logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Positif Negatif

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Thursday, 21 January 2021
in Disway
0
Positif Negatif
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Perjudian Besar

Kanan Dalam

Neo Pop

Lewat Pasrah

Oleh:
Dahlan Iskan

HARI itu sudah lima hari saya digelontor obat Covid. Lalu diswab: pasif positif.

Saya sudah siap mental. Saya kan memang residivis. Tidak mudah menyembuhkannya dari Covid.

Seandainya bukan residivis  gelontoran anti-Covid itu bisa diteruskan. Sampai berhasil.

Tapi itu tidak mungkin dilakukan pada saya. Liver saya bisa ”kalah”. Tanda-tandanya sudah muncul. Fungsi hati saya mulai terancam: SGOT/SGPT naik drastis. Mula-mula menjadi 100/97. Dua hari kemudian 160/87.

Darah saya juga mengental. Yang bisa berkembang menjadi mencendol. Yang bisa membuat masalah di organ lain. Itu juga pertimbangan tersendiri.

Sisi baiknya: creatinine saya justru lebih bagus. Yang dulunya di atas normal justru menjadi normal. Dan penanda radang juga membaik. CRP saya 3.10.

Berarti tidak terjadi peradangan. Apalagi hasil pemeriksaan jantung juga sangat baik. Hasil CT Scan paru-paru juga bersih.

Tentang bahaya darah mencendol sudah saya tulis di Disway beberapa waktu itu. Angkanya masih belum dalam level yang sangat bahaya. Masih sekitar 2.000.

Sedang naiknya SGOT/SGPT bisa terkait dengan transplantasi hati yang saya alami 15 tahun lalu.

Justru itu yang harus dijaga: jangan sampai terjadi kegagalan transplan. Yakni hati yang sudah 15 tahun ”mengabdi” di tubuh saya itu jangan sampai tiba-tiba ditolak oleh sistem tubuh.

Tanda-tanda awalnya sudah muncul. Level tacrolimus saya naik dari 2 menjadi 3,5. Itu masih normal. Tapi sudah lima tahun terakhir level itu selalu di angka 2. Kok tiba-tiba naik.

Dua hari kemudian level tacrolimus itu naik lagi. Menjadi 4,4. Masih normal tapi mengapa naik terus.

Lalu apa yang harus dilakukan Terutama kalau dua hari kemudian naik lagi menjadi di atas 5. Yang berarti melebihi batas. Yang juga bisa diartikan mengarah ke rejection –ke kegagalan transplan.

Saya ikut saja keputusan tim dokter. Dokter Hanny Handoko, ketua tim, senior sekali. Pun sudah punya banyak pengalaman. Termasuk menangani pasien transplant ginjal yang terkena Covid. Sudah dua pasien yang sembuh.

Dokter Hanny juga sudah berpengalaman menangani pasien Covid yang juga penderita auto-imun. Tidak hanya satu orang.

Itu kasus-kasus sulit di masa Covid-19.

Dokter jantung di tim ini juga senior: Jeffrey Daniel Adipranoto. Ia dokter lulusan Unair yang meneruskan sekolah ke Belanda. Ia ulang lagi kuliah kedokteran di Amsterdam. Lalu mengambil spesialis jantung di Leiden. Hampir 10 tahun Jefrey di Belanda.

Dokter ahli penyakit dalamnya juga senior. Dokter liver saya sejak sebelum transplan: dr Purnomo Budi.

Melihat angka tacrolimus yang naik terus itu dr Purnomo Budi membuat keputusan: obat immunosuppression dihentikan dulu. Satu hari saja. Itulah obat penurun imunitas. Yang harus saya minum setiap hari. Seumur hidup. Agar imun saya turun. Agar hati baru saya tidak ditolak sistem tubuh saya.

Apakah keputusan itu benar?

Tentu saya mengirim hasil pemeriksaan saya ke Singapura. Juga ke Tianjin. Yakni ke RS yang melakukan transplan dulu.

Saran dari sana ternyata sama: hentikan dulu minum immunosuppression.

Pendapat dari Tianjin dan Singapura itu tidak saya teruskan ke tim dokter di RS Premier Surabaya. Toh keputusan mereka juga sama. Bahkan sudah dikerjakan.

Saya harus menunggu dua hari lagi untuk melihat hasilnya. Ternyata bagus. Level tacrolimus bisa kembali ke 2.

SGOT/SGPT juga mulai turun lagi. Memang belum kembali normal tapi terus mengarah ke sana.

Lantas soal cendol dawet itu. Dan juga kenapa masih belum negatif Covid itu.

Untuk mengatasi pengentalan darah itu saya menjalani suntikan di perut: lovenox 0,4. Dua kali sehari.

Dalam dua hari kekentalan itu turun dari 2.600 ke 2.000. Tapi bekas-bekas suntikan di perut menghitam. Seluas tutup botol besar. Itu tidak masalah. Saya tidak merasakan apa-apa. Lalu saya raba. Saya tekan. Juga tidak sakit.

Tapi dokter hati-hati. Dosis itu diturunkan menjadi 0,3.

