logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Santri Merawat Tradisi, Gorontalo Membangun dengan Hati

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 26 October 2026
in Persepsi
0
Muchlis Huntua

Muchlis Huntua

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Generasi Penerus dan Generasi “Terus-Menerus”

Gerakan Ekonomi Syarikat Islam: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati

Adat Dijunjung, Tanah Adat Terlupakan: Gugatan dari Bumi Hulondalo

Bangsa Baliho di Negeri Sengketa  

Oleh:
Muchlis Huntua

Di tanah Serambi Madinah, julukan yang melekat erat pada Provinsi Gorontalo, relasi antara agama, tradisi, dan pembangunan sosial berjalan dalam satu napas panjang. Filosofi adat bersendikan syara, dan syara bersendikan Kitabullah bukan sekadar slogan normatif yang terpampang di baliho pemerintahan, melainkan kompas moral yang menuntun denyut kehidupan masyarakat.

Di tengah pusaran zaman yang bergerak serba cepat, kehadiran santri dan pesantren menjadi jangkar penting bagi peradaban lokal. Santri tidak hanya hadir sebagai aktor ritual keagamaan, melainkan penjaga api tradisi yang menghidupkan etos membangun daerah dengan hati.

Secara historis, tradisi keislaman di Gorontalo tumbuh bersamaan dengan mengakar-akarnya nilai kearifan lokal. Budaya musyawarah yang santun, semangat gotong royong, hingga penghormatan yang tinggi terhadap tatanan adat adalah bagian dari keseharian yang dipelihara oleh para santri.

Di berbagai pondok pesantren di Gorontalo, santri dididik tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga ditempa untuk memiliki kepekaan sosial yang tajam. Mereka diajarkan bahwa keilmuan yang tinggi tanpa kelembutan nurani hanya akan melahirkan sikap kaku. Oleh karena itu, merawat tradisi bagi seorang santri di Gorontalo adalah sebuah upaya mulia untuk merawat kemanusiaan itu sendiri.

Dalam kacamata sosiologi, upaya santri dalam merawat tradisi lokal ini sejalan dengan teori akomodasi kultural yang digagas oleh Robert Redfield. Ia menyatakan bahwa peradaban besar (great tradition) dan tradisi lokal (little tradition) tidak harus saling menegasikan, melainkan dapat saling memperkaya melalui proses interaksi yang harmonis. Santri di Gorontalo berhasil menjadi jembatan tersebut, di mana nilai-nilai universal Islam memperkuat fondasi kebudayaan lokal tanpa menghilangkannya.

Sinkretisme positif ini juga dipertegas oleh kaidah fikih populer yang sering dirujuk para ulama, yakni: “Al-muhafazhatu ‘alal qadimiish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah”

(Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik).

Prinsip ini menjadi legitimasi teologis bagi santri untuk tetap berdiri kokoh di atas warisan leluhur Gorontalo sambil tetap membuka diri pada modernitas ekonomi dan teknologi.

Dalam konteks pembangunan daerah, Gorontalo sering kali dihadapkan pada dilema klasik: bagaimana memacu pertumbuhan ekonomi tanpa menggerus identitas kultural. Di sinilah letak relevansi peran santri. Pembangunan yang hanya mengandalkan kalkulasi teknokratik kerap kali berujung pada kekeringan makna. Sebaliknya, ketika pembangunan diletakkan di atas fondasi spiritualitas, etika, dan nilai-nilai lokal—seperti yang diinternalisasikan di pesantren—maka yang lahir adalah pembangunan yang sesungguhnya memanusiakan manusia.

Konsep “membangun dengan hati” ini menemukan jangkar teologisnya dalam pemikiran ulama klasik, Imam Al-Ghazali. Dalam kitab besarnya, Ihya Ulumuddin, beliau menekankan pentingnya konsep kebersihan hati (tazkiyatun nafs) sebagai motor penggerak setiap aktivitas manusia, termasuk dalam urusan kepemimpinan dan pengelolaan bumi (khilafah).

Menurut Al-Ghazali, pembangunan fisik atau material yang tidak dilandasi oleh kesucian hati para pelakunya hanya akan melahirkan kerusakan (fasad) dan ketimpangan sosial. Hati yang bersih akan melahirkan sifat ihsan—sebuah kesadaran etis bahwa setiap kebijakan publik, setiap jengkal jalan yang dibangun, dan setiap program pemberdayaan ekonomi harus dilakukan demi kemaslahatan umat terbanyak.

Tantangan terbesar hari ini tentu saja terletak pada bagaimana menjembatani tradisi lokal dengan tuntutan era digital. Generasi santri Gorontalo abad ke-21 dituntut untuk semakin adaptif dan cakap.

Mereka tidak lagi cukup hanya pandai membaca kitab di atas balai pesantren, tetapi juga harus mampu membaca perubahan sosial secara jeli, menguasai teknologi informasi, dan menjawab persoalan konkret di lapangan seperti pengangguran muda dan kemiskinan.

