logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Ketahanan Pangan : Antara Program Dan Efisiensi Anggaran

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 17 June 2025
in Persepsi
0
Dr. Ir. Hj. Fitria S. Bagu, M.Si

Dr. Ir. Hj. Fitria S. Bagu, M.Si

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dr. Ir. Hj. Fitria S. Bagu, M.Si

 

DALAM beberapatahunterakhir, isu ketahanan pangan menjadi agenda strategis yang digaungkan di berbagai forum nasional maupun internasional. Pemerintah Indonesia melalui berbagai kementerian dan lembaga telah menggulirkan puluhan program pangan, mulai dari bantuan langsung petani, modernisasi alat pertanian, penyuluhan, hingga pembukaan lahan baru.

Namun di balik semarak program tersebut, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana efektivitas program-program itu dalam memperkuat ketahanan pangan nasional? Dan apakah alokasi anggarannya efisien serta tepat sasaran? Hal ini penting mengingat ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga menyangkut stabilitas sosial dan kedaulatan negara.

Related Post

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Profesi-Profesi Hebat

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Secaraumum, program ketahanan pangan di Indonesia masih bersifat sektoral dan tersebar di banyak instansi, seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Desa, BUMN pangan, bahkan TNI. Fragmentasi ini menyebabkan tumpang tindih kebijakan, pemborosan anggaran, dan kurangnya sinkronisasi data. Akibatnya, efektivitas program sering kali tidak optimal. Evaluasi dari berbagai lembaga pengawasan menunjukkan bahwa koordinasi antarsektor masih menjadi tantangan utama dalam pelaksanaan kebijakan pangan nasional.

Sebagaicontoh, bantuanbenih dan pupuk dari kementerian sering kali tidak sejalan dengan kondisi agroekologi lokal. Ketidaksesuaian ini menyebabkan hasil pertanian yang tidak maksimal, dan bahkan kerugian bagi petani. Dalam laporan BPK tahun 2023, ditemukan bahwa beberapa program bantuan pertanian mengalami underspending dan pelaksanaan fisik yang lambat. Di sisi lain, belanja non-produktif seperti sosialisasi, pelatihan berulang, dan studi banding ke luar negeri tetap tinggi. Ini menunjukkan adanya ketimpangan dalam perencanaan dan pelaksanaan anggaran.

Di tingkat daerah, persoalan juga muncul dalam bentuk rendahnya kapasitas kelembagaan lokal, serta minimnya partisipasi petani dalam merumuskan program. Padahal, partisipasi masyarakat adalah kunci agar program dapat diterima dan dijalankan secara berkelanjutan. Tanpa itu, program hanya akan menjadi seremonial belaka, tanpa menyentuh akar persoalan struktural yang dihadapi petani dan pelaku usaha pangan lainnya.

Seringkali ketahanan pangan disempitkan hanya dalam konteks peningkatan produksi padi. Padahal, konsep ini jauh lebih luas. FAO (2022) menekankan bahwa ketahanan pangan mencakup empat dimensi utama: ketersediaan, akses, stabilitas, dan pemanfaatan gizi. Jika hanya fokus pada satu komoditas, maka potensi kerawanan di sektor pangan lainnya menjadi terabaikan. Contohnya adalah minimnya perhatian terhadap protein nabati dan hewani di beberapa daerah, yang justru menyebabkan tingginya angka stunting dan malnutrisi.

Data BPS menunjukkan bahwa sekitar 7,5% penduduk Indonesia mengalami kerawanan pangan kronis. Hal ini mengindikasikan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar soal kecukupan stok, tetapi juga menyangkut distribusi yang merata dan keterjangkauan harga. Sistem distribusi pangan yang masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan menyebabkan masyarakat pedesaan dan kepulauan sulit mengakses bahan pangan dengan harga yang wajar, terlebih saat terjadi gangguan rantai pasok.

Dari sisi anggaran, dalam konteks APBN, belanja ketahanan pangan mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya. Namun, indikator output dan outcome-nya belum selalu berbanding lurus. Penelitian LPEM UI (2024) mencatat bahwa belanja publik bidang pangan menunjukkan inefficiency score sebesar 0,68 dalam indeks DEA (Data Envelopment Analysis), yang artinya masih banyak ruang untuk perbaikan efisiensi. Tidak jarang, dana habis digunakan untuk kegiatan yang tidak langsung menyentuh persoalan utama, seperti distribusi, pascapanen, dan akses pasar.

