logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Pesanggrahan Djoyoadhiningrat

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Tuesday, 21 December 2021
in Disway
0
Pesanggrahan Djoyoadhiningrat
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

 

Oleh
Dahlan Iskan

 

———————

Related Post

Perjudian Besar

Kanan Dalam

Neo Pop

Lewat Pasrah

 

ANDA sudah tahu: saya ke makam RA Kartini. Kapan itu. Saya hanya mengantarkan istri ke situ. Juga istri teman-teman istri saya. Sekalian menebus dosa: sudah ke berbagai penjuru dunia kok belum ke Ibu Kita Kartini.

Makam itu tidak seperti yang saya bayangkan: ternyata masih jauh dari kota Rembang. Hampir satu jam –di senja hari yang hujan tanggal 22 November lalu.

Mungkin saya tidak akan sampai ke makam itu kalau tidak dalam perjalanan dari Blora ke Rembang –menuju Pati. Bahkan, kalau di peta, letak makam itu masih sedikit lebih dekat ke kota Blora daripada ke Rembang. Dan memang begitu kenyataannya.

Posisi makam itu nyaman. Posisinya di sebelah kiri jalan raya dua arah Blora-Rembang. Agak masuk ke dalam –sedikit membukit. Jalan masuk itu dua lajur –yang ada taman di tengahnya.

Saya tinggalkan istri saya berlama-lama di makam itu. Saya tertarik pada satu rumah di jarak sekitar 100 meter dari makam. Hanya ada jalan setapak menuju rumah itu. Melewati kebun jagung yang belum tinggi.

Suasana sepi. Senja. Tidak ada orang di kebun. Tidak ada suara orang di rumah itu. Jalan setapak itu melewati samping rumah. Sepi. Saya pun menuju depan rumah. Sepi. Saya masuk ke beranda. Sepi. Saya melongok ke dalam sambil mengucap salam.

Ternyata ada satu orang lelaki di dalam rumah itu. Sendirian. Gagah. Berdahi lebar. Berkumis. Berjenggot. Berkaus oblong hijau.

Saya pun minta maaf karena lancang memasuki rumah itu. Kalau di Amerika ulah saya itu bisa jadi perkara pidana. Bahkan bisa ditembak.

Beliau tidak marah. Beliau ramah. Saya pun memperkenalkan diri. Beliau terlihat seperti mengenal nama saya. Saya pun dipersilakan duduk.

Ngobrol.

Namanya: Goenadi. Lengkapnya: Goenadi Siswanto Djoyoadhiningrat.

Ia adalah cucu secara tidak langsung RA Kartini. Zaman itu poligami sangat lazim. Sehingga ada istilah keturunan langsung dan tidak langsung.

RA Kartini sendiri adalah istri keempat dari Bupati Rembang, Sosroningrat. Kartini sangat keberatan pada awalnya. Hanya berkat diberi konsesi khusus dia akhirnya mau jadi istri keempat. Konsesi itu: Kartini boleh membuka sekolah untuk perempuan di Rembang. Bahkan diberi tempat di sebuah ruangan di bagian timur kantor bupati Rembang.

Setahun kemudian Kartini melahirkan anak laki-laki: Soesalit Djojoadhiningrat. Itulah satu-satunya anak Kartini. Tidak lama setelah melahirkan itu Kartini meninggal dunia. Sekolah pun diteruskan oleh kakak perempuannyi.

Kelak, Soesalit menjadi petinggi tentara dengan pangkat Mayor Jenderal. Jabatannya: Panglima Devisi Diponegoro. Itulah kakek Goenadi. “Waktu eyang Soesalit meninggal, saya masih kecil. Tapi saya ingat kami semua diajak ke Semarang,” katanya. “Kami ingat ada parade militer menuju pemakaman,” tambahnya. Putra tunggal Kartini ini dimakamkan di satu cungkup besar bersama RA Kartini. Di situ jugalah makam ayah ibu Kartini.

