logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Agama dan Pejabat-Pejabat Kita

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 1 April 2024
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Basri Amin

 

DI negeri ini, agama adalah “sesuatu” yang bisa terbawa ke mana-mana. Ia selalu hadir membersamai kita kemanapun kita berada dan setiap orang sudah terbiasa “saling menduga” dan/atau “membangun praduga” tentang agama orang lain.

Di berbagai kesempatan, kita juga dengan mudah menyaksikan bagaimana pejabat publik membawa-bawa agama ke ranah publik dan bahkan memublikasikan kabar-kabar ke-agama-an kepada khalayak. Tak jarang, kita pun cenderung memberikan penilaian lebih tentang “pejabat yang agamais”.

Related Post

Sensus Ekonomi 2026: Mencatat Transformasi, Menjemput Masa Depan

Berpikir Strategis di Tengah Dunia yang Bergejolak: Refleksi Pembangunan Gorontalo

Kebangkitan Ekonomi Gorontalo

Laut yang Tak Pernah Kita Kenali Sepenuhnya

Di kala lain, pejabat publik pun makin sering diarahkan sedemikian rupa untuk “membela” (kepentingan) agama, karena disangka bahwa agama adalah peneguh fundamental bagi sebuah identitas dan bagi kemajuan (moral) sebuah bangsa.

Agama bagi para pejabat publik tergolong unik. Agama hadir dalam Sumpah Jabatan-nya. Di bawah (naungan) Kitab Suci, seorang pejabat dilantik dan disumpah. Nama Tuhan disebut berulang. Janji di hadapan Tuhan disuarakan terbuka. Disaksikan banyak orang. Termasuk suami atau istri, keluarga, teman-teman sejawat, atasan dan bawahan. Ucapan selamat bersambung-sambung.

Terbayanglah sesuatu yang campur-baur: pakaian dinas yang neces, kopiah, dan lambang-lambang, kewenangan yang bisa lurus atau belok-belok. Pun wajah-wajah “anak buah” di bawah kewenangannya yang sudah siap dengan kata-kata “siap, Pak!”.

Teori “yes-men!” laku di ruang-ruang kantor dinas kita. Begitu pula dengan kaidah “Asal Bapak Senang” (ABS), tradisi (bahasa) keseharian berupa “arahan”, “kebijakan”, “petunjuk”, “atur saja; “semua bisa diatur”, plus rapat ke rapat, plus Perjadis, plus acara ke acara, dan timbunan ungkapan dan istilah teknis administrasi negara dan keuangan, dst.

Sejauh mana agama memberi dampak kepada kesetiaan Pejabat kepada tanggung jawab publiknya?. Sejauh mana agama berfungsi meletakkan etos pengabdiannya kepada perbaikan nasib orang banyak?.

Di banyak situasi, yang terjadi justru keterasingan dan jarak-jarak baru antara Pejabat dan orang-orang biasa. Antara “amanah” sebagai Aparat Negara dan “ambisi” pribadi, gaya hidup, dan klik kelompok yang diselubungkan sedemikian rupa di sela-sela kewenangan resmi, penggunaan fasilitas negara, jejaring teman dan keluarga, afiliasi organisasi, dst.

Di wajah-wajah banyak Pejabat publik kita seringkali tak menampakkan keramahan, ketulusan layanan, pantulan kecerdasan berbahasa dan pengayoman yang berbasis keteladanan.

Pada kesempatan sebelumnya, sudah kami tuliskan tentang gejala “beragama yang serius” (Amin, 2020). Ditandaskan bahwa jika setiap orang “memeluk agama”nya dengan sungguh-sungguh, maka di dalamnya mengandung tugas menjaga (rasa) ketidakterpisahan dengan Kehidupan yang luas dan saling tergantung; sebuah penegasan berulang-ulang –-melalui ibadah dan sikap hidup– agar tidak terpisah dengan agama dan sekaligus berkomitmen tinggi menjaga kebutuhan dan kerinduan atau kehangatan dalam “pelukan” agama.

Dalam konteks ini, agama mengandung “daya kritik” bagi pemeluknya (Ackermann, 1985 [1997]). Keluhuran agama hadir-terkawal oleh rasionalitas dan moralitas yang hidup di tengah-tengah masyarakat.

Di baliknya terkandung panggilan untuk mencari, mendekati, dan ‘menemukan’ (percikan) Cahaya-NYA di alam kesadaran kita yang damai, berpengharapan tinggi dan berkehendak kuat mewujudkan kesalehan yang membumi, yang manusiawi dan yang menyegarkan Ayat-Nya di semua sektor kehidupan kita.

Bahkan melalui Agama, “bahasa leluhur” dan bentuk-bentuk penghormatan kepada pencapaian hidup beragam (jenis) manusia akan terus tersirami, tumbuh, dan berbuah.

