logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Kenaikan Pajak, Jalan Pintas Menambal APBN?

Lukman Husain by Lukman Husain
Wednesday, 18 December 2024
in Persepsi
0
Muh. Amier Arham

Muh. Amier Arham

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Muh. Amier Arham

 

PAJAK merupakan sumber utama penerimaan negara, jika digabung dengan kepabeanan dan cukai sekitar 77 % sumbangannya terhadap APBN. Tiga tahun terakhir penerimaan pajak terus mengalami kenaikan, malahan pada tahun 2023 realisasi penerimaan pajak melampui target yang dipatok dalam APBN sebesar 108,8 %.

Kenaikan realisasi penerimaan pajak setidaknya didorong tiga hal, diantaranya; Pertama, pembenahan seluruh aspek kelembagaan Ditjen Pajak yang dilakukan oleh pemerintah untuk memudahkan akses informasi bagi wajib pajak melakukan pelaporan pajak, sehingga rasio kepatuhan pajak meningkat. Kedua, fundamental makro ekonomi yang masih kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global, terutama konsumsi domestik berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketiga, potensi pajak masih sangat besar sehingga dari tahun ke tahun jumlah wajib pajak bertambah yang dapat berkontribusi terhadap kenaikan penerimaan pajak.

Related Post

Duduk “Enak” di Pemerintahan

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

Pertumbuhan penerimaan pajak merupakan momentum untuk terus melakukan pembenahan, menjaga trust dan integritas bagi Ditjen Pajak agar kepatuhan bagi wajib pajak terkelola dengan baik. Pertumbuhan penerimaan pajak juga sekaligus menekan pembiayaan APBN dari penarikan utang baru, sebab tidak dapat dipungkiri APBN setiap tahun terbebani dengan pembayaran utang.

Pada tahun 2025 utang pemerintah jatuh tempo mencapai angka Rp 800,33 triliun, terdiri atas Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 705,5 triliun dan pinjaman jatuh tempo sebesar Rp 94,83 triliun. Jumlah utang yang akan jatuh tempo tahun depan setara dengan 47 % realisasi penerimaan pajak per November 2024 sebesar Rp. 1.688, berarti hampir separuh penerimaan pajak dialokasikan untuk membayar kewajiban (utang).

Pada saat yang sama di tahun 2025 pemerintahan baru akan memulai membiayai misi “Asta Cita” dan program prioritas yang dijanjikan selama kampanye. Oleh karena itu pemerintah mulai berjibaku mengamankan kas negara di tengah melambungnya kebutuhan belanja, solusi paling praktis lewat kebijakan fiskal dengan menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 12 %. Padahal kenaikan PPN dari 10 % menjadi 11 % baru diterapkan dua tahun silam, yaitu 1 April 2022, dengan demikian kurun waktu tiga tahun kenaikan PPN akan mengalami perubahan dua kali, padahal sebelumnya penerapan PPN 10 % berlangsung cukup lama.

Pemerintah berdalih bahwa kenaikan PPN menjadi  12 % merupakan amanah UU Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan yang harus dijalankan, sementara perintah UUD 1945 secara serius tidak dijalankan, misalnya Pasal 33 ayat 3  bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Alasan lainnya, entah bercanda atau konyol pernyataan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan rencana kenaikan PPN 12 % akan dilanjutkan karena hasil Pilpres menginginkan keberlanjutan, padahal keduanya tidak ada relevansinya.

Di tengah ketidakpastian global dan gejolak politik kawasan, serta alarm prospek ekonomi di tahun 2025 yang kurang menentu sebaiknya kenaikan PPN 12 % ditunda. Apalagi proporsi jumlah kelas menengah mengalami penyusutan, padahal mereka selama ini menjadi penggerak komsumsi domestik pendorong pertumbuhan ekonomi.

Di luar itu survei Data Indeks BRI menunjukkan bahwa indeks bisnis UMKM justru menurun sejak triwulan III tahun 2024. Penyebabnya, daya beli masyarakat anjlok dan mengakibatkan omzet UMKM turun, kemudian berdampak terhadap kredit macet UMKM meningkat di atas 4 %.

