Oleh:
Dimas Achmad Fadhila
Peran Bank Indonesia dan Regulasi Mengenai Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam
Berdasarkan Pasal 7 Undang-Undang Republik Indonesia No. 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, tujuan Bank Indonesia adalah mencapai stabilitas nilai rupiah, memelihara stabilitas Sistem Pembayaran, dan turut menjaga Stabilitas Sistem Keuangan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Stabilitas nilai rupiah perlu dijaga dalam 2 aspek, yaitu stabilitas nilai rupiah terhadap fluktuasi harga barang dan jasa, serta stabilitas nilai tukar rupiah terhadap nilai tukar mata uang asing. Sebagai upaya dalam menjaga stabilitas nilai rupiah, Bank Indonesia dan pemerintah duduk bersama untuk merumuskan kebijakan yang tepat sasaran.
Dalam mencapai dan memelihara kestabilan nilai tukar rupiah khususnya terhadap mata uang asing, perlu ditopang dengan pilar utama, salah satunya yaitu melalui kebijakan moneter yang adaptif dan forward looking. Pada kuartal ketiga 2023, Bank Indonesia memperbarui Peraturan Bank Indonesia No. 24/18/PBI/2022 melalui penerbitan PBI No. 7 Tahun 2023 tentang Devisa Hasil Ekspor dan Devisa Pembayaran Impor. Kebijakan Bank Indonesia ini ditujukan untuk memperkuat Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2023 tentang Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam, Meningkatkan Likuiditas Valas Dalam Negeri dan Menjaga Ketahanan Ekonomi.
Penyempurnaan kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan devisa hasil ekspor Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia untuk disimpan kedalam Sistem Keuangan Indonesia (SKI). Secara lebih detail, regulasi baru ini mewajibkan eksportir komoditas SDA dengan nominal per transaksi ≥ USD 250.000 untuk menyetorkan 30 % DHE selama 3 bulan di SKI melalui instrumen (Term-Deposit) TD Valas dan Swap Valas. Secara lebih rinci, Bank Indonesia telah menetapkan 7 instrumen penempatan DHE SDA yaitu Reksus DHE SDA di Bank/LPEI, Deposito Valas dari Bank, Promissory Note LPEI, TDValas DHE dari Deposito Valas Bank, TD Valas dari Promissory Note LPEI, Swap Valas dari Eksportir/Nasabah ke Bank, serta Swap Valasdari Bank ke BI.
Potensi DHE SDA Indonesia dan Dampak Bagi Penguatan Likuiditas Cadangan Devisa
Alokasi sebagian DHE SDA di SKI akan membawa dampak positif bagi likuiditas cadangan devisa dan pasar valas domestik. Penguatan likuiditas cadangan devisa dan pasar valas domestik akan memberikan ruang fleksibilitas Bank Indonesia dalam melakukan stabilisasi nilai tukar. Di samping itu, hal ini juga dapat berkontribusi dalam mendorong surplus nerca pembayaran dan upaya memperkuat nilai tukar rupiah.
Mengutip penyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI pada Siaran Pers 28 Juli 2023, potensi optimalisasi DHE SDA sangat besar, tercermin dari jumlah DHE dari 4 sektor wajib yaitu pertambangan, perkebunan, kehutanan, perikanan, mencapai USD203 miliar pada 2022. DHE SDA tersebut memiliki pangsa sebesar 69,5% dari total ekspor. Dengan adanya ketentuan 30% DHE SDA wajib disimpan di SKI, potensi ketersediaan likuiditas valas dalam negeri sebagai hasil dari penempatan DHE SDA diprakirakan mencapai USD60,9 miliar.
Secara sektoral, potensi terbesar DHE SDA berada pada sektor pertambangan dengan nilai pada 2022 mencapai USD 129 miliar atau memiliki pangsa sebesar 44,2 % dari total ekspor. Komoditas utama ekspor sektor pertambangan adalah batubara yang bernilai sekitar USD 46,7 miliar atau 36,2% dari total ekspor pertambangan. Selanjutnya, sektor yang cukup dominan ialah perkebunan dengan nilai sebesar USD 55,2 miliar atau mencapai 18,9 % dari total ekspor. Diikuti oleh sektor kehutanan dan perikanan yang masing-masing bernilai USD 11,9 miliar dan USD 6,9 miliar pada 2022. Potensi DHE SDA yang sangat besar ini akan mampu meningkatkanketersediaan valas di Indonesia.
