logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Headline

100 Hari Mengenang Rachmat Gobel: Politik sebagai Jalan Pengabdian

Dari Dunia Usaha, Semangat Pekerja Pejuang, hingga Cita-Cita Membangun Gorontalo

Lukman Husain by Lukman Husain
Sunday, 18 October 2026
in Headline, Persepsi
0
In Memoriam Rachmat Gobel dan Jalan Pulang yang Istimewa

Alm Rachmat Gobel semasa hidup. (foto: dok-nasdem)

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Ridwan Monoarfa

Seratus hari setelah kepergian Rachmat Gobel, kehilangan itu masih menyisakan ruang perenungan bagi Gorontalo. Namun, mengenang seorang tokoh tidak semestinya berhenti pada kesedihan dan penghormatan terhadap sosoknya. Waktu justru memberi kita kesempatan untuk membaca kembali nilai, pemikiran, dan cita-cita yang pernah diperjuangkannya. Sebab, ukuran terbesar dari kepergian seorang tokoh bukan hanya seberapa dalam ia dirindukan, melainkan juga seberapa jauh nilai-nilai yang diwariskannya terus hidup dan dilanjutkan.

Bagi saya, Rachmat Gobel bukan semata-mata seorang pengusaha yang kemudian memasuki dunia politik. Ia adalah sosok yang mengajarkan bahwa keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari apa yang berhasil dimiliki, tetapi juga dari apa yang diberikan kepada masyarakat. Melalui perjalanan dan pilihan hidupnya, saya belajar memahami bahwa politik dapat menjadi jalan pengabdian.

Kenangan saya tentang beliau jauh lebih panjang daripada perjalanan kami bersama-sama membangun Partai NasDem di Gorontalo sejak 2016. Jauh sebelumnya, saya telah mengenal Rachmat Gobel melalui dunia kerja, ketika bekerja di salah satu perusahaan dalam lingkungan Panasonic Gobel Group dan dipercaya memimpin serikat pekerja.

Related Post

Kepala BPK Jateng dan Bupati Klaten Tawar Menawar Dosa, Minta Rp600 Juta, Nego Rp 400 juta 

Pertamina Patra Niaga Sulawesi Optimalkan Distribusi BBM di Gorontalo

Kembali Kunjungi Gorontalo, Tuan Guru UAS Tausiah di Polda

Menagih Peran Keluarga: Benteng Utama Pencegahan Perkawinan Anak di Gorontalo Utara?

Pengalaman itu menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya. Di sana, saya mengenal Rachmat Gobel bukan hanya sebagai pengusaha, melainkan juga sebagai sosok yang memiliki pandangan tentang hubungan industrial, peningkatan kualitas pekerja, dan tanggung jawab perusahaan kepada masyarakat serta negara.

Pekerja Pejuang dan Martabat Manusia

Salah satu kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan adalah sambutan Rachmat Gobel ketika Pimpinan Unit Kerja serikat pekerja PT Panasonic Gobel Component terbentuk pada 6 Agustus 1994 dan saya terpilih sebagai ketua. Pesan yang disampaikannya saat itu membekas dan menjadi bagian penting dari cara saya memahami hubungan antara pengusaha dan pekerja.

Beliau menekankan bahwa perjuangan serikat pekerja dalam menuntut hak harus berjalan seiring dengan pelaksanaan kewajiban. Hak pekerja merupakan kewajiban pengusaha untuk memenuhinya. Sebaliknya, hubungan industrial juga menuntut pekerja menjalankan tanggung jawabnya secara profesional.

Bagi beliau, hubungan industrial yang sehat tidak dibangun di atas pertentangan tanpa ujung, melainkan melalui keseimbangan hak dan kewajiban, penghormatan terhadap martabat pekerja, serta tanggung jawab bersama terhadap keberlangsungan perusahaan.

Namun, ada pesan lain yang jauh lebih dalam dan terus saya ingat hingga hari ini. Beliau menegaskan bahwa sikap mental yang hendak dibangun di lingkungan Panasonic Gobel Group bukan semata-mata mental pekerja, melainkan mental pejuang.

Bekerja di perusahaan, dalam pandangannya, bukan hanya soal memperoleh upah dan memenuhi kebutuhan hidup. Ada tanggung jawab yang lebih luas, yakni mengabdi kepada negara melalui pekerjaan yang dilakukan.

Perusahaan memproduksi barang yang dibutuhkan masyarakat. Masyarakat memberikan kepercayaan melalui pembelian produk, sehingga perusahaan dapat memperoleh keuntungan, membayar pajak kepada negara, memberikan upah kepada pekerja, dan mengembangkan usahanya. Di dalamnya terdapat mata rantai tanggung jawab antara perusahaan, pekerja, masyarakat, dan negara.

Dalam semangat itulah beliau menanamkan pandangan bahwa kami bukan sekadar pekerja, melainkan pekerja pejuang.

Bagi saya, pesan tersebut memiliki makna mendalam. Sebagai aktivis buruh, saya memahami pentingnya memperjuangkan hak-hak pekerja. Namun, hubungan industrial yang bermartabat juga memerlukan tanggung jawab timbal balik, keadilan, dan kesadaran bahwa keberhasilan perusahaan semestinya berjalan beriringan dengan kesejahteraan pekerjanya.

Pesan itu tidak saya maknai sebagai tuntutan agar pekerja mengalah dalam memperjuangkan haknya. Sebaliknya, hubungan industrial yang sehat hanya dapat tumbuh apabila pengusaha memenuhi kewajibannya, pekerja memperoleh hak secara layak, dan kedua belah pihak menempatkan keberlanjutan usaha serta kesejahteraan manusia sebagai kepentingan bersama.

Ada satu pesan beliau yang secara khusus masih saya ingat. Kepada kami, para pekerja, Rachmat Gobel pernah berkata:

“Sebagai pekerja, yang kalian tuntut adalah pendidikan untuk meningkatkan skill sehingga dengan sendirinya upah meningkat.”

Pesan tersebut memperlihatkan bagaimana beliau memandang kemajuan pekerja. Perjuangan buruh tidak cukup berhenti pada tuntutan kenaikan upah, tetapi juga harus disertai kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kapasitas diri.

Pekerja perlu memperoleh kesempatan belajar agar mampu meningkatkan kompetensi, memperkuat posisi tawar, dan berkontribusi lebih besar terhadap kemajuan perusahaan. Pada saat yang sama, peningkatan keterampilan harus diikuti penghargaan yang adil terhadap kontribusi pekerja, termasuk melalui sistem pengupahan yang layak. Pendidikan dan pelatihan bukan semata-mata tanggung jawab individu, melainkan juga investasi yang perlu menjadi perhatian perusahaan.

Bagi saya, pesan itu memperlihatkan bahwa Rachmat Gobel tidak hanya berbicara tentang bagaimana perusahaan berkembang, tetapi juga tentang bagaimana pekerja bertumbuh bersama perusahaan. Pekerja bukan sekadar tenaga yang menghasilkan keuntungan. Mereka adalah manusia yang memiliki kemampuan untuk dikembangkan dan martabat yang harus dihormati.

Di situlah saya menemukan makna yang lebih luas dari istilah pekerja pejuang: pekerja yang sadar akan hak dan kewajibannya, terus meningkatkan kapasitas diri, serta ikut memperjuangkan kemajuan perusahaan tanpa kehilangan hak atas kesejahteraan dan kehidupan yang layak.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu landasan penting bagi saya dalam memahami pemikiran Rachmat Gobel. Jauh sebelum beliau memasuki dunia politik, saya telah melihat bagaimana gagasan tentang tanggung jawab, produktivitas, dan pengabdian hadir dalam cara beliau memandang dunia usaha.

Dari Jepang untuk Pengabdian kepada Bangsa

Saya membaca perjalanan Rachmat Gobel sebagai upaya mentransformasikan nilai, pengetahuan, dan etos kerja yang diperolehnya dari Jepang—Negeri Sakura—ke dalam konteks kehidupan Indonesia.

Pengalaman lintas negara itu tidak berhenti sebagai modal untuk meraih keberhasilan dalam dunia usaha. Ia berupaya menerjemahkannya menjadi nilai yang bermanfaat bagi perusahaan, pekerja, masyarakat, dan bangsa.

Dalam diri beliau, saya melihat pentingnya kedisiplinan, kerja keras, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap kualitas. Nilai-nilai tersebut tidak cukup ditiru secara mekanis, tetapi perlu diadaptasikan dengan kebutuhan, keadaan, dan karakter masyarakat Indonesia.

Dunia usaha menjadi salah satu ruang tempat nilai-nilai itu menemukan bentuk konkretnya. Perusahaan bukan hanya tempat memproduksi barang dan memperoleh keuntungan, melainkan juga tempat membangun kualitas manusia, mengembangkan keterampilan pekerja, menciptakan lapangan kerja, dan memberikan kontribusi kepada negara.

Bagi saya, inilah salah satu pelajaran penting dari perjalanan hidup Rachmat Gobel: pengetahuan dan keberhasilan yang diperoleh dari dunia luar akan menemukan maknanya yang lebih besar ketika diabdikan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat sendiri.

Namun, pengalaman dan keberhasilan di dunia usaha bukanlah akhir dari perjalanan pengabdiannya. Perhatian beliau bergerak menuju persoalan yang lebih luas: masa depan daerah, kemiskinan, dan tanggung jawab terhadap tanah kelahirannya.

Dari Dunia Usaha Menuju Jalan Politik

Bagi saya, perjalanan Rachmat Gobel dari dunia usaha menuju dunia politik bukanlah dua babak kehidupan yang terpisah. Ada kesinambungan nilai yang menghubungkan keduanya: keyakinan bahwa keberhasilan harus menghasilkan manfaat yang lebih luas bagi kehidupan orang banyak.

Pengalamannya selama bertahun-tahun berkiprah di antara Indonesia dan Jepang memberinya pengetahuan tentang industri, teknologi, tata kelola usaha, dan pentingnya membangun sumber daya manusia. Sebagai pengusaha, ia memahami bagaimana perusahaan menciptakan nilai, mengembangkan produk, membuka lapangan kerja, dan berkontribusi kepada negara.

Namun, ketika memikirkan masa depan Gorontalo, perhatian itu bergerak melampaui batas perusahaan.

Ia melihat bahwa tantangan pembangunan daerah tidak cukup dijawab hanya melalui keberhasilan dunia usaha. Potensi ekonomi harus dikelola, kebijakan harus diarahkan, tata kelola pemerintahan harus diperbaiki, dan pembangunan harus mampu menjangkau masyarakat yang masih hidup dalam kemiskinan.

Di titik inilah, menurut kesaksian saya, pengalaman sebagai pengusaha bertemu dengan panggilan untuk memasuki politik. Pengetahuan, jaringan, dan sumber daya yang selama ini menopang keberhasilan usaha dapat digunakan untuk memperjuangkan kepentingan yang lebih luas melalui kebijakan dan kepemimpinan publik.

Bagi saya, perjalanan tersebut mengandung pelajaran penting. Dunia usaha dapat menciptakan nilai ekonomi, tetapi kebijakan publik menentukan bagaimana kesempatan pembangunan dibuka, sumber daya dikelola, dan manfaat kemajuan didistribusikan kepada masyarakat.

Politik, karena itu, seharusnya tidak berhenti pada jabatan, kekuasaan, atau kemenangan dalam kontestasi. Politik harus menjadi instrumen untuk menjawab persoalan rakyat dan memperluas kesempatan hidup yang lebih baik.

Seratus Hari dan Warisan Pengabdian

Pada peringatan seratus hari kepergiannya, saya kembali mengingat perjalanan panjang mengenal Rachmat Gobel: dari lingkungan kerja, perjuangan serikat pekerja, hingga ikhtiar bersama membangun Partai NasDem di Gorontalo.

Pengalaman tersebut membuat saya memahami bahwa warisan seorang tokoh tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan, perusahaan, jabatan, atau capaian yang dapat dihitung. Warisan juga hidup dalam nilai yang ditanamkan, cara berpikir yang diwariskan, dan keberanian untuk membawa pengalaman pribadi menjadi manfaat bagi kehidupan yang lebih luas.

Saya mengenang Rachmat Gobel sebagai sosok yang menghubungkan dunia usaha dengan tanggung jawab sosial, produktivitas dengan martabat pekerja, serta keberhasilan pribadi dengan cita-cita pembangunan daerah.

Tentu, gagasan dan cita-cita pembangunan tidak selesai hanya karena seseorang telah berpulang. Justru di situlah tanggung jawab generasi yang ditinggalkan bermula: menguji gagasan tersebut dalam kenyataan, melanjutkan hal-hal yang bermanfaat, dan memperbaiki apa yang belum mencapai harapan.

Bagi Gorontalo, tantangannya adalah bagaimana potensi daerah tidak berhenti sebagai kebanggaan, tetapi menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat. Bagaimana kegiatan ekonomi mampu menciptakan pekerjaan yang layak, bagaimana sumber daya manusia terus ditingkatkan, dan bagaimana kebijakan publik berpihak pada kepentingan masyarakat luas.

Bagi saya pribadi, pesan tentang pekerja pejuang tetap relevan jauh melampaui lingkungan perusahaan tempat saya pertama kali mendengarnya. Pesan itu mengajarkan bahwa pengabdian memerlukan kemampuan, tanggung jawab, keberanian memperjuangkan hak, dan kesediaan bekerja untuk kepentingan yang lebih besar daripada diri sendiri.

Nilai yang sama semestinya hadir dalam kehidupan politik. Jabatan publik bukan tujuan akhir, melainkan amanah. Kekuasaan bukan hak untuk dilayani, melainkan tanggung jawab untuk melayani. Dan keberhasilan politik pada akhirnya harus dapat dirasakan dalam kehidupan masyarakat.

Seratus hari mengenang Rachmat Gobel bukan sekadar menandai perjalanan waktu sejak kepergiannya. Ini adalah kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana nilai yang pernah beliau tanamkan telah menjadi tindakan nyata? Sejauh mana cita-cita pembangunan yang pernah diperjuangkannya terus menemukan jalan untuk diwujudkan?

Saya percaya, penghormatan yang paling bermakna kepada seorang tokoh bukan hanya melalui kata-kata tentang jasa dan kebaikannya, melainkan dengan menjaga agar nilai-nilai yang diyakininya tetap hidup dalam kerja, keputusan, dan keberpihakan kita kepada masyarakat.

Rachmat Gobel telah menempuh jalan pengabdiannya. Kini, tanggung jawab untuk meneruskan nilai-nilai itu berada di tangan mereka yang ditinggalkannya.

Sebab, seorang tokoh boleh berpulang, tetapi pengabdian tidak seharusnya ikut berakhir. (*)

Penulis adalah aktivis buruh dan politisi Partai NasDem

 

 

Tags: 100 Hari Rachmat Gobelcatatan ridwan monoarfarachmat gobelRGRidwan Monoarfa

Related Posts

Kepala BPK Jateng dan Bupati Klaten Tawar Menawar Dosa, Minta Rp600 Juta, Nego Rp 400 juta 

Kepala BPK Jateng dan Bupati Klaten Tawar Menawar Dosa, Minta Rp600 Juta, Nego Rp 400 juta 

Saturday, 17 October 2026
Pertamina Patra Niaga Sulawesi Optimalkan Distribusi BBM di Gorontalo

Pertamina Patra Niaga Sulawesi Optimalkan Distribusi BBM di Gorontalo

Saturday, 17 October 2026
Kembali Kunjungi Gorontalo, Tuan Guru UAS Tausiah di Polda

Kembali Kunjungi Gorontalo, Tuan Guru UAS Tausiah di Polda

Saturday, 17 October 2026
Menagih Peran Keluarga: Benteng Utama Pencegahan Perkawinan Anak di Gorontalo Utara?

Menagih Peran Keluarga: Benteng Utama Pencegahan Perkawinan Anak di Gorontalo Utara?

Friday, 16 October 2026
Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail Respon Cepat Antrian BBM Bersubsidi

Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail Respon Cepat Antrian BBM Bersubsidi

Friday, 16 October 2026
Gorontalo KLB Malaria, Tembus 6.299 Kasus, 18 Meninggal

Gorontalo KLB Malaria, Tembus 6.299 Kasus, 18 Meninggal

Friday, 16 October 2026
Next Post
Kongres SI ke-42 Digelar, Gorontalo Ditantang Wujudkan Dakwah Ekonomi

Kongres SI ke-42 Digelar, Gorontalo Ditantang Wujudkan Dakwah Ekonomi

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Kembali Kunjungi Gorontalo, Tuan Guru UAS Tausiah di Polda

Kembali Kunjungi Gorontalo, Tuan Guru UAS Tausiah di Polda

Saturday, 17 October 2026
Kepala BPK Jateng dan Bupati Klaten Tawar Menawar Dosa, Minta Rp600 Juta, Nego Rp 400 juta 

Kepala BPK Jateng dan Bupati Klaten Tawar Menawar Dosa, Minta Rp600 Juta, Nego Rp 400 juta 

Saturday, 17 October 2026
Pertamia Pastikan SPBU Terisi Sebelum Pukul 06.00

Pertamia Pastikan SPBU Terisi Sebelum Pukul 06.00

Wednesday, 14 October 2026
Kualitas Udara Gorontalo Memburuk, Masuk Kategori Tidak Sehat

Kualitas Udara Gorontalo Memburuk, Masuk Kategori Tidak Sehat

Wednesday, 14 October 2026

Pos Populer

  • Besok, Istri Wapres Gibran ke Gorontalo

    Besok, Istri Wapres Gibran ke Gorontalo

    61 shares
    Share 24 Tweet 15
  • Karhutla Pelita Hijau: 5.350 Pohon Kemiri dan Cengkeh Terbakar, Api Merambat ke HPT

    91 shares
    Share 36 Tweet 23
  • Kualitas Udara Gorontalo Memburuk, Masuk Kategori Tidak Sehat

    56 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Kementrian ESDM Bidik PETI Boalemo di Paguyaman Cs

    53 shares
    Share 21 Tweet 13
  • Inflasi Gorontalo Meroket Tertinggi Rata-rata Nasional, Mendagri Jewer Pemda!

    43 shares
    Share 17 Tweet 11
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.