Oleh:
Basri Amin
SUNGAI yang sesungguhnya bisa jadi pemandangan yang indah, tampak menjadi tempat sampah rutin. Terkesan pula menjadi tempat sampah liar yang dimanfaatkan oleh mereka yang liar adabnya terhadap alam sekitar. Jalan besar pun menjadi persebaran sampah masyarakat.
SEDIH betul rasanya! Sudah bertahun-tahun berulang pemandangan buruk seperti itu. Padahal, jembatan dan sungai yang dikotori itu tak begitu jauh dari kantor-kantor pemerintahan, penegak hukum, dan perumahan orang-orang “berada”. Entah apa yang terjadi dengan Lurah, Camat, dan Masyarakat di sekitarnya!
Kita benar-benar tak takut padaNya dengan “dosa ekologis” kita. Kita sesungguhnya semakin biasa mengabaikan Ayat-Ayat Tuhan yang terhampar di alam ini. Karunia akal-budi yang bisa kita pakai untuk tidak berlebih-lebihan pun mengalami disfungsi.
Karena pasti kita semua adalah “produsen sampah”, banyak cara untuk menjadikan itu semua bermanfaat dan terkelola baik, bahkan bernilai besar. Kita tak boleh kehilangan cara, sejak tingkatan perorangan, rumah tangga, dan di permukiman kita. Bukankah itu yang dikerjakan bangsa-bangsa maju: bangun budaya sehat, manfaatkan teknologi, edukasi sejak dini, pemerintah tegas dan menyiapkan infrastruktur.
Sampah-sampah kita adalah “wajah” kita!
Pembuang sampah liar jelas adalah pendosa –-bukan hanya karena mengotori Ciptaan Tuhan lainnya, juga karena mereka membuat kerusakan terhadap bagian-bagian alam yang mendukung kehidupan semua makhluk. Mereka ingkar dengan Amanah sebagai Khalifah di muka bumi: pemelihara dan pembuat kebajikan serta penegak keadilan.
Ibn Arabi berkata “siapa yang mengenal Tuhannya, tidak akan menyakiti ciptaan-Nya”. Sejajar dengan itu, Rumi menulis, “besok, ketika kiamat datang, dan engkau sedang menanam pohon kecil, teruslah menanam: itu adalah ibadahmu”. Sejalan dengan gagasan Khalid yang menyatakan bahwa “pembelaan terhadap bumi adalah bentuk jihad moral tertinggi di zaman modern” (Khalid, 2014; BMR, 2026).
Pembuang sampah liar adalah mereka yang tak pernah mau tahu dan lalai-sadar tentang keindahan publik dan tak merasa bahwa Agama –dengan huruf “A” besar– yang dipeluknya sejauh ini demikian mengutamakan “kebersihan” dan “keindahan”. Bukanlah “Wajah Tuhan” sebagian kecilnya bisa mengesankan kita melalui keindahan-keindahan (di) semesta ini.
Iman yang cacat melahirkan kerusakan di mana-mana!
Tumpukan sampak yang tak terkendali, demikian juga dengan kerusakan-kerusakan ekologis saat ini, jelas tidak boleh hanya dipandang salah oleh kriteria moral yang cenderung relatif di alam pikiran manusia, melainkan sangat prinsipil, yakni “melawan perintah Tuhan” dan “pelanggaran Tauhid” di hadapan Pencipta yang sudah kita akui Kuasanya sejak di alam Rahim. Dengan demikian, buah Tauhid adalah “Ibadah” yang benar di mana “ibadah ekologis” adalah yang paling nyata mendesak dikerjakan saat ini.
Agama Islam terutama, menegaskan benar bahwa “perendah-hatian terdalam” oleh manusia justru akan meninggikan kecintaan Tuhan kepadanya karena kesadaran eksistensialnya di bumi. Bahwa semua posisi ciptaan akan menjadi “saksi” di Hari Akhir nanti di hadapanNya.
INI adalah energi imaniah yang mestinya kita dayagunakan dalam menyikapi perilaku setaniah yang banyak menggelincirkan manusia —sebagaimana pengrusakan alam dan sesama ciptaanNya semakin sering dikerjakan oleh spesies manusia.
Tegas bahwa alam bukanlah entitas pasif dan berjalan secara mekanistis; alam juga ber-ibadah kepadaNya dan melalui alam, “wajah Tuhan” bisa kita kagumi dengan keindahan puitis dan estetikanya yang melampaui banyak kategori pengetahuan dan pengalaman kita.
Dari sanalah pula manusia menikmati iman yang mengagumi; di mana hamparan alam membentang untuk ditanya dan dihayati keberadaannya yang penuh “misteri” dan “keteraturan kosmis”. Dengan itulah kita seharusnya tidak angkuh dan merasa sebagai subjek yang eksploitatif kepada alam sekitar.
Hanya saja, sejarah panjang kemanusiaan kita membentuk pengetahuan dan praktiknya sendiri yang tidak seluruhnya sejalan dengan “janji suci” keIslaman kita. Ada kerusakan, perang, dan ketimpangan. Ada kezaliman dan ketidakadilan oleh ‘tangan-tangan manusia” itu sendiri.
Sebagai rujukan iman yang sangat eksistensial, Islam adalah ajaran sempurna karena meliputi manusia dan kemanusiaan sebagai “simpul wujud” yang sadar dengan Amanah etisnya di muka bumi, sekaligus tidak mungkin untuk lari dari ikatan primordialnya sebagai Khalifah-Nya.
Dengan demikian, “kesalehan individual” adalah cacat hakikinya, atau tidak ada sama sekali eksistensinya, karena kesalehan itu sendiri tidaklah terpisah ruhnya dengan Amanah besar manusia untuk mewujudkan keadilan –-termasuk keadilan sosial, ekologis, dan ekonomi –. Tidak mudah memang, tetapi di sanalah makna “jihad” bagi tegaknya Tauhid Sejati yang sebenarnya: menegakkan yang benar, keadilan dan melawan kezaliman serta kemungkaran.
Jika terjadi ancaman kehidupan, maka yang terjadi adalah guncangan terhadap iman dan keberlangsungan hidup yang sebenarnya. Sehingga, dengan menjaga relasi-relasi yang setara antara Lingkungan dan Manusia, maka eksistensi pertumbuhan keimanannya (sisi teologis) dan penghidupannya yang seimbang, adil dan memakmurkan (sisi ekologis) menjadi “ruang objektif” bagi Tuhan untuk menilainya di Hari Akhir apakah seseorang berhasil dan atau gagal sebagai khalifah-Nya di muka bumi.
Manusia harus cinta kepada sesama ciptaanNya dalam rangka beroleh Cinta –dengan “C” besar dari Tuhan. ***
Penulis adalah penulis.
Surel: basriamin@gmail.com











Discussion about this post