logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Bom Suci

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 2 March 2026
in Disway
0
Ilustrasi penyerangan Israel-Amerika Serikat ke Iran.--

Ilustrasi penyerangan Israel-Amerika Serikat ke Iran.--

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

ANDA sudah tahu: Ayatollah Ali Khamenei tewas Sabtu pagi lalu. Kediamannya di Teheran dibombardir bom jarak jauh oleh Israel dan Amerika Serikat. Anak, menantu, dan cucu ikut tewas. Pun lebih 200 warga Iran di lebih 30 lokasi yang disasar bom dua negara itu secara serentak.

Tidak seperti di Baghdad dulu: rakyat langsung berbondong turun ke jalan menggulingkan pemerintahan Iraq. Setidaknya rakyat meruntuhkan dulu patung besar presiden Saddam Hussein –disiarkan secara live oleh TV di Amerika.

Related Post

Perjudian Besar

Kanan Dalam

Neo Pop

Lewat Pasrah

Tidak ada patung Khamenei di Teheran.

Bersamaan ketika mengumumkan kematian Khamenei itu Presiden Donald Trump menyerukan rakyat Iran agar bergerak menumbangkan pemerintah.

Ibaratnya Trump berseru: “pemimpin negara kalian sudah kami bunuh, maka bergeraklah menguasai istana. Ambil alihlah pemerintahan. Bukankah itu yang sudah lama kalian minta kepada Amerika. Dulu-dulu tidak ada presiden Amerika yang bisa memenuhi keinginan kalian. Baru sayalah presiden yang bisa melakukan apa yang kalian inginkan. Maka bergeraklah untuk menggantikan pemerintahan kalian yang kejam”.

Sampai tadi malam belum ada rakyat yang bergerak ke jalan-jalan –mungkin takut terkena bom Israel dan Amerika. Yang ada adalah histeria masal menangisi kematian Ayatollah mereka.

Pemerintah Iran sendiri mengumumkan masa berduka 40 hari. Selama masa duka itu negara dipimpin oleh satu komite yang diketuai Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Sampai proses pemilihan pengganti Ayatollah Khamenei dilakukan.

Di Iran presiden itu seperti ketua tanfidziyah di organisasi NU di Indonesia. Sedang pemimpin tertinggi berada di tangan ketua dewan syuriah.

Sekali lagi terbukti: perang zaman sekarang banyaknya jumlah tentara tidak penting lagi. Apa yang terjadi di Iran kian membuktikan bahwa yang terpenting adalah teknologi tinggi. Yang terpenting kedua: kecanggihan intelijen. Banyaknya batalion konvensional hampir tidak ada gunanya.

Kelebihan perang jenis ini adalah: yang jadi korban pertama adalah para pemimpin tertinggi. Lalu para pemimpin level di bawahnya. Prajurit justru lebih selamat. Maka istilah pion dikorbankan lebih dulu –seperti dalam permainan perang di catur– tidak berlaku lagi. Lawan sudah bisa melakukan skakmat ketika semua pion masih utuh berbaris di depan raja.

Di catur, ketika raja mati, permainan selesai. Di Iran, Ali Khamenei bukanlah raja catur. Khamenei-Khamenei berikutnya masih banyak sekali. Tidak akan habis-habisnya. Kecuali kota Qom –saya pernah sekali ke Qom– disapu bom jarak jauh sampai luluh lantak. Di kota itu banyak mahasiswa Indonesia –sekitar 200 orang.

Di Iran kematian itu dianggap mulia. Apalagi bagi orang yang sudah berumur 86 tahun seperti Ali Khamenei. Apalagi ia sudah 36 tahun menjabat ketua dewan syuriah Iran –sejak menggantikan Ayatollah Rukhullah Khomaini pada tahun 1989.

Sedekat-dekat negara seperti Arab Saudi, Qatar, UEA, Kuwait dengan Amerika Serikat terbukti kalah dekat dengan Israel. Sebenarnya Israel-lah yang ngotot menghancurkan pemerintah Iran: mengajak Amerika. Pun kalau Amerika tidak mau Israel akan melakukannya sendiri.

Tekanan negara-negara Arab pada Amerika kalah kuat oleh tekanan Israel.

Israel menganggap saat ini adalah waktu yang tepat untuk menghancurkan Iran. Yakni ketika satelit-satelit Iran di sekitar Israel sudah berhasil dilemahkan.

Hisbullah yang di Lebanon sudah dihancurkan. Rumah pemimpin tertinggi Hisbullah di Beirut, Nasrullah, dibom jarak jauh oleh Israel. Satu rumah dibom dengan kekuatan bom 80 ton. Tentu beberapa rumah di sekitarnya ikut hancur. Getarannya pun sampai memecahkan kaca bangunan di jarak 5 km dari rumah Nasrullah.

