logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Manajemen Kebisingan: Strategi Politik Air Keruh

Lukman Husain by Lukman Husain
Thursday, 10 April 2025
in Persepsi
0
Taufiq Fredrik Pasiak

Taufiq Fredrik Pasiak

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh :
Taufiq Fredrik Pasiak

 

HARI ini, kalau Anda masih terfokus pada kekuasaan yang represif, pembungkaman, dan pelarangan, maka saya pastikan pikiran Anda sudah ketinggalan zaman. Kekuasaan tak perlu lagi sensor, represi, atau larangan terang-terangan. Jika ada, saya bisa pastikan itu kamuflase saja.

Yang dibutuhkan hanyalah satu hal: kebisingan. Ketika ruang publik dipenuhi suara, justru di sanalah kebenaran tenggelam. Ini bukan kebetulan. Ini strategi. Saya menyebutnya: manajemen kebisingan. Dasar teorinya, karena manusia masa kini—apalagi anak-anak muda—adalah manusia-manusia yang mudah teralih perhatian, kurang fokus, dan kaya pemahaman tapi dangkal (akibat multitasking, informasi hanya di level permukaan saja).

Related Post

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Profesi-Profesi Hebat

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Manajemen kebisingan adalah teknik mengalihkan fokus kolektif lewat limpahan informasi, kontroversi, drama, dan emosi yang terus-menerus disebarkan di ruang digital. Bukan dengan membungkam kritik, tapi menenggelamkannya dalam banjir notifikasi. Ketika semuanya terdengar, tak ada lagi yang benar-benar didengar. Inilah bentuk baru dari kontrol.

Fenomena ini bekerja secara halus tapi sistematis. Ketika publik sedang bertanya soal naiknya utang negara, kebijakan yang merugikan buruh, atau lemahnya penegakan hukum, ruang digital justru dibanjiri dengan perang meme, skandal artis, dan ocehan politisi nyeleneh. Tak ada larangan. Tapi juga tak ada ruang untuk berpikir. Semuanya ramai. Semuanya reaktif.

Dari perspektif neurosains, otak manusia hanya mampu fokus pada sebagian kecil dari stimulus yang datang setiap detik. Sistem Reticular Activating System (RAS) bertugas menyaring informasi berdasarkan tingkat urgensi dan muatan emosional. Konten yang lucu, menggemaskan, mengagetkan, atau memancing kemarahan lebih cepat diproses oleh otak dibanding analisis yang tenang dan dalam.

Sistem ini bekerja sama dengan amigdala—pusat emosi dasar—yang mendahului kerja prefrontal cortex, pusat nalar dan pengambilan keputusan. Inilah mengapa, dalam dunia yang bising, kita lebih mudah bereaksi ketimbang merenung. Kita menjadi reaktif tinimbang reflektif. Reaktif itu: mudah terpicu, mudah marah, mudah tersinggung, mudah menyala dan mudah terbakar.

Psikologi sosial menyebutnya overexposure dan kelelahan emosi. Ketika masyarakat terus dibanjiri isu remeh dan emosi ekstrem, otak mengalami kelelahan kognitif. Sistem limbik terus dipicu tanpa jeda, sementara prefrontal cortex tak diberi waktu untuk mencerna. Akibatnya, kita cepat tersulut, mudah curiga, tapi malas berpikir mendalam. Refleksi digantikan impuls. Kritik berubah menjadi hiburan, dan ruang diskusi disulap jadi panggung reaksi. Ini bukan sekadar kehilangan fokus, tapi kemunduran kapasitas demokrasi yang diam-diam terjadi di bawah tekanan konten viral.

Saya akan menggunakan perspektif yang lebih segar dan relevan untuk zaman ini dalam memahami bagaimana kekuasaan bekerja—mengacu pada pemikiran filsuf Jerman kelahiran Korea Selatan, Byung-Chul Han. Dalam banyak tulisannya, Han menunjukkan bahwa kekuasaan sekarang tak lagi menindas dengan cara kasar seperti dulu.

