logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Generasi (Perempuan) Gorontalo

Lukman Husain by Lukman Husain
Thursday, 30 April 2026
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Dampak Krisis Energi Global Akibat Konflik Timur Tengah 

Gubernur Hebat yang Sebenarnya    

Adaptasi Kurikulum dan Manajemen Pembelajaran untuk Menyiapkan Lulusan yang Kompeten Menghadapi Dinamika Politik dan Ekonomi Global  

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

oleh:
Basri Amin

PADA tahun 1932, sekelompok Perempuan di Kwandang sudah mendeklarasikan sebuah organisasi pendidikan modern bernama “Perkumpulan Budi Kemuliaan Kwandang”. Mereka mendirikan sekolah terbaik di masa itu. Perempuan hebat di Kwandang 1930-an itu, antara lain: Boki Wartabone, Oe Uno, M. Doenggio, T. Hadjoe, N. Goesasi, dll.

Sebelumnya, Rekso-Soerjo Instituut juga sudah berdiri di Kota Gorontalo (1930). Mereka semuanya menggerakkan pendidikan! Mereka adalah Rekso-Soemitro, Drajat, J. Otoloewa, Dj. Monoarfa, H. Nasiboe, H. Laya, Z. Dungga, dll.

Kamajuan Gorontalo, sejak awal, tertempa dari perjumpaan aspirasi dan dedikasi antar bangsa.

Di zaman 1920-an, tercatat bagaimana K.H. Jauw, seorang pemuda-peranakan Tionghoa Gorontalo, berhasil membebaskan kliennya (Al Hasni) di pengadilan atas sebuah dakwaan yangdi hadapan Landraad di Gorontalo, 26 Agustus 1926. Pengadilan di masa kolonial ini menerapkan hukum modern dalam menyelesaikan setiap perkara, termasuk dengan warga pribumi. Keng Hong (K.H) Jauw adalah sarjana hukum (Mr) Hukum pertama yang pernah dilahirkan Gorontalo.

Surat kabar Persaudara’an (1926) menyebut bahwa “tanah air K.H. Djauw adalah Gorontalo…”. K.H. Jauw lahir di Gorontalo 15 Mei 1895, sarjana hukum dari Amsterdam (1920-23) dan Leiden (1923-25). Beliau lama bekerja sebagai hakim pengadilan Eropa dan pengacara di Semarang, kemudian pindah ke Palembang. Menjadi calon parlemen (Baperki) pada Pemilu 1955, utusan Sumatera Selatan (Suryadinata, 1978 [1981]: 37).

Tiba di Gorontalo pada 10 Februari 1934 dari Surabaya, seorang ulama besar Sayid Salim Bin Djindan di Kota Gorontalo. Beliau diterima oleh Sayid Moehsin Alhadar, putra almarhum Mohamad Alhadar (Leutenant Arab Gorontalo). Ramai betul di hari-hari itu, tidak kurang 300 orang warga kota Gorontalo, komunitas Arab, Banjar, Bugis, yang menyambut kehadiran beliau.

Sayid Salim Bin Djindan terterima luas, banyak mengunjungi rumah-rumah bangsawan dan pemuka masyarakat Gorontalo, termasuk bersama-sama dengan Jogugu di Suwawa, Tapa, Limboto, Kwandang, dan berdakwah di tengah-tengah komunitas Matowa-Bugis dan kelompok masyarakat Arab Gorontalo. Di masjid Jami Kota Gorontalo, para ulama, Kadhi, Imam, pegawai Syara, dan warga setempat, semuanya tumpah-ruah di masjid mendengar ceramah beliau. Koran Kewadjiban (1934) memberitakan angka ribuan orang yang hadir memeriahkan kehadiran Sayid Salim Bin Djindan di Gorontalo.

Indikasi datanya cukup kuat bahwa di awal 1920an, kosmopolitanisme dan generasi terdidik awal Gorontalo pelan tapi pasti mulai terbentuk dan berperan. Untuk kebutuhan pendidikan, beberapa kota di Jawa adalah tujuan utama, antara lain Jogjakarta dan Batavia. Di antara generasi awal itu, H.B Jassin cukup unik karena mengecap pendidikannya di Balikpapan, Tondano, dan Medan (MULO). Sepanjang periode 1923-1940-an kehadiran guru-guru dari Jawa, dokter pribumi, dan organisasi Muhammadiyah berkembang arusnya ke Gorontalo, secara khusus melalui organisasi Sarikat Islam (S.I) yang intens bergerak sejak 1923.

