logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Langit Sumur

Lukman Husain by Lukman Husain
Sunday, 3 May 2026
in Disway
0
Langit Sumur
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

Jalan tol ke IKN sudah bisa dilewati: di hari raya Idulfitri yang lalu. Lantas ditutup lagi. Belum sepenuhnya selesai. Masih ada beberapa ruas yang masih berupa tanah bukit.

Saya memang baru sempat beridulfitri ke kampung istri di Kaltim Selasa lalu: boleh melewatinya. Dari bandara Sepinggan, Balikpapan, saya lebih dulu lewat jalan lama ke arah Manggar. Di sana ada mulut tol Balikpapan–Samarinda.

Related Post

Sel Janin

Bagi Hasil

Perjudian Besar

Kanan Dalam

Sebelum mulut tol itu seharusnya saya mampir ke sebuah rumah baru yang setengah tahun terakhir mendadak terkenal: Rumah Singgah Harum.

Harum sendiri singkatan dari Haji Rudy Mas’ud.

Kata Harum dipopulerkan sejak menjelang pileg lebih 10 tahun lalu. Yakni ketika Harum mencalonkan diri sebagai anggota DPR. Nama Harum terus dikibarkan menjelang Pilgub Kaltim: terpilih (Lihat Disway: Orang Kuat).

Nama rumah itu, di internet, disebut Harum Resort. Anda bisa bermalam di sana. Harum sendiri sering menerima tamu VIP di rumah singgahnya itu.

Harum orang sangat kaya. Kalau membangun bisa cepat. Biar pun mulai dibangun setelah dilantik sebagai gubernur Kaltim, kini sudah jadi. Arsitekturnya menarik. Halaman belakangnya yang luas terasa lebih luas karena gandeng dengan laut.

Saya tidak jadi singgah di Rumah Singgah. Saya buru-buru masuk mulut tol arah Samarinda.

Di kilometer 11 ada exit untuk ke jalan umum menuju kawasan industri lama –yang belum banyak pabriknya. Tidak sampai lima kilometer dari exit terlihat jalan tol yang belum selesai. Mobil kami dapat izin khusus masuk tol lewat akses sudetan.

Jalan tol ini unik: ada dua jembatan melintang yang di atasnya ditumbuhi rumput yang lebat.

“Itu jembatan penyeberangan satwa,” ujar Rizal Effendy yang menemani saya.


Jembatan satwa di tol IKN.–

Anda sudah tahu siapa Rizal. Ia wali kota Balilpapan dua periode yang sangat populer. Sebelum itu Rizal menjabat wakil wali kota –sebelumnya lagi pemimpin redaksi Kaltim Post.

Saya pun melihat kanan-kiri tol. Memang masih hutan. Di kawasan itu program penyelamatan orang utan dilakukan. Anda sudah tahu proyek itu: dimulai di zaman Orde Baru. Selain orang utan, juga ada satwa endemik Kalimantan lainnya: rusa, beruang madu, bekantan, dan macan dahan.

Sampai melewati kolong jembatan satwa kedua saya tidak melihat ada orang utan yang menyeberang jembatan. Mungkin karena saya lewat di situ di saat jam makan siang.

Setelah jembatan satwa jalan tol sampai ke jembatan panjang. Kembar. Indah. Terlihat dari jauh. Saya ingin memotret jembatan itu. Tunggu. Biar posisi mobil lebih dekat jembatan.

Ups….tidak bisa memotret. Terhalang bangunan loket tol. Sudah pasti: loket tol itu seharusnya tidak boleh dibangun di situ. Kasihan indahnya arsitektur jembatan. Itulah jembatan Sungai Balang.

Sebetulnya itu bukan sungai. Itu teluk yang amat dalam: Teluk Balikpapan. Memang ada sungai pendek di ‘tenggorokan’ teluk itu: sungai Balang. Tapi saya pilih menyebut air di bawah jembatan itu tenggorokannya Teluk Balikpapan.

Tidak jauh dari jembatan itu kami harus keluar tol. Di depan sana jalan tolnya belum dibangun. Kami pun kembali ke jalan raya yang lama. IKN tidak terlalu jauh dari situ: setengah jam lagi kami sampai.

“Di mana pohon yang pernah minum air seni saya dulu?”

“Kawasan itu sudah jadi gedung kantor pusat otorita IKN,” ujar Rizal yang kala itu juga menemani saya ke IKN.

Dari jauh memang terlihat bangunan modern di puncak gundukan bukit. Di situlah Ketua Otorita IKN Basuki Hadimuljono, berkantor.

“Kita lihat istana dulu, makan siang dulu, atau ke masjid dulu?” tanya saya.

“Ke masjid,” jawab Rizal.

Maka di persimpangan sebelum kantor pusat itu kami belok kanan. Jalannya bagus. Dua jalur dua lajur. Mulus. Kanan kiri jalan masih gersang.

Tak lama kemudian terlihatlah Masjid Negara. Menaranya satu: lambang keesaan. Juga lambang penghematan.

Kami salat duhur. Di lantai satu. Masjidnya sendiri di lantai tiga. Masjid ini seperti jalan tol: dibuka saat Idulfitri, ditutup lagi setelahnya.

“Waktu Idulfitri saya salat di masjid ini,” ujar Rizal.

“Berangkat dari Balikpapan jam berapa?”

“Jam empat pagi,” jawabnya.

Resminya Masjid Negara itu berkapasitas 60.000 orang. Sedikit di bawah Istiqlal Jakarta. Tapi saya tidak percaya itu. Rasanya maksimal hanya bisa untuk salat 6.000 orang. Entah kelak –kalau, misalnya, diperluas.