Ia tidak melarang atau menekan, tapi justru membuat kita merasa bebas. Kebebasan itulah yang jadi alat kontrol paling halus. Han menyebutnya pergeseran dari “kuasa negatif”—yang bunyinya “jangan lakukan ini”—menjadi “kuasa positif” yang terdengar seperti “kamu bebas jadi apa saja yang kamu mau.” Terdengar membebaskan, tapi sebenarnya membuat kita terus-menerus merasa harus berprestasi, tampil sempurna, dan sibuk membuktikan diri di depan orang lain.

Dalam bukunya Psychopolitics: Neoliberalism and New Technologies of Power (2017), Han menggambarkan bagaimana hari ini, tanpa disuruh pun kita sudah mengawasi diri sendiri. Kita sibuk menilai diri, membandingkan, mengejar validasi sosial, dan tak pernah merasa cukup. Dalam dunia digital, ini makin kuat. Kita terus scroll, terus posting, terus terlibat. Padahal, otak kita punya batas.

Neurosains menunjukkan bahwa sistem dopamin di otak akan terus mendorong kita mencari sensasi “dilihat” dan “diakui”—meski cuma lewat ‘likes’, ‘tags’ dan ‘views’. Ini bikin sistem emosi kita (limbik) jalan terus, sementara bagian otak yang bertugas menilai secara jernih (prefrontal cortex) justru tumpul karena lelah. Kita jadi reaktif, bukan reflektif. Sibuk tampil, tapi lupa berpikir.

Di sinilah kekuasaan bekerja dengan sangat rapi. Bukan lagi membungkam kritik, tapi membuat kita terlalu sibuk untuk mengkritik. Kita merasa aktif, padahal sebenarnya sedang diarahkan. Han mengingatkan, bentuk dominasi baru itu bukan lewat larangan, tapi lewat dorongan untuk terus produktif dan positif. Dan dalam sistem ini, kelelahan menjadi alat kekuasaan paling ampuh. Masyarakat yang lelah jadi lebih mudah diarahkan, lebih gampang ikut arus, dan lebih memilih hiburan daripada kebenaran.

Mari kita ambil sedikit contoh; bagaimana saat kebijakan besar disahkan diam-diam, sementara publik sibuk memperdebatkan gaya bicara selebritas atau viralnya aksi prank politik. Keputusan soal revisi undang-undang, penghapusan subsidi, atau pergeseran anggaran terjadi di tengah linimasa yang gaduh tapi kosong. Anda bisa membuat daftar sejumlah UU dan kebijakan itu. Fenomena ini bukan sekadar disinformasi. Ini adalah strategi orkestrasi perhatian.

Manajemen kebisingan juga membuat kita merasa seolah-olah sedang aktif berpolitik—karena ikut mengomentari, membagikan, atau menyindir—padahal sejatinya kita sedang ikut dalam permainan yang dirancang untuk membelokkan arah perhatian. Ini bukan keterlibatan. Ini ilusi partisipasi.

Jangan heran, jika di tengah era yang katanya penuh keterbukaan informasi, justru daya kritis publik makin melemah. Bukan karena masyarakat makin bodoh, tapi karena makin lelah. Kita tidak kekurangan data, tapi kehilangan kemampuan memilah. Kita tidak dilarang berpikir, tapi terus diganggu untuk tidak sempat berpikir.

Otak kita dijejali begitu banyak hal remeh dan emosional hingga kehilangan energi untuk fokus pada yang penting. Dan di situlah kekuasaan bekerja dengan paling efektif: bukan dengan menekan, tapi dengan membanjiri. Bukan dengan membungkam, tapi dengan membuat kita sibuk. Saat kita merasa paling bebas, justru di situlah kita sedang paling mudah diarahkan—karena perhatian kita sudah habis dipakai untuk hal-hal yang tidak berdampak.

Apa yang bisa dilakukan? Karena itu, yang perlu kita bangun bukan hanya literasi informasi, tapi literasi atensi. Kita harus mulai memahami bagaimana perhatian kita bekerja, bagaimana otak kita bereaksi terhadap stimulus digital, dan bagaimana emosi kita bisa dimanfaatkan oleh narasi kekuasaan. Penelitian menunjukkan bahwa otak manusia membutuhkan ruang hening untuk bisa kembali berpikir jernih—prefrontal cortex baru aktif optimal ketika tidak dibanjiri notifikasi.

