logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Makan Susu

Lukman Husain by Lukman Husain
Friday, 6 February 2026
in Disway
0
--

--

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

FOTO makan siang di Madinah itu saya kirim ke juragan mereka –dengan rasa bangga. Itulah foto anak-anak muda yang berprestasi di Cimory.

Prestasi itulah yang membuat mereka mendapat hadiah umrah. Sepuluh orang. Dari berbagai kota di Indonesia. Secara bergelombang.

Related Post

Perjudian Besar

Kanan Dalam

Neo Pop

Lewat Pasrah

Merekalah salah satu yang membuat Cimory terkemuka. Menjadi juara Indonesia. Di bidang minuman yogurt yang anak Anda juga menggemarinya.

Yang dikalahkan Cimory bukan sembarang lawan: produk dari Jepang. Yakult. Yang agresif itu. Pun di bidang yogurt, Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri: lewat Cimory.

Setelah menerima foto dari Madinah itu juragan Cimory kirim balasan: “Iya… kami percaya pendekatan kepada Tuhan adalah awal dari akhlak yang baik… Ini juga menjadi pembekalan buat Miss Cimory,” ujar Bambang Sutantio, pendiri Cimory Group.

Saya terakhir bertemu Bambang di Perth, Australia Barat. Tahun lalu. Yakni di forum pengusaha Indonesia di sana. Di resto Tempayan. Sama-sama jadi narasumber.

Cimory, katanya, singkatan dari Cisarua Mountain Dairy –susu gunung Cisarua. Dari Cisarualah Bambang memulai usahanya. Dari menampung susu sapi produksi peternak di kawasan Puncak itu. Sampai akhirnya jadi raksasa.

Itu berarti cita-cita yang terkandung dalam logo Cimory sudah tercapai: dari Indonesia untuk Indonesia. Itulah yang digambarkan dalam logo ”dua bendera dwi warna” merah putih di logo Cimory.

Bambang orang Semarang. Alumnus SMA top di sana: Karang Turi. Begitu banyak pengusaha besar Tionghoa yang lulusan Karang Turi.

Minggu depan Cimory berulang tahun: ke-20. Di tahun yang sulit seperti tahun lalu pun penjualan Cimory masih tumbuh dua digit. Pun yang ditargetkannya tahun ini.

Yang makan siang bersama saya di Madinah itu sendiri di Cimory disebut ”para manager Miss Cimory”. Di perusahaan itu mereka bekerja di departemen Miss Cimory.

Di antara 10 orang itu ada yang sudah bekerja sejak Cimory berdiri: Muharrik Thariquddien Fikri Amali. Dipanggil Fikri. Sangat berprestasi.

Fikri anak Solo. Lulusan SMA Al Islam yang terkenal di sana. Lalu masuk jurusan komunikasi di UNS Solo. Setelah mencoba mandiri menjadi EO, Fikri masuk Cimory.

Departemen apakah yang disebut ”Miss Cimory” itu?

Itulah bagian yang mengurus para wanita jalur terdepan penjualan Cimory. Miss Cimory bukan karyawan Cimory. Mereka seperti distributor Cimory dalam bentuk perorangan.

Harus wanita. Cimory tidak punya Mr Cimory. Para suami biasanya ikut membantu kerja sang istri, tapi ia tidak bisa menyebut diri Mr Cimory.

Mereka bukan pengencer. Bukan agen lepas. Mereka bisa menjadi Miss Cimory kalau punya pelanggan Cimory dalam jumlah tertentu. Pelanggan itu harus riil. Miss Cimory mendapat penghasilan dari situ. Yang paling sukses bisa dapat Rp 100 juta/bulan.

Maka jaringan Miss Cimory ini sangat kuat. Kekuatan mereka mencapai 10.000 orang. Jumlah itu sesuai dengan target tahun lalu. Tercapai. Tahun ini target dinaikkan: 13.000 Miss.

Mereka yang sekarang di Madinah itulah –dan kawan-kawan mereka– yang bertanggung jawab atas pengembangan Miss Cimory.

Saya lihat 10 orang itu memesan menu yang sama: mi bakso. Mereka juga kebetulan saja menemukan resto ini: New Jawa. Pun saya. Padahal New Jawa sudah ada sejak tiga tahun lalu. Hampir bersamaan dengan dibukanya Resto Jambi dan Resto Sunda di Madinah.

Segala macam makanan Indonesia ada di New Jawa. Mulai dari basi goreng sampai gado-gado. Hanya tidak ada pecel dan gudeg. Pelayan resto pakai gaya pakaian Jawa Baru.

Hubungan para Miss itu sangat erat di Cimory. Sudah seperti keluarga. Mereka harus ikut berpenghasilan tinggi. Bukan hanya untuk kemajuan Cimory juga untuk kemajuan keluarga mereka.

Lebih konkretnya: Bambang ingin agar mereka mampu membiayai anak sampai jadi sarjana. “Setiap kali ada anak Miss Cimory yang diwisuda sarjana kami merayakannya,” ujar Fikri.

Fikri punya istri asal Pare, Kediri. Dua anaknya dimasukkan di Kampung Inggris di Pare –tidak jauh dari rumahnya.

Setelah bicara dengan Fikri saya beralih bicara dengan wanita di sebelahnya: Fanya Alfacia Arafat. Masih jomblo. Asal Lampung Utara. Prestasi terbaiknyi di Cimory adalah juara head of area. Yakni saat Fanya menjadi manajer area Bali.

Fanya bisa dibilang ”anak nenek”. Sejak umur lima tahun dia sudah dikirim ke rumah neneknyi yang sendirian di Kotabumi –setelah suami, tentara, meninggal dunia.

Di Kotabumi, Fanya sekolah SMA. Lalu masuk fakultas teknologi pertanian di Universitas Negeri Lampung. Sebagai best head area Fanya dikirim ke Singapura. Ke Malaysia. Dan kini jabatannyi naik menjadi head of region –membawahi Bali dan Lombok.

Cimory telah menggizikan anak-anak Indonesia lewat keberhasilan motto-nya: Cara Baru Makan Susu!

Istilah ”makan susu” muncul karena produk Cimory –rasa apa pun– sangat cocok untuk olesan makan roti! Utamanya roti tawar.

Secara marketing istilah ”makan susu” juga unik dan kontradiktif. Bagi Cimory susu tidak lagi hanya disedot dan diisap –tapi juga dimakan. (*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

Ilustrasi pertaruhan masa depan ekonomi Indonesia di antara berbagai sistem ekonomi.--

Perjudian Besar

Wednesday, 10 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026
--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Lewat Pasrah

Lewat Pasrah

Saturday, 6 June 2026
--

Agus Deyang

Thursday, 4 June 2026
Bambang, tengah, usai makan malam.--

Jago Cimory

Thursday, 4 June 2026
Next Post
Ridwan Monoarfa

Sapi Alat Politik, Hilirisasi Tak Pernah Tumbuh

Discussion about this post

Rekomendasi

Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

Saturday, 13 June 2026
Ridwan Monoarfa

Berpikir Strategis di Tengah Dunia yang Bergejolak: Refleksi Pembangunan Gorontalo

Saturday, 13 June 2026
Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Friday, 12 June 2026
Hendri Cahyo Dwi Safitri

Kebangkitan Ekonomi Gorontalo

Friday, 12 June 2026

Pos Populer

  • PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    55 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
  • Antusias Ikut PENAS XVII Gorontalo, Kontingen Jambi Tempuh Jalur Darat dan Laut

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
  • Harga Pertamax Naik

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.