logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

PPKM Tiga

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Tuesday, 14 December 2021
in Disway
0
PPKM Tiga
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh
DahlanIskan

—————————————

 

“Mencla-mencle,” kata yang sinis.

“Fleksibel,” kata yang memuji.

Related Post

Perjudian Besar

Kanan Dalam

Neo Pop

Lewat Pasrah

Ada lagi.

“Kaku,” kata yang sinis.

“Tegas,” kata yang bersimpati.

Cukup dulu.

Terlalu banyak contoh: satu objek bisa digoreng ke arah mana pun –sampai ada yang melucu, itulah yang membuat harga minyak goreng meroket belakangan ini.

Beda dengan PPKM level 3 akhir tahun ini. Yang sudah dibatalkan itu. Lalu disempurnakan lagi itu. Tidak ada yang menilai itu sebagai  mencla-mencle. Hampir semua mendukung: bagus, sudah tepat, terima kasih.

Kita rupanya memang harus biasa membedakan mana janji dan mana program. Janji harus ditepati. Program bisa berubah mendadak.

Biasa membedakan mana janji dan mana program bisa sedikit mengurangi kebisingan politik. Tidak semua yang tidak jadi dilaksanakan dikecam sebagai ingkar janji.

Mengapa tidak ada penilaian mencla-mencle di PPKM3 akhir tahun?

Sebuah program tentu didasarkan pada asumsi. Asumsi bersandar pada data atau hipotesis.

Data menunjukkan: setiap liburan serentak, menyebabkan naiknya kasus Covid-19. Data juga menunjukkan munculnya varian baru: Omicron. Dua-duanya menyatu di akhir tahun ini.

Maka wajar kalau diprogramkan PPKM3 di liburan akhir tahun.

Tapi tiga minggu setelah lahirnya Omicron ternyata dunia baik-baik saja. Memang, di Afrika Selatan –awal ditemukannya Omicron– terjadi kenaikan kasus secara drastis. Dari awal bulan lalu 2.000 sehari, menjadi 4000, 8000, 12.000, turun sedikit, dan menjadi 18.000 dua hari lalu. Tapi jumlah kematian akibat Omicron tetap kecil.

Itulah sebabnya saya suka dengan logika yang dikemukakan peneliti virus Protokol Rakyat: sepanjang namanya masih Covid-19, varian apa pun, tingkat kematiannya tetap sekitar 2 persen.

Itu sudah terbukti. Lalu menjadi data baru.

Di Indonesia, Anda sudah tahu, ada juga berita kedatangan Omicron di sini. Tapi tidak sampai membuat heboh.

Maka diputuskanlah: PPKM level 3 dibatalkan. Lalu disusul keputusan baru: disesuaikan dengan kondisi es-es –”sesaat setempat”.

Semua lega.

Tiba-tiba saja perpecahan di NU berakhir. Yang awalnya gegeran menjadi ger-ger-an. Pertengkaran pun berakhir: Muktamar ke 34 tetap seperti rencana semula: 23 sampai 25 Desember 2021. Tetap pula di Lampung.

Kubu yang ngotot minta dimajukan ke 17 Desember seperti kertas kena cendol. Kubu yang minta dimundurkan ibarat benang kena dawet.

Selamat bermuktamar tanpa kena PPKM.

InulDaratista juga tidak jadi sewot. Dia sudah telanjur kirim WA panjang ke saya: curhat mengenai nasib 100 lebih karaoke keluarga miliknyi. Yang baru sebulan lalu boleh dibuka. Dengan protokol kesehatan karaoke yang khas Inul: begitu masuk tidak boleh keluar masuk.

Inul punya lebih 2.000 karyawan. Semua harus hidup. Baru saja mereka terasa bisa bernapas lagi. Setelah lebih satu tahun kehilangan pekerjaan.

Saya menjadi sering bertemu Inul. Terutama setelah tahu bahwa resto Korean food, Yongdaeri, itu ternyata miliknyi. Yang di dekat rumah saya di SCBD Jakarta itu. Masih empat lokasi lagi Korean food yang dimilikinyi.

Super Air Jet juga akan terus take off. Di tengah kesulitan Garuda dan Air Asia, Lion Group justru meluncurkan perusahaan penerbangan baru: Super Air Jet.

