logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Nasehat Melayu untuk Pemimpin

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 30 September 2024
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Basri Amin

 

DALAM urusan memilih pemimpin, Tunjuk Ajar Melayu berujar:…yang dikatakan pemimpin, adalah: elok lahir sempurna batin; eloknya boleh ditengok, sempurnanya boleh dirasa…Lurus hati, lurus akalnya; lurus niat, lurus buatnya; lurus lidah, lurus tingkahnya; lurus lahir lurus batinnya…

Dengan demikian, para pemimpin adalah manusia pilihan yang terpilih di tengah-tengah orang banyak. Walau bukan yang terbaik, tapi kehadirannya haruslah dililit oleh keluhuran nilai-nilai yang sudah lama berlaku (lama) di masyarakat.

Related Post

Negara Hadir, Guru Bermartabat

Pajak: Madu dan Racun Bagi Perekonomian  

Satu Huruf Salah di KTP, Urusan Publik Berantakan

Spanyol, Bola, dan Islam

Tradisi Melayu tentu bukanlah gejala tunggal. Ia bahkan tak bisa diwakili dengan mudah oleh satu negara saja. Melayu adalah kawasan dan identitas yang cair. Ia menyejarah dan berakar. Ia sekaligus menawarkan pembelajaran yang tak pernah putus. Ia melintasi gelombang dan bergenerasi.

Dari pepatah lama kita mengenal ungkapan: kalah jadi abu, menang jadi arang!. Entah karena apa, dunia Melayu demikian jeli dan peka menangkap banyak nasehat hidup. Meski penuh perlambangan dan perbandingan, kearifan itu sungguh objektif-nyata keberlakuannya setiap hari. Terbukti, ketinggian peradaban kita sangat tergambarkan dari keluasan cakrawala manusia yang berhasil kita tangkap dan pantulkan.

Melayu adalah peradaban yang kaya mewariskan nasehat. Sebagaimana dinukil kembali oleh Tenas Effendy (2006): Supaya Melayu tetap terpuji, Tunjuk dan ajar pemayung diri; Bila Melayu tak mau terkeji, Tunjuk ajar hendaklah kaji.

Apakah ini semua sekadar petitih yang berlaku sepintas di negeri Melayu? Ternyata tidak, Melayu adalah bangsa yang pernah terkenal karena pergaulan sosialnya yang (relatif) egaliter, terbuka dan progresif. Melayu memang identik dengan Muslim, tapi ia sekaligus bermakna perjumpaan yang saling menerima dan memberi. Identitasnya adalah agama, niaga, dan budaya.

Pada tingkat yang ideal, menurut khasanah Melayu, pemimpin adalah mereka:…yang ilmunya boleh berguru; yang kajinya boleh mengaji; yang cakapnya boleh dikakap; yang mulutnya boleh diikut; yang perangainya boleh dipakai; yang temoohnya boleh dicontoh; yang batinnya boleh diuji; yang lakunya boleh ditiru; yang taatnya menahan pahat; yang setianya menahan coba; yang ikhlasnya menahan kipas; yang tawakkalnya menahan penggal; yang tunggangnya menahan pedang;..yang berumah dalam musyawarah; yang bertempat dalam mufakat; yang berdiri dalam budi; yang tegak dalam syarak; yang memandang dengan undang; yang mendengar dengan tunjuk ajar; yang berkata dengan sunnah; yang berlaku dengan ilmu; yang berjalan dengan iman; yang melangkah dengan petuah…

Manusia adalah spesies yang takdir keberadaannya selalu digerakkan oleh berbagai “tuntutan” dan ia akan bereaksi dan bertindak dengan beragam cara (Raymond Geuss, History & Illusion in Politics, 2001). Ia selalu meyakinkan dirinya sebagai mahluk yang mampu memilih dan punya kapasitas mengubah sesuatu. Prinsip inilah yang selalu dibagi secara bersama oleh setiap bangsa modern. Dalam prosesnya, yang terjadi adalah keragaman dan persaingan. Tak ada satu bangsa yang bersedia menerima status sebagai masyarakat yang”tak punya sejarah” pemenang.

Bahkan di dalam kekalahan sekalipun –terutama dalam peperangan— sejarah mereka yang kalah pun tetap merupakan bentuk transformasi kemenangan. Artinya, tak ada kekalahan yang seratus persen “kosong” dan menghilangkan semua kisah yang terjadi dan semua aktor yang pernah tampil.

Di sinilah letaknya keyakinan bahwa di dalam setiap sesuatu (selalu) terdapat sisi-sisi pencapaian (menang!) dan kehilangan (kalah!) sekaligus. Tak ada sesuatu yang sepenuhnya bulat-utuh. Diri kita adalah sentra perjumpaan antara yang menang dan yang kalah.