Dua hari kemudian kekentalan naik lagi sedikit. Maka dosis pun dikembalikan lagi ke 0,4. Aneh, dua hari kemudian tidak juga turun. Bahkan naik sedikit.

Saya amati perut saya. Baik-baik saja. Memar selebar tutup botol itu juga baik-baik saja. Tidak membesar dan tidak lebih hitam. Juga tetap tidak sakit.

Maka dokter berani menaikkan dosis lovenox ke yang lebih tinggi: 0,6. Hasilnya: tetap tidak turun. Naik lagi sedikit.

Lantas bagaimana soal Covid yang masih tetap positif itu. Badan saya sih tetap tidak merasakan keanehan apa-apa. Tidak batuk. Tidak sesak. Tidak pusing. Makan banyak. Terasa enak semua. Berat badan sampai naik 2 Kg –selama 8 hari di RS ini.

Saya pun mulai senam lagi. Sendirian. Di kamar. Sampai 10 lagu. Ada lagu barat Mambo No. 5, ada dangdut Iwak Peyek, ada Mandarin Xiao Ping Guo.

Sudah dua hari saya senam. Tidak ada masalah. Seperti tidak sakit.

Soal Covid yang masih positif itu dokter tahu, saya punya prinsip ikut saja apa kata dokter: ternyata dokter memutuskan jalan lain. Yakni tidak digelontor terus dengan obat anti Covid. Yang bisa membahayakan hati saya.

Saya bersyukur atas putusan itu. Tidak mengancam fungsi hati saya.

Dokter lantas melakukan ini: transfusi konvalesen. Yakni memasukkan plasma darah yang sudah mengandung anti-Covid. Yakni plasma yang diambil dari penderita Covid yang sudah sembuh. Yang darahnya sudah mengandung imunitas Covid –dalam jumlah cukup.

Maka hari ke-7 di RS saya ditransfusi konvalesens. Sebanyak 200 cc. Jarak 24 jam kemudian ditransfusi lagi. Jumlah yang sama.

Tidak ada perubahan rasa di badan. Sama saja. Saya tetap merasa fit. Dan tetap merasa fresh. Seperti hari-hari sebelumnya.

Hasil pemeriksaan juga tetap selalu begitu. Suhu badan 36,6. Tekanan darah 126/70. Oksigen: 96. Detak jantung: 75.

Pokoknya selalu di sekitar itu.

Sehari setelah transfusi konvalesens kedua, darah saya diperiksa: IgG 2800 reaktif. IgM 29 non-reaktif.

Hasil IgG 2800 reaktif itu menunjukkan bahwa saya sudah punya kekebalan Covid. Jumlahnya pun lebih dari cukup. Sudah dua kali dari kebutuhan minimal 1.400.

Hasil IgM non-reaktif itu menandakan bahwa saya tidak punya kekebalan Covid yang berasal dari tubuh saya sendiri. Tetap saja badan saya tidak menghasilkan kekebalan.

Mungkinkah itu karena selama 15 tahun terakhir saya selalu minum obat penurun kekebalan?

Saya tidak mampu menjawab itu. Belum ada studinya.

Yang jelas, transfusi konvalesen itu ada hasilnya. Seseorang yang pernah terkena Covid telah menyumbangkan darahnya untuk saya. Yakni darah yang istimewa. Yang sudah mengandung kekebalan Covid-19.

Apakah dengan demikian saya langsung menjadi negatif Covid?

Belum tahu. Masih harus diswab lagi. Mungkin hari ini. Atau besok.(*)

Tags: Dahlan IskanDiswayPositif Negatif

Related Posts

Ilustrasi pertaruhan masa depan ekonomi Indonesia di antara berbagai sistem ekonomi.--

Perjudian Besar

Wednesday, 10 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026
--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Lewat Pasrah

Lewat Pasrah

Saturday, 6 June 2026
--

Agus Deyang

Thursday, 4 June 2026
Bambang, tengah, usai makan malam.--

Jago Cimory

Thursday, 4 June 2026
Next Post
Hari Patriotik 23 Januari 1942 :  Ibrahim Muhammad, Pejuang dan Pendidik

Hari Patriotik 23 Januari 1942 : Ibrahim Muhammad, Pejuang dan Pendidik

Discussion about this post

Rekomendasi

Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

Saturday, 13 June 2026
Ridwan Monoarfa

Berpikir Strategis di Tengah Dunia yang Bergejolak: Refleksi Pembangunan Gorontalo

Saturday, 13 June 2026
Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Friday, 12 June 2026
Hendri Cahyo Dwi Safitri

Kebangkitan Ekonomi Gorontalo

Friday, 12 June 2026

Pos Populer

  • PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    56 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Hebat! Brilli Kids Leadership Wakili Gorontalo ke Final Nasional DANCOW Indonesia Cerdas 2026

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
  • Antusias Ikut PENAS XVII Gorontalo, Kontingen Jambi Tempuh Jalur Darat dan Laut

    41 shares
    Share 16 Tweet 10
  • Harga Pertamax Naik

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.