Dalam sekejap sudah punya delapan rute. Dan akan bertambah terus: sampai 40 rute. Pangsa pasarnya: anak muda millennial–meski teman saya yang mulai tua juga mencobanya.

Rupanya pangsa pasar Citilink dan Air Asia akan direbutnya. Lihatlah seragam dan penampilan pramugarinya: sangat masa kini.

Bali sudah pasti horeee. Apalagi, sampai sekarang ini belum juga ada penerbangan asing yang membawa turis ke Bali. Padahal sudah dua bulan dibuka untuk mereka.

Sampai-sampai ada usul unik untuk Bali: bubble management. Khususnya untuk turis yang terkoordinasi dalam satu grup.

Grup turis itu akan ditangani seolah-olah dimasukkan dalam satu balon raksasa. Mereka tetap berada di dalam balon itu selama di Bali. Balon itu bisa ke mana-mana. Tidak terinteraksi dengan orang di luar balon.

Tentu itu bukan balon sungguhan. Artinya: mereka terus bersama satu grup selama di Bali. Di satu hotel, di satu restoran, di satu bagian pantai, di satu bar.

Itu memerlukan kecanggihan manajemen. Tapi bukan hil yang mustahal. Paket turis ”bubble management” akan bisa menghidupkan Bali.

Lantas di mana letak kebijakan akhir tahun ”sesaat setempatnya”?

Itu lebih diserahkan kepada masing-masing daerah. Terutama daerah yang punya tujuan wisata. Bisa jadi arus kendaraan ke Puncak akan dikendalikan. Demikian juga kendaraan ke Bandung. Atau ke Batu dan Malang. Ke Tretes dan Pacet di gunung Penanggungan. Juga di tempat sejenis di Jateng.

Kelihatannya aturan mobil ganjil-genap akan diperlakukan ke kawasan-kawasan wisata itu. Kalau tidak memang bisa dibayangkan: betapa macetnya.

Sudah dua tahun nafsu itu tertahan. Bisa tiba-tiba meledak.

Tiga hari di Jakarta ini saya merasakan betapa kemacetan sudah mulai normal. Dari Rojo Duren di Kelapa Gading ke SCBD di Jaksel sudah kembali ke hampir dua jam.

Saya pun, menghadapi akhir tahun, mengecek kondisi tubuh: antibodi 520. Level vitamin D, 71. Kolesterol normal. Tekanan darah normal. Fungsi hati sangat baik. Hanya D-Dimer tetap saja: 2060.(*)


Anda bisa menanggapi tulisan Dahlan Iskan dengan berkomentar http://disway.id/. Setiap hari Dahlan Iskan akan memilih langsung komentar terbaik untuk ditampilkan di Disway.

Komentar Pilihan Disway*
Edisi 9/12: Bahasa Teknik

 

UdinSalemo

selamat siang pak Jo. Sehat dan sukses selalu.

 

Kawulo Alit

Alhmdulillah.. Guberner Jakarta : ini hasil dr kerja kita semua  Kadrun : goodbenernihCebong : gakbenerbenernih Insinyur : luar biasa Presiden wakanda : ……… (Ga tahu belia komen apa, takut salah nebakntar masuk bui) Artis istagram : wah istagramambleYutuber : mantabnih buat konten Alumni 212 : mudah mudahan bisa reuni di sana Peseakbola : yuk nendang di sana Pencari kerja : wah ini lowongan Ojol : asyik rute job menanti Yah nmnya manusia, beda kepala beda pola pikir.. Semoga Tuhan anugrahi Indonesia dengan hal hal semacam ini

 

Co Ba

Politikus kok bayar… politikus itu nadahin bayaran.

 

Komentator Spesialis

Sales : Bisa nanti diusahakan Teknisi : Dihitung dulu apakah bisa. Politikus : Bayar dulu, bisa

 

Ribut WahyudiSukiran

Sekedar info, pekerjaaan lifting atap besar seperti seperti stadion Jakarta, setahu saya pernah dilakukan di Indonesia / Jakarta. Proyek pembangunan hanggar 1 milik GMF anak usaha Garuda seluas 300 x 80  M ( ?), atap nya juga di ‘lifting” setelah ter rakit utuh di bawah. Kontraktor pelaksananya Hutama karya – Takenakakomuten JO, di sekitar tahun 1988.