Percepatan! Inilah mungkin kata yang semakin pasti dewasa ini. Semua dengan mudah berubah. Semua berlari cepat. Hadir dan menghilang begitu saja. Itulah yang berlaku pada apa-apa yang selalu kita rasakan mampu menggambarkannya: uang, orang-orang, barang-barang dan kabar-kabar.

Kita semua, dan apa-apa yang kita punyai demikian mudah berpindah dan berubah setiap saat. Semua bisa mendekat dan sekaligus berjarak dan berpisah dengan kita. Hanya dalam ikatan-ikatan emosional saja kita bisa agak yakin atas rasa “memiliki sesuatu”. Itupun hanya mampu bertahan dalam ukuran waktu yang semakin rentan saat ini.

Ada orang yang dulunya adalah “pemenang” melalui pertarungan beberapa tahun lalu, kini ia mungkin sudah kandas di atas siasat hidup yang (pernah) demikian yakin ia pegang erat. Kini, orang-orang yang mungkin dulunya tak pernah ditengok dan dihitung oleh orang lain, ia dengan kepala tegak merayakan “kemenangan” (barunya). Mungkin sambil menertawai lawan-lawannya.

Mereka yang pernah “berteman” atau “berpasangan” di arena kekuasaan, kini bisa jadi tengah merangkai pertarungan baru yang sedang ditawarkan oleh pihak lain yang merindukan “kemenangan” (baru) yang rasa dan arusnya lebih besar. Tak jarang, kemenangan itu justru dirancang di atas bara dendam dan/atau berupa perlawanan balasan demi kepuasan.

Perseteruan antara yang kalah dan yang menang tak akan pernah berhenti. Yang jelas, dalam nasehat klasik di Tiongkok terkenal ungkapan: “jangan pernah remehkan lawanmu!”. Punya lawan yang hebat jauh lebih bermakna daripada sekumpulan kawan yang membeo, bernafsu, dan bodoh.

Dalam nasehat Melayu terungkap: Sebelum berkata, berkira-kira; sebelum tegak, mengagak-agak; sebelum duduk menengok-nengok; sebelum melangkah, berpelangkah… (Effendy, 2006: 658). Begitulah tradisi kita menyikapi keadaan. Begitulah Melayu menempatkan “nasehat” dan “petuah” sebagai pilar demokrasi dan berkebudayaan. ***

 

Penulis adalah Parner di Voice-of-HaleHepu
Pos-el-: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminCatatan basri aminpersepsispektrum sosialTulisan Basritulisan persepsi

Related Posts

Husin Ali

Negara Hadir, Guru Bermartabat

Wednesday, 22 July 2026
Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Pajak: Madu dan Racun Bagi Perekonomian  

Tuesday, 21 July 2026
Satu Huruf Salah di KTP, Urusan Publik Berantakan

Satu Huruf Salah di KTP, Urusan Publik Berantakan

Monday, 20 July 2026
Basri Amin

Spanyol, Bola, dan Islam

Monday, 20 July 2026
Muh. Amier Arham

Gorontalo Karnaval Karawo, Untuk Apa?

Sunday, 19 July 2026
Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Thursday, 16 July 2026
Next Post
-

Tenang Panas

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 22 Juli 2026

Rekomendasi

Kasus Penganiayaan Guru Dua Tahun Mandek. Kasatreskrim Pastikan Pekan Ini Berkasnya ke Kejaksaan

Kasus Penganiayaan Guru Dua Tahun Mandek. Kasatreskrim Pastikan Pekan Ini Berkasnya ke Kejaksaan

Wednesday, 22 July 2026
Selama 28 Hari Puskesmas Ilangata Sukses Salurkan Menu Sehat Balita Cegah Stunting

Selama 28 Hari Puskesmas Ilangata Sukses Salurkan Menu Sehat Balita Cegah Stunting

Wednesday, 22 July 2026
AHM Technical Skill Contest 2026, PT DAW Utus Dua Wakil Terbaik

AHM Technical Skill Contest 2026, PT DAW Utus Dua Wakil Terbaik

Wednesday, 22 July 2026
Miras Masih Beredar di Desa

Miras Masih Beredar di Desa

Wednesday, 22 July 2026

Pos Populer

  • Kasus Penganiayaan Guru Dua Tahun Mandek. Kasatreskrim Pastikan Pekan Ini Berkasnya ke Kejaksaan

    Kasus Penganiayaan Guru Dua Tahun Mandek. Kasatreskrim Pastikan Pekan Ini Berkasnya ke Kejaksaan

    21 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Gorontalo Siaga Kemarau, Gubernur Terbitkan Edaran, Waspada Krisis Air Bersih

    37 shares
    Share 15 Tweet 9
  • Wagub Gorontalo Idah Syahidah Hadiri Bahagia QRIS Fest 2026 di Limboto

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Spanyol, Bola, dan Islam

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Pengumuman Libur Khusus Final Pildun di Gorontalo Hoaks

    28 shares
    Share 11 Tweet 7
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.