logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Pelabuhan Perpisahan

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 16 April 2024
in Disway
0
-

-

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

ANDA SUDAH TAHU: ada 4 suku besar di Tiongkok: Han, Manchuria, Mongolia, dan Uygur. Lalu banyak suku-suku kecil di pegunungan Yunnan dan Sichuan.

Suku Han paling besar dan kian besar. Itu karena suku Manchuria sudah praktis menyatu dengan suku Han.

Related Post

Desil Kuantil

Karya Perkara

Lima Miliar

Patriot Sejati

Kini jarang orang Manchu yang masih mengaku sebagai Manchu. Termasuk Meiling –sahabat Disway itu.

Orang-orang Manchu itu kini hanya bilang sebagai orang Dongbei –baca: tungpei. Artinya: tanya sendirilah ke Wilwa yang penguasaan Mandarinnya mengagumkan.

Suku Manchu memang pernah lama memerintah Tiongkok. Sampai 300 tahun.

Beda dengan orang Manchu, suku Mongol masih sering mengaku sebagai orang Mongol. Suku ini juga sudah kawin-mawin dengan orang Han. Tapi belum lupa kemongolan mereka.

Orang Manchu mendominasi tiga provinsi di timur laut: Lioning, Jilin, dan Heilongjiang. Orang Mongol hanya di satu provinsi –tapi provinsi besar. Di paling utara Tiongkok.

Saking panjangnya provinsi Mongolia Dalam sampai berbatasan dengan empat provinsi di selatannya.

Yang relatif masih utuh adalah suku Uygur. Di satu provinsi: Xinjiang. Jarang orang Uygur (muslim) kawin dengan orang Han.

Suku Han sendiri sebenarnya terbagi ke banyak sekali sub suku. Tergantung tinggal di provinsi mana. Atau kabupaten apa.

Mereka punya bahasa daerah masing-masing. Logat tersendiri. Uniknya, apa pun bahasanya hurufnya sama. Emkoi (Kanton), kamsia (Fujian) tulisannya sama dengan xie xie –谢谢。Seperti huruf 东京 dibaca Tokyo oleh orang Jepang, dibaca dongjing dalam bahasa Mandarin.

Dalam 10 hari terakhir ini saya ke tiga kabupaten suku Han-Tiuchu dan ke satu kabupaten suku Han-Hakka: kabupaten Mexian, ibu kotanya Meizhou.

Di Indonesia banyak restoran masakan Hakka.

Ini bukan baru kali pertama saya ke Meizhou. Tapi baru sekali ini saya ke Songkou. Inilah pelabuhan legenda orang suku Hakka. Mereka yang merantau ke Nusantara berangkatnya dari pelabuhan Songkou ini.

Waktu itu belum ada Indonesia. Mereka menyebutnya pergi xia nan yang –pergi merantau ke laut selatan. Itu bisa semenanjung Melaka, Sumatera, Borneo, Jawa, dan seterusnya.

Songkou letaknya satu jam perjalanan mobil dari Meizhou. Jalannya menyusuri sungai Meijiang.

Sungai Mejiang hampir selebar Kapuas –khusus di bagian Songkou. Beberapa sungai menyatu sebelum Songkou. Lalu Meijiang menjadi Hanjiang.

Sungai Hanjiang ini mengalir ke hilir melewati wilayah suku Tiuchu: Chaozhou dan bermuara di kota Shantou.

Maka 10 hari di Tiongkok ini pada dasarnya saya hanya berkutat di sepanjang sungai Meijing-Hanjiang. Sejak dari hulunya sampai muaranya.

Pelabuhan Songkou sendiri kini tidak dipakai lagi. Tapi dipertahankan. Jadi objek wisata. Anak-cucu bisa napak tilas sukses kakek mereka.

Pelabuhan itu di pinggir sungai yang curam. Dari jalan harus turun lewat 30 anak tangga.

