logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Bukan Gugat

Lukman Husain by Lukman Husain
Friday, 15 July 2022
in Disway
0
Bencana Sapura

DISWAY

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Anak Sembrono

Sejarah Pertanda

Penyadapan Beneficial

Kerikil Subhan

BELUM pukul 04.30, Prof Dr med Puruhito dr SpB-BTKV(K) sudah mengirim komentar. Soal Disway edisi kemarin: Mikra Gugat. Tentang rendahnya mutu perguruan tinggi kita, terendah di anggota G20.

“Apakah ada jaminan kalau dana riset ditambah?” tulis perintis ahli bedah jantung Indonesia itu.

Memang dana riset 0,1 persen dari PDB itu kecil sekali. “Itu pun 60 persen di sektor pemerintah. Dan serapannya tak terlalu besar. Tak banyak peneliti yang memanfaatkan,” tulisnya.

Puruhito ilmuwan kedokteran terkemuka Surabaya. Ia sudah melakukan bedah jantung terbuka sejak tahun 1973.

Guru Besar Emeritus Unair itu setuju pendapat bahwa menjadi peneliti murni tidak bisa untuk hidup layak. Peneliti harus mencari proyek lain.

Tapi Puruhito memikirkan yang lebih mendasar. Soal aturan Tridharma Perguruan Tinggi. Itu juga merepotkan. Harus mengajar, meneliti dan pengabdian ke masyarakat. Sekaligus. Bersama-sama.

Saya jadi ikut bertanya: bagaimana sejarah lahirnya Tridharma Perguruan Tinggi itu. Dan apakah konsep itu masih relevan untuk perkembangan zaman sekarang.

Ilmuwan lain juga saya hubungi. Namanya: Biiznillah. Saya diminta menulis pengantar untuk buku barunya: Sengketa Tuhan dan Kebenaran.

“Aspek hukum dan hak asasi tidak menjamin kebebasan berpikir di kita,” katanya. “Kita banyak kehilangan kesempatan untuk melahirkan orang seperti Tan Malaka,” tambahnya.

Menurut Biiznillah, banyak pemikiran yang dianggap tabu dan dilarang. Misalnya soal teori evolusi.

Pemikiran Biiznillah, Anda sudah tahu, sering dianggap menggugat doktrin apa saja. Ia pemikir muda Islam yang lagi naik daun. Lahir sampai SMA di Liwa, kota kecil sekali di pedalaman Lampung. Sudah dekat dengan perbatasan Bengkulu.

Waktu lahir namanya lain: Isnin Soleh. Ia lahir di hari Senin. Lalu sakit-sakitan. Nama itu diganti. Sang ibu suka membaca Quran. Saat menemukan kata biiznillah (artinya: dengan izin Allah) hati sang Ibu bergetar. Maka kata itu yang diputuskan untuk mengganti nama Isnin Soleh. Namanya menjadi hanya satu kata: Biiznillah.

“Orang tua saya suku Minang yang merantau ke Liwa,” katanya. Setamat SMA, Biiznillah kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati, Bengkulu. Tapi sejak di SMA ia sudah tergila-gila dengan buku filsafat. Betapa anehnya, siswa SMA di sebuah pedalaman Lampung mencintai bacaan filsafat.

“Sertifikasi dosen hanya berorientasi dokumen portofolio,” kata Biiznillah. Ini berbanding terbalik dengan tingkat publikasi ilmiah kita, yang menurut Kemendkibudristek, tertinggi di ASEAN.

“Sistem politik kita juga belum  menjadikan perguruan tinggi sebagai sokoguru kehidupan bernegara berbangsa. Perguruan tinggi tidak lebih mengambil peran sebagai lembaga training kelas pekerja di masa depan,” katanya.

Animo masyarakat terhadap isu-isu akademis sangat minim. “Akhirnya pendidikan tinggi hanya dilihat sebagai satu fase jenjang karir. Tanpa melihat urgensi pencapaian intelektual sebagai bagian dari tugas kependidikannya,” katanya.

Biiznillah, 43 tahun, kini dosen di almamaternya. “Saya kawin dengan orang Bengkulu. Jadilah menetap di sini,” katanya.