Potensi Kontribusi DHE SDA dan Tantangan Ekspor Luar Negeri Provinsi Gorontalo
Sejalan dengan potensi secara luas di Indonesia, potensi sumbangsih DHE SDA Provinsi Gorontalo memiliki porsinya tersendiri. Hal tersebut seiring dengan pangsa komoditas ekspor luar negeri Gorontalo didominasi oleh komoditas SDA. Pada tahun 2022, total ekspor yang tercatat di Provinsi Gorontalo sebesar USD 64,82 juta. Dari total catatan tersebut, sebesar 49,46% disumbang oleh ekspor jagung dan olahannya. Ekspor jagung dan olahan Gorontalo mencapai USD 34,04 juta pada 2022 ke negara tujuan Filipina. Selanjutnya, pangsa ekspor Gorontalo diduduki oleh komoditas kelapa parut sebesar 26,80 %. Atas capaian tersebut, ekspor kelapa parut Gorontalo selama 2022 mencapai USD 18,44 juta dengan negara tujuan di Uni Eropa.
Apabila dijumlahkan dengan komoditas ekspor SDA lainnya seperti ikan tuna, ekstraksi gula, dan ekstraksi ragi, ekspor SDA Gorontalo pada 2022 diprakirakan berkisar sebesar USD 61,49 juta. Sehingga secara matematis, potensi DHE SDA Provinsi Gorontalo untuk mendorong peningkatan likuiditas valas di Indonesia berdasarkan data tahun 2022 mencapai USD 18,44 juta. Nilai tersebut menyumbangkan kontribusi yang terbilang belum signifikan jika dibandingkan dengan nasional. Kontribusi DHE SDA Provinsi Gorontalo yang diprakirakan belum akan signifikan dipengaruhi oleh inkonsistensi ekspor luar negeri, komoditas ekspor yang belum sepenuhnya terhilirisasi, terbatasnya diversifikasi komoditas ekspor dan negara tujuan ekspor, serta volatilitas harga komoditas dunia.
Selama paruh pertama tahun 2023, kinerja ekspor Gorontalo mengalami perlambatan. Ada pun pada triwulan II 2023, kinerja ekspor tumbuh sebesar 5,97 % (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,15 % (yoy). Selama ini, kinerja ekspor Gorontalo, baik domestik maupun luar negeri terutama didorong oleh komoditas jagung dan olahannya. Kinerja ekspor tertahan oleh realisasi ekspor luar negeri pada triwulan II 2023 yang tercatat sebesar USD 10,84 juta atau terkontraksi sebesar 50,93 % (qtq).
Penurunan ekspor luar negeri didorong oleh turunnya nilai ekspor komoditas jagung dan olahannya yang tumbuh sebesar 70,32 % (qtq) pada triwulan II 2023, seiring dengan tidak adanya ekspor komoditas jagung dan olahannya ke salah satu negara tujuan ekspor utama yaitu Vietnam. Di samping itu, penurunan ekspor jagung dan olahannya terjadi seiring dengan tidak adanya ekspor jagung dan olahannya pada bulan Mei 2023. Hal tersebut terjadi seiring dengan harga jagung domestik yang lebih baik dibandingkan harga jagung di pasar internasional. Rata-rata harga jagung di pasar internasional khususnya pada Mei 2023 tercatat Rp 3.408/kg, sedangkan rata-rata harga jagung domestik mencapai Rp 4.386/kg. Komoditas jagung dan olahannya menyumbang pangsa sebesar 37,63 % dari nilai ekspor Gorontalo pada triwulan II 2023. Di sisi lain, apabila dilihat secara tahunan, realisasi ekspor luar negeri tumbuh tinggi sebesar 199,27 % (yoy) pada trwiulan II 2023, meskipun masih lebih rendah dari triwulan sebelumnya sebesar 253,16% (yoy). (*)
Penulis adalah Ekonom Yunior Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo Pengurus ISEI Cab. Gorontalo Bidang Riset Ekonomi Kreatif, Pengembangan UMKM, dan Pariwisata








Discussion about this post