Kartini sendiri lahir sebagai anak Bupati Jepara, di tahun 1879 –meninggal di Rembang 1904.

Tadi malam saya menelepon kembali Goenadi. Ia masih tinggal di Pasanggrahan itu. Berarti sudah 4 bulan Goenadi jadi orang di desa pedalaman Rembang. Sendirian di situ. Istri dan 3 anaknya masih di New York –terpisah oleh pandemi.

Goenadi adalah warga baru di Rembang. Selama ini, selama 47 tahun, ia tinggal di New York, Amerika Serikat.

Goenadi ke Amerika diajak pamannya yang bekerja di sana. Yakni sebagai pegawai Bank Indonesia di New York. Waktu itu ia baru tamat SMAN 1 Solo.

Di New York, Goenadi akhirnya mendapat pekerjaan sebagai pegawai di kantor pemerintahan Italia di sana. Tapi istrinya tetap orang Indonesia, asal Medan. Keluarga ini bertekad untuk kembali ke Indonesia di hari tua mereka.

Ketika saya telepon tadi malam, Goenadi seperti tidak lagi sendirian. Ada suara orang lain di Pesanggrahan itu.

“Tidak sendiri lagi?” tanya saya.

“Tidak. Ini ada kakak saya yang lagi menengok saya,” jawabnya.

Itulah Hudoyo Djoyoadhiningrat. Tinggal di Jakarta. Pensiunan pegawai Dana Pensiun Bank Indonesia yang ditugaskan di gedung Bidakara. “Sudah seminggu ini saya menemani adik saya di sini,” kata Hudoyo.

“Hahaha dua-duanya laki-laki. Bagaimana makannya?” tanya saya.

“Adik saya di Amerika kan masak sendiri. Ini ia juga lagi masak” katanya.

Hudoyo ternyata bukan hanya kakak. Hudoyo adalah juga ketua keluarga besar Djoyoadhiningrat. Yang pengurusnya 23 orang.

“Berapa anggota keluarga besar Djoyoadhiningrat sekarang?”

“Kalau anggotanya sekitar 5.000 orang,” ujar Hudoyo.

Berarti sudah seminggu juga Goenadi berhenti melukis. Waktu saya ke Pesanggrahan itu Goenadi lagi asyik melukis. Sudah enam lukisan pemandangan yang hampir selesai. Awalnya saya hanya ke makam Kartini, tidak menyangka bisa bertemu Goenadi. (Dahlan Iskan)

 

Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

Tags: Catatan DahlanDahlan IskanDiswayPesanggrahan Djoyoadhiningrat

Related Posts

Ilustrasi pertaruhan masa depan ekonomi Indonesia di antara berbagai sistem ekonomi.--

Perjudian Besar

Wednesday, 10 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026
--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Lewat Pasrah

Lewat Pasrah

Saturday, 6 June 2026
--

Agus Deyang

Thursday, 4 June 2026
Bambang, tengah, usai makan malam.--

Jago Cimory

Thursday, 4 June 2026
Next Post
1,6 Juta PNS Terancam ‘Dirumahkan’, Menpan Sebutkan Tenaga Administrasi Mulai Ditata

1,6 Juta PNS Terancam 'Dirumahkan', Menpan Sebutkan Tenaga Administrasi Mulai Ditata

Discussion about this post

Rekomendasi

Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

Saturday, 13 June 2026
Ridwan Monoarfa

Berpikir Strategis di Tengah Dunia yang Bergejolak: Refleksi Pembangunan Gorontalo

Saturday, 13 June 2026
Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Friday, 12 June 2026
Hendri Cahyo Dwi Safitri

Kebangkitan Ekonomi Gorontalo

Friday, 12 June 2026

Pos Populer

  • PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    55 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

    37 shares
    Share 15 Tweet 9
  • Antusias Ikut PENAS XVII Gorontalo, Kontingen Jambi Tempuh Jalur Darat dan Laut

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
  • Harga Pertamax Naik

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.