logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Desil Kuantil

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 7 September 2026
in Disway
0
Desil Kuantil

dok-disway

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

oleh:
Dahlan Iskan

Dengar heboh ”desil” saya ingat ”desi”: –desimeter. Sudah begitu lama istilah desimeter meninggal dunia. Orang lebih suka menyebut ”10 sentimeter”. Tidak mau lagi bilang ”satu desimeter”. Mirip orang tidak mau lagi bilang ”satu yard” melainkan pilih bilang ”90 cm”.

Maka di mana-mana saya mendapat pertanyaan ini: apa itu desil. Kok heboh banget. Desil adalah per sepuluh. Maksudnya, masyarakat dibagi 10: sepuluh persen pertama, kedua, ketiga, sampai kesepuluh. Pembagian itu berdasar tingkat kesejahteraan. Lebih tepatnya: berdasar banyaknya pengeluaran setiap bulannya.

Kalau Anda tergolong desil 1 berarti Anda tergolong 10 persen termiskin di Indonesia. Itu untuk menghindarkan sebutan ”kelompok sangat miskin”. Kalau Anda disebut sebagai orang desil 1 rasanya lebih sopan dibanding Anda disebut sebagai kelompok orang sangat miskin. Ups… Bukan itu tujuannya. Istilah desil diciptakan untuk menstandarkan pengelompokan di masyarakat.

Related Post

Karya Perkara

Lima Miliar

Patriot Sejati

Hujan Salat

Selama ini kita hanya mengenal istilah sangat miskin, miskin, hampir miskin, kelas menengah, dan kaya. Setiap lembaga bisa membuat pengelompokan yang berbeda. Kini hanya satu istilah: desil. Tinggal menyebut: desil berapa.

Misalkan Anda disebut desil sepuluh, itu berarti Anda tergolong patriot –layak mengutangi Danantara lewat Patriot Bond. Maka setelah Anda membaca Disway hari ini coba-cobalah Anda memperkirakan tergolong di desil berapa.

Bagi negara seperti Indonesia desil lebih dianggap penting terkait dengan bantuan sosial. Misal: masyarakat desil 1 layak dapat lima jenis bantuan dari negara: uang tunai, subsidi listrik, subsidi elpiji, subsidi iuran BPJS, dan subsidi rumah lewat KPR. Kelompok desil dua mungkin hanya berhak atas empat dari lima itu. Desil tiga mendapat tiga dari lima. Desil empat hanya dapat dua jenis. Dan seterusnya. Tidak seperti itu beneran, tapi begitulah kira-kira cara berpikir para pembuat desil.

Itu tergantung pada kebijakan pemerintah. Maka penerapan desil itu sendiri mestinya baik. Langkah maju. Bahwa akan heboh pasti tidak bisa dihindari. Problem utamanya adalah orang yang ada di ”perbatasan desil”. Misalkan Anda masuk desil tiga, tapi di posisi Anda paling bawah. Hampir saja Anda sulit dibedakan dengan anggota desil dua yang posisinya paling atas. Ibarat nilai Anda 5,9. Itu hampir saja enam, tapi tetap bukan enam.

Pakai sistem apa pun pasti ada hebohnya. Sistem pengelompokan yang lama pun punya kelemahan. Pernah juga heboh. Berkali-kali. Yang penting, setelah pakai sistem desil teruslah lakukan evaluasi: kelemahan yang muncul segera diatasi.

Persoalannya di pendataan yang membuat seseorang masuk dapil berapa. Pemerintah punya banyak versi data ekonomi. Salah satunya berdasar kemampuan belanja Anda setiap tahun. Ada juga data berdasar pendapatan setahun. Di zaman Orde Baru pernah ada ukuran tidak lagi miskin: kalau lantai rumahnya sudah diplester dengan semen. Pernah juga ada ukuran: kalau tembok rumahnya sudah terbuat dari bata. Kelak, kalau sistem desil ditolak, mungkin salah satu ukuran yang akan dipakai: rumahnya pakai genteng atau seng.

Sistem desil di Indonesia hanyalah meniru apa yang dilakukan negara lain. Kita termasuk yang ketinggalan. Negara maju juga punya cara untuk menentukan pengelompokan masyarakatnya. Bukan berdasar kemampuan belanja, tapi berdasar kemampuan mereka membayar pajak. Di sana tidak ada desil. Yang ada kuantil. Masyarakat hanya dibagi lima: miskin, menengah bawah, menengah atas, kaya, dan super kaya.

Kegunaan yang lebih penting dari sistem desil dan kuantil adalah untuk mengukur tingkat ketimpangan di masyarakat. Dengan potret desil yang ada, pemerintah harusnya prihatin: kok ketimpangan ekonomi begitu besar. Untuk itulah ada desil. Bukan ‘dibelokkan’ hanya untuk bantuan sosial.
Jangan-jangan heboh desil sekarang ini justru membuat orang melupakan tujuan perumusan desil. Jangan-jangan justru lupa terhadap kenyataan adanya kesenjangan.

Mungkin saja di negara seperti Denmark pembagiannya hanya tiga: mampu, kaya, kaya sekali karena di sana tidak ada lagi yang miskin. Baiknya kita tunggu komentar dari ”perusuh kaburan” seperti Bung Liang yang sekarang tinggal di Denmark.

Tentu yang penting bukan pakai desil, kuantil, atau tidak pakai apa-apa sama sekali. Yang penting itu kapan tidak ada lagi desil dua dan satu –setidaknya hilangkan yang 1 dulu. (*)

Tags: Catatan DahlanDahlan IskanDesil KuantilDiswayharian disway

Related Posts

Karya Perkara

Karya Perkara

Saturday, 5 September 2026
Lima Miliar

Lima Miliar

Friday, 4 September 2026
Hujan Salat

Hujan Salat

Thursday, 3 September 2026
Patriot Sejati

Patriot Sejati

Thursday, 3 September 2026
Ahli Uang

Ahli Uang

Wednesday, 2 September 2026
Aset Berharga

Aset Berharga

Monday, 31 August 2026

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Sunday, 6 September 2026
Desil Kuantil

Desil Kuantil

Monday, 7 September 2026
Pertamina: STNK Bukan Syarat Beli BBM Subsidi

Pertamina: STNK Bukan Syarat Beli BBM Subsidi

Monday, 7 September 2026
APEL. Bupati Gorontalo Sofyan Puhi saat menyampaikan assesment Lurah se Kecamatan Limboto, pada apel kerja perdana

Bagikan Booth UMKM, Bupati Sofyan: Jangan Ganggu Fungsi Trotoar

Monday, 7 September 2026

Pos Populer

  • Pengadaan MacBook Aleg Deprov, Femmy: Dengan Tegas Saya Menolak 

    4 Kursi DPR RI untuk Gorontalo, Femmy: Dari Aspirasi Menjadi Agenda Kelembagaan

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Rp 68,2 M Dana Asrama Haji Gorontalo Ditolak, Kemenhaj: Mepet Waktu, Beresiko

    33 shares
    Share 13 Tweet 8
  • Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

    26 shares
    Share 10 Tweet 7
  • Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Rayakan HUT ke-6, ASTON Gorontalo Tebar Promo hingga Diskon 12 Persen

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.