Tanda-tanda keterpelajaran generasi awal (elite modern) Gorontalo tampak dari karakternya: nasionalis, kosmopolit, lintas wilayah, organisasi, dan ‘agamais’. Sisi lainnya, mereka mulai menggerakkan dunia tulis-menulis, beroleh dukungan percetakan (milik) peranakan Tionghoa. Harus diakui bahwa di antara mereka memang sebagiannya diwarnai percaturan “golongan” (pemahaman dan jaringan) organisasi keagamaan (Islam) di periode tersebut. Tercatatlah terbitan koran dengan edisi dan lembaran sangat terbatas, antara lain: ‘Kewadjiban Kita’ (April 1934) dan ‘Peringatan’ (Maret 1934). Tak lama berselang, terbit pula “Pelita Kaoem” yang diasuh oleh A.R. Onge (1934).

Koran “Peringatan” diterbitkan oleh percetakan asuhan Tionghoa peranakan Gorontalo, Yo Un Ann & Co. Polemik (pemahaman) keagamaan mulai terpantulkan di ruang publik di akhir 1920an, sebagaimana polemik awal terjadi antara “Peringatan” (1934) dan “Kewadjiban Kita” (1934). Di masa yang sama, Gorontalo juga memilik ruang pemberitaan yang lain –-namanya pekabaran Keng Hwa Poo, 1920-1941 (sepertinya tercetak/terbit di Manado tetapi rutin memuat berita-berita Gorontalo).

Penerbitan Gorontalo sudah tercatat jejaknya sejak tahun 1926. Terbitan dua kali sebulan, surat kabar Persaudara’an (1926), dengan tokoh-tokohnya K. Ponamon, A. Noerdin dan kalangan muda Gorontalo. Terbit di Kampung Bugis, Gorontalo. Sangat unik terbitan ini karena tegas mendeklarasikan visinya sebagai “oentoek keperloean segala bangsa dalam pergaoelan…”.

Semangat “Kota Gorontalo” dilentingkan oleh redaksi surat kabar ini dengan menyatakan diri (hendak) “menyinarkan cahaya Gorontalo dari sini kepada Asia dan Eropa….terbitan ini untuk segala bangsa…”. Redaksi surat kabar ini juga mengakui beroleh aspirasi dari surat-surat kabar di Jawa dan Sumatera dan bagaimana dinamika masyarakatnya di wilayah tersebut. Secara fisikal, surat kabar inilah yang bisa disebut sebagai terbitan pertama di Gorontalo yang berbahasa Indonesia, 1926-1927 (Lapian, 1980: 91-92).

Puncak ‘paripurna’ dari generasi terbaik-terdidik awal Gorontalo adalah ketika mereka menerbitkan Po-Noewa pada November 1932. Ini adalah “bukti terbaik” Literasi Gorontalo yang patut dikenang dan dibanggakan karena di dalamnya berisi banyak artikulasi pikiran, bacaan-bacaan, perdebatan, etika generasi, penyadaran kebangsaan, dan prosesi pendidikan yang terbuka dan kritis.

Dalam Po-Noewa, kita juga sudah bisa melihat bagaimana “Barat”, pikiran-pikiran dunia dibicarakan di Gorontalo, bahkan terbaca/tersebar sampai di Kwandang, Gorontalo Utara. Di periode ini, kehadiran tokoh-tokoh pendidikan dari Jawa, disertai kemampuan beroganisasi mereka, bersama-sama membentuk sejarah (awal) pendidikan dan nasionalisme di daerah ini.

Tercatatlah Rekso-Soerjo Instituut. Lembaga ini menggerakan hak-hak pendidikan anak-anak pribumi di Gorontalo sejak 1930-an, dengan mendirikan sejumlah kursus dan sekolah HIS. Semasa dengan ini, tercatat pula tokoh pendidikan terkenal yang jejaknya masih bisa kita saksikan hingga hari ini, yakni seorang Guru yang luhur cita-citanya, Haji Bakari (Madrasah Al-Watanijah). Di peiode ini, pendidikan di Kwandang juga mengalami pertumbuhan, dikabarkan akan berdiri sekolah “Irhamoel Baladiyah” (1934).

Tak lama setelah itu, kita juga menemukan dua orang terpelajar yang menerbitkan surat kabarnya dua kali dalam sebulan, yakni H. Mohamad dan I. Doenggio (1934). Keduanya telah membahas isu besar di Gorontalo, yakni tentang “praktik Islam” yang pemahamannya telah berlangsung berabad-abad. Beberapa penulis awal Gorontalo, tercatat: Moehamad Abdoeh dan S.M.Tahir (penulis puisi/syair).