Di anak tangga itulah dibangun beberapa patung. Misalnya di anak tangga ke-15. Terlihat seorang ibu bersama anak kecilnyi menatap ke patung laki-laki di anak tangga ke-25. Si laki-laki adalah suami yang siap berangkat merantau. Mereka berpisah di pelabuhan untuk jangka yang tidak menentu.

Dari Songkou perahu tiba di Shantou dalam tiga hari. Di Shantou mereka menanti kapal yang lebih besar untuk mengarungi Laut Tiongkok Selatan.

Rumah Tjong A Fie tidak jauh dari pelabuhan ini.

Anda sudah tahu siapa Tjong A Fie. Rumah Tjong A Fie yang di Jalan Kesawan Medan –yang kini jadi museum Tjong A Fie– mirip sekali dengan rumahnya yang di Songkou.

Dua rumah itu dibangun di saat Tjong A Fie sudah menjadi orang terkaya di Asia Tenggara.

Seperti yang di Medan, rumah yang di Songkou ini pun jadi museum wisata. Terawat baik. Beda dengan yang di Medan.

Sama-sama rumah besar. Ada bangunan induk. Ada kamar-kamar di kanan dan kiri. Ada kamar-kamar lagi di bagian belakang. Total 100 kamar.

Kini lima kamarnya dipakai khusus untuk memajang suasana kota Medan zaman itu. Termasuk perkebunannya yang kini jadi PTPN 3 BUMN.

Rasanya PTPN 3 perlu prihatin melihat kondisi museum Tjong A Fie yang di Medan.(*)

Tags: Catatan Harian DahlanDahlan IskanDiswayHarian Dahlanharian diswayTulisan Dahlan

Related Posts

Desil Kuantil

Desil Kuantil

Monday, 7 September 2026
Karya Perkara

Karya Perkara

Saturday, 5 September 2026
Lima Miliar

Lima Miliar

Friday, 4 September 2026
Hujan Salat

Hujan Salat

Thursday, 3 September 2026
Patriot Sejati

Patriot Sejati

Thursday, 3 September 2026
Ahli Uang

Ahli Uang

Wednesday, 2 September 2026
Next Post
Aston Gorontalo Turut Semarakkan Tumbilotohe,  Bangga Merayakan Budaya yang Mempesona

Aston Gorontalo Turut Semarakkan Tumbilotohe,  Bangga Merayakan Budaya yang Mempesona

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Bocah 12 Tahun Disuruh Mencuri, Tertangkap di Pasar Eks Terminal 42, Diancam Jika Menolak Perintah

Bocah 12 Tahun Disuruh Mencuri, Tertangkap di Pasar Eks Terminal 42, Diancam Jika Menolak Perintah

Monday, 7 September 2026
Bakal Laporkan ke Mabes Polri, Adhan Lawan Fadli Zon

Bakal Laporkan ke Mabes Polri, Adhan Lawan Fadli Zon

Monday, 7 September 2026
Polres Pohuwato Bongkar Lokasi Judi di Paguat

Polres Pohuwato Bongkar Lokasi Judi di Paguat

Monday, 7 September 2026
Miras Masih Merajalela di Gorontalo

Miras Masih Merajalela di Gorontalo

Monday, 7 September 2026

Pos Populer

  • Pengadaan MacBook Aleg Deprov, Femmy: Dengan Tegas Saya Menolak 

    4 Kursi DPR RI untuk Gorontalo, Femmy: Dari Aspirasi Menjadi Agenda Kelembagaan

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Rp 68,2 M Dana Asrama Haji Gorontalo Ditolak, Kemenhaj: Mepet Waktu, Beresiko

    33 shares
    Share 13 Tweet 8
  • Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

    26 shares
    Share 10 Tweet 7
  • Bocah 12 Tahun Disuruh Mencuri, Tertangkap di Pasar Eks Terminal 42, Diancam Jika Menolak Perintah

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Bakal Laporkan ke Mabes Polri, Adhan Lawan Fadli Zon

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.