logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Istana Garuda

Lukman Husain by Lukman Husain
Sunday, 3 May 2026
in Disway
0
Istana Garuda
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

Jumlah penduduk IKN terus bertambah: kini susah 1.000 orang. Semua pegawai IKN –pegawai negeri maupun kontrak.

Bangunan yang sudah jadi: Istana Garuda, gedung Sekretariat Negara, lima gedung Kemenko, gedung Kementerian Pekerjaan Umum, Istana Wakil Presiden, gedung Otorita IKN, dan beberapa rumah susun.

Related Post

Sel Janin

Bagi Hasil

Perjudian Besar

Kanan Dalam

Di sebelah Istana Garuda terlihat sekelompok bangunan. Ada masjid kecil, ada rumah besar, ada beberapa bangunan pendukung. Itu adalah rumah kediaman presiden.

Dari Masjid Negara saya ingin melihat Istana Garuda. Jalan menuju istana cukup lebar: dua jalur masing-masing tiga lajur. Di antara masjid dan istana terlihat gedung otorita, Istana Wapres, dan lima gedung Kemenko. Jarak Masjid Negara ke Istana Garuda sedikit lebih jauh dari Istiqlal ke Istana Merdeka. Tapi jaraknya hanya 3,5 km terpisah.

Mulanya saya tidak bisa belok kanan ke jalan yang melintas di depan Istana Garuda. Jalan ditutup untuk umum. Di perempatan itu kami lurus. Lewat jalan lebar. Dua arah tanpa pembatas di tengah. Dari perempatan itu bangunan Istana terlihat jelas. Jalan itu sendiri melewati samping Istana. Saya minta Kang Sahidin menjalankan mobil sangat pelan. Agar bisa mengamati detik bangunan megah nan unik itu.

Tepat di samping Istana saya minta mobil berhenti. Dari sudut ini bisa mengambil foto dengan sangat baik: terlihat betapa pipih sayap Istana yang melambangkan sayap lambang Garuda itu.


—

Tak lama kemudian Pak Rizal Effendy mendapat kontak dari ”dalam”: kami diizinkan masuk. Mantan wali kota Balikpapan itu memang sering ke IKN. Di bulan Ramadan lalu ia salat tarawih di IKN. Idulfitri pun salat di IKN.

Sebelum kami masuk Istana terlihat rombongan dari Mahkamah Agung juga meninggalkan Istana. IKN memang segera membangun gedung Mahkamah Agung. Di IKN memang ada kawasan eksekutif, lalu ada kawasan yudikatif. Kelihatannya gedung legislatif yang akan dibangun terakhir.

Teras Istana ini megah. Pilar tingginya jauh lebih banyak dari Istana Merdeka. Di Istana Garuda pilarnya 34. Itu sesuai dengan jumlah tanah asli dari 34 provinsi di Indonesia. Yakni tanah yang diantar oleh masing-masing gubernur ke upacara dimulainya pembangunan IKN.


—

Saya lama berdiri di teras: menikmati keindahan dan kemegahannya. Lalu masuk ke ruang pertama. Itulah ruang ketika para tamu diterima presiden.

Ruang ini elegan. Kayu-kayu tiangnya kayu terbaik Kalimantan: bengkirai warna hitam. Bengkirai tua. Hiasan lampunya dari Boyolali.

Dari keseluruhan bahan hanya marmer untuk lantai yang diimpor. Indah sekali. Pantulan lampunya pun bisa terlihat di lantai. Marmer selebihnya dari dalam negeri.


—

Di belakangnya lagi ada koridor tapi lebarnya seperti ruangan yang memanjang ke kanan-kiri. Di belakang koridor inilah ruang besar: bisa untuk sidang kabinet paripurna, jamuan makan, resepsi kenegaraan dan sejenisnya. Desain interiornya, terutama langit-langitnya, mirip ruangan di keraton Jawa.


—

Di sisi kanan ada sebuah piano kecil. Ada penutupnya. “Itu piano milik Ibu Iriana,” ujar petugas di situ. “Dibawa ke sini untuk acara ulang tahun beliau ketika itu,” tambahnya.

Hanya sampai di situ kami boleh melihat. Selebihnya harus ada izin yang lebih khusus. Saya juga harus melihat satu lagi: bandara IKN. Lalu ke kampung istri untuk beridulfitri

Ups…lupa. Belum makan siang. Maka saya ke satu-satunya hotel bintang lima di IKN: Swissôtel Nusantara. Ada sop buntut, iga bakar, udang mayones pedas. Itu pilihan kami.(*)

Tags: Dahlan IskanDiswayharian diswayIKNIstana Garuda

Related Posts

--

Sel Janin

Monday, 15 June 2026
--

Bagi Hasil

Monday, 15 June 2026
Ilustrasi pertaruhan masa depan ekonomi Indonesia di antara berbagai sistem ekonomi.--

Perjudian Besar

Wednesday, 10 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026
--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Lewat Pasrah

Lewat Pasrah

Saturday, 6 June 2026
Next Post
GP BERBAGI - Tim Gorontalo Post, bersama Anggota DPRD Provinsi Gorontalo Kristina 'Femmy' Udoki menyambangi Rifki Madji, remaja di Desa Tolotio yang terbaring sakit. (foto: dok- gorontalo post)

Tumbuh Bersama, Tetap Terpercaya

Discussion about this post

Rekomendasi

Polda Gorontalo akan memperketat pengamanan di wilayah, jelang pelaksanaan kegiatan PENAS Petani Nelayan ke-XVII.

Polda Gorontalo Perketat Pengamanan Daerah

Wednesday, 17 June 2026
Perwakilan ahli waris Kisman Tilameo saat menyampaikan dua tuntutan ke Walikota Adhan Dambea terkait pemindahan pekuburan di eks Terminal 42 Andalas. Tuntutan itu disampaikan saat Rakor dan diskusi bersama para ahli waris di Aula Rumah Jabatan Walikota Gorontalo, Selasa (16/6/2026). (Foto: Istimewa).

Dua Tuntutan Ahli Waris ke Walikota, Terkait Pemindahan Makam di Eks Terminal 42

Wednesday, 17 June 2026
SENSUS EKONOMI- Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyematkan tanda pengenal petugas lapangan Sensus Ekonomi 2026 pada apel siaga di halaman rumah jabatan gubernur, Senin (15/6). ( Foto : Dok-Pemprov/Valen)

Gubernur Gorontalo Ajak Warga Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Wednesday, 17 June 2026
Dua lokasi dijadikan Rest Area di wilayah Pohuwato, menjelang pelaksanaan Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XVII tahun 2026.

Jelang PENAS, Dua Lokasi Dijadikan Rest Area di Pohuwato

Wednesday, 17 June 2026

Pos Populer

  • Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

    Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Dukung Edukasi Jurnalis dan Pelajar, Dirreskrimsus Polda Gorontalo Kupas Tuntas UU ITE dan Hak Cipta

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

    40 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Polda Gorontalo Perketat Pengamanan Daerah

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Dua Tuntutan Ahli Waris ke Walikota, Terkait Pemindahan Makam di Eks Terminal 42

    127 shares
    Share 51 Tweet 32
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.