Jejak di atas menggema pada periode panjang selanjutnya (1950-1970) di mana tekanan ekonomi, aspirasi pendidikan, pertumbuhan pemerintahan, persekolahan regional, dan jejaring keluarga Gorontalo di kota-kota utama di Indonesia berkembang. Di masa ini, kota-kota seperti Makassar, Manado, Bandung, Jakarta, Semarang, dan Surabaya menjadi “rumah harapan” bagi generasi Gorontalo. Di masa itulah pula, topangan sektor pertanian, terutama Kelapa/Kopra, berhasil menopang mobilitas tenaga kerja dan perjumpaan kewargaan di dalam Gorontalo dan di luar Gorontalo.

Kisah-kisah (generasi-Gorontalo) “merantau”, cerita naik-turun pelabuhan-pelabuhan kapal kayu/uap mewarnai nostalgia generasi-merantau tersebut. Di sisi ini, “jejaring keluarga” dan “jejaring Nusantara” membentuk pola-pola penghidupan baru bagi generasi (terbaik) Gorontalo yang buah-buahnya kita saksikan hingga hari ini.

Kini, di setiap kota besar di Indonesia dan di beberapa negeri besar di dunia,kita kinimenyasikan generasi (baru) Gorontalo dengan perannya masing-masing. Kini tantangannya adalah akan kita arahkan kemana jiwa-jiwa terbaik Gorontalo di abad ini?. ***

Penulis adalah bekerja di Universitas Negeri Gorontalo (UNG);
Pos-el: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminGenerasi (Perempuan) Gorontalospektrum sosialtulisan basri amin

Related Posts

Basri Amin

Gubernur Hebat yang Sebenarnya    

Monday, 18 May 2026
Dampak Krisis Energi Global Akibat Konflik Timur Tengah 

Dampak Krisis Energi Global Akibat Konflik Timur Tengah 

Monday, 18 May 2026
Adaptasi Kurikulum dan Manajemen Pembelajaran untuk Menyiapkan Lulusan yang Kompeten Menghadapi Dinamika Politik dan Ekonomi Global   

Adaptasi Kurikulum dan Manajemen Pembelajaran untuk Menyiapkan Lulusan yang Kompeten Menghadapi Dinamika Politik dan Ekonomi Global  

Monday, 18 May 2026
Muh. Amier Arham

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Friday, 15 May 2026
Husin Ali

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Friday, 15 May 2026
Bom Waktu di Meja Akad: Menggugat Ketidaksesuaian Nasab dan Urgensi Perlindungan Penghulu

Bom Waktu di Meja Akad: Menggugat Ketidaksesuaian Nasab dan Urgensi Perlindungan Penghulu

Tuesday, 12 May 2026
Next Post
Creative Lounge Pegadaian Hadir di UNG, Dorong Inklusi Investasi dan Ketahanan Ekonomi Generasi Muda

Creative Lounge Pegadaian Hadir di UNG, Dorong Inklusi Investasi dan Ketahanan Ekonomi Generasi Muda

Discussion about this post

Rekomendasi

Basri Amin

Gubernur Hebat yang Sebenarnya    

Monday, 18 May 2026
Dampak Krisis Energi Global Akibat Konflik Timur Tengah 

Dampak Krisis Energi Global Akibat Konflik Timur Tengah 

Monday, 18 May 2026
Adaptasi Kurikulum dan Manajemen Pembelajaran untuk Menyiapkan Lulusan yang Kompeten Menghadapi Dinamika Politik dan Ekonomi Global   

Adaptasi Kurikulum dan Manajemen Pembelajaran untuk Menyiapkan Lulusan yang Kompeten Menghadapi Dinamika Politik dan Ekonomi Global  

Monday, 18 May 2026
Jembatan Dusun Hungayo Tak Mampu Tampung Luapan Air, 14 Rumah Terendam Banjir

Jembatan Dusun Hungayo Tak Mampu Tampung Luapan Air, 14 Rumah Terendam Banjir

Friday, 15 May 2026

Pos Populer

  • Dedy S. Palyama, SE. M.Si

    Revolusi Gusnar-Idah: Gorontalo Meledak 7,68%

    68 shares
    Share 27 Tweet 17
  • Sadis! Usai Pesta Miras Seorang Pria di Popayato Arahkan Senapan Angin ke Temanya, Lalu Dor 

    77 shares
    Share 31 Tweet 19
  • Tepian Utara Nusantara (Miangas, Manado, Popayato)

    83 shares
    Share 33 Tweet 21
  • Bom Waktu di Meja Akad: Menggugat Ketidaksesuaian Nasab dan Urgensi Perlindungan Penghulu

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Pengadaan 45 Unit MacBook Deprov, Espin Tulie: Mendukung Digitalisasi

    25 shares
    Share 10 Tweet 6
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.