 

Jo Neka

Bahasa teknik mampu menyatukan para insinyur dari berbagai almamater..Tetapi belum tentu menyatukan para komentator Disway..mari kita saksikan ..

 

padas gempal

Pakde saya juga orang teknik.. Waktu senggangnya selalu dihabiskan untuk membaca buku² teknik tersebut… Tiap waktu senggangnya selalu dihabiskan dengan duduk² saja bersama temannya.. Duduk berhadap-hadapan, sesekali tangannya memindah kayu² kecil yg diukir, sesekali nyurup kopi.. Walaupun tiap hari membaca buku² teknik, tapi saya yakin pakde saya tidak mengerti tentang teknik² yg ditulis pak DI pada artikel hari ini. Karena, ternyata buku teknik yg selalu dibacanya adalah buku: Teknik Bermain Catur

 

Gliss AE

TEKNIK atau REKAYASA  , Kejuruteraan (Melayu) Engineering (Inggris), jadi kata merekayasa sebenernya berkonotasi Positif, tapi seiring waktu menjadi konotasi negatif, Contoh: Rekayasa Kasus, Rekayasa Politik dll. seperti halnya kata ” Mengakali” yang berkonotasi negatif, padahal seharusnya itu berkonotasi positif, MENGAKALI = TEKNIK. #teknik

 

MirzaMirwan

Kalau benar National Geographic merekam pengangkatan atap super jumbo itu berarti akan ditayangkan di serial Megastructures. Dan kita boleh bangga, tentu saja. Sejak diluncurkan th 2004 belum pernah sekali pun ada proyek konstruksi di negara kita yg ditayangkan di Megastructures. Sementara negeri Jiran, Malaysia, sudah tiga kali masuk serial di kanal National Geografic itu: Menara Petronas, Terowongan SMART dan Penang Second Bridge (Hambatan Sultan Abdul Halim Mu’adzam Shah). Singapura juga sudah dua kali: Port of Singapore dan Marina Bay Sand. Entah kapan National Geographic akan menayangkannya. Yang pasti, tentunya, menunggu hingga rampungnya proyek JIS itu. Kita tunggu saja.

 

Liam

kalo orang melayu Pontianak ketemu, pasti sapaannya “ape buat”. Kalau begitu pas Pak Midji ketemu kenalan, di sapa “ape buat” , jawabannya mungkin “pening bang” kwkwkw.

 

TyangMjk

dolo aku seneng baca komen di DIsWay ini, tapi sekarang jadi males, karena isinya cuma tawuran. apapun topik yang ditulis abah DI selalu jadi bahan tawuran antar kelompok, ada nyang diberi nama kadrun ada nyang diberi nama cebongatawa apalagi mbuh. padahal setiap nyang namanya manusia pasti ada BAIK dan BURUK, sebaik-baiknya orang pasti ada sisi buruknya, pun sejelek-jeleknya orang pasti ada sisi kebaikannya. janganlah berlebihan memuji juga janganlah berlebihan membeci, karena semua adalah ciptaanNYA

 

*) Diambil dari komentar pembaca www.disway.id

Tags: Catatan DahlanDahlan IskanDiswayPPKM Tiga

Related Posts

Ilustrasi pertaruhan masa depan ekonomi Indonesia di antara berbagai sistem ekonomi.--

Perjudian Besar

Wednesday, 10 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026
--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Lewat Pasrah

Lewat Pasrah

Saturday, 6 June 2026
--

Agus Deyang

Thursday, 4 June 2026
Bambang, tengah, usai makan malam.--

Jago Cimory

Thursday, 4 June 2026
Next Post
TIDAK PATUH PROTKES : Kepala Daerah Terancam Dicopot

PPKM Ganti Judul (Lagi) 

Discussion about this post

Rekomendasi

Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

Saturday, 13 June 2026
Ridwan Monoarfa

Berpikir Strategis di Tengah Dunia yang Bergejolak: Refleksi Pembangunan Gorontalo

Saturday, 13 June 2026
Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Friday, 12 June 2026
Hendri Cahyo Dwi Safitri

Kebangkitan Ekonomi Gorontalo

Friday, 12 June 2026

Pos Populer

  • PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    56 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
  • Antusias Ikut PENAS XVII Gorontalo, Kontingen Jambi Tempuh Jalur Darat dan Laut

    41 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Harga Pertamax Naik

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.