Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Gorontalo melalui Jurusan Farmasi terus mendorong pengembangan kewirausahaan di kalangan mahasiswa dan alumni. Upaya ini dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan untuk membekali calon wirausaha muda dengan kemampuan mengelola usaha serta mengembangkan produk berbahan alam lokal.
Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) skema Pengembangan Kewirausahaan ini dilaksanakan oleh tim dosen Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Gorontalo yang diketuai Vyani Kamba, dengan anggota Fihrina Mohamad dan Fadlun Abubakar.
Program tersebut diikuti enam calon wirausaha muda. Mereka mendapatkan pembekalan mengenai manajemen bisnis, strategi pemasaran, pengelolaan keuangan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (ipteks), serta pengurusan sertifikat halal.
Ketua tim pelaksana, Vyani Kamba, menjelaskan program tersebut dirancang sebagai inkubator bisnis untuk membantu mahasiswa dan alumni mengembangkan potensi yang dimiliki menjadi usaha mandiri.
“Program ini kami rancang sebagai inkubator bisnis untuk membekali mahasiswa dan alumni Farmasi agar mampu mengembangkan potensi yang dimiliki menjadi usaha mandiri. Kami ingin mereka tidak hanya menguasai ilmu kefarmasian, tetapi juga memiliki kemampuan dalam mengelola dan mengembangkan bisnis,” jelas Vyani.
Dari enam peserta yang mengikuti pelatihan, empat alumni dinilai siap melanjutkan ke tahap pengurusan sertifikat halal. Mereka adalah Selawati Besi, Amalia Dawali, Rizka Azizah Datau, dan Dian Hardianti.
Keempat alumni tersebut juga memperoleh hibah berupa alat produksi dan bahan untuk mendukung pengembangan usaha. Bantuan ini diharapkan dapat mengatasi keterbatasan fasilitas produksi sehingga mereka bisa mulai menghasilkan produk yang lebih kompetitif.
Vyani mengatakan, potensi bahan alam lokal Gorontalo menjadi salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan peserta untuk mengembangkan usaha. Tanaman obat, bahan pangan, dan rempah-rempah dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai kesehatan sekaligus nilai ekonomi.
“Gorontalo memiliki banyak potensi bahan alam yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Melalui pendampingan ini, kami mendorong peserta untuk lebih kreatif dan inovatif dalam mengolah bahan alam lokal menjadi produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, tim dosen Jurusan Farmasi turut melibatkan pelaku UMKM, yakni Kartin Arsyad selaku pemilik UMKM Afikry dan Abdul Azis Hasan selaku pemilik UMKM Al-Mustanir. Sementara itu, pendampingan sertifikasi halal dilakukan oleh Andriono Tobuhu, Lc.
Keterlibatan pelaku UMKM tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan peserta pada pengalaman pengembangan usaha. Selain menghasilkan produk, calon wirausaha juga dibekali pemahaman mengenai pengelolaan bisnis, pemasaran, dan keuangan agar usaha yang dirintis dapat berkembang secara berkelanjutan.
Pendampingan sertifikasi halal juga menjadi perhatian dalam program tersebut. Sertifikasi ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas.
Vyani berharap empat alumni yang melanjutkan ke tahap pengurusan sertifikat halal dapat memanfaatkan pendampingan dan bantuan yang diberikan untuk mengembangkan usaha masing-masing.
“Kami berharap empat alumni yang telah melanjutkan ke tahap pengurusan sertifikat halal ini dapat mengembangkan usahanya secara berkelanjutan. Mereka juga diharapkan bisa menjadi contoh dan berbagi pengalaman dengan calon wirausaha muda lainnya,” tambahnya.
Sebelum pelatihan, tim melakukan identifikasi potensi peserta sekaligus memetakan keterampilan dan kebutuhan pendampingan. Pelaksanaan program sempat terkendala padatnya jadwal perkuliahan, sehingga tim menyesuaikan waktu pelatihan di luar jam efektif perkuliahan dan menerapkan metode daring maupun hybrid untuk sebagian materi.
Penguatan kewirausahaan ini sejalan dengan visi Program Studi D3 Farmasi Poltekkes Gorontalo, yakni menghasilkan lulusan yang berkarakter dan berjiwa pharmapreneur atau wirausaha di bidang farmasi. (Adv)













Discussion about this post