logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Angga Titin

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Tuesday, 20 July 2021
in Disway
0
Angga Titin
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Ya Tidak

Jumat Keramat

Iris Istri

PLN Transisi

Oleh:
Dahlan Iskan

—

LUPAKAN angka Covid-19. Yang Indonesia menjadi juara dunia itu. Bikin stres saja.

Lebih baik baca Diswayhari ini: bagaimana orang masih bisa kreatif di tengah pandemi. Mereka juga sangat bahagia: bisa tetap melangsungkan pernikahan. Biar pun akad nikah itu harus dilakukan di dalam bus –sambil muter-muter antar kecamatan.

Itu dilakukan AnggaHayuJokoSiswoyo, 26 tahun. Ia orang Klaten, Jateng. Yang mendapat istri orang Boyolali: TitinRachmatulUmmah, 23 tahun, adik angkatan satu almamater.

Sebenarnya Angga ingin kawin normal: 11 Juli 2021. Tempat perkawinan pun sudah diputuskan: di rumah calon istri. Di desa Gesikan, kecamatan Sambi. Di rumah itu juga, rencananya, akan dilangsungkan resepsi perkawinan.

Angga sudah mengantongi izin. Ia pun mulai menyebarkan undangan: 700 orang. Uang muka tenda dibayar. Demikian juga uang muka konsumsi, sound system, dan sewa meja-kursi.

Tiba-tiba izin dicabut.

Wabah Covid menggila lagi di Jateng, Jakarta dan Jatim. Lalu merajalela juga ke mana-mana.

Tapi perkawinan harus tetap berlangsung. Muncullah ide itu: kawin di dalam bus. Ide yang orisinal dan kreatif. Cocok pula dengan usaha Angga: tour and travel.

Ide itu memang muncul dari Angga.Tapi sebenarnya bukan untuk dirinya. Ide itu awalnya untuk dijual ke umum: perusahaan Angga sanggup menyelenggarakan perkawinan di dalam bus. “Nggak tahunya konsumen pertamanya saya sendiri,” ujarnya lantas tertawa.

Tahun 2017,Angga mulai mencoba usaha. Bikin CV. Bersama dua temannya sesama alumnus STIEAAS (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Amanat Akuntansi Surakarta). Nama CV itu: ABSN Tour&Travel. Itu singkatan nama tiga serangkai tersebut.

Usaha mereka adalah: penyelenggara piknik. Termasuk ikut tender perjalanan wisata. Sukses. Sebulan bisa tiga kali tur. Terjauh ke Bali.

Begitu pandemi, usaha itu kiamat. Pernah ada ide bikin kafe berjalan. Sewa bus. Kursinya dibuat berhadap-hadapan. Sekali perjalanan harus 25 orang. Berangkat dari Klaten –home baseAngga. Tujuan: Gunung Kidul, atau Jogja, atau Semarang.

Tidak laku.

Pernah ada yang mendaftar, tapi tidak pernah mencapai 25 orang. “Paling banyak 18 orang,” kata Angga. “Kami tidak jadi berangkat. Tidak balik modal,” tambahnya.

Lalu muncul ide layanan kawinan berjalan. Belum sampai mendapat konsumen, izin perkawinannya sendiri dicabut. Jadilah ide itu dipakai sendiri.

Angga sudah punya langganan bus. Dari Klaten. Pukul 04.00 bus sudah berangkat dari Klaten ke rumah pengantin perempuan. Pukul 07.00 bus berangkat menuju KUA di ibukota kecamatan Sambi.

Kapasitas bus itu 35 orang. Tapi hanya diisi 12 orang: pengantin, bapak-ibu-adik pengantin laki dan perempuan, dua saksi, dan MC.

“Sengaja diisi 12 orang saja agar bisa jaga jarak,” ujar Angga.

Bus berhenti di KUA (kantor urusan agama) untuk menjemput petugas perkawinan dari negara. Begitu petugas naik, bus berjalan lagi. Menuju kecamatan Simo. Bus berjalan pelan sekali. Hanya sekitar 20 Km/jam.

Acara pertama di dalam bus:  langsung akad nikah. Dengan maskawin gelang dan kalung emas. Beratnya 10 gram. Disertai perangkat salat. Lancar. Perkawinan pun dinyatakan sah. Surat kawin diberikan saat itu juga, di dalam bus.