Solusi yang dapat ditawarkan antara lain adalah penyederhanaan program dan penguatan single database petani. Selain itu, perlu pengalihan anggaran dari belanja barang ke penguatan infrastruktur pertanian, seperti irigasi, jalan produksi, serta sarana pascapanen. Pemerintah juga harus mendorong pendekatan berbasis wilayah dan kebutuhan spesifik daerah, sehingga intervensi menjadi lebih kontekstual. Audit kinerja juga harus berbasis manfaat dan dampak sosial ekonomi, bukan hanya sekadar capaian serapan anggaran.

Ketahanan pangan juga bukan hanya soal negara, tapi soal rakyat. Di berbagai daerah, komunitas lokal telah lama memiliki sistem pangan tradisional yang tangguh: ladang berpindah di Kalimantan, pangale di Sulawesi, atau sasi di Maluku. Sayangnya, pendekatan top-down seringkali mengabaikan potensi ini. Padahal, pendekatan lokal sering kali lebih adaptif terhadap kondisi alam dan budaya setempat. Mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam program nasional bisa menjadi jalan keluar dari ketergantungan pada intervensi negara yang tidak berkelanjutan.

Dalam era perubahan iklim dan krisis global, ketahanan pangan menjadi semakin kompleks. Kenaikan harga pangan dunia, gangguan cuaca ekstrim, dan konflik geopolitik telah menekan ketersediaan dan stabilitas pangan global. Indonesia sebagai negara agraris perlu memiliki sistem pangan yang tidak hanya kuat di sisi produksi, tetapi juga tangguh dari sisi distribusi dan konsumsi. Ketahanan pangan berbasis komunitas, dengan dukungan teknologi dan inovasi, adalah jalan tengah yang patut dikembangkan ke depan.

Ketahanan pangan adalah soal kedaulatan dan martabat bangsa. Namun, kedaulatan ini tidak akan tercapai jika program-program pemerintah tidak efisien, tumpang tindih, dan minim akuntabilitas. Diperlukan keberanian untuk mengevaluasi, menyederhanakan, dan mengefisienkan berbagai program, sekaligus membuka ruang partisipasi publik secara lebih luas. Penguatan tata kelola, transparansi, dan pengawasan masyarakat adalah elemen penting dalam reformasi ketahanan pangan nasional.

Karena pada akhirnya, ketahanan pangan bukan semata soal bantuan, tetapi soal keberdayaan. Bangsa yang berdaulat pangan adalah bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya dari hasil bumi sendiri, dengan sistem yang adil, efisien, dan berkelanjutan. (*)

 

Penulisadalah dosen tetap Fakultas Pertanian
pada Program S1 dan S2 Agroteknologi,
Universitas Negeri Gorontalo.

Tags: Dr. Ir. Hj. Fitria S. BaguHarian Persepsipersepsitulisan persepsi

Related Posts

Ridwan Monoarfa

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Friday, 17 April 2026
Basri Amin

Profesi-Profesi Hebat

Monday, 13 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Saturday, 11 April 2026
Basri Amin

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Monday, 6 April 2026

Mengulik Variabel Identitas, Norma, dan Reproduksi Permusuhan Pada Konflik Iran-Israel-Amerika Serikat

Thursday, 2 April 2026
Yusran Lapananda

Kemandirian Fiskal Daerah Sebuah Keharusan

Thursday, 2 April 2026
Next Post
Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea ketika melihat kondisi Pasar Satya Praja, Senin (16/6/2025). (Foto: Prokopim)

Pasar Satya Praja akan Diaktifkan Lagi

Discussion about this post

Rekomendasi

Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

Thursday, 16 April 2026
Oknum Kades di Pohuwato saat diperiksa sebagai tersangka, dan dilakukan penahanan terkait dengan dugaan aktivitas PETI. (foto: istimewa)

Jadi Bos PETI Oknum Kades Dibui, Kerahkan Eskavator Keruk Material Tambang di Sungai Alamutu

Wednesday, 15 April 2026
Imran Rahman

Viral Siswi SMP di Kabgor Di-bully, Orang Tua Pelaku Justeru Minta Proses Hukum

Thursday, 16 April 2026
Tersangka dugaan penganiayaan ibu kadung diborgol polisi.

Miris, Anak Sayat Ibu Kandung Hingga Berdarah

Friday, 17 April 2026

Pos Populer

  • Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

    Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    157 shares
    Share 63 Tweet 39
  • Profesi-Profesi Hebat

    126 shares
    Share 50 Tweet 32
  • Putra Gorontalo Calon Wali Kota Jaksel

    90 shares
    Share 36 Tweet 23
  • Jadi Bos PETI Oknum Kades Dibui, Kerahkan Eskavator Keruk Material Tambang di Sungai Alamutu

    61 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Oknum Pegawai BSG Bobol Brankas, Kerugian Rp 13,1 Miliar, Termasuk Kuras Rekening Dormant

    51 shares
    Share 20 Tweet 13
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.