logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Batas-Batas Pengobatan

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 20 April 2026
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Monumental Semboyan Gizi ”Svastha Harena” Melalui ”Salam Gizi” dengan Jawaban ”Sehat Melalui Makanan”

Warisan “Portugis” di Gorontalo

Rumah Kebangsaan Cipayung Plus Gorontalo: Ruang Dialog Tanpa Barikade

Rabies: Satu Gigitan, Banyak Tanggung Jawab

oleh:
Basri Amin

 

SUATU waktu, selama beberapa hari saya mendampingi istri yang sedang memperoleh perawatan intensif di sebuah rumah sakit swasta di Gorontalo. Sebelumnya, saya juga sempat dirawat di rumah sakit ini. Delapan belas tahun lalu, putri kedua kami juga lahir di rumah sakit ini.

Kami semua merasakan puas dan merasa lega karena bisa pulih dan kembali ke rumah dalam keadaan tenang. Pembaca, tentu bukanlah sesuatu yang aneh kalau sekian lama terbentuk kesan bahwa rumah sakit ‘swasta’ menyediakan layanan dan suasana pelayanan yang lebih baik. Di balik layanan dan suasana itu tentu saja berhubungan dengan harga layanan dan fasilitas, manajemen ruang rumah sakit dan SDM yang dikondisikan sedemikian rupa untuk bermental ‘bisnis jasa.’

Sebuah kesan lama yang tak harus diterima seratus persen. Dalam soal layanan kesehatan, semua tempat sewajarnya menjadi tempat terbaik –-entah untuk pengobatan, penyembuhan, relaksasi, dst–.

Pengobatan tidak identik dengan penyembuhan dan dengan kesehatan dalam arti yang luas. Kita hendak membangun masyarakat sehat, bukan?

Catatan hari ini kembali mempercakapkan soal kesehatan. Selain karena dipicu oleh pengalaman pribadi kami beberapa hari lalu itu, juga karena memang sektor kesehatan sebagai urusan prioritas setiap individu. Di luar itu, isu kesehatan makin terlembagakan dan menjadi tema besar di negeri ini. Pembangunan kesehatan adalah isu dunia (MDGs) dan menempati level tertinggi dari tanggung jawab negara modern terhadap masyarakatnya.

Tak ada yang bisa dipisahkan dari isu kesehatan, pendidikan dan kualitas hidup masyarakat. Perbaikan keadaan-keadaan kesehatan dan infrastruktur pendukungnya adalah pilar kunci agar sebuah bangsa bisa makmur dan sejahtera. Masalah pokoknya adalah belum semua masyarakat beroleh akses yang ‘sama’ dalam pelayanan kesehatan terbaik; dan belum semua wilayah di negeri ini mempunyai infrastruktur kesehatan memadai.

Di alam nyata, kita tak bisa menyulap perbaikan kesehatan dengan mudah. “Kesehatan mencerminkan suatu proses dimana setiap orang mempunyai tanggung jawab,” demikian penjelasan Ivan Illich, kritikus kesehatan terkenal melalui bukunya Limits to Medicine (1976) –diterjemahkan setidaknya dalam 15 bahasa—dan sudah menjadi bacaan luas di Indonesia sejak tahun 1995. Kalau kita merujuk pandangan Illich, cukup jelas bahwa kesehatan berada dalam dua lilitan orientasi yang terkadang bergerak terpisah, yakni antara arah yang menekankan pada pengobatan (medicalization) dan arah lain –yang lebih otentik– bernama penyembuhan (health-care).

Kalau kita lihat bahwa rumah sakit belakangan ini terlihat ramai dengan pasien dan praktik pengobatan dan layanan kesehatan lainnya, itu tak serta merta layak dipahami sebagai tolok ukur bahwa pembangunan kesehatan kita makin baik. Demikian juga kalau kita lihat bagaimana apotik dan tempat praktik dokter makin ramai dikunjungi pasien, itu juga tak otomatis sebagai pertanda kesadaran kesehatan kita makin baik. Banyak orang yang menerima resep dokter bukan hanya dengan harapan (kesembuhan), tapi juga dengan beban (pembayaran) yang tak terkira.

Puluhan tahun lalu badan kesehatan dunia (WHO) sudah mendaftar lebih 200 jenis penyakit, terutama penyakit yang muncul melalui interaksi manusia dengan lingkungan dan melalui itulah hampir semua penyakit berhubungan dengan peran bakteri, virus, parasit, jamur dan sebab-sebab lain yang non-konvensional lainnya.

Di negeri ini perkembangan layanan kesehatan makin baik meskipun tentu saja kita masih harus bertanya tentang “mutu kesehatan” kita. Ketika sistem BPJS-Kesehatan mulai bekerja, ratusan diagnosa penyakit yang (harus) memperoleh layanan primer. Sebagai pemegang ASKES/BPJS, istri saya beroleh manfaat layanan dengan sistem BPJS ketika ia keluar dari rumah sakit dengan standar “Kelas I.”

Kesehatan amat ditentukan oleh kondisi lingkungan, level pendidikan dan kondisi ekonomi. Laporan kondisi awal dunia berkembang yang ditulis Paul Harrison, Inside the Third World (1981) telah menunjukkan bagaimana kemiskinan dan rapuhnya daya-dukung lingkungan berupa sanitasi dan air bersih menjadi sebab meluasnya penyakit menular.

Untuk kita di Indonesia, dari banyak laporan yang kita baca dan dengar, yang terjadi tahun-tahun terakhir ini adalah berkurangnya penyakit menular tapi makin membesarnya penyakit yang berhubungan dengan pola makanan dan gaya hidup. Kita harus membentuk sikap-sikap terdidik dalam soal makanan, gaya hidup dan pengelolaan lingkungan. Demikian juga dalam hal promosi kesehatan dan bentuk-bentuk prevensi penyakit.