Alasan kenaikan PPN 12 % tidak semata dapat dilihat dari kacamata pelaksanaan UU, lebih dari itu dalam rangka mendongkrak pendapatan negara, mengurangi ketergantungan pada utang luar negeri dan penyesuaian standar internasional. Kendati hal ini perlu dikritisi sebab untuk menaikkan pendapatan negara tidak melulu dengan menaikkan pajak, masih banyak sumber-sumber  pendapatan non pajak, seperti pendapatan SDA belum digali secara optimal, sistem pembagian hasil sumber daya alam di Indonesia, khususnya pada sektor pertambangan batubara dan nikel yang sangat melukai rasa keadilan.

Andrinof A. Chaniago dalam tulisannya di Kompas (19/7/2024) “Tata Kelola Batubara Rasa Kolonial”, menjelaskan penerimaan negara dari sektor pertambangan batubara jauh dari proporsional dan hanya menguntungkan sekelompok kecil pihak tertentu, sementara negara hanya memperoleh bagian yang minim. Bagian pemerintah tidak mendapatkan bagi hasil yang wajar hanya sekitar 11 – 12 %, alhasil kurun waktu selama dua tahun negara kebagian Rp. 300 triliunan saja dari nilai total produksi mencapai Rp. 3.000 triliun. Ini baru sub sektor pertambangan batubara, bagaimana dengan bagi hasil pertambangan nikel maupun pertambangan lainnya?.

Skema bagi hasil SDA selama ini sepatutnya menjadi concern pemerintah, negara mendapatkan bagian kecil untuk kepentingan orang banyak, sementara kelompok kecil pemain di sektor pertambangan mendapatkan bagian yang besar. Maka kenaikan PPN 12 % dapat dipahami jika banyak reaksi muncul dari berbagai kalangan, karena ini perlakuan yang kurang adil bagi kelas menengah ke bawah.

Mendorong kenaikan pendapatan negara dengan cara menaikkan PPN 12 % sepertinya pemerintah telah kehilangan jurus, cari jalan pintas dengan berlindung pada regulasi yang mereka buat sendiri bersama DPR. Lewat regulasi itu membuat pemerintah merasa punya pijakan kuat untuk terus melangkah menerapkan PPN 12 %.

Namun di tempat lain, pemerintah sepertinya tak memiliki kekuatan dihadapan para pelaku usaha tambang untuk meminta bagi hasil yang lebih proporsional. Pada saat yang sama pelaku usaha dimanjakan dengan berbagai fasilitas pajak, misalnya di tahun 2025 pemerintah berencana membebaskan PPN dan PPnBM mobl listrik dan hybrid.

Setali tiga uang, di tahun depan pemerintah kembali menggulirkan pengampunan pajak (tax amnesty) jilid 3, artinya pemerintah bersama DPR mengakui masih banyak pengemplang pajak yang mengikuti program pengampunan pajak sebelumnya tidak sepenuhnya mendeklarasikan 100 % hartanya dan memenuhi kewajiban pembayaran pajaknya. Kepada mereka seharusnya bukan lagi memberi pengampunan berjilid-jilid, akan tetapi sejatinya sudah masuk pada tahapan penindakan (punishment).

Persoalan pokok berikutnya adalah penerapan PPN 12 %, besaran itu menempatkan Indonesia proporsi PPN-nya tertinggi di kawasan ASEAN bersama dengan Filipina. Padahal Vietnam justru menurunkan tarif pajaknya dari 10 % menjadi 8 % untuk dapat merangsang daya beli dan mendorong geliat bisnis, dengan demikian harga barang dan jasa turun agar ekonomi mereka tumbuh.

Ada peluang lain yang semestinya dilakukan pemerintah untuk meningkatkan porsi penerimaan pajak, yakni mengoptimalkan kebijakan ekstensifikasi pajak dengan menjaring wajib pajak baru yang selama ini belum sadar, atau bahkan melakukan penghindaran pajak.

Atas hal tersebut pihak ADB memberikan saran bahwa pemerintah dapat mengoptimalkan penerimaan pajak dengan memperkuat penegakan terhadap kebijakan pajak yang sudah diberlakukan. Langkah-langkah seperti itu efektif di negara-negara lain meningkatkan penerimaan pajak.

