logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Holokaus dan Eksodus Yahudi Eropa ke Palestina

Lukman Husain by Lukman Husain
Thursday, 23 November 2023
in Persepsi
0
KH. Imam Jazuli, Lc. MA

KH. Imam Jazuli, Lc. MA

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
KH. Imam Jazuli, Lc. MA

BANGSA Yahudi, yaitu keturunan Yahuda bin Yaqub (Israel), memang tidak pernah diterima oleh bangsa manapun. Berbeda dari putra Nabi Yaqub as yang lain, misalnya Nabi Yusuf as, dia dan keturunannya bisa diterima di mana-mana.

Tidak saja Yusuf as dan keturunannya. Menurut Howard Fast (2011:7), putra Yaqub yang lain, yaitu Lewi dan keturunannya, mereka bisa melebur bersama bangsa Mesir. Suku Lewi memiliki nama-nama berbau Mesir, seperti Merari, Meriam, Assir, Putiel, Phinehas, Hophni, Pashur dan Hur.

Dulu di zaman Nabi Musa as, orang-orang Israel tidak bisa diterima di Mesir. Mereka diperbudak oleh Fir’aun dan bangsa Mesir. Dari sinilah muncul istilah eksodus, keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Namun, ini hanya satu perspektif.

Related Post

Duduk “Enak” di Pemerintahan

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

Perspektif lain mengatakan, pemerintahan Ramses II (1279-1212 SM.) fokus pada politik dan konsentrasi ekonomi. Karena sungai Nil jauh lebih stabil dari pada sungai Tigris dan Eufrat, sehingga peradaban Mesir juga lebih stabil secara ekonomi dan politik dibanding pesaingnya Peradaban Mesopotamia (John Efron, 2016: 11).

John Efron menambahkan, Mesir hanya membutuhkan bangsa Israel sebagai pekerja. Berbeda dengan Mesopotamia, para penguasa dari Assyiria sama-sama menjadi ancaman yang mengusir 12 Suku Israel. Sementara penguasa dari Babilonia tidak saja menghancurkan Yerussalem melainkan juga mengusir orang Israel yang kelak menjadi leluhur bangsa Yahudi.

Penolakan seluruh bangsa (Assyiria dan Babilonia), kecuali Mesir yang memberikan lapangan pekerjaan, kepada bangsa Yahudi terulang kembali pada abad 20. Kali ini mereka diusir keluar oleh bangsa Eropa, khususnya Jerman, melalui peristiwa Holokaus (1941-1945).

Peristiwa Holokaus ini sejatinya dilakukan secara bertahap. Sebelum 1941, jumlah orang Yahudi di seluruh wilayah Jerman sekitar 9 juta jiwa. Di akhir Perang Dunia II, 1945, hanya tersisa 3 juta jiwa dan 6 juta jiwa terbantai (Sonja M. Hedgepeth, 2010: 16). Bermula dari tahun 1933, Partai Nazi memperkenalkan Hukum Nuremberg, sejumlah undang-undang untuk menghapus keberadaan orang Yahudi di tengah masyarakat sipil.

Pada tahun yang sama, Nazi membangun Kamp Konsentrasi secara besar-besaran di seluruh wilayah taklukannya, seperti di Belzec, Majdanek, Sobibor, Treblinka, dan yang paling terkenal Auschwitz-Birkenau. Di kamp-kamp konsentrasi inilah, orang Yahudi dimusnahkan. Di Auschwitz II (Birkenau), sekitar 1 juta orang Yahudi dibantai.

Kamp Auschwitz II berukuran 2,5 km x 2 km, dibagi ke dalam banyak blok, setiap blok dikelii kawat berduri yang dialiri listri. Biasa digunakan oleh tahanan untuk bunuh diri. Kamp Auschwtiz II juga dilengkapi empat kreamtorium dengan kamar gas, setiap kamar gas bisa menampung 2,500 orang. Pemusnahan besar-besaran terjadi pada tahun 1942.

Partai Nazi di bawah kepemimpinan Adolf Hitler (1889-1945) merasakan ancaman orang-orang Yahudi, sebagaimana orang-orang Assyiria dan Babilonia zaman dahulu. Hanya Inggris-Amerika yang berperilaku layaknya Ramses II dari Mesir, yang memberikan dukungan ekonomi dan politik terhadap orang-orang Yahudi. Pada tahun 1944, Jerman mengalahkan Hungaria. Antara bulan Mei dan Juli, sekitar 438,000 orang Yahudi Hungaria dideportasi ke Kamp Auschwitz II dan dibunuh.

Dalam rangka merespon tindakan Holokaus sistematis oleh Nazi Jermah tersebut, pada tahun 1933, misalnya, Presiden American Federation of Labor (AFL), William Green, mengajak seluruh masyarakat memboikot produk Jerman. Hal yang sama terjadi di Inggris di bulan Juli 1933. Di bawah koordinasi Dewan Buruh Gabungan Nasional (NJLC) dan Partai Buruh Parlementer (PLP), seruan boikot produk Jerman atas nama pembelaan terhadap Yahudi (Stephen H. Norwood, 2021: 131).

