Gorontalopost.id, GORONTALO – Penularan HIV-AIDS di Gorontalo kian mengkhawatirkan. Setiap tahun sejak 2001 ada temuan pengidap baru. Hingga puncaknya pada Desember 2023 jumlah kasus HIV-AIDS hampir seribu orang. Tepatnya 991 temuan kasus HIV-AIDS.
Data ini diperoleh Komisi I Deprov Gorontalo dari OPD terkait. Komisi I meminta data jumlah kasus HIV-AIDS karena saat melakukan kunjungan ke setiap Puskesmas di seluruh kabupaten-kota, didapati ada kasus HIV-AIDS yang terdata di Puskesmas.
“Setiap Puskesmas yang kita datangi pasti ada data penderita HIV-AIDS di wilayah pelayanan Puskesmas. Kami kaget dengan temuan ini. Makanya kami langsung minta data sebaran HIV-AIDS di seluruh wilayah Gorontalo,” ujar Ketua Komisi I AW Thalib.
Sesuai data yang dikantongi Komisi I, sejak 2017 terlihat ada peningkatan jumlah temuan HIV-AIDS. Setiap tahun rata-rata ada sekitar 100 kasus temuan penderita baru HIV-AIDS.
Pada 2017 ada 102 jumlah kasus baru. 2018 97 kasus. 2019 85 kasus. 2020 62 kasus. 2021 114 kasus. 2022 118 kasus. Dan pada 2023 152 kasus. Sehingga total jumlah temuan HIV-AIDS di Gorontalo sejak 2001-2023 mencapai 991 kasus.
Pengidap HIV-AIDS di Gorontalo tersebar di seluruh profes, dari mekanik, PNS, ojek, tenaga kesehatan, dosen/guru hingga mahasiswa. Penderita HIV-AIDS paling banyak di usia produktif dari usia 24-49 tahun sebanyak 657 kasus.
Sementara sebaran kasus HIV-AIDS paling banyak di Kabupaten Gorontalo sebanyak 284 kasus, Kota Gorontalo 281 kasus, Pohuwato 125 kasus, Bone Bolango 120 kasus, Boalemo 98 kasus dan Gorut 83 kasus.
Menarinya, penularan HIV-AIDS paling banyak melalui hubungan GWL (gay,waria, lesbian sebanyak 446 kasus disusul hubungan seks sebanyak 374 kasus.
AW Thalib mengatakan, penularan HIV-AIDS seperti fenomena gunung es. Dengan temuan kasus yang mencapai 991 penderita, maka menunjukkan bahwa jumlah warga yang sudah tertular virus HIV-AIDS lebih banyak.
“991 kasus itu kan yang ditemukan melalui tes. Nah sementara yang belum dites ini kan banyak,” ungkapnya. Oleh karena itu, AW Thalib meminta agar penanganan HIV-AIDS harus diseriusi oleh pemerintah daerah dan seluruh stakeholder terkait.
“Upaya pencegahan perlu dilakukan dengan memasifkan edukasi pencegahan penularan HIV-AIDS. Ini tertular melalui hubungan seks, jarum suntik maupun media penularan lain,” tambahnya.
Dia mengatakan, persoalan ini harus mendapatkan perhatian khusus karena sangat kontradiktif dengan Gorontalo yang dikenal sebagai daerah serambi Madinah. “Kita ini sudah jadi daerah dengan tingkat konsumsi alkohol yang tinggi. Sekarang HIV-AIDS makin bertumbuh,” ungkapnya.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Anang S. Otoluwa mengatakan, penanganan dan pencegahan penularan HIV-AIDS membutuhkan kerjasama lintas program dan lintas sektoral dibawah koordinasi mulai dari tingkt provinsi hingga kabupaten/kota dan layanan dalam hal ini rumah sakit, puskesmas klinik, komunitas dan masyarakat.
“KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) harus berperan dalam dalam upaya pencegahan dan penanggulangan yang intensif, menyeluruh, terpadu dan terkoordinasi dan salah satunya adalah melakukan validasi data untuk menganalisis situasi dan perkembangan laju penularan HIV-AIDS” ujar Anang dikutip dari dinkes.gorontaloprov.go.id
Anang mengatakan tidaklah mudah menekan laju epidemi HIV-AIDS karena kompleksnya masalah yang dihadapi yang berubah dengan cepat membutuhkan komitmen yang nyata disertai kesungguhan, keikhlasan dan tekad yang kuat dari seluruh elemen baik tenaga kesehatan dan dukungan masyarakat luas.
“Sehingganya diharapkan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS akan berhasil dengan baik” pungkasnya. (rmb)












Discussion about this post