Tesis S-2 nya berjudul Transendensi Moralitas dalam Ateisme. Itu di Islamic College For Advanced Studies (ICAS) Jakarta, program kerja sama ICAS London dan Universitas Paramadina. Kini Biiznillah menempuh S-3 dengan rencana disertasi Problem Eksistensi Jiwa dalam Khazanah Filsafat Islam.

Saya pun titip pertanyaan kepadanya: apakah khusyuk itu gejala jiwa atau gejala agama. Mengapa ada orang mudah khusyuk, sampai menangis-nangis dan mengapa ada yang sulit.

Begitu banyak tanggapan akan rendahnya reputasi perguruan tinggi kita. Tapi ilmuwan  jenis Indro Cahyono tidak peduli dengan semua itu. Ia juga membaca rendahnya reputasi internasional seperti yang ”digugat” Prof Mikrajuddin Abdullah dari ITB (Disway kemarin).

Ahli virus ini jenis ilmuwan cuek. Baginya: gelar, prestise, ego, dan insentif material itu tidak penting. Ia jenis peneliti yang berorientasi pada kemanfaatan penelitian untuk masyarakat lokal.

Jadi ”gugatan” Prof Mikra itu sebenarnya sudah banyak dibahas. Dari tahun ke tahun. Sejak lama sekali. Hasil diskusi, rapat kerja dan seminar mengenai reputasi perguruan tinggi itu sudah berlebih-lebih. Setiap tahun terbit pula buku putih dari Majelis Penelitian Dewan Pendidikan Tinggi. Ada lagi  Majelis Pendidikan dan Pengembangan. Dibuat terus. Diterbitkan terus. Dikirim terus ke Kemendikbud. Bukan baru. Sudah sejak hampir dua puluh tahun lalu.

Jadi, mengapa di antara anggota G20 perguruan tinggi kita paling rendah mutunya, jawabnya lengkap ada di sana.

Jadi sudah tidak perlu  didiskusikan lagi. Juga tidak perlu ditulis di Disway ini lagi. (Dahlan Iskan)

Tags: Dahlan IskanDisway

Related Posts

Anak Sembrono

Anak Sembrono

Saturday, 7 November 2026
Sejarah Pertanda

Sejarah Pertanda

Friday, 6 November 2026
Penyadapan Beneficial

Penyadapan Beneficial

Friday, 6 November 2026
Kerikil Subhan

Kerikil Subhan

Friday, 6 November 2026
Ya Tidak

Ya Tidak

Thursday, 22 October 2026
Jumat Keramat

Jumat Keramat

Monday, 19 October 2026
Next Post
SPM Harus Dimaksimalkan, Untuk Berikan Pelayanan Prima pada Masyarakat

SPM Harus Dimaksimalkan, Untuk Berikan Pelayanan Prima pada Masyarakat

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Padi Bertahan, Jagung Tumbang, Alarm Pangan Gorontalo di Tengah El Nino

Padi Bertahan, Jagung Tumbang, Alarm Pangan Gorontalo di Tengah El Nino

Friday, 6 November 2026
Penagih Hutang Rampas Kendaraan, Lapor Polisi

Penagih Hutang Rampas Kendaraan, Lapor Polisi

Friday, 6 November 2026
Bahlil Bantah Terseret Skandal Penyadapan Prabowo, Siapkan Somasi: Saya Juga Disadap

Bahlil Bantah Terseret Skandal Penyadapan Prabowo, Siapkan Somasi: Saya Juga Disadap

Saturday, 7 November 2026
Skandal Besar Terungkap, Presiden Ditangkap di Rumahnya

Skandal Besar Terungkap, Presiden Ditangkap di Rumahnya

Saturday, 7 November 2026

Pos Populer

  • Basri Amin

    Kalender “Literasi” Gorontalo 

    59 shares
    Share 24 Tweet 15
  • HK Cs Dilapor ke Polda, Terkait Dugaan Perusakan Fasilitas Perusahaan

    60 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Mantan Aleg Deprov Diamankan Polda, Terkait Dugaan Pemalsuan Surat di Pertambangan Pohuwato

    35 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Buron Kasus SPBE Boalemo Diciduk di Jakarta

    36 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Penambang Ilegal Saripi Tebar Teror, Rusak Fasilitas Pabrik Gula, Karyawan Resah dan Ketakutan

    81 shares
    Share 32 Tweet 20
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.