Namun, adaptasi ini tidak boleh berujung pada hilangnya akar budaya. Santri harus menjadi garda depan yang mampu menunjukkan bahwa modernitas bukanlah musuh tradisi, melainkan wahana baru untuk menebar maslahat yang lebih luas.

Pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat sipil di Gorontalo perlu melihat pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan pelengkap, melainkan mitra strategis peradaban yang kokoh. Sinergi antara kebijakan pembangunan daerah yang inklusif dengan moralitas kepesantrenan akan menciptakan ekosistem sosial yang stabil dan harmonis.

Ketika para pengambil kebijakan memadukan rasionalitas anggaran dengan kepekaan nurani ala santri, maka pembangunan di Gorontalo tidak sekadar mengejar fisik yang megah, melainkan batin masyarakat yang sejahtera secara merata dan berkeadilan.

Pada akhirnya, frasa “Santri Merawat Tradisi, Gorontalo Membangun dengan Hati” bukan sekadar tema seremonial tahunan belaka. Ia adalah sebuah manifesto moral yang harus terus dihidupkan.

Gorontalo tentu membutuhkan tangan-tangan yang cekatan untuk membangun infrastruktur fisik, tetapi lebih dari itu, Gorontalo membutuhkan jiwa-jiwa yang tulus untuk merawat kebersamaan.

Dan di pundak para santri inilah, harapan itu terus bernyala menjaga warisan leluhur, menenun persaudaraan, dan membangun Serambi Madinah dengan cinta yang tidak pernah padam.

“Selamat Hari Santri, Maju Berdigdaya”(*)

Penulis adalah Kabid. Pemuda Disparekrafpora Provinsi Gorontalo, Alumni Ponpes Alkhairaat Kota Gorontalo

Tags: Catatan Muchlis HuntuaHari SantriMuchlis Huntua

Related Posts

Basri Amin

Generasi Penerus dan Generasi “Terus-Menerus”

Monday, 26 October 2026
Gerakan Ekonomi Syarikat Islam: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati

Gerakan Ekonomi Syarikat Islam: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati

Wednesday, 21 October 2026
Adat Dijunjung, Tanah Adat Terlupakan: Gugatan dari Bumi Hulondalo

Adat Dijunjung, Tanah Adat Terlupakan: Gugatan dari Bumi Hulondalo

Monday, 19 October 2026
Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi (Bukan) Kewajiban Negara

Meremehkan Pendidikan Dalam Kepemimpinan dan Matinya Nalar

Monday, 19 October 2026
Basri Amin

Bangsa Baliho di Negeri Sengketa  

Monday, 19 October 2026
In Memoriam Rachmat Gobel dan Jalan Pulang yang Istimewa

100 Hari Mengenang Rachmat Gobel: Politik sebagai Jalan Pengabdian

Sunday, 18 October 2026

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Lolos dari Gorontalo, Polda Metro Jaya Amankan 54 Ton Batu Hitam, Lima Orang Ditangkap

Lolos dari Gorontalo, Polda Metro Jaya Amankan 54 Ton Batu Hitam, Lima Orang Ditangkap

Saturday, 24 October 2026
Basri Amin

Generasi Penerus dan Generasi “Terus-Menerus”

Monday, 26 October 2026
Farmasi Poltekkes Dampingi Warga Ipilo Olah Herbal Jadi Produk Ekonomi

Farmasi Poltekkes Dampingi Warga Ipilo Olah Herbal Jadi Produk Ekonomi

Monday, 26 October 2026
Pemasangan baliho larangan untuk masyarakat, khususnya anak-anak untuk tidak bermain maupun mandi di pinggir sungai.

Masyarakat Dilarang Mandi di Aliran Sungai

Monday, 26 May 2025

Pos Populer

  • Akui Lecehkan Dua Mahasiswi Bimbingan Sikripsi, Oknum Dosen Serahkan Diri ke Polisi

    Akui Lecehkan Dua Mahasiswi Bimbingan Sikripsi, Oknum Dosen Serahkan Diri ke Polisi

    141 shares
    Share 56 Tweet 35
  • Demo Jilid II Membayangi Polda, Wakapolda Pasang Kuda-Kuda, Ingatkan Personel Tetap Humanis

    72 shares
    Share 29 Tweet 18
  • Lolos dari Gorontalo, Polda Metro Jaya Amankan 54 Ton Batu Hitam, Lima Orang Ditangkap

    68 shares
    Share 27 Tweet 17
  • Kekerasan di SMAN 1 Gorontalo, 21 Siswa Terlibat, Pelaku Diskorsing, Korban Lapor Polisi

    60 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Gubernur Minta Klarifikasi Soal Demo ASN, Adhan: Saya Bukan Bawahannya

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.