Maka, istirahat dari layar bukan sekadar detoks digital, tapi juga bentuk kecil dari perlawanan. Membatasi paparan konten emosional ekstrem, memelihara ruang dialog pelan di komunitas kecil, atau sekadar memilih membaca tulisan yang mendalam alih-alih hanya headline—itu semua adalah langkah empirik yang bisa dilakukan siapa saja.

Solusi bukan selalu tentang perubahan besar, tapi tentang keberanian memilih untuk fokus pada yang penting. Menyadari bahwa tidak semua yang viral itu bermakna, dan tidak semua yang gaduh itu layak didengar. Di tengah dunia yang memaksa kita bicara, keberanian untuk diam sejenak dan berpikir adalah bentuk kebebasan yang paling langka. Dan mungkin, paling mendasar. Karena demokrasi yang sehat tidak lahir dari kebisingan, tapi dari kesadaran yang jernih. Dan kesadaran hanya mungkin hadir jika kita kembali menguasai perhatian kita sendiri. (*)

 

Penulis adalah Ilmuwan Otak dan
Pemerhati Sosial Politik

Tags: Harian PersepsipersepsiTaufiq Fredrik Pasiaktulisan persepsiTulisan Taufiq Fredrik Pasiak

Related Posts

Ridwan Monoarfa

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Friday, 17 April 2026
Basri Amin

Profesi-Profesi Hebat

Monday, 13 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Saturday, 11 April 2026
Basri Amin

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Monday, 6 April 2026

Mengulik Variabel Identitas, Norma, dan Reproduksi Permusuhan Pada Konflik Iran-Israel-Amerika Serikat

Thursday, 2 April 2026
Yusran Lapananda

Kemandirian Fiskal Daerah Sebuah Keharusan

Thursday, 2 April 2026
Next Post
Sejumlah non Pasutri yang diamankan Satpol PP Kota Gorontalo dari sejumlah tempat maksiat. (Foto: Prokopim)

Satpol PP Gelar Razia Hotel dan Kos-kosan, Lima Pasangan Diluar Nikah Diamankan

Discussion about this post

Rekomendasi

Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

Thursday, 16 April 2026
Imran Rahman

Viral Siswi SMP di Kabgor Di-bully, Orang Tua Pelaku Justeru Minta Proses Hukum

Thursday, 16 April 2026
Pelaksanaan Apel Ikrar Bebas Narkoba dan Handphone yang dilaksanakan dan diikuti oleh seluruh pegawai dilingkungan Lapas Perempuan Kelas III Gorontalo, Jum'at (17/4/2026). (F. Diyanti/Gorontalo Post)

Lapas Perempuan Gorontalo Gelar Apel Ikrar, Tegaskan Komitmen Bebas Narkoba dan Handphone ilegal

Friday, 17 April 2026
Polda Gorontalo Limpahkan Kasus Pelanggaran Hak Cipta ke Kejaksaan, Ka Kuhu Diangkut Mobil Tahanan

Polda Gorontalo Limpahkan Kasus Pelanggaran Hak Cipta ke Kejaksaan, Ka Kuhu Diangkut Mobil Tahanan

Thursday, 16 April 2026

Pos Populer

  • Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

    Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    126 shares
    Share 50 Tweet 32
  • Profesi-Profesi Hebat

    126 shares
    Share 50 Tweet 32
  • Putra Gorontalo Calon Wali Kota Jaksel

    90 shares
    Share 36 Tweet 23
  • Oknum Pegawai BSG Bobol Brankas, Kerugian Rp 13,1 Miliar, Termasuk Kuras Rekening Dormant

    46 shares
    Share 18 Tweet 12
  • Edan! di Halte Kampus UNG, Pria Ini Pamerkan ‘Anunya’ di Hadapan Mahasiswi

    41 shares
    Share 16 Tweet 10
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.