Lantaran masjid di lantai tiga masih diperbaiki, kami salat duhur di lantai dasar. Karpet dan mihrabnya dibuat seperti masjid permanen. Padahal lantai dasar itu awalnya untuk ruang serbaguna –misalnya untuk kawinan atau seminar besar.

Rasanya perbaikan masjid ini memakan waktu lama. Perkiraan saya sendiri akan memakan waktu dua tahun: kalau hasilnya mau bagus. Perbaikannya pun harus total. Utamanya finishingnya. Agar tidak lagi kasar seperti bangunan asal-asalan.

Pun tempat wudunya. Sangat tidak mencerminkan Masjid Negara.

Tempat wudunya jangan dibandingkan dengan Masjid Jokowi di Solo –yang dibangun dengan dana dari Sultan Mohamed bin Zayed Al Nahyan (MBZ), presiden Uni Emirat Arab.

Jaraknya langit dan bumi –mungkin lebih jauh lagi: langit dan sumur.

Apalagi kalau dibandingkan dengan Masjid Al Jabbar di Jabar –tepatnya di Bandung. Kalah jauh. Jangan-jangan kalah juga dibanding Masjid Raya di Islamic Center Samarinda.

Mungkin setelah perbaikan kelak akan berubah total. Mungkin juga tidak. Dengan begini saja sudah banyak pengunjung yang puas –karena mungkin belum pernah melihat Masjid Jokowi di Solo.

“Sebagai orang yang merancang masjid itu apakah Anda tidak ikut mengawasi finishing-nya?,” tanya saya pada Nyoman Nuarta, arsitek yang juga memenangkan desain Istana Garuda IKN.

“Parah,” jawab Nyoman Nuarta. Rupanya ia juga sangat tidak.puas. “Saya tidak ikut mengawasi,” tambahnya.

Sebenarnya ini salah saya: mengapa ke IKN sekarang. Tidak, misalnya, tiga tahun lagi, setelah perbaikan dilakukan.

Setelah salat duhur saya disapa lima anak muda bersorban rapi dan bersih. Mereka adalah imam dan khotib Masjid Negara. Ada yang dari Istiqlal Jakarta, ada juga yang dari Balikpapan dan Makassar. Mereka lolos seleksi yang dilakukan di Istiqlal.

“Itu bangunan apa?” tanya saya saat melihat-lihat belakang masjid.

“Itu gereja Katolik,” ujar seorang petugas masjid. Tidak ada yang istimewa. “Tapi kalau dilihat dari atas berbentuk salib,” katanya.

Gereja ini juga baru sekali dipakai misa –dalam rangkaian Paskah kemarin.

Kelak akan dibangun juga gereja Protestan, vihara Buddha, klenteng Konghucu, dan pura Hindu. Semua di satu kawasan seluas 36 hektare ini.

Masjid Negara kelihatannya dikerjakan dengan cara ”kejar tayang”. Tapi salat di situ atau di masjid MBZ maupun di Masjid Al Jabbar sebenarnya sama saja: sama-sama jauh dari langit.(Dahlan Iskan)

Tags: Catatan DahlanDahlan IskanDiswayharian diswayIKNkaltimLangit Sumur

Related Posts

--

Sel Janin

Monday, 15 June 2026
--

Bagi Hasil

Monday, 15 June 2026
Ilustrasi pertaruhan masa depan ekonomi Indonesia di antara berbagai sistem ekonomi.--

Perjudian Besar

Wednesday, 10 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026
--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Lewat Pasrah

Lewat Pasrah

Saturday, 6 June 2026
Next Post
Tiba di Gorontalo, Kajati Baru Disambut Adat Mopotilolo, Gubernur Gusnar Terlihat Mendampingi

Tiba di Gorontalo, Kajati Baru Disambut Adat Mopotilolo, Gubernur Gusnar Terlihat Mendampingi

Discussion about this post

Rekomendasi

Polda Gorontalo akan memperketat pengamanan di wilayah, jelang pelaksanaan kegiatan PENAS Petani Nelayan ke-XVII.

Polda Gorontalo Perketat Pengamanan Daerah

Wednesday, 17 June 2026
Perwakilan ahli waris Kisman Tilameo saat menyampaikan dua tuntutan ke Walikota Adhan Dambea terkait pemindahan pekuburan di eks Terminal 42 Andalas. Tuntutan itu disampaikan saat Rakor dan diskusi bersama para ahli waris di Aula Rumah Jabatan Walikota Gorontalo, Selasa (16/6/2026). (Foto: Istimewa).

Dua Tuntutan Ahli Waris ke Walikota, Terkait Pemindahan Makam di Eks Terminal 42

Wednesday, 17 June 2026
SENSUS EKONOMI- Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyematkan tanda pengenal petugas lapangan Sensus Ekonomi 2026 pada apel siaga di halaman rumah jabatan gubernur, Senin (15/6). ( Foto : Dok-Pemprov/Valen)

Gubernur Gorontalo Ajak Warga Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Wednesday, 17 June 2026
Dua lokasi dijadikan Rest Area di wilayah Pohuwato, menjelang pelaksanaan Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XVII tahun 2026.

Jelang PENAS, Dua Lokasi Dijadikan Rest Area di Pohuwato

Wednesday, 17 June 2026

Pos Populer

  • Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

    Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

    23 shares
    Share 9 Tweet 6
  • Dukung Edukasi Jurnalis dan Pelajar, Dirreskrimsus Polda Gorontalo Kupas Tuntas UU ITE dan Hak Cipta

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

    40 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Polda Gorontalo Perketat Pengamanan Daerah

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Dua Tuntutan Ahli Waris ke Walikota, Terkait Pemindahan Makam di Eks Terminal 42

    127 shares
    Share 51 Tweet 32
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.