Oleh:
Muchlis S.Huntua, S.Ag, M.Si
Perayaan Hari Pemuda Internasional (International Youth Day), 12 Agustus 2026 yang mengusung tema “Konteks yang Berbeda, Aspirasi yang Sama“ membawa pesanreflektif yang mendalam bagi Indonesia. Di tengah deru persiapan menyongsong visibesar Indonesia Emas 2045, kita dipaksa melihat kembali realitas demografi nasional.Fakta bahwa pemuda kita tumbuh dalam sekat geografis, kesenjangan infrastrukturdigital, dan ketimpangan ekonomi yang kontras adalah sebuah keniscayaan sosiologisyang tidak bisa dibantah.
Sosiolog global Ulrich Beck jauh-jauh hari telah mengingatkan dalam tesisnya, Risk Society, bahwa risiko era modern terdistribusi secara tidak merata. Di Jakarta atauSurabaya, anak-anak muda mungkin sedang sibuk beradaptasi dengan disrupsikecerdasan buatan (Artificial Intelligence) tingkat lanjut. Namun di pesisir ProvinsiGorontalo, di beranda Teluk Tomini, para pemuda masih harus bergelut denganketerbatasan akses pasar, minimnya industri pengolahan, hingga isu mendasar sepertipemenuhan gizi remaja.
Meskipun berangkat dari “Konteks yang Berbeda“, tantangan tersebut justrumelahirkan “Aspirasi yang Sama“. Pemuda di kota metropolitan maupun pemuda di pelosok Gorontalo menginginkan hal yang setara: hak atas pendidikan berkualitas, pekerjaan hijau (green jobs) yang layak, ekosistem lingkungan yang lestari, serta ruanguntuk ikut menentukan arah kebijakan daerahnya. Aspirasi kolektif inilah yang menjadibahan bakar utama untuk menggerakkan mesin Bonus Demografi Indonesia menujusatu abad kemerdekaan.
Secara akademis, pemuda bukan sekadar komoditas politik atau angka statistik di dalam kurva Badan Pusat Statistik (BPS). Sosiolog Karl Mannheim dalam esai klasiknya, The Problem of Generations, menegaskan bahwa sebuah generasi baru akan benar-benar menjadi agen perubahan struktural jika mereka memiliki kesadaran kolektif yang lahir dari pengalaman historis yang sama.
Bagi generasi muda Gorontalo saat ini, pengalaman historis itu adalah bagaimanamengubah potensi lokal yang melimpah menjadi kesejahteraan nyata, sekaligusmemutus rantai kemiskinan ekstrem.
Di sinilah Human Capital Theory yang digagas Gary Becker menemukanrelevansinya. Investasi pada manusia melalui kesehatan dan pendidikan adalah kuncipertumbuhan ekonomi makro. Premis ini sejalan dengan apa yang kerap ditekankanoleh mantan Menteri PPN / Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa. Dalam berbagaikesempatan strategis, beliau mengingatkan alur logika pembangunan pemuda yang tegas: “Pemuda silakan sehat dulu, sehat itu penting. Setelah sehat, cerdas. Setelahcerdas baru bisa berproduksi.”
Jika melihat data makro, tantangan Gorontalo memang tidak ringan. BerdasarkanLaporan Indeks Pembangunan Pemuda (IPP), skor agregat Provinsi Gorontalo berada di angka 56,17. Domain partisipasi kepemimpinan (46,67) dan lapangan kerja (50,00) masih memerlukan akselerasi instan. Angka-angka ini menjadi sinyal merah bahwa adasumbatan struktural yang membuat energi produktif pemuda daerah belum terserapoptimal ke dalam sektor-sektor strategis.
Dalam konteks menerjemahkan narasi makro Indonesia Emas ke dalam aksi lokal, Pemerintah Provinsi Gorontalo di bawah kepemimpinan Gubernur Gusnar Ismail dan Wakil Gubernur Idah Syahidah telah meletakkan cetak biru yang presisi.
Mengusung visi besar “Gorontalo Maju dan Sejahtera”, pasangan ini menguncigerak pembangunan daerah melalui Lima Program Unggulan yang tertuang dalamperencanaan jangka menengah daerah. Kelima program ini tidak lain adalah instrumentaktis bagi pemuda daerah untuk melompati batasan konteks geografis mereka.
• Ketiga, Penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sektor ekonomisekunder ini diperkuat dengan bantuan modal dan bahan produksi langsung kekomunitas basis, dengan fokus afirmasi pada pemberdayaan ekonomi perempuandan pemuda kreatif.