Dampak Holokaus yang dilakukan Nazi terhadap Yahudi adalah eksodus abad 20, berupa migrasi besar-besaran bangsa Yahudi dari Eropa ke Palestina, dengan dukungan penuh Inggris dan Amerika, sejak Deklarasi Balfour 1918 hingga Pasca Perang Dunia II.

Yacoov Nir (2021: 81-83) menyebut bahwa sebelum Perang Dunia II, ada sekitar 26,000 orang Yahudi secara ilegal masuk ke Palestina dari Romania, Bulgaria, Italia dan Yunani. Mayoritas mereka tiba dengan selamat di pantai Palestina.

Lebih dari itu, menurut Yacoov Nir, orang Yahudi mengeluarkan uang sebesar 1,000 pound Palestina, yang setara dengan 1,000 poundsterling Inggris kala itu, demi mendapatkan sertifikat sebagai warga negara resmi Palestina.

Perlu dicatat, menurut Yacoov Nir, bahwa di tahun itu, delegasi The Jewish Agency untuk Jerman, yang dipimpin oleh Hakim Arlozoroff, bertemu pimpinan Nazi di Jerman. Mereka meminta Nazi segera mentransfer sejumlah uang ke Palestina, yang dalam bahasa Ibrani disebut Ha’avara.

Sejak 1933 sampai 1948, Jerman total telah mentransfer uang sebesar 82 juta, yang setara dengan 33 juta Euro. Sebagai hasilnya, 14,000 orang Yahudi bisa hidup damai di Palestina. Dengan kata lain, walaupun Nazi-nya Hitler membunuh Yahudi, tetapi Nazi juga berjasa besar memberikan makan dan tempat tinggal yang nyaman bagi Yahudi di Palestina.

Jika ditarik benang merahnya, sejatinya orang-orang Eropa sudah muak dengan keberadaan Yahudi di wilayah mereka. Jerman memang mengusir orang Yahudi dan membunuh mereka, tetapi Jerman berjasa dalam memberikan modal untuk hidup di Palestina. Sementara Inggris sepenuhnya, baik kapital maupun politik, mendukung pemindahan Yahudi ke Palestina.

Inilah kisah bangsa Yahudi, yang dibenci di dalam Peradaban Mesopotamia, Peradaban Mesir, hingga Peradaban Eropa dan modern. Mereka bangsa yang sombong dan menyebalkan. Mesopotamia, Mesir, dan Eropa Modern paham betul soal itu. Seakan-akan, bagi Eropa, daripada Yahudi membuat ulah di negeri mereka, parasit Yahudi lebih baik dipindahkan ke Timur Tengah, baik dengan alasan kemanusiaan, politik, ekonomi, atau apapun. Yang terpenting, Yahudi tidak memiliki akar di Eropa. (*)

 

Penulis adalah Alumni
Universitas Al-Azhar, Mesir

Tags: KH. Imam Jazulipersepsitulisan persepsi

Related Posts

Basri Amin

Duduk “Enak” di Pemerintahan

Monday, 7 September 2026
Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Sunday, 6 September 2026
Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Friday, 4 September 2026
NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

Thursday, 3 September 2026
Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Thursday, 3 September 2026
Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

Wednesday, 2 September 2026
Next Post
Tim SAR gabungan mengevakuasi Ridwan Subetan (32), korban yang tersesat di bukit Kelurahan Tenda, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo, yang ditemukan dalam keadaan selamat, Kamis (23/11/2023).

Enam Hari Tersesat di Bukit, Seorang Pria Ditemukan Lemas

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Sunday, 6 September 2026
Desil Kuantil

Desil Kuantil

Monday, 7 September 2026
Pertamina: STNK Bukan Syarat Beli BBM Subsidi

Pertamina: STNK Bukan Syarat Beli BBM Subsidi

Monday, 7 September 2026
APEL. Bupati Gorontalo Sofyan Puhi saat menyampaikan assesment Lurah se Kecamatan Limboto, pada apel kerja perdana

Bagikan Booth UMKM, Bupati Sofyan: Jangan Ganggu Fungsi Trotoar

Monday, 7 September 2026

Pos Populer

  • Pengadaan MacBook Aleg Deprov, Femmy: Dengan Tegas Saya Menolak 

    4 Kursi DPR RI untuk Gorontalo, Femmy: Dari Aspirasi Menjadi Agenda Kelembagaan

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Rp 68,2 M Dana Asrama Haji Gorontalo Ditolak, Kemenhaj: Mepet Waktu, Beresiko

    33 shares
    Share 13 Tweet 8
  • Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

    26 shares
    Share 10 Tweet 7
  • Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Rayakan HUT ke-6, ASTON Gorontalo Tebar Promo hingga Diskon 12 Persen

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.