transaksi jabatan, mutu akademis, birokratisasi, sindikasi gelar dan publikasi, budaya amplop, bayar-membayar, komersialisasi, nepotisme, dst).
Sejarah pergolakan di kampus, salah satu contoh terbaiknya adalah Universitas Indonesia (UI). Dengan sangat hebat kampus ini bisa menegakkan identitas akademisnya sebagaimana bisa kita baca dalam buku tebal (861 halaman), Membangun di Atas Puing Integritas (Sarumpaet, dkk, 2012).
Tarikan nilai-nilai akademis dan kebebasan yang otonom mendayagunakan kaidah-kaidah keilmuan akan selamanya melandasi dan mengarahkan kerja-kerja akademia di mana pun itu, terkecuali di beberapa tempat yang otoritarian di dunia.
Kalangan intelegensia, di banyak tempat dan di sejumlah pertaruhan sejarah, mereka bahkan rela menjadi martir bagi kebebasan dan keyakinannya: menjadi revolusioner (Brym, 1993). Lebih jauh dari itu, agar terhindar dari “penghianatan intelektual”, Julien Benda (1867-1956), pemikir Perancis, menukil ungkapan Maurras, bahwa “pikiran yang kritis hanya mempunyai nilai karena perbuatan yang dilakukannya berdasarkan penjelasan yang diberikannya (Benda, 1997: 182).
Di kampus, tempaan dan tuntutan “membaca keadaan” yang melampaui banyak batas dan menalari setiap kesimpulan dan pilihan-pilihan selalu dikerjakan dengan kegairahan yang menyala. Nilai-nilai “menemukan” yang terbaik di antara yang serba-mungkin, menguji berulang dan melihat secara berulang berbagai sumber dan rujukan pengetahuan, tak hanya handal dengan mata dan pemikiran sendiri, tetapi sejauh mungkin dicermati dan didalami oleh kekolegaan yang objektif dan multi-perspektif. Itulah yang dilembagakan pembinaannya di kampus-kampus. Melalui itulah pula, besar dan kecilnya atau maju tidaknya sebuah kampus, ditakar dengan parameter tersebut. ***
Parner di Voice-of-HaleHepu














Discussion about this post