Berdasarkan data yang ada sampai akhir tahun 2024 jumlah wajib pajak di Indonesia baru mencapai sekitar 70 juta, dibandingkan dengan jumlah penduduk masih cukup banyak yang belum terjaring pajak. Langkah lain yang patut mendapat perhatian pemerintah, yakni penegakan terhadap kepabeanan dan cukai karena ditengarai masih maraknya barang selundupan dari luar, di sektor ini Indonesia kehilangan devisa puluhan triliun.

Dampak Kenaikan PPN

Lazimnya pengenaan pajak dibebankan kepada produsen, tapi dalam prakteknya produsen menggeser beban pajak kepada konsumen dengan cara menaikkan harga jual barang. Kendati secara nominal kenaikan pajak hanya 1 % dari penetapan sebelumnya, nampak kecil akan tetapi memberikan dampak luas.

Kenaikan PPN 12 % menggerus daya beli masyarakat, berefek pada menurunnya konsumsi, disaat yang sama konsumsi adalah komponen paling besar mendorong pertumbuhan ekonomi. Kenaikan PPN 12 % yang dikenakan pada barang mewah untuk jangka pendek memang tidak elastis tapi terjadi untuk jangka panjang, itu artinya dampaknya tidak berasa dalam satu dua minggu tapi beberapa bulan dan tahun kedepan berubah (elastis). Menghadapi situasi demikian, produsen akan mengurangi produksi, efek dominonya mengurangi pekerja.

Pada lain sisi, kenaikan PPN menjadi 12 % akan memicu inflasi, hal ini disadari pemerintah maka diluncurkan pemberian insentif dengan memotong pembayaran listrik separuh dan bantuan beras 10 kg selama dua bulan bagi kelompok kelas bawah. Padahal elastisitas kenaikan harga barang mewah justru baru terasa beberapa bulan berikutnya, hal itu kemudian menambah pengeluaran kelas menengah. Dan mereka akan bergeser menjadi kelompok rentan, karena prakteknya selama ini bila terjadi kenaikan harga barang mewah otomatis akan diikuti kenaikan barang normal (kebutuhan pokok).(*)

Penulis Adalah Guru Besar
Fakultas dan Bisnis UNG

Tags: Muh. Amier ArhampersepsiTulisan Muh. Amier Arhamtulisan persepsi

Related Posts

Basri Amin

Duduk “Enak” di Pemerintahan

Monday, 7 September 2026
Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Sunday, 6 September 2026
Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Friday, 4 September 2026
NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

Thursday, 3 September 2026
Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Thursday, 3 September 2026
Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

Wednesday, 2 September 2026
Next Post
Lokasi longsor di kelurahan Botu, kecamatan Dumbo Raya, Kota Gorontalo yang menewaskan satu warga.(Natha-Gorontalo Post)

Bencana di Kelurahan Botu, Ibu Tewas Tertimpa Longsor

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Sunday, 6 September 2026
Pertamina: STNK Bukan Syarat Beli BBM Subsidi

Pertamina: STNK Bukan Syarat Beli BBM Subsidi

Monday, 7 September 2026
APEL. Bupati Gorontalo Sofyan Puhi saat menyampaikan assesment Lurah se Kecamatan Limboto, pada apel kerja perdana

Bagikan Booth UMKM, Bupati Sofyan: Jangan Ganggu Fungsi Trotoar

Monday, 7 September 2026
Hari Pelanggan Nasional, Honda Hadirkan Kejutan Spesial untuk Konsumen

Hari Pelanggan Nasional, Honda Hadirkan Kejutan Spesial untuk Konsumen

Monday, 7 September 2026

Pos Populer

  • Pengadaan MacBook Aleg Deprov, Femmy: Dengan Tegas Saya Menolak 

    4 Kursi DPR RI untuk Gorontalo, Femmy: Dari Aspirasi Menjadi Agenda Kelembagaan

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Rp 68,2 M Dana Asrama Haji Gorontalo Ditolak, Kemenhaj: Mepet Waktu, Beresiko

    32 shares
    Share 13 Tweet 8
  • Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

    25 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Rayakan HUT ke-6, ASTON Gorontalo Tebar Promo hingga Diskon 12 Persen

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.