Gorontalopost.id – Warga Kota Gorontalo tumpah ke jalan, di kawasan pusat kota, Ahad (3/4) dini hari. Tengah malam itu, mereka berkumpul di depan rumah jabatan Gubernur, kompleks lapangan taruna remaja, Kota Gorontalo. Warga Kota Gorontalo ini kebanyakan datang dari Kelurahan Tenda, kelurahan Talumolo, dan Kelurahan Kampung Bugis.
Mereka sangat ramai, bahkan saling berdesak-desakan, sebagian juga tak menggunakan masker. Sebuah mobil tronton disiapkan, lengkap dengan muatan soundsystem jumbo.
Lagu-lagu religi dinyanykan bersama-sama. Uniknya, banyak warga yang membawa pentungan bambu. Mereka memaiknanya bersama-sama.
Ketukan pada kentongan bambu itu dimulai dari ketukan Gubenur Gorontalo Rusli Habibie. Ini adalah tradisi kokoo, tradisi membangunkan sahur pada ramadan pertama dengan cara keliling kota, sambil memukul kontongan.
Usai dilepas Gubernur Rusli Habibie, warga kemudian bergerak keliling kota. Mirip pawai, bahkan lebih meriah dari pawai. Ada yang jalan kaki, naik motor dengan knalpot bising, bentor, hingga mobil.
“Ini tradisi sudah turun temurun. Tapi kita ketahui bersama bahwa acara seperti ini sejak dua tahun lalu sempat tidak dilaksanakan secara meriah, karena situasi pandemi covid-19. Malam ini dilaksanakan lagi tradisi seperti ini, saya senang, saya bahagia,” kata Rusli Habibie.
Kokoo lebih terlihat ramai, sebab tradisi ini absen dalam dua tahun terakhir, atau karena adanya pandemi Covid-19.
“Kita patut mensyukuri nikmat ini bahwa kita masih dipertemukan dengan puasa Ramadhan 1443 H. Mari kita jaga terus tradisi ketuk sahur yang dilaksanakan oleh masyarakat saya di kelurahan Tenda, Kampung Bugis dan Talumolo.
Kebetulan saya sudah menjadi penduduk kampung tenda, jadi saya harus ikut serta. Saya lihat persiapan ini sangat maksimal, semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua,” ucap Rusli.
Hal senada juga disampaikan Fikram Salilama, tokoh masyarakat Kota Gorontalo yang juga anggota DPRD Provinsi Gorontalo.
Ia mengatakan, ketuk sahur ini menyampaikan sejarah tradisi ketuk sahur sudah dilaksanakan sejak dahulu kala. Tradisi ini harus terus dibudayakan, karena menjadi ciri khas tersendiri bagi warga Kelurahan Tenda, Kampung Bugis dan sekitarnya.
“Tradisi ini sudah menjadi turun-temurun, bahkan pada tahun 70-an, saya sudah melakukan kegiatan seperti ini,” ungkap Fikram. (tro)










Discussion about this post