• Keempat, Pembangunan Destinasi Pariwisata. Mengemas potensi alam Gorontalomenjadi magnet ekonomi tanpa merusak ekosistem kelestarian lingkungan hidup(sustainable tourism).
• Kelima, Pemenuhan Infrastruktur Dasar dan Konektivitas. Memastikan pemerataanfasilitas kesejahteraan masyarakat, mulai dari program bantuan rumah layak huni(BSPS) hingga modernisasi infrastruktur energi daerah.
Rencana pembangunan jangka menengah ini menjadi jembatan regulasi yang sangat krusial. Lima program unggulan Gusnar– Idah secara langsung menyediakanpanggung, modal, dan proteksi hukum bagi pemuda Gorontalo untuk mentransformasidiri. Menggunakan program pemprov ini, pemuda tidak lagi berjalan meraba-raba, melainkan melangkah di atas rel kebijakan daerah yang terstruktur demi menyongsongsatu abad kemerdekaan Indonesia.
Meski didera keterbatasan, pemuda Gorontalo berdiri di atas lanskap geopolitikyang luar biasa: Teluk Tomini. Sebagai teluk terbesar di jalur khatulistiwa, kawasan iniadalah laboratorium alam ekonomi biru (blue economy) terbesar di Indonesia Timur. Di sinilah peluang emas dan peran taktis pemuda daerah diuji.
Pakar ekonomi Universitas Negeri Gorontalo, Dr. Herwin Mopangga, dalam berbagai kajian ekonominya kerap menyoroti bahwa nelayan tradisional di pesisirGorontalo kerap terjebak kemiskinan struktural akibat tata niaga yang monopolistik danrendahnya sentuhan teknologi pasca-panen.
Pemuda Gorontalo hari ini harus mengambil peran sebagai social innovatordengan melakukan digitalisasi rantai pasok perikanan tangkap, mengelola ekowisatapremium berbasis konservasi seperti hiu paus di Botubarani, serta menerapkan teknologirantai dingin (cold chain) ramah lingkungan.
Tidak hanya di laut, di sektor darat, Gorontalo adalah salah satu lumbung jagungnasional dengan target produksi mencapai 1,5 juta ton. Namun, bertani secaratradisional tidak lagi memikat generasi z dan milenial. Transformasi menuju agrikulturcerdas (smart farming) berbasis Internet of Things (IoT) yang digerakkan oleh pemudaterdidik daerah adalah jalan ninjanya.
Melalui konsep Nusantaranomics ekonomi berbasis kerakyatan dan kemandirianlokal yang diakselerasi teknologi digital pemuda Gorontalo dapat mendirikan koperasi-koperasi modern. Pemuda tidak boleh lagi hanya menjadi buruh di tanah sendiri, melainkan harus menjadi pemilik modal dan pengendali ekosistem ekonomi sirkular darihulu ke hilir.
Menuju tahun 2045, arah pembangunan nasional tidak boleh lagi bersifat Jawa-sentris, melainkan harus Indonesia-sentris. Sinergi antara kebebasan berpikir akademis, penguasaan teknologi komunikasi, dan penghormatan mendalam terhadap falsafah lokal“Adati lo Hulaa to Syaraa, Syaraa lo Hulaa to Kitabullah“ (Adat bersandarkan Syara‘, Syara‘ bersandarkan Kitabullah) harus menjadi manifesto gerakan pemuda Gorontalo.
Hari Pemuda Internasional 2026 mengetuk kesadaran kita semua: visi besarIndonesia Emas tidak akan pernah mewujud jika dinamika kemajuan antar-wilayahberjalan timpang. Mengabaikan potensi pemuda di daerah seperti Gorontalo sama sajadengan membiarkan Indonesia berjalan pincang menuju masa depannya.
Konteks geografis boleh berbeda, namun aspirasi untuk berdaulat secaraekonomi dan bermartabat secara budaya adalah hak mutlak pemuda Gorontalo. Dari pesisir Tomini, fajar Indonesia Emas 2045 itu harus ditenun dengan nyata, berani, dan mandiri. Salam Pemuda! Maju, Berkarakter, Berbudaya. (*)
Penulis adalah Kabid. Pemuda Disparekrafpora Provinsi Gorontalo, Dosen Pengajar di Fakultas Pemerintahan, Hukum & Kesos di Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo













Discussion about this post