Dalam faktanya, banyak orang yang lepas dari “pelukan” atau bahkan tidak “memeluk” agama dengan serius. Selain sebagai sebuah ikatan dan pilihan sadar, tentu saja keberagamaan setiap orang dan bangsa-bangsa merupakan bagian dari sejarah yang tidak sederhana.

Terlebih ketika agama dijadikan sebagai identitas yang mengokohkan perbedaan, bahkan permusuhan karena nafsu menjadi pemenang atau penguasa atas kehidupan sekelompok orang atau bangsa. Mungkin karena inilah barangkali mengapa jargon “moderasi beragama” menjadi tergerakkan luas belakangan ini.

Secara inheren, agama pada hakikatnya adalah wujud (sebuah) “moderasi” karena memang dengan itulah kita disebut sebagai Manusia beragama: sosok individu yang membangun sosialitas tertentu melalui begitu banyak moderasi, mediasi, materialisasi, dan negosiasi.

Akhirnya, bagi pejabat yang sumpah dinasnya beralaskan Agama, sudilah mereka untuk tidak mengerdilkan keluhuran Agama. Jangan sampai Agama hanya dijadikan sebagai “barang bawaan” dan “tempelan kata” tapi mengalami pengeringan makna setiap harinya karena ditindih oleh asesori duniawi yang wah, plus ritus-ritus kepejabatan yang selalu ramai di ruang publik.

Kini, dalam faktanya, yang sering terbukti adalah kemewahan fisikal dan keangkuhan jabatan begitu mudah terhempas di tangan penyidik Korupsi, benturan Kepentingan, dan Konflik organisasi.

Kemewahan fasilitas negara, mobilitas kedinasan dan kilatan lambang-lambang begitu mudah terhina di hadapan catatan sejarah yang jujur dan kesaksian-kesaksian otentik dari orang-orang biasa. ***

 

Penulis adalah
Parner di Voice-of-HaleHepu
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminpersepsispektrum sosialTulisan Basritulisan persepsiVoice-of-HaleHepu

Related Posts

Dr. Herwin Mopangga, S.E., M.Si.

Sensus Ekonomi 2026: Mencatat Transformasi, Menjemput Masa Depan

Monday, 15 June 2026
Ridwan Monoarfa

Berpikir Strategis di Tengah Dunia yang Bergejolak: Refleksi Pembangunan Gorontalo

Saturday, 13 June 2026
Hendri Cahyo Dwi Safitri

Kebangkitan Ekonomi Gorontalo

Friday, 12 June 2026
Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Friday, 12 June 2026
Laut yang Tak Pernah Kita Kenali Sepenuhnya

Laut yang Tak Pernah Kita Kenali Sepenuhnya

Friday, 12 June 2026
Iwan Lakoro

Menjaga Napas WTP Pemprov Gorontalo: Dari Kertas Kerja Menuju Kesejahteraan Nyata

Tuesday, 9 June 2026
Next Post
Presiden RI, Joko Widodo

Bulan Ini Jokowi ke Gorontalo

Discussion about this post

Rekomendasi

Polda Gorontalo akan memperketat pengamanan di wilayah, jelang pelaksanaan kegiatan PENAS Petani Nelayan ke-XVII.

Polda Gorontalo Perketat Pengamanan Daerah

Wednesday, 17 June 2026
Perwakilan ahli waris Kisman Tilameo saat menyampaikan dua tuntutan ke Walikota Adhan Dambea terkait pemindahan pekuburan di eks Terminal 42 Andalas. Tuntutan itu disampaikan saat Rakor dan diskusi bersama para ahli waris di Aula Rumah Jabatan Walikota Gorontalo, Selasa (16/6/2026). (Foto: Istimewa).

Dua Tuntutan Ahli Waris ke Walikota, Terkait Pemindahan Makam di Eks Terminal 42

Wednesday, 17 June 2026
SENSUS EKONOMI- Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyematkan tanda pengenal petugas lapangan Sensus Ekonomi 2026 pada apel siaga di halaman rumah jabatan gubernur, Senin (15/6). ( Foto : Dok-Pemprov/Valen)

Gubernur Gorontalo Ajak Warga Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Wednesday, 17 June 2026
Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

Saturday, 13 June 2026

Pos Populer

  • Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

    Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Dukung Edukasi Jurnalis dan Pelajar, Dirreskrimsus Polda Gorontalo Kupas Tuntas UU ITE dan Hak Cipta

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

    40 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Antusias Ikut PENAS XVII Gorontalo, Kontingen Jambi Tempuh Jalur Darat dan Laut

    47 shares
    Share 19 Tweet 12
  • Polda Gorontalo Perketat Pengamanan Daerah

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.