Begitu sampai di kecamatan Simo acara pernikahan sudah selesai. Tapi petugas KUA harus dipulangkan dulu ke kantornya. Akan ada perkawinan yang lain.

Maka bus pun kembali ke KUA.

Begitu petugas sudah turun, bus berangkat lagi menuju pintu tol Kartosuro, Solo. Masuk tol. Menuju arah Semarang.

Sampai di rest areaSalatiga bus mampir. Berhenti. Ada acara foto-foto di situ: berfoto bersama pengantin. Sekali berfoto maksimum empat orang. Maka mereka turun bergantian.

Bus pun melaju lagi di jalan tol. Menuju arah Bawen. Di sepanjang perjalanan dilakukanlah acara perkawinan berikutnya: serah terima pengantin. Seperti biasa di adat Jawa. Ada pidato penyerahan dari orang tua pengantin laki-laki ke orang tua pengantin perempuan. Lalu ada pidato penerimaan.

Bus terus melaju naik turun di jalan tol antara Salatiga-Bawen.

Tinggal satu acara resmi lagi: sungkeman. Meja akad nikah dicopot. Orang tua duduk di kursi bus paling depan. Area meja tadi untuk pengantin berjongkok: sungkem.

Begitu sampai di Bawen semua acara sudah selesai. Bus keluar di pintu tol Bawen untuk masuk lagi ke pintu tol Bawen. Kembali ke arah Boyolali.

Dalam perjalanan pulang inilah acara hiburan diadakan: karaoke. Lagu-lagu Jawa dinyanyikan. Khususnya lagu-lagu DidiKempot. Juga lagu Rhoma Irama.

Yang paling pinter menyanyi adalah ibunda pengantin wanita: guru madrasah. Dia menyanyikan lagu Pengantin Baru.

Ayah pengantin wanita seorang buruh. Ia menyanyi lagu Ani-nyaRhoma Irama.

Hanya ayah-ibu pengantin pria yang tidak mau menyanyi. “Tidak bisa menyanyi. Bisanya jualan sayur di pasar,” ujar Angga.

Angga-Titin telah menjadikan hidupnya sebagai pertanda sejarah. Seratus tahun lagi, ketika mungkin ada pandemi yang lain lagi, ide Angga bisa dipakai lagi. (*)

Tags: Angga TitinCatatan DahlanDahlan IskanDisway

Related Posts

Ya Tidak

Ya Tidak

Thursday, 22 October 2026
Jumat Keramat

Jumat Keramat

Monday, 19 October 2026
Iris Istri

Iris Istri

Saturday, 17 October 2026
PLN Transisi

PLN Transisi

Saturday, 17 October 2026
Camino Nakasendo

Camino Nakasendo

Friday, 16 October 2026
Hati Ngadirejo

Hati Ngadirejo

Wednesday, 14 October 2026
Next Post
Islamic Center, Adhan Sesalkan Tak Ada Kemajuan

Pertanggungjawaban APBD 2020, SILPA Besar Picu Kecurigaan

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Basri Amin

Generasi Penerus dan Generasi “Terus-Menerus”

Monday, 26 October 2026
Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi (Bukan) Kewajiban Negara

Vietnam Melompat ke Depan, Indonesia Melompat di Tempat

Tuesday, 27 October 2026
Hendak Dipasok ke Tambang Ilegal, 30,1 Ton Solar Bersubsidi Diamankan Polisi

Hendak Dipasok ke Tambang Ilegal, 30,1 Ton Solar Bersubsidi Diamankan Polisi

Tuesday, 27 October 2026
Muhammad Firdaus AF

Sinergi Daerah Kunci Stabilitas Harga Pangan

Wednesday, 28 October 2026

Pos Populer

  • Akui Lecehkan Dua Mahasiswi Bimbingan Sikripsi, Oknum Dosen Serahkan Diri ke Polisi

    Akui Lecehkan Dua Mahasiswi Bimbingan Sikripsi, Oknum Dosen Serahkan Diri ke Polisi

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Generasi Penerus dan Generasi “Terus-Menerus”

    80 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Lolos dari Gorontalo, Polda Metro Jaya Amankan 54 Ton Batu Hitam, Lima Orang Ditangkap

    76 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Vietnam Melompat ke Depan, Indonesia Melompat di Tempat

    47 shares
    Share 19 Tweet 12
  • Empat Lomba Meriahkan Semarak Bulan Bahasa Bastrasia 2026

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.