Kita tak bisa pungkiri bahwa tenaga medis dan fasilitas kesehatan menentukan mutu layanan kesehatan. Tak heran kalau ada ungkapan bahwa investasi terbaik kita dalam pendidikan kedokteran, keperawatan/kebidanan dan kesehatan masyarakat yang disertasi dengan perbaikan mutu rumah sakit, sama artinya dengan “menyelamatkan” ribuan nyawa penduduk.

Tetapi kita jangan lupakan bahwa kesehatan adalah juga industri besar.

Ada kepentingan yang tak bisa ditutupi begitu saja. Kepentingan ekonomi di sektor kesehatan pun makin mengakar: industri farmasi/obat-obatan, pendidikan medis, jasa laboratorium, jasa layanan kesehatan, pengadaan peralatan, asuransi kesehatan, dst. Itulah sebabnya, dalam keadaan apapun kesehatan harus kita bahas nilai-nilainya, bukan semata soal medisnya. Ini makin kompleks karena makin tertanam di benak masyarakat kita bahwa kesehatan sangat identik dengan “obat” dan “tangan tenaga medis.”

Untuk bisa sehat, yang harus ditanamkan pertama adalah sikap “tanggung jawab”. Suatu sikap dimana kita sebagai manusia harus “otonom” dalam menentukan tanggung jawab untuk kebiasaan-kebiasaan sehat dan mewujudkan lingkungan sosio-biologis yang sehat pula. Kita butuh basis budaya sehat yang stabil. Tegasnya, “kesehatan mencerminkan kesanggupan untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, terhadap pertumbuhan dan penuaan, terhadap kesembuhan dan kerusakan, terhadap penderitaan dan terhadap kepastian kematian dengan damai. Kesehatan juga meliputi masa depan, karena itu termasuk pula di dalamnya rasa duka dan sumberdaya internal untuk hidup dengan rasa duka tersebut” (1995: 309-311). Jika demikian, sesungguhnya tidak ada kesehatan yang “gratis”.

Kesehatan membutuhkan biaya besar, terutama sebagai sebuah kegiatan investasi dan intervensi guna merasakan sebuah kehidupan yang seimbang, mampu menyesali kesalahan dan bisa sembuh, sadar untuk menikmati, berdamai, lebih peduli dan bisa bersyukur. ***

Penulis adalah bekerja di Universitas Negeri Gorontalo
Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminspektrum sosialtulisan basri amin

Related Posts

Dr. Arifasno Napu

Monumental Semboyan Gizi ”Svastha Harena” Melalui ”Salam Gizi” dengan Jawaban ”Sehat Melalui Makanan”

Tuesday, 6 October 2026
Muchlis Huntua

Rumah Kebangsaan Cipayung Plus Gorontalo: Ruang Dialog Tanpa Barikade

Monday, 5 October 2026
Basri Amin

Warisan “Portugis” di Gorontalo

Monday, 5 October 2026
Salam Gizi! Yth, Presiden RI Jenderal (Pur.TNI) Prabowo Subianto 

Ilmiahkan Bid’ah Tentang Makanan Tradisional dan Ramuan Obat Berkhasiat 

Thursday, 1 October 2026
Rabies: Satu Gigitan, Banyak Tanggung Jawab

Rabies: Satu Gigitan, Banyak Tanggung Jawab

Wednesday, 30 September 2026
Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi (Bukan) Kewajiban Negara

Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi (Bukan) Kewajiban Negara

Tuesday, 29 September 2026
Next Post
Gubernur Gusnar Ismail bersama Wagub Idah Syahidah Rusli Habibie menghadiri rapat konsolidasi dengan UPT Kemendikdasmen di aula BPMP Provinsi Gorontalo, Jumat (17/4). (Foto : Haris/diskominfotik)

Gubernur - Wakil Gubernur Hadiri Rapat Konsolidasi UPT Kemendikdasmen di Gorontalo

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Mohamad Reza, Putra Gorontalo Terpilih Jabat Dewas RRI 

Mohamad Reza, Putra Gorontalo Terpilih Jabat Dewas RRI 

Thursday, 8 October 2026
Kompeten! OJK Setujui Rania Riris Ismail Jadi Komisaris BSG

Kompeten! OJK Setujui Rania Riris Ismail Jadi Komisaris BSG

Thursday, 8 October 2026
Basri Amin

Warisan “Portugis” di Gorontalo

Monday, 5 October 2026
Kursi Direktur RS Ainun Segera Diisi Plt

Kursi Direktur RS Ainun Segera Diisi Plt

Thursday, 8 October 2026

Pos Populer

  • Sehari Jadi Kapolri, Jenderal Suyudi Mutasi 19 Kapolda, Gorontalo Ikut Berganti

    Sehari Jadi Kapolri, Jenderal Suyudi Mutasi 19 Kapolda, Gorontalo Ikut Berganti

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Mohamad Reza, Putra Gorontalo Terpilih Jabat Dewas RRI 

    88 shares
    Share 35 Tweet 22
  • Warisan “Portugis” di Gorontalo

    72 shares
    Share 29 Tweet 18
  • Usai Mopotilolo, Irjen Pol Nurworo Danang Disambut Pedang Pora di Mapolda Gorontalo 

    60 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Polda Gorontalo Sita Emas dan Merkuri di Lokasi PETI, Dua Orang Jadi Tersangka

    71 shares
    Share 28 Tweet 18
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.