Ketika ke Lebanon empat bulan lalu saya minta dilewatkan rumah yang hancur itu. Saya juga minta diantar ke makam Nasrullah, yang hari itu tepat haul pertama. Itu kali kedua saya ke basis Hisbullah. Lewat pemeriksaan ketat. Akhirnya saya diizinkan ke makam. Dengan pengawalan. Saya pun diminta bersujud mencium pinggiran nisannya.

Sejak bom 80 ton itu kekuataan Hisbullah redup. Apalagi sebelum itu pimpinan yang levelnya di bawah Nasrullah juga dimatikan dengan cara yang sama: dikirimi bom dari jarak jauh. Tewas semua. Ups, itu bukan bom jarak jauh. Lebanon adalah tetangga dekat Israel.

Yang diluncurkan ke Iran itu barulah bom jarak jauh.

Sebelum Hisbullah dilumpuhkan, Houti di Yaman juga sudah tidak terlalu kuat lagi. Terakhir yang dilemahkan adalah Hamas. Pimpinannya diledakkan jarak dekat. Basisnya di Gaza dihancurkan total.

Maka Iran sudah seperti pohon yang cabang dan rantingnya dikepras semua. Memang ada ranting baru yang akan besar yang sedang tumbuh: di Iraq. Maka sebelum ranting baru itu besar pohonnya harus ditebang dulu: Iran.

Pohonnya pun sudah dibuang sebagian akarnya. Bom kiriman Amerika menjelang subuh tahun lalu menghancurkan fasilitas nuklir Iran.

Itulah sebabnya Israel tidak mau lagi menunggu Amerika. Israel akan melakukannya sendiri. Kalau sukses, Amerika rugi. Tidak dapat nama. Khususnya Trump.

Trump sedang perlu-perlunya nama. Ia menghadapi pemilu legislatif yang kritis. Partai Republik diramalkan kalah. Kalau Partai Demokrat sampai menguasai mayoritas parlemen, Trump pasti di-impeach! Trump jatuh.

Yang kedua, komite di parlemen sedang menyiapkan pemanggilan untuk Trump. Ia harus datang bersaksi di parlemen: soal skandal seks dengan perdagangan anak. Trump ada di daftar itu.

Israel sangat yakin tibalah waktunya menghancurkan Iran. Apalagi di Sabtu pagi lalu didapat info A-1 bahwa posisi Khamenei sedang di kediamannya.

Mungkin Khamenei dan penasihatnya yakin Israel tidak menyerang di hari Sabtu: hari suci. Apalagi biasanya serangan dilakukan menjelang subuh. Bukan jam 10 pagi seperti itu.

Israel tidak peduli lagi hari suci. Mungkin tidak ada lagi waktu terbaik selain Sabtu jam 10 pagi itu: buuuuummm! Teheran berasap besar yang membumbung tinggi. Khamenei tewas. Iran tidak ikut Tewas. (*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

Ilustrasi pertaruhan masa depan ekonomi Indonesia di antara berbagai sistem ekonomi.--

Perjudian Besar

Wednesday, 10 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026
--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Lewat Pasrah

Lewat Pasrah

Saturday, 6 June 2026
--

Agus Deyang

Thursday, 4 June 2026
Bambang, tengah, usai makan malam.--

Jago Cimory

Thursday, 4 June 2026
Next Post
Hadapi RAFI 2026 Pertamina Tingkatkan Kompetensi Operator SPBU

Hadapi RAFI 2026 Pertamina Tingkatkan Kompetensi Operator SPBU

Discussion about this post

Rekomendasi

Ridwan Monoarfa

Berpikir Strategis di Tengah Dunia yang Bergejolak: Refleksi Pembangunan Gorontalo

Saturday, 13 June 2026
Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Friday, 12 June 2026
Hendri Cahyo Dwi Safitri

Kebangkitan Ekonomi Gorontalo

Friday, 12 June 2026
Ramadhipa akan bersaing dalam ketatnya balapan di Circuito do Estoril, Portugal, akhir pekan ini pada 12-14 Juni 2026. (foto: dok/ahm)

Pebalap Binaan Astra Honda, Siap Melesat Kencang di Estoril

Friday, 12 June 2026

Pos Populer

  • PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    55 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

    37 shares
    Share 15 Tweet 9
  • Antusias Ikut PENAS XVII Gorontalo, Kontingen Jambi Tempuh Jalur Darat dan Laut

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
  • Harga Pertamax Naik

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.