Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Upaya mencegah pernikahan dini dan menekan risiko stunting terus digencarkan melalui edukasi langsung kepada kalangan remaja. Kali ini, Jurusan Kebidanan Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kementerian Kesehatan Gorontalo menggelar edukasi BAPERAN (Bahaya Pernikahan Dini) di Desa Tabumela, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo, Kamis (9/7/2026).
Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM) tersebut dilaksanakan bersama Karang Taruna setempat dan diikuti 25 peserta, terdiri atas 12 remaja putri dan 13 anggota Karang Taruna.
Menariknya, sebelum penyampaian materi, tim pengabdian masyarakat terlebih dahulu melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap 12 remaja putri. Pemeriksaan meliputi berat badan, Lingkar Lengan Atas (LILA), tekanan darah, suhu tubuh, denyut nadi, respirasi, hingga kadar hemoglobin.
Hasil pemeriksaan menemukan empat remaja putri atau 33,3 persen memiliki ukuran LILA di bawah 23,5 sentimeter yang mengindikasikan risiko Kurang Energi Kronik (KEK). Selain itu, satu remaja atau 8,3 persen diketahui mengalami anemia. Remaja yang terindikasi memiliki risiko kesehatan tersebut akan ditindaklanjuti oleh bidan desa melalui layanan kesehatan primer.

Setelah pemeriksaan, peserta mengikuti edukasi melalui ceramah interaktif menggunakan media presentasi dan booklet. Kegiatan dilanjutkan dengan diskusi serta sesi tanya jawab untuk memperdalam pemahaman peserta mengenai bahaya pernikahan dini dan kaitannya dengan kesehatan reproduksi.
Dampak edukasi terlihat dari hasil evaluasi pengetahuan peserta. Rata-rata nilai pre-test yang sebelumnya mencapai 56,4 persen meningkat menjadi 89,6 persen pada post-test. Bahkan, seluruh peserta berhasil mencapai skor minimal 70.
Ketua tim pelaksana, Yollanda Dwi Santi Violentina, S.ST., M.Keb., menjelaskan bahwa pernikahan dini pada remaja putri dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan serta berkontribusi terhadap risiko stunting pada bayi yang dilahirkan. Karena itu, menurutnya, pemahaman mengenai kesiapan kesehatan reproduksi menjadi hal penting sebelum seseorang memasuki kehamilan.
Meski menunjukkan peningkatan pengetahuan yang cukup signifikan, tim pelaksana menegaskan bahwa hasil evaluasi tersebut masih bersifat deskriptif. Pengukuran baru mencakup peningkatan pengetahuan peserta, belum sampai pada perubahan perilaku maupun penurunan angka pernikahan dini.
Sebagai tindak lanjut, tim berencana melakukan monitoring dan evaluasi melalui pengembangan pojok konsultasi remaja serta grup komunikasi daring bersama Karang Taruna. Langkah tersebut diharapkan menjadi sarana pendampingan berkelanjutan agar edukasi mengenai bahaya pernikahan dini tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi terus menjadi perhatian dan pemahaman di kalangan remaja. (ADV/roy)












Discussion about this post