logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Kampus – Kampus Kita

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 24 August 2026
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Mens Rea dalam Doktrin & Norma

Duduk “Enak” di Pemerintahan

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Oleh:
Basri Amin

DUNIA kampus kita di negeri ini mengalami banyak guncangan beberapa waktu terakhir ini. Berita miring selalu muncul, nyaris setiap waktu. Masalahnya tidak jauh-jauh dari soal moral, finansial, dan intelektualitas.

Jejeran huruf-huruf gelar kiri-kanan dan kebesaran toga di acara-acara resmi kampus tak selamanya sejalan dengan kebesaran kerja-kerja luhur yang memihak kepada ilmu yang berdampak dan kebebasan yang berkeadaban. Membesarkan ke-Guru-an semakin kempes-tertindih oleh ”keguru-besaran” yang cenderung dibesar-besarkan dari hari ke hari.

Gerbang-gerbang kampus yang megah memang tampak di mana-mana. Tetapi yang belum tampak adalah penegasan “gerbang Gagasan” yang disambut dengan kegirangan civitas menempa generasi baru yang menjiwai zamannya. Padahal, mereka harus tumbuh dan berkapasitas menyambut ketidakpastian masa depan dengan kemandirian nalar dan pencerahan nurani.

Kampus yang kempes marwah keilmuan dan kepekaan keadabannya semakin sering terberitakan. Jadinya adalah pembedahan antara “kampus besar yang benar” dan “kampus kecil yang membesar-besarkan diri.”

Catatan ini hendak menyegarkan kembali kenyataan bahwa kampus ‘besar’ itu menggerakkan gagasan hebat. Kampus ‘kecil’ itu membesar-besarkan hal-hal kecil. Kampus besar itu kokoh dengan pemikir-pemikir prominen. Kampus kecil itu sibuk membuat acara untuk para pejabat.

Kampus besar itu berkibar namanya karena temuan-temuan besarnya. Kampus kecil itu terpukau dengan kasta-kasta gelar, posisi pangkat, dan membesarkan pimpinannya. Kampus besar itu merayakan ilmu di ruang-ruang kelas dan di perjumpaan-perjumpaan dengan mahasiswa. Kampus kecil itu menumpangi prestasi dan daya cipta mahasiswanya.

Kampus besar bergerak dengan jiwa para pencari kebenaran dan pembela cita-cita. Kampus kecil itu hari-harinya membangun jiwa kawanan yang membela kepentingan dan pencitraan. Kampus kecil itu bergumul dengan administrasi. Kampus besar itu mengurus aspirasi. Kampus besar itu tradisinya adalah pertukaran pemikiran yang intens. Kampus kecil itu tabiatnya adalah pengaturan kemapanan. Kampus besar kuat karena jaringan. Kampus kecil memperbanyak jargon hampa dan puja-puji kepada pimpinannya.

Gambaran di atas saya peroleh dari seorang sahabat lama yang kini memilih bekerja di sebuah “kampus besar” di negeri ini. Ia pernah belajar di banyak tempat, tapi memilih menjadi ilmuan murni. Ia tak banyak tampil di publik, juga sangat jarang nongol di media sosial. Dia bercerita, di kampusnya, jumlah baliho mahasiswa dan forum akademis selalu tampak di mana-mana. Wajah pejabat kampus alakadarnya saja ditampilkan. Birokrasi kampus tidak boros dan berlebihan dan tak mengenal kata harus tampil di setiap publikasi. Tak ada personalisasi!

Sahabat ini tegaskan, bahwa di kampusnya, yang terbentuk sekian lama adalan ‘ilmu-sentrik” bukan kepada “penguasa-sentrik…”. Kampus adalah pemeliharan dan penegak ruhani peradaban kemanusiaan. Kampus adalah pembela terdepan bagi apirasi generasi dan penegak paling gigih bagi keadilan universal dan hak-hak berkemajuan dan kesejahteraan semua orang.

Di mana pun sebuah kampus berdiri, di sanalah kemerdekaan untuk semua harapan kemajuan dan resolusi perbaikan dipelajari, bicarakan, dikerjakan dan diuji dengan terbuka setiap waktu dan oleh civitas-nya. Mentalitasnya adalah bertanya dan mempertanyakan!

Hak belajar, kewajiban mengajarkan, dan mengujikan subject matter tertentu –-dengan otoritas, proses, dan tanggung jawab tertentu–, adalah tugas utama universitas. Dengan itulah, masyarakat dan sebuah bangsa menerima buah-buah pengetahuan dan jalan-jalan keluar atas setiap kebuntuan masalahnya.

Dalam perkara moralitas, suara-suara kampus memang nyaring dan bertaring keabadiannya, kendati di dalam dirinya sendiri (baca: kampus) tidak sedikit persoalan yang melilit mereka. Dilemanya pun tak berkurang (baca laporan majalah Tempo dan Kompas lima tahun terakhir ini: plagiasi, korupsi, pelecehan seksual, transaksi jabatan, mutu akademis, birokratisasi, sindikasi gelar dan publikasi, budaya amplop, bayar-membayar, komersialisasi, nepotisme, dst).

Sejarah pergolakan di kampus, salah satu contoh terbaiknya adalah Universitas Indonesia (UI). Dengan sangat hebat kampus ini bisa menegakkan identitas akademisnya sebagaimana bisa kita baca dalam buku tebal (861 halaman), Membangun di Atas Puing Integritas (Sarumpaet, dkk, 2012).

Tarikan nilai-nilai akademis dan kebebasan yang otonom mendayagunakan kaidah-kaidah keilmuan akan selamanya melandasi dan mengarahkan kerja-kerja akademia di mana pun itu, terkecuali di beberapa tempat yang otoritarian di dunia.

Kalangan intelegensia, di banyak tempat dan di sejumlah pertaruhan sejarah, mereka bahkan rela menjadi martir bagi kebebasan dan keyakinannya: menjadi revolusioner (Brym, 1993). Lebih jauh dari itu, agar terhindar dari “penghianatan intelektual”, Julien Benda (1867-1956), pemikir Perancis, menukil ungkapan Maurras, bahwa “pikiran yang kritis hanya mempunyai nilai karena perbuatan yang dilakukannya berdasarkan penjelasan yang diberikannya (Benda, 1997: 182).

Di kampus, tempaan dan tuntutan “membaca keadaan” yang melampaui banyak batas dan menalari setiap kesimpulan dan pilihan-pilihan selalu dikerjakan dengan kegairahan yang menyala. Nilai-nilai “menemukan” yang terbaik di antara yang serba-mungkin, menguji berulang dan melihat secara berulang berbagai sumber dan rujukan pengetahuan, tak hanya handal dengan mata dan pemikiran sendiri, tetapi sejauh mungkin dicermati dan didalami oleh kekolegaan yang objektif dan multi-perspektif. Itulah yang dilembagakan pembinaannya di kampus-kampus. Melalui itulah pula, besar dan kecilnya atau maju tidaknya sebuah kampus, ditakar dengan parameter tersebut. ***

Parner di Voice-of-HaleHepu

Tags: basri aminCatatan basri aminHarian Persepsispektrum sosialtulisan basri amintulisan persepsi

Related Posts

Yusran Lapananda

Mens Rea dalam Doktrin & Norma

Tuesday, 8 September 2026
Basri Amin

Duduk “Enak” di Pemerintahan

Monday, 7 September 2026
Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Sunday, 6 September 2026
Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Friday, 4 September 2026
NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

Thursday, 3 September 2026
Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Thursday, 3 September 2026
Next Post
Suami Diduga Aniaya Istri Hingga 15 Tusukan

Suami Diduga Aniaya Istri Hingga 15 Tusukan

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Yusran Lapananda

Mens Rea dalam Doktrin & Norma

Tuesday, 8 September 2026
Polres Boalemo Salurkan Air Bersih di Tinelo

Polres Boalemo Salurkan Air Bersih di Tinelo

Tuesday, 8 September 2026
Kebakaran Semakin Tidak Terkendali, Dua Hari 11 Titik Lahan, Hutan hingga Rumah Warga Hangus

Kebakaran Semakin Tidak Terkendali, Dua Hari 11 Titik Lahan, Hutan hingga Rumah Warga Hangus

Tuesday, 8 September 2026
86 SPBU di Sulawesi Kena Sanksi Pertamina

86 SPBU di Sulawesi Kena Sanksi Pertamina

Tuesday, 8 September 2026

Pos Populer

  • Pengadaan MacBook Aleg Deprov, Femmy: Dengan Tegas Saya Menolak 

    4 Kursi DPR RI untuk Gorontalo, Femmy: Dari Aspirasi Menjadi Agenda Kelembagaan

    35 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Rp 68,2 M Dana Asrama Haji Gorontalo Ditolak, Kemenhaj: Mepet Waktu, Beresiko

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

    27 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Mens Rea dalam Doktrin & Norma

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Polres Boalemo Salurkan